
Tiara berjalan mendekati Alvaro, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas selempangnya. "Aku hanya ingin mengantarkan flasdisk ini untukmu, kata papa kamu akan membutuhkannya karena berisi file penting. Dan papa menyuruhku untuk mengecek kondisimu, karena setelah menikah kamu tidak pernah mengunjungi kami. Tapi nampaknya kamu sedang baik-baik saja bersama kekasihmu." Sindirnya sengit.
Setelah memberikan flasdisk, Tiara berjalan ingin keluar meninggalkan mereka berdua. Bahkan Tiara malas untuk sekedar mengucapkan pamit.
"Tiara tunggu!" Langkah Tiara seketika berhenti tatkala Bintang memanggilnya.
Bintang berjalan mendekatinya. Dia menggenggam tangan Tiara, membuat gadis itu menatap wajah sahabatnya. Ya, memang benar bahwa Bintang adalah teman satu jurusan dikampus. Selain umur mereka yang sepantaran, Bintang mempunyai sifat yang ramah dan terkenal baik membuat Tiara nyaman bergaul dengannya.
"Kamu marah?" tanya Bintang melihat temannya yang murung.
Tiara menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak marah Bintang." Tutur Tiara membuat Bintang mengernyitkan dahi bingung.
"Aku cukup tahu kalau Kak Alvaro sangat mencintaimu. Aku tidak masalah dengan perasaannya itu karena cinta memang tidak bisa dipaksakan meskipun kenyataannya dia adalah lelaki yang sudah mempunyai seorang istri." Bintang masih senantiasa mendengarkan ucapan Tiara.
"Tolong, hargai perasaan Kak Bulan." Ketika Tiara mengucapkan nama kakaknya entah mengapa hati Bintang tercubit.
Sebenarnya Tiara akan merasa senang jika Alvaro bisa bersama dengan 'Bintang' wanita yang begitu dicintainya. Namun kondisinya saat ini telah berbeda, Alvaro telah menikah dengan perempuan lain. Meskipun Alvaro sama sekali tidak menyukainya, namun seharusnya lelaki itu tetap memberi kesempatan istrinya untuk berjuang.
"Bagaimanapun dia adalah seorang istri yang bisa merasakan sakit jika melihat suaminya selingkuh, apalagi dengan adiknya sendiri."
Deg
Semua yang dikatakan oleh Tiara memang benar, rasa nyeri seolah menikam Bintang secara bertubi-tubi seolah disini dirinyalah yang salah. Padahal jelas-jelas kakaknya Bulan yang memulai kekacauan ini.
Tiara melepas genggaman tangan Bintang. "Aku pamit pulang." Ujar Tiara bergegas pergi, tanpa menoleh lagi sedikitpun.
Bintang tahu bahwa sahabatnya Tiara kecewa kepadanya, namun apalah daya rasa cintanya untuk Alvaro lebih besar mengalahkan apapun termasuk harga dirinya didepan sahabatnya sendiri.
...****************...
00.00 PM
Bulan menunggu kepulangan Alvaro seperti biasanya, dia duduk didepan televisi yang menyala. Menghembuskan nafas lelah sembari melihat jam dinding yang menunjukkan waktu tengah malam. Sudah 3 hari suaminya tidak pulang ke rumah dan wanita itu cukup tahu alasannya. Alvaro tengah bersama dengan adiknya 'Bintang'.
Bulan menyadari meskipun dia terikat pernikahan dengan Alvaro, nyatanya dia bukanlah siapa-siapa bagi Alvaro. Bulan membaringkan tubuhnya di sofa, dia memejamkan matanya. Tanpa terasa air matanya menetes, dia letih menunggu ingin tertidur untuk menyambut mimpi.
Ting tung!
Baru saja Bulan ingin memejamkan matanya, akan tetapi bel rumahnya berbunyi. "Huh, menyebalkan!" Gerutu Bulan.
Ting tung ting tung ting tung ting tung! Bel berbunyi beberapa kali.
__ADS_1
"Iya-iya nggak sabaran amat sih." Ujar Bulan sembari menghentakkan kakinya kesal, beberapa kali dia menguap dan mengucek matanya.
Ketika pintu dibuka, Bulan terkesiap melihat Alvaro menjulang berdiri tegap di depannya. "Kamu pulang?" Bukannya disambut, Bulan malah bertanya dengan bingung.
"Kenapa? Kamu tidak suka?" Alvaro malah balik bertanya dengan sinis. "Minggir!" Alvaro berjalan memasuki rumah meninggalkan Bulan terpaku di depan pintu.
Bulan nampak cemberut kesal, dia segera berbalik. "Tunggu." Ujarnya menghentikan langkah Alvaro. "Kamu kemana saja, beberapa hari ini tidak pulang?" Tanya Bulan dengan berani. "Aku sampai berfikir kalau kamu sudah pikun sehingga lupa arah jalan pulang." Sindirnya kemudian.
Alvaro memicingkan matanya menatap lekat istrinya yang ngomel-ngomel, mendengarnya saja membuat telinga Alvaro berdengung.
"Kamu itu sudah punya istri Al. Dan aku dirumah besar ini selalu ditinggal sendirian, apa kamu tidak takut kalau misalnya ada perampok trus-trus aku diculik ha!" Ujar Bintang memberenggut sebal.
Alvaro malah akan bersyukur kepada Tuhan jika itu terjadi. Dia masih terdiam dingin, sama sekali tidak bersuara membuat Bulan tambah kesal. "Seharusnya sepulang kerja kamu langsung pulang kerumah bukan malah kelayapan nggak jelas sama cabe-cabean, kalau Mamaku tahu pasti di--."
"DIAM ATAU AKU GAMPAR KAMU!!" Alvaro dengan tampang garangnya mengangkat tangan kanannya ke atas siap untuk menampar wanita cerewet dihadapannya. Sedangkan Bulan langsung menutup mulutnya rapat, dia menciut gemetar takut sembari memejamkan matanya.
Sering mengadu dan mengancam, inilah sikap yang sangat dibenci Alvaro. Sedikit-sedikit Bulan melapor ke Mama...mama...mamanya terus. Alvaro benar-benar muak mendengarnya.
Bulan, tidak seharusnya kamu lancang berbicara seperti itu. Mama tolong Bulan, ada gorilla ngamuk yang ingin menghajar putrimu! Batin Bulan dalam hati merutuki kebodohannya.
Alvaro menghela nafas panjang untuk meredakan emosinya. Bulan lantas sedikit menyipitkan matanya untuk melirik suaminya yang sudah menurunkan tangan tidak jadi menamparnya membuat Bulan lega. Tamparan yang kemarin saja bekasnya masih belum sembuh masa iya ditambah lagi.
"A-ap-apakah kamu sudah makan?" Tanya Bulan tiba-tiba.
Alvaro menaikkan sebelah alisnya menatap istrinya dengan tajam. Bulan sedikit kikuk didepan Alvaro bahkan Bulan hanya mampu meliriknya saja.
"Belum." Ujar Alvaro dingin.
"Hmm, a-aku akan membuatkanmu omelet jika kamu lapar bagaimana? Apa kamu menyukainya? Ap-apakah kamu ingin menu la-- eh." Lelaki itu malah melenggang pergi tidak menggubris ucapan Bulan. Bahkan Alvaro tidak menjawab pertanyaannya, membuat Bulan mengelus dada.
"Baiklah, kamu mandilah terlebih dahulu ya sayang. Setelah itu turunlah kebawah untuk makan yaaa." Teriak Bulan dengan keras agar Alvaro mendengarnya.
Dengan perasaan senang dia membuka kulkas untuk menyiapkan bahan makanan, akan tetapi ternyata dia kehabisan telur. Bukan kehabisan, tapi memang isi kulkasnya kosong. Menyedihkan sekali!
Bulan memang tidak pernah memasak selama ini, dia biasanya akan memesan lewat gofood. Apalagi Alvaro yang jarang dirumah, jadi dia tidak pernah menyiapkan bahan makanan di kulkasnya. Haduh Bulan, bagaimana kamu bisa melupakan itu, pake sok-sokan menawari Alvaro makan lagi.
"Oh, iya aku masih mempunyai nasi di rice cooker." Gumam Bulan. Dia akan mencoba memasak seadanya saja. Akan dia buktikan bahwa dia bisa menjadi istri idaman bagi Alvaro.
Bulan mulai bergelut di dapur, dia mencincang bawang merah, bawang putih dan cabe rawit. Setelah memastikan minyak dalam wajan panas dia memasukkan bahan-bahan yang dicincangnya bersama dengan ebi ke dalam wajan, lalu mengosengnya hingga wangi. Kemudian dia memasukkan nasi ditaburi lada, gula dan tidak lupa kecapnya juga. Bulan mengaduknya hingga merata, tidak butuh waktu lama, makanan praktis itupun sudah jadi.
Huh, Bulan mengusap keringat dikeningnya. Dia meletakkan sepiring nasi goreng buatannya di atas meja makan. Bulan menoleh ketika mandapati Alvaro memasuki dapur. Rupanya lelaki tampan itu sudah mandi, dia memakai kaos putih dengan bawahan celana pendek.
__ADS_1
"Al maaf ternyata aku lupa membeli telur, jadi aku hanya bisa memasakkanmu nasi goreng." Lagi-lagi Alvaro tidak menggubris keberadaan Bulan. Dia bahkan malas untuk menanggapi ucapan Bulan.
Alvaro ke dapur hanya untuk mengambil air minum karena haus. Setelah selesai memuaskan dahaganya dia ingin kembali ke kamar, namun Bulan segera menghentikan langkahnya.
"Plissss." Bulan menyatukan tangannya memasang raut wajah memelas di depan suaminya. "Cobain masakan aku ya." Bulan ingin dihargai, dia sudah capek-capek membuat makanan untuk Alvaro, mengenyahkan rasa kantuknya karena seharusnya di jam malam seperti ini dia sudah tidur.
Dengan lancang Bulan menggenggam tangan Alvaro, dia menggiring lelaki itu untuk duduk di kursi. "Mau aku suapi?" Tawarnya sembari mengarahkan sesendok nasi di depan Alvaro.
Lelaki itu menampik tangan Bulan kasar hingga nasi di dalam sendok tersebut jatuh berhamburan di lantai. Alvaro beranjak dari kursi, berdiri menjulang tinggi di hadapan istrinya.
"Dengar Bulan." Alvaro mencengkram bahu Bulan hingga dia meringis sakit. "Aku belum melupakan kejadian malam itu, dimana kamu menaruh obat sialan itu ke minumanku dan sekarang kamu malah menawariku makanan ha?!" Bentak Alvaro lagi-lagi membuat Bulan takut.
"Aku tidak akan sudi memakan makanan busukmu itu! Bisa saja kamu memasukkan racun di dalamnya, aku tidak akan tertipu lagi."
Bulan melotot mendengarnya. "Meskipun kamu jahat kepadaku, aku sama sekali tidak berniat untuk membunuhmu Al karena aku sangat menyayangimu. Tidak mungkin aku berani meracunimu."
Apa! Jahat? Batin Alvaro, istrinya benar-benar tidak pernah mengaca, Bulan dan Mama Lauralah yang kejam. Alvaro bertindak kasar seperti ini kepada Bulan untuk memberinya pelajaran agar tidak berbuat sewenang-wenang kepadanya karena memiliki kekuasaan.
Alvaro melepas cengkraman tangannya, dia bahkan mendorong Bulan hingga terjungkal kebelakang. Bulan seketika mengusap-usap bahunya yang nyeri, bahkan bekas jemari suaminya tercetak jelas di kulit putihnya saking kuatnya cengkraman Alvaro.
Bulan mendongak dengan takut-takut menatap suaminya intens. "Kamu tahu kejadian malam itu saat obat perangsang mulai bekerja ditubuhmu, ka-kamu berubah tidak terkendali. A-a-aku sangat takut, aku benar-benar menyesal melakukannya. Rasanya benar-benar sakit bahkan seharian penuh aku kesulitan berjalan sampai aku bolos bekerja." Ujarnya polos membuat Alvaro memicingkan matanya heran.
Bulan menggelengkan kepalanya membayangkan kejadian mengerikan itu. "Aku tidak akan melakukannya lagi, aku trauma!" Lanjutnya kemudian tambah membuat Alvaro kesal setengah mati. Bukankah secara tidak langsung Bulan telah menolaknya mentah-mentah. Jujur Alvaro merasa tersinggung sebagai seorang pria, seharusnya Alvarolah yang menolak Bulan kenapa jadi Bulan yang menolaknya?
"Kamu benar-benar wanita sialan Bulan!" Ujar Alvaro dengan emosi, dia berjalan ingin menaiki tangga kembali ke kamarnya. Namun beberapa detik kemudian dia berbalik dengan sorot mata tajamnya, dia bersuara. "Mulai saat ini kamu tidurlah di sofa, aku tidak mengizinkanmu lagi untuk menyentuh kasurku."
Bulan melongo sembari melebarkan matanya. "Tap-tap- tapi tunggu!" Tanpa mendengarkan ucapan istrinya, Alvaro melenggang pergi bergitu saja meninggalkan Bulan.
"Menyebalkan!" Ujar Bulan kesal. Rumah sebesar ini sebenarnya memiliki 10 kamar, namun kamar yang dipakai hanya satu kamar saja yaitu kamarnya Alvaro. Dan sembilan kamar lainnya hanyalah tempat kosong berdebu yang sama sekali tidak terpakai, maklum ini adalah rumah baru belum banyak perabotan yang terpasang di rumah. Mau tidak mau Bulan memang harus tidur di sofa ruang tamu kali ini.
"Hiks...hikss...hikss. Mama lihatlah anakmu sangat menderita disini." Bulan menangis tergugu, sembari mengusap linangan air mata dipipinya.
Tatapan matanya beralih pada butiran nasi goreng buatannya yang tercecer di lantai nampak mengenaskan. "Padahal hikss...hiks aku sudah membuatnya capek-capek. Tap-tap-tapi dia malah mengabaikannya hiks...hiks..."
"Aku sangat membencimu Alvaroooo!!" Teriak Bulan dengan begitu lantang. Sedangkan Alvaro sendiri yang mendengar samar-samar teriakan istrinya hanya cuek sama sekali tidak peduli, dia hanya menganggapnya sebagai angin berlalu.
Tapi rasa cintaku padamu lebih besar, melebihi rasa benciku padamu Al. Batin Bulan tertunduk lesu.
Bersambung...
Jangan lupa untuk dukung cerita ini dengan like dan komentar❤️
__ADS_1