
Nadia dan Zhafran berada di London karena sibuk mengurus bisnis hingga mereka tidak tahu mengenai pemberitaan heboh yang kini tengah viral. Bintang selama ini belum menceritakan kejadian buruk yang menimpanya kepada Nadia dan Zhafran mengenai aibnya yang dibongkar dipublik. Dia memang sengaja memendamnya karena tidak ingin mama dan papanya khawatir. Namun sekarang Bintang tidak bisa membendung kemelut masalah ini. Dia memerlukan campur tangan papanya untuk mengembalikan nama baiknya yang telah tercemar karena berita hoax yang disebarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
“Ma ada orang yang membenciku, dia menyebarkan rumor buruk mengenai pernikahanku dengan kak Al. Berita ini tersebar dimedia sosial, bahkan siaran televisi juga membahasnya seolah turut menyiram api untuk memperbesar masalah ini hiks…hiks…hiks.” Adu Bintang kepada mamanya membuat Nadia terkejut bukan main.
“Maksutmu rumor apa Bintang?” Tanya Nadia memastikan, dia penasaran sebenarnya apa yang telah terjadi dengan rumah tangga putrinya. “Bukankah pernikahanmu bersama dengan Alvaro baik-baik saja?”
“Ma pernikahanku dengan kak Alvaro memang baik-baik saja, namun kak Bulan telah resmi bercerai dengan kak Al.” Nadia melongo mendengarnya, baik Nadia dan Zhafran tidak dikabari sebelumnya. Ya tuhan sebenarnya apa yang telah terjadi kepada keluarganya tatkala ditinggalkan Nadia dan Zhafran keluar negeri? Jikapun mereka berpisah seharusnya Bulan meminta izin terlebih dahulu kepada Zhafran, kenapa Bulan bertindak gegabah seperti ini? Nadia tidak habis fikir, mungkin perceraian Bintang dan Alvaro ada sangkut pautnya dengan Laura.
“Ma pemberitaan perceraian kak Al dan kak Bulan menjadi pemberitaan hangat di media sosial, beberapa wartawan mengangkat topik hangat mengenai masalah rumah tangga kami. Semua orang beranggapan bahwa aku menjadi orang ketiga yang telah merusak pernikahan mereka ma hiks…hiks.” Bintang menangis tergugu, lelehan air matanya membasahi pipi sungguh Bintang tidak kuat menghadapi orang-orang yang kini terang-terangan berani menyerangnya.
“Sekarang semuanya menghujatku, mereka bahkan tidak segan melontarkan kata-kata kasar tatkala melihatku, bahkan seseorang pernah menerorku dan mengancam ingin membunuhku hiks…hiks.”
Nadia menutup mulutnya, dia miris mendengar curhatan dari Bintang. Sungguh saat ini Nadia benar-benar mencemaskan putrinya, dia takut terjadi sesuatu yang buruk akan menimpa putrinya kelak. Apalagi ada seorang penjahat yang tengah mengancam Bintang ingin membunuhnya, orang tua mana yang tidak risau.
__ADS_1
“Jadi orang-orang mencoba membuatmu celaka karena termakan rumor tidak benar itu Bi?”
“Hiks…hiks…hiks, iya ma.” Sahut Bintang dengan suara bergetar. “Ma aku benar-benar ketakutan, mama sama papa cepatlah pulang.” Mendengar isakan tangis putrinya sungguh menyayat hati dan perasaan Nadia, dia saat ini berada jauh dari putrinya. Nadia ingin memeluk Bintang, menenangkannya agar tidak menangis namun karena jarak dia jauh jadi tidak bisa berbuat apapun.
“Sayang, bagian mana tubuhmu yang terluka hem?” Tanya Nadia masih penasaran dengan kondisi putrinya, apakah lukanya parah? Nadia tidak bisa berfikir jernih saat ini karena kepalanya berdenyut sakit memikirkan Bintang.
“Kakiku terdapat luka sobek ma, tapi mama tenang saja ini hanya luka ringan. Dokter telah menangani lukaku, sehingga rasa nyerinya sedikit berkurang.” Mendengar penuturan putrinya barusan membuat Nadia lega, setidaknya luka Bintang sudah diperiksa dokter dan itu bukanlah cidera yang berat. Putrinya tengah hamil, tega sekali temannya Bintang berbuat kejam. Perbuatan mereka sungguh biadap!
