
Peluru melesat menembus pintu kamar, suara tembakan itu sangat keras membuat Bulan menunduk sembari menutup kedua telinganya. Hampir saja kepalanya tertancap timah panas itu, tapi dia berhasil menghindarinya. Tubuhnya gemetaran, bahkan kakinya melemas. Bulan mengusap gusar lelehan air matanya, dia tidak punya banyak waktu lagi. Daren terkulai tidak berdaya, ini kesempatannya untuk kabur.
Bulan beranjak berdiri, dia kembali menancapkan kucinya kedalam lubang pintu. Sebisa mungkin Bulan berusaha menenangkan dirinya. Saat ini dadanya bergemuruh menahan takut, bayangkan saja dia sekarang berada di kandang psikopat yang ingin membunuhnya sungguh membuat Bulan tertekan dan kalut. Pintu kamar berhasil terbuka, dia bergegas berlari keluar menuruni tangga. Sungguh, Bulan tidak akan menyia-nyiakan peluang ini. Dia tidak menghiraukan rasa nyeri diperutnya, berulangkali tangan lentiknya mengusapnya.
"Bertahanlah ya, mama ingin keluar dari tempat terkutuk ini." Gumamnya sendu, dia harus berhati-hati karena mungkin anak buahnya Daren menjaga tempat ini. Jika Bulan ketahuan tamatlah riwayatnya.
Dia kebingungan, rumah Daren sangatlah besar dan dipenuhi lorong-lorong yang menyeramkan. Dia tidak tahu jalan keluar ke arah mana. Gedung ini tampak gelap, sepi tidak ada keberadaan pelayan ataupun bodyguard. Syukurlah, ini akan mempermudah Bulan untuk keluar dari rumah Daren. Bulan mulai gelisah, dia berulang kali mengatur nafasnya karena berlarian kesana kemari seperti orang gila.
"Huh...huh...huh..." Bulan ngos-ngosan, beberapa kali dia mengusap peluh di pelipisnya. "Dimana sih pintu keluarnya?" Tanyanya kesal, sedari tadi dia mondar-mandir tapi tidak menemukan jalan keluar. Tadi dia mencoba membuka pintu yang dia ditemui namun tidak ada yang bisa dibuka. Dirumah besar ini memang terdapat banyak pintu membuat Bulan bingung. Dia menggeram marah, Daren pasti sengaja mengunci semuanya.
"Kejar dia!" Bulan terkejut mendengar teriakan seorang pria yang menggelegar, dia melirik kebelakang. Ada lima orang berperawakan besar memakai baju serba hitam menatapnya tajam. Astaga! Bulan fikir Daren tidak memiliki penjaga dirumahnya, ternyata pemikirannya salah.
Bulan tidak ingin tertangkap, dia berlari sekuat tenaga melewati lorong panjang, pada akhirnya Bulan melihat sebuah pintu yang besar. Bulan berdoa semoga pintu kali ini tidak terkunci, dia membuka pintu itu namun lagi-lagi terkunci. Sial! Bagaimana ini? Bulan menoleh kebelakang lagi, kelima pria itu mulai berlari mendekat.
Ya tuhan, tolong bantu hambamu ini. Doa Bulan dari dalam hatinya merasa cemas. Dia masih ingin hidup bersama dengan buah hatinya.
Bulan masih mencari cara lain, matanya tertuju pada sebuah jendela. Dia segera beralih mendekati jendela yang terlihat berkarat itu, dengan sekuat tenaga Bulan mendorong jendelanya agar terbuka. Telapak tangan Bulan sampai lecet, tapi setidaknya dia berhasil sedikit membuka jendela itu. Bulan berusaha naik dengan menggeret kursi yang letaknya tidak jauh darinya, dia menerobos teralis besi di jendela tersebut.
BUK
"Aww, arghhh." Bulan memegangi perutnya yang sakit, dia baru saja jatuh ke tanah terpeleset turun dari ketinggian karena tadi memanjat jendela. Bahkan kini kakinya terkilir sulit digerakkan dan perutnya terasa sakit akibat goncangan.
"Ahh, sakit banget." Rintihnya sembari mengelus perutnya dengan lembut. "Nak, mama mohon bantu mama ya. Ayo kita pulang kerumah bertemu papa." Gumamnya seolah mengajak bicara bayinya didalam kandungan, setidaknya Bulan tidak merasa sendirian. Ada bayinya yang selalu menemani, dia harus selamat untuk membuktikan kebusukan adiknya selama ini.
Bulan bangkit berjalan tertatih-tatih, meskipun kakinya terkilir dia masih berusaha berlari tanpa melihat kebelakang. Rumah Daren memang jauh dari pemukiman warga, jadi Bulan sedikit kesulitan untuk meminta pertolongan. Bulan sampai dijalan raya, dari kejauhan dia melihat sorotan lampu yang mendekat.
__ADS_1
Bulan yakin bahwa itu adalah sorot lampu dari mobil seseorang. Dia berdiri ditengah jalan raya sembari melambaikan kedua tangannya ke atas berharap orang tersebut berhenti untuk menolongnya. Dia sudah tidak kuat lagi berlari, Bulan ketakutan karena anak buah Daren pasti akan terus mengejarnya sampai dapat.
"Berhenti, tolong berhenti!" Teriak Bulan seraya melambaikan tangannya keatas tatkala sebuah mobil mulai mendekat ke arahnya. Mobil sedan hitam itu berhenti didepan Bulan, dengan tertatih-tatih Bulan menghampirinya mengetuk kaca mobil.
Seorang wanita paruh baya membuka pintu mobilnya, dia menatap nanar Bulan yang berpenampilan berantakan tanpa menggunakan alas kaki malam-malam berdiri di tengah jalan. Jam menunjukkan pukul 23.10, perempuan hamil sepertinya seharusnya tidak kelayapan dijam seperti ini. Wanita paruh baya itu tidak habis fikir dengan apa yang dilakukan Bulan ditengah jalan.
"Buk tolong saya." Bulan menangis sesengukan sembari menoleh kebelakang seolah memastikan sesuatu. "Ada orang jahat yang mengikuti saya. Bolehkah saya meminta bantuan anda untuk mengantarkan saya pulang hiks...hiks...hiks."
Mendengar penuturan Bulan membuat wanita paruh baya itu terkejut, dia dirumah juga mempunyai anak sebesar perempuan hamil ini. Sungguh dia jadi merasa iba, tidak ingin mengulur waktu wanita paruh baya itu mengajak Bulan untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Ayo cepat naik." Ujarnya mempersilahkan, Bulan segera duduk disamping wanita paruh baya itu. Mobil sedan hitam berjalan menyusuri jalan raya yang sepi. Bulan bernafas lega karena dia bertemu dengan orang baik yang mau memberinya tumpangan.
Tangannya berulangkali mengusap lelehan air mata yang membasahi pipi. Hari ini nyawanya hampir saja melayang ditangan Daren. Pemuda itu memang benar-benar biadab, untung saja Bulan berhasil kabur.
Bulan menggeleng. "Tidak buk, saya tidak apa-apa." Balasnya berusaha untuk bersikap tenang, bahkan Bulan menyunggingkan senyum manisnya. “Terimakasih ya buk karena ibu telah menolong saya.” Ujarnya dengan sendu.
“Iya nak, saya senang bisa membantumu.” Balas wanita paruh baya itu seraya menyetir mobilnya, dia tidak tahu masalah apa yang dihadapi Bulan hingga para penculik itu mengejar Bulan.
Ibu itu sebenarnya penasaran, tapi dia memilih bungkam karena tidak ingin ikut campur. Dia hanya ingin membantu sebatas mengantarkannya pulang, itu saja. Jujur ibu itu juga takut jika ikut terlalu dalam akan turut berimbas kepadanya. Para penculik yang mencoba menangkap wanita hamil ini pasti adalah orang yang berbahaya, ibu itu jadi begidik ngeri karena setiap hari dia melewati jalan yang sama ketika pulang bekerja.
“Rumahmu dimana?” Tanya ibu itu melirik Bulan yang masih terisak pelan.
“Perumahan nusa indah blok A nomer 2.” Balas Bulan memberitahu, ibu itu terlihat menganggukkan kepalanya. Dia lantas mengendarai mobilnya menuju lokasi yang disebutkan Bulan barusan.
...****************...
__ADS_1
Mobil sedan yang ditumpangi Bulan berhenti di depan gerbang rumahnya, dia berulang kali menguncapkan rasa terimakasihnya kepada seorang ibu yang telah menolongnya. Bulan bergegas turun, dia berjalan menuju pelataran rumahnya. Dia memencet bel, namun tidak ada yang membukakan pintu. Apakah Alvaro sudah tidur? Tanya Bulan dari dalam hati, dia sedikit kecewa karena seharian dirinya tidak pulang kerumah, suaminya bahkan enggan untuk mencarinya.
Ting…tung…ting…tung
Ceklek
Pintu akhirnya dibuka oleh Bintang karena dia merasa terganggu dengan suara bel rumah yang berulang kali terdengar. “Astaga!” Dia terkejut bukan main menatap kakaknya berdiri dihadapannya, apakah dia melihat hantu?
Bintang malah berlari bersembunyi dibalik punggung suaminya karena takut, tadi Alvaro ikut terbangun dari tidurnya untuk menemaninya melihat siapa yang bertamu ditengah malam seperti ini. Bulan berjalan mendekati suaminya yang kini memandangnya dengan sorot mata tajam menusuk. “Al aku—“
“Kenapa kamu pulang?” Tanyanya memotong ucapan Bulan, membuat wanita itu bingung. “Seharusnya kamu tidak usah pulang Bulan.”
Deg
Bulan termangu heran dengan kalimat yang diutarakan oleh suaminya, seharusnya Alvaro merasa cemas karena seharian Bulan tidak ada dirumah, tapi ini malah sebaliknya. Pemuda itu memperlakukan Bulan dengan dingin seolah Bulan adalah orang asing yang baru menginjakkan kaki di rumahnya. Sedangkan Bintang dibuat melongo, dia mengerutkan dahinya. Jadi kakaknya belum mati?
Daren bodoh! Pemuda itu sama sekali tidak bisa diandalkan, padahal Daren telah sesumbar bahwa hari ini dia akan mengantarkan jasad Bulan kerumah, namun apa ini? Bulan jelas-jelas masih hidup. Semua ucapan Daren hanyalah bualan semata, tidak bisa dipegang janjinya.
Bulan menatap Alvaro dengan sendu. “Al kenapa kamu berkata seperti itu?” Tanya Bulan, sungguh dia tidak bisa membendung air matanya lagi. Entah mengapa Bulan merasa jika Alvaro sangat marah kepadanya, tapi apa salahnya? Kenapa sifat Alvaro cepat sekali berubah-ubah.
“Pulang tengah malam setelah bersenang-senang dengan selingkuhanmu, kamu fikir aku akan membiarkan seorang pelacur sepertimu untuk tinggal dirumah ini lagi hah?!” Kali ini Alvaro membentaknya membuat Bulan seketika mendongak memastikan apakah hinaan itu benar-benar keluar dari mulut Alvaro. Dada Bulan berdenyut nyeri tatkala Alvaro menyamakan dirinya dengan seorang wanita murahan, padahal itu tidaklah benar.
Mengapa Alvaro tega menfitnah dirinya seperti ini? Seharusnya pemuda itu memberikan kesempatan dirinya untuk menjelaskan mengapa Bulan baru pulang tengah malam seperti ini. Alvaro tidak tahu kejadian apa yang telah menimpanya, Bulan hari ini hampir mati ditangan Daren tapi apakah suaminya peduli? Lelaki itu hanya bisa mengolok-olok dirinya dengan kalimat pedasnya. Belum hilang rasa takut dan trauma yang dialami Bulan. Sesampainya dirumah bukannya Alvaro merangkul dirinya untuk memberi ketenangan, namun pemuda itu malah memberikan cacian kepadanya.
Bersambung...
__ADS_1