Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 89 : Tidak Ingin Memperpanjang Masalah


__ADS_3

Seorang pemuda membuka kedua matanya ketika merasakan sebuah cahaya terang masuk ke dalam indra penglihatannya. Dia mencium bau menyengat darah bercampur alkohol dan obat-obatan membuatnya mual. Remang-remang dia bisa melihat seseorang memakai baju putih menghadap ke arahnya. Namun bayangan putih itu tiba-tiba menghilang. Telinganya terasa berdengung, lamat-lamat dia mendengar seseorang memanggil namanya.


"Alvaro."


"Kak..."


"Kak Al, kak bangun."


"Kak Alvaro."


Alvaro menatap nanar wanita dihadapannya, perlahan pandangan Alvaro menjadi jelas. Dia bisa melihat istri keduanya yang tengah menggenggam tangannya erat seakan tidak ingin kehilangannya. Kepala Alvaro terasa pusing, dia mencoba beranjak bangkit dari brankar namun ditahan oleh Bintang.


"Kak, kakak baru saja operasi. Luka kakak akan bertambah parah jika banyak bergerak." Ujar Bintang memberitahu, rupanya saat ini Alvaro berada didalam rumah sakit.


Tangan besarnya menyentuh perutnya yang masih terasa sedikit nyeri, tapi tidak sesakit saat dia mendapatkan luka ini dari Bulan. Alvaro menghela nafas, dia ingat bahwa dirinya hampir saja tewas dibunuh oleh Bulan. Wanita itu benar-benar ingin melenyapkannya, Alvaro tidak menyangka jika Bulan senekat ini. Bulan tidak takut kepadanya, wanita itu mulai menunjukkan keberaniannya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Alvaro dingin, menunduk menatap perutnya yang dibalut dengan kassa. "Apakah lukaku parah?"


Ya tuhan, Bintang sangat cemas dengan keadaan Alvaro. Dia fikir suaminya tidak akan selamat. Ketika manager apartemen menelfonnya bahwa Alvaro berada di rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri membuat perasaan Bintang kalut. Apalagi pemuda itu memberitahunya bahwa Alvaro ditikam oleh seseorang didalam kamarnya membuat Bintang ngeri. Siapa yang berani bertindak anarkis seperti ini? Saat ini manager apartemen sedang mengumpulkan barang bukti dari cctv untuk menjebloskan pelakunya kedalam penjara.


"Tusukan pisau itu merobek pembuluh darah besar sehingga darah keluar terus menerus, apalagi tusukan benda tajam itu sangat dalam sampai mengenai usus kakak sehingga dokter mengambil tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawa kakak. Kakak telah kehilangan banyak darah, nyawa kakak hampir saja melayang." Tutur Bintang, dia bersyukur Alvaro saat ini dalam keadaan baik-baik saja setelah mendapatkan penanganan medis.


Alvaro menatap nyalang langit-langit rumah sakit. "Tuhan masih menginginkan aku untuk tetap hidup."


Bintang menyentuh dada suaminya. "Kak kamu tahu, aku sangat cemas melihatmu terbaring lemah tidak berdaya. Aku takut kehilanganmu, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu." Wanita itu menitihkan air mata, dia menggiring tangan kanan Alvaro untuk menyentuh perut besarnya. "Anak kita masih membutuhkanmu, bukankah kamu menantikan anak kita lahir hem?" Alvaro mengusap perlahan perut besar istrinya, dia bisa merasakan pergerakan anaknya didalam sana. Tapi entah mengapa rasanya sangat berbeda tatkala dia menyentuh perutnya Bulan membuat hati dan perasaannya menjadi tersentuh, sedangkan kandungan Bintang dia sama sekali tidak merasakan apa-apa dalam benaknya.


