Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 85 : Enggan Melepaskanmu


__ADS_3

Bulan berada didapur, ini adalah pertama kalinya dia diperbolehkan untuk keluar dari kamar. Dia melirik kebelakang, tepat dimana Alvaro tengah duduk dimeja makan menunggu masakannya. Bulan menghela nafas, dia beranjak membuka kulkas. Didalam terdapat banyak bahan makanan yang memang sengaja disiapkan oleh pemuda itu. Bulan hanya mengambil beberapa bahan yang dia butuhkan karena Bulan akan memasak makanan yang simpel yaitu nasi goreng.


Bulan mulai mengiris bawang merah dan bawang putih, tatapan matanya jatuh pada pisau kecil yang dia genggam. Bulan kembali melirik suaminya seolah dia merencanakan sesuatu dalam benaknya. Setelah selesai mengiris bawang, diam-diam Bulan memasukkan pisau dapur itu kedalam bajunya.


Bulan bertingkah setenang mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan dalam benak suaminya. Dia melanjutkan untuk memasak. Bulan meletakkan teflon diatas kompor, dia menggoreng telur hingga warnanya menguning. Setelah itu dia menumis bawang merah dan bawang putih yang telah diiris tipis. Setelah aromanya keluar, dia lantas memasukkan nasi lalu mengaduknya hingga merata. Bulan menambahkan kecap manis, garam dan saus secukupnya, mengaduknya kembali. Tidak butuh waktu lama nasi goreng buatan Bulan sudah matang. Dia menyajikannya di atas piring berharap Alvaro akan menyukai masakannya karena jika nasi gorengnya tidak sesuai dengan lidah Alvaro mungkin dia akan memarahinya.


Langkah kaki Bulan mendekat, dia meletakkan dua piring nasi goreng di atas meja. "I-ini makanlah." Ujar Bulan lirih.


"Kamu duduklah, temani aku makan!" Perintah Alvaro menatap Bulan yang masih berdiri kaku didepannya.


"A-aku ingin kekamar mandi sebentar." Cicit Bulan memberitahu, dia gelisah karena saat ini dibalik bajunya terdapat benda tajam.


"Cepatlah." Bulan mengangguk patuh, dia segera berjalan masuk menuju kamarnya. Bulan menyingkap baju yang dipakainya mengambil pisau dapur yang dia sembunyikan. Sesaat Bulan menatap nanar tajamnya pisau ditangannya.


"Aku benar-benar sudah hancur Al." Gumam Bulan sembari meneteskan air matanya. "Jika kamu membenciku, seharusnya kamu membiarkanku pergi. Aku tidak bisa bertahan disini lebih lama lagi." Bulan ingin kebebasannya kembali, dia diapartemen ini diperlakukan layaknya seperti tahanan. Bulan tidak boleh keluar tanpa seizinnya, sebulanan ini dia hanya berdiam diri dikamar membuatnya stres dan tertekan.

__ADS_1


Alvaro tidak peduli dengan kondisi mental Bulan, padahal kondisi ibu akan berpengaruh pada janin yang dikandungnya. Perasaan Alvaro telah dikuasi oleh kebencian sehingga menutup hati nuraninya. Pemuda itu sungguh kejam, memperlakukan Bulan semena-mena tanpa memikirkan betapa terpuruknya wanita itu.


Bulan mengusap lelehan air mata yang menggenang dