
Bintang pulang kerumahnya, dia kesal dipermalukan oleh mama tirinya didepan teman-tamannya. Niat hati Bintang ingin melabrak kakaknya namun malah dirinya yang menjadi sasaran pembullyan oleh mama tirinya. Sial! Bintang benar-benar marah, dia mengusap pelan perut besarnya. Akhir-akhir ini dia dibuat stres dan hidupnya penuh tekanan, Bintang berharap dengan kondisi yang seperti ini tidak mempengaruhi perkembangan anaknya. Bayi dalam kandungannya pasti akan baik-baik saja. Bintang tahu bahkan putrinya adalah anak yang kuat sama seperti dirinya. Dia segera turun dari mobilnya, Bintang ingin segera istirahat karena dia begitu lelah.
"Mbak paket." Bintang seketika menoleh mendengar suara teriakan, seorang pria mengendarai motor tiba-tiba masuk kedalam pelataran rumahnya. Dari jaket yang dia pakai kelihatannya adalah petugas kurir.
Pemuda itu berjalan mendekatinya sembari menyerahkan sekotak paket entah apa isinya. "Paket dari siapa ini mas?" Tanya Bintang mengernyit heran, pasalnya dia tidak memesan barang apapun di toko online. Dari sampul depan paket ini juga tidak ada nama si pengirimnya.
"Saya juga tidak tahu mbak, karena tugas saya hanya mengirim paket sesuai dengan alamat yang tertera." Ujar petugas kurir itu dengan sopan.
Bintang mengangguk memaklumi. "Baiklah kalau begitu mas, terimakasih ya." Ujar Bulan masih merasa bingung.
"Iya mbak sama-sama." Pemuda itupun pergi dengan mengendarai motonya. Huh, Bintang menghela nafas kasar. Dia membawa masuk paket itu kedalam rumahnya. Bintang benar-benar penasaran dengan isi didalam paket ini. Apa mungkin ini paket barang dari mama dan papa yang saat ini sedang berada di London? Mereka mungkin sengaja ingin memberikan kejutan untuknya.
Dengan semangat Bintang mengambil cutter, dia lantas mulai untuk mengiris buntelan paket itu agar kotak kardusnya bisa terbuka. Bintang berharap isinya adalah tas atau sepatu karena mamanya pernah bilang akan memberinya barang tersebut. Dia antusias membuka kotak itu, matanya terbelalak syok tatkala dia melihat isi dari kotak itu sungguh mengerikan.
"Aaaaa." Saking kagetnya Bintang sampai berteriak, dia menjatuhkan kotak itu hingga semua isinya berceceran di lantai.
"Ya tuhan, ap-apa itu?" Tubuh Bintang gemetar takut, dia memberanikan diri untuk melangkah mendekat memastikan benda apa yang kini tergeletak dilantai. Dia menelan ludahnya susah payah. "Hiks...hiks...hiks, a-aku takut." Cicitnya sembari menangis, dirumah besar ini dia sendirian. Jika terjadi sesuatu yang buruk kepadanya, pasti tidak ada satupun orang yang akan menolongnya.
Mata Bintang membola ketika melihat boneka jerami yang ditusuk dengan paku dibagian perutnya. Ini adalah boneka voodoo yang biasanya digunakan dukun untuk menyantet orang. Reflek Bintang menyentuh perutnya, dia semakin menangis kencang.
Bintang menutup hidungnya karena mencium bau busuk menyengat, didepannya saat ini terdapat bangkai tikus yang telah dimutilasi menjadi beberapa bagian. Dia mengambil sebuah kertas yang masih berada didalam kotak, rasa penasarannya lebih besar daripada perasaan takutnya.
Kamu akan mati bersama dengan bayi yang ada dalam kandunganmu besok!
Deg
__ADS_1
Jantung Bintang seketika berpacu dengan cepat setelah membaca surat ancaman ini. Bintang menangis terisak, siapa orang kejam yang tega menerornya seperti ini? Apakah dia benar-benar akan membunuhnya? Bintang merasa was-was. Dia sungguh ketakutan, Bintang tidak ingin mati.