Kenapa? Alvaro merasa aneh. Dia menggelengkan kepalanya mengenyahkan fikiran tidak logis yang berputar didalam otaknya. Selama ini hanya Bintang yang benar-benar tulus menemaninya dan mengurusnya, lihatlah bagaimana kekhawatiran wanita itu dengan kondisinya saat ini. Alvaro merasa beruntung memiliki Bintang disisinya. Berbeda dengan Bulan dia malah kabur begitu saja setelah melukainya, mungkin istri pertamanya itu berharap dia mati agar bisa hidup bersama dengan selingkuhannya.


"Jangan menangis Bintang, anak kita juga akan bersedih jika kamu cengeng seperti ini." Ujar Alvaro mengulurkan tangannya untuk mengusap lelehan air mata dipipi Bintang. Wanita itu nampak mengangguk, dia menatap nanar perut Alvaro pasca operasi. Pasti rasanya sakit sekali, Bintang ikut meringis seakan bisa merasakannya. "Ini hanyalah luka kecil, tidak akan membuatku mati."

__ADS_1


Bintang mendongak memandangi suaminya. "Kak sebenarnya siapa yang berniat ingin membunuh kakak?" Tanya Bintang penasaran, Alvaro pasti mengetahuinya.


"Dia adalah rival bisnisku." Kilah Alvaro berbohong, dia tidak mungkin jujur mengaku jika Bulanlah yang telah tega menikam suaminya sendiri. Selama ini yang Bintang tahu bahwa kakaknya itu telah diusir dari rumah entah kemana keberadaannya, jika dia tahu kalau selama sebulan ini Alvaro menyekap Bulan diapartemennya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya pasti Bintang akan marah besar.


Mendengar penuturan suaminya, Bintang dengan mudahnya percaya. Didalam dunia kerja memang seperti itu, persaingan binis begitu ketat sehingga membuat mereka pesaingnya merasa iri dengan pencapaian orang lain. Apalagi perusahaan yang dipimpin oleh Alvaro saat ini tengah mengalami kemajuan pesat mungkin mereka tidak ingin melihat kesuksesan suaminya, fikir Bintang merasa miris.


"Kak pihak manager apartemen akan mengusut tuntas kasus ini, saat ini mereka sedang mengumpulkan bukti rekaman cctv agar pelakunya bisa dijebloskan kedalam penjara." Ujar Bintang seraya tersenyum simpul.


"A-apa?!" Alvaro kaget, gawat jika mereka mengusut kasus ini malah akan menambah masalahnya.


"Aku penasaran dengan wajah pelakunya kak." Ujar Bintang tidak sabar melihat rekaman di cctv bagaimana tampang sosok kriminal yang ingin menghabisi nyawa suaminya.


Alvaro mengusap gusar wajahnya. "Bi, apakah Rudy. Maksutku manager apartemen itu ada disini?" Tanya Alvaro, dibalas anggukan oleh istrinya.


"Iya kak manager apartemen itu masih menunggu disini." Bintang mengerutkan dahinya, kenapa Alvaro malah menanyakan bawahannya itu?


"Tolong panggil dia untuk masuk, aku ingin berbicara empat mata dengannya sekarang!" Bintang menurut, mungkin mereka ingin berbicara mengenai pelaku yang telah berhasil melarikan diri. Bintang berdoa semoga orang jahat yang telah melukai suaminya bisa secepatnya tertangkap.


Tok..tok...tok


Rudy dengan sopan mengetuk pintu, meminta izin untuk masuk kedalam ruangan. Alvaro mempersilahkan pemuda itu untuk masuk, tidak lupa Alvaro menyuruhnya untuk menutup pintu rapat agar pembicaraan mereka tidak terdengar orang-orang diluar.


"Mohon maaf pak Al, mengapa pak Al memanggil saya?" Tanya Ridy merasa bingung.


"Apakah kamu sudah mengumpulkan bukti mengenai pelaku yang mencoba membunuhku?" Tanya Alvaro menatap tajam Rudy meminta penjelasan pemuda dihadapannya.