“Hiks…hiks, mama sama papa akan pulangkan ma? Bintang takut ma, Bintang butuh bantuan papa hiks…hiks.” Ujarnya terisak dengan derai air mata bercucuran dipipinya. “Bintang tidak bisa hidup dalam tekanan seperti ini ma, rumor buruk yang beredar sungguh membuatku stres karena orang-orang diluaran sana membenciku hiks…hiks. Setiap bertemu denganku semua orang menghinaku, mencaci maki dan bahkan tidak segan mengangkat tangannya untuk memukulku hiks…hiks…hiks.”
“Bintang, kamu tenang saja ya sayang. Mama dan papa akan segera pulang.” Dia akan menunggu suaminya datang, karena Zhafran masih melakukan rapat bersama dengan rekan bisnisnya dikantor. Semoga saja nanti Zhafran bisa meninggalkan pekerjaannya disini agar pria itu bisa pulang ke Indonesia bersamanya.
“Sayang, Alvaro dimana? Apakah saat ini dia bersamamu?” Bintang termangu mendengar pertanyaan dari mamanya. Miris, saat ini Bintang hanya sendirian berada didalam ruangan yang sepi ini. Suaminya bahkan tidak peduli dengannya, nyatanya Alvaro lebih mementingkan pekerjaannya. “Bolehkah mama berbicara dengannya?” Ujar Nadia ingin menyampaikan sesuatu kepada menantunya. Bintang kebingungan, alasan apa yang tepat untuk menjelaskan kepada mamanya. Jika dia berkata jujur bahwa Alvaro bersikap cuek kepadanya pasti mamanya akan kecewa.
__ADS_1
“Kak Al selalu menemaniku disini ma, tadi dia keluar untuk membeli makanan dikantin karena sedari pagi kak Al belum makan.” Balas Bintang berbohong, dia tidak ingin mamanya berfikiran buruk mengenai suaminya. Meskipun Alvaro bersikap dingin kepadanya namun Bintang sangat menyayangi pemuda itu.
Nadia menghela nafas, untung saja ada Alvaro yang selalu setia berada disisi Bulan. Dia percaya bahwa pemuda itu pasti akan menjaga putrinya dengan baik. “Bintang dengar, kamu sekarang istirahatlah ya sayang. Kamu tenangkan fikiranmu dulu, mama sama papa akan segera pulang ke Indonesia. Mengenai masalah yang menimpamu mama yakin papamu pasti bisa mengatasinya.” Zhafran tidak akan membiarkan putrinya menderita, Nadia akan meminta suaminya menyelesaikan kemelut permasalahan yang tengah dihadapi Bintang.
“Iya ma, aku akan menunggu kedatangan kalian.” Balas Bintang tersenyum kecut, dia berharap papanya akan menggunakan kuasanya untuk membersihkan namanya yang telah tercemar. Kalau bisa papanya harus menemukan orang yang menjadi dalang penyebar rumor buruk mengenai pernikahannya, orang itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal karena telah berani menfitnah dirinya.
“Bi, jaga diri baik-baik ya. Mama sama papa sangat menyayangimu.” Ujar Nadia dari sebrang telefon.
“Iya ma, Bintang juga sayang sama mama dan papa.” Nadia menyunggingkan senyum mendengar penuturan putrinya. Dia selalu berdoa agar Bintang dilindungi oleh Tuhan dimanapun keberadaannya, putrinya adalah wanita yang kuat sama sepertinya. Dulu Nadia juga pernah diposisi Bintang, dihina dan dicacai maki namun dengan kesabarannya dia bisa melewati semua masalahnya.
Bintang mematikan sambungan telefonnya, dia sejenak tertegun. Tangannya bergerak mengusap linangan air mata yang membasahi pipinya. “Aku akan membalasnya, kak Bulan seharusnya kamu yang menderita bukan aku. Kamulah pelakor yang sesungguhnya, aku tidak bersalah.” Ujarnya sembari mengepalkan kedua tangannya kuat.
“Aku hanya mengambil sesuatu yang sedari awal adalah milikku.” Gumamnya lagi menatap kosong pintu dihadapannya, tangan lentiknya reflek mengusap lembut perutnya yang besar seolah mengadukan semua keluh kesah kepada anak yang berada dalam kandungannya. “Aku tidak akan menyerah sampai disini.”
__ADS_1
Bersambung...