Dia berlari menuju sofa ruang tamu, Bintang duduk termangu berderai air mata. Dia merogoh ponsel dari tas selempangnya menelfon Alvaro. Beberapa kali dia memanggil suaminya dari sambungan telefon tapi Alvaro tidak mengangkatnya. "Hiks...hiks...kak Al kumohon angkatlah telefonku." Gumam Bintang, mungkin saat ini suaminya tengah sibuk. Jika dia tidak meminta bantuan Alvaro lantas siapa lagi yang bisa menolongnya.
Wanita itu sekali lagi menelfon Alvaro, cukup lama dia menunggu dering telfonnya diangkat oleh sang suami. Beberapa saat kemudian telinganya menangkap suara seorang pemuda menyapanya. Bintang lega akhirnya telefonnya diangkat juga oleh Alvaro.
"Hallo Bi."
"Hallo kak, kak Al hiks...hiks...hiks." Bintang menangis tergugu membuat Alvaro cemas mendengar isakan Bintang.
"Bi ada apa?" Tanya Alvaro menuntut jawaban dari istrinya, dia takut kalau kejadian dimana Bintang mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh para penggemar Bulan terulang lagi. Alvaro telah menasehati Bintang untuk tidak keluar rumah, karena situasinya saat ini masih kacau. Emosi masyarakat masih belum mereda, jadi akan aman jika Bintang tetap berada di rumah.
"Kak hiks....hiks, pulanglah kak. Ah-aku takut kak, me-mereka menerorku. Kak aku akan dibunuh sama mereka hiks...hiks...hiks." Alvaro semakin khawatir mendengar penuturan Bintang barusan. Siapa yang ingin membunuh Bintang? Dari suara gemetar Bintang dan isakan tangisnya, Alvaro tahu betapa takutnya wanita itu saat ini. Ada yang tidak beres, daripada menerka-nerka tidak ada kejelasan Alvaro rela meninggalkan pekerjaan kantornya untuk menemui istrinya, daripada terjadi sesuatu yang buruk kepada wanita itu.
"I-iya kak hiks...hiks." Sahut Bintang. Alvaro bergegas keluar dari gedung perkantoran menuju parkiran tempat mobilnya berada. Dengan kecepatan penuh Alvaro mengendarai roda empat itu membelah jalanan ibu kota.
Disisi lain lebih tepatnya di dalam rumah, Bintang masih duduk termenung di sofa ruang tamu. Sebelumnya Bintang tidak pernah setakut ini. Hidupnya kini telah terancam, jika orang-orang berani menyakiti dirinya hingga babak belur, tidak menutup kemungkinan orang itu juga akan tega membunuhnya. Bintang sudah lelah terbelenggu dengan permasalahan pelik seperti ini. Dia menjadi tidak bisa bebas, dimanapun tempatnya berpijak masyarakat akan menghakiminya.
Ting...tung...ting...tung
Bintang terkejut bukan main tatkala bel rumahnya berbunyi, dia beranjak dari tempat duduknya. Siapa itu? Apakah itu kak Alvaro ataukah orang jahat yang berusaha masuk kedalam rumahnya? Saat ini dikepalanya dipenuhi dengan kecurigaan. Perlahan kakinya melangkah mendekaki pintu, tubuhnya masih gemetaran hingga mengeluarkan keringat dingin.
Ting...tung...ting...tung
"Bulan ini aku Alvaro, buka pintunya." Bintang bisa mendengar suara nyaring suaminya diluar. Dia buru-buru membukakan pintu, Bintang lega melihat suaminya sekarang berada dihadapannya. Bulan memeluk Alvaro erat, menangis dalam pelukan Alvaro.
__ADS_1
"Hiks...hiks...hiks, kak Al. Syukurlah kakak sudah pulang." Ujar Bintang.
Alvaro mengurai pelukannya, dia manatap nanar istrinya. Melihat seksama dari wajah hingga tubuh wanita itu memastikan apakah ada luka baru atau tidak. Memar akibat ibu-ibu gila itu saja masih membekas ditubuh Bulan, pemuda itu khawatir jika Bintang diserang lagi oleh seseorang.