"Bapak tenang saja, saya sudah mendapatkan semua bukti cctv. Saya akan segera menyerahkan bukti itu kepada polisi, agar segera menangkap pelakunya." Ujar Rudy membuat Alvaro menukikkan alisnya tajam.


"Kamu tidak perlu melakukannya, aku tidak ingin memperpanjang masalah ini." Balas Alvaro dengan enteng, jika Bulan dipenjara persoalan rumah tangganya malah akan semakin rumit.

__ADS_1


Rudy mendongak menatap nanar Alvaro. "Maksut bapak apa?" Tanyanya memastikan apakah dia tidak salah dengar? Kenapa Alvaro malah membiarkan pelakunya begitu saja tanpa diselidiki. "Wanita itu harus mendekam dipenjara pak, mungkin saja dia sudah mengincar nyawa pak Al sedari lama."


Alvaro memutar bola matanya malas mendengarkan ocehan managernya. "Wanita yang kamu lihat di cctv itu adalah istri pertamaku, dia memang menderita skizofrenia. Dia tidak sengaja melukaiku, jadi aku memintamu untuk menghapus saja barang bukti rekaman cctv itu."


Rudy sebenarnya masih bingung, tapi dia tidak ingin ikut campur dalam urusan pimpinannya itu. Dia akan menuruti segala perintah dari Alvaro. "Jangan beritahu Bintang mengenai perbincangan kita saat ini dan segera hapus rekaman cctv itu, aku tidak ingin Bintang mengetahuinya. Apakah kamu paham?!" Tegas Alvaro memperingati Rudy agar dia tidak ceroboh.


"Baiklah pak." Balas Rudy mengangguk patuh.


"Sekarang kamu boleh pergi." Rudy akhirnya pamit undur diri, dia akan menutup rapat kasus ini sesuai perintah dari Alvaro.


Bintang kembali masuk kedalam ruangan suaminya. "Kak aku membawakan obatmu, barusan suster datang kesini untuk memberikan obat yang harus kamu minum sekarang." Ujar Bintang membuka bungkus teblet obat.


Dia mengulurkan segelas air putih beserta satu butir obat berbentuk kapsul itu kepada Alvaro. "Minumlah kak." Alvaro menerimanya, dia segera meminum pil pahit itu.


Bintang mengulum senyum melihat suaminya, tadi dokter mengatakan bahwa Alvaro besok sudah bisa pulang kerumah. Bintang berharap semoga luka tusuk suaminya cepat mengering agar Alvaro bisa beraktifitas seperti biasanya. Dia menatap sendu suaminya, Bintang masih penasaran apa yang didiskusikan Alvaro dengan Rudy.


"Kak, barusan apa yang kakak bicarakan dengan Rudy?" Tanya Bintang kepada Alvaro.


Pemuda itu menghela nafas. "Aku menyuruhnya untuk menutup kasus ini." Bintang terkejut mendengarnya, dia tidak habis fikir. Dengan menutup kasus ini, malah membiarkan pelaku berkeliaran dengan bebas. Bintang tidak setuju, dia takut jika pembunuh itu akan mengulangi hal yang sama kepada Alvaro.


"Kak, kenapa kak?" Tanya Bintang heran.


Alvaro menggenggam lebut jemari tangan istrinya. "Aku hanya tidak ingin masalah ini berlarut-larut Bi, lagipula aku bisa mengatasinya sendiri tanpa harus melaporkannya kepolisi."


"Ta-tapi kak."


"Suusstt, sudahlah Bi. Jangan khawatir, aku celaka karena aku lengah. Lain kali aku akan lebih berhati-hati." Ujar Alvaro berusaha membuat istrinya tenang.


Bintang mengangguk, dia bingung apa yang ada dibenak suaminya saat ini. Tapi yang pasti Bintang tahu bahwa suaminya sudah memikirkan matang-matang mengenai masalah ini termasuk juga demi keselamatannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2