"Bi katakan, apakah ada orang yang mengganggumu?" Tanya Alvaro heran.
Bintang menarik tangan suaminya menuju ruang tamu, dia menunjuk benda mengerikan yang berceceran di lantai. Alvaro seketika terkejut, dia menatap nyalang istrinya. ”Bi ada orang yang menerormu.” Alvaro bisa mencium bau busuk yang menguar dari ceceran potongan daging tikus yang mungkin sudah disimpan beberapa hari sebelum digunakan untuk meneror Bintang. Tatapan Alvaro beralih pada sebuah boneka jerami dengan perut tertusuk, pantas aja Bintang ketakutan seperti ini.
"Kak, ini surat da-dari peneror itu hiks..hiks." Bintang menyerahkan selembar kertas kepada suaminya. Setelah membaca sekilas surat ancaman tersebut lantas Alvaro meremas kertas itu menjadi gumpalan lalu melemparnya asal.
Alvaro menatap intens Bintang dengan perasaan kalut. Dia mengusap lelehan air mata yang membasahi wajah cantik istrinya. Bintang saat ini tengah mengandung anaknya, jika fikirannya terus-terusan terguncang seperti ini mungkin akan berdampak pada bayi didalam kandungannya. Dalam kondisi yang seperti ini seharusnya Alvaro bisa meluangkan banyak waktunya berada disamping Bintang tapi karena sibuknya pekerjaan dia terpaksa meninggalakan istrinya.
Pemuda itu menangkup pipi Bintang. "Bi untuk sementara ini kamu tinggal dirumah orang tuaku saja ya. Disana ada mamaku dan juga Tiara yang akan menemanimu dan melindungimu." Ujar Alvaro memberikan solusi. Pemuda itu tidak tega meninggalkan Bintang sendirian dirumah, dikantorpun mungkin Alvaro tidak akan bisa fokus bekerja karena selalu memikirkan istrinya.
"Ta-tapi kak."
"Bi menurutlah, aku melakukan ini demi kebaikanmu. Lagipula aku tidak bisa menemanimu selama dua puluh empat jam penuh. Aku harus kekantor untuk bekerja, kamu tolong mengertilah ya." Alvaro memberikan pemahaman kepada istrinya, sejenak Bintang berfikir namun beberapa detik kemudian dia mengangguk patuh.
"Aku telah melaporkan semua kasus yang menimpamu kepada pihak berwajib, mereka saat ini tengah mencari tahu siapa yang telah menyebarkan berita tidak benar mengenai kita dan pihak kepolisian juga sedang mencari pelaku yang telah melakukan tindakan pemukulan kepadamu." Alvaro rasa dia perlu untuk memberitahukan ini kepada Bintang. Jika polisi telah menemukan pelakunya, Alvaro akan menjebloskannya dipenjara dengan tuntutan pasal berlapis tentang pencemaran nama baik, penganiayaan terhadap istrinya dan tambah satu lagi pelaku harus diadili karena dia telah mengancam ingin membunuh Bintang.
Wanita itu menatap sendu suaminya. "Kak yang menyebarkan rumor itu dari mahasiswa junalistik di universitasku." Cicit Bintang merasa sedih, mereka semua berniat ingin menjatuhkan harga diri Bintang.
“Aku tahu Bi, saat ini polisi sudah menangkap mereka untuk mencari keterangan. Pihak kepolisian meyakini bahwa mahasiswa jurnalistk itu disuruh oleh seseorang, namun pihak kepolisian masih akan mendalami kasus ini. Kamu tenang saja ya, jangan sedih. Kita pasti bisa menangkap dalang utama yang menyebabkan kekacauan ini.” Ujar Alvaro dengan percaya diri.
Bintang menganggukkan kepalanya. “I-iya kak.” Dia berharap permasalahan ini cepat selesai, Bintang ingin membersihkan nama baiknya kembali. Apa yang masyarakat fikirkan selama ini tentangnya tidaklah benar. Bintang ingin hidupnya tentram seperti dulu sebelum rumor buruk tentang pernikahannya beredar.
__ADS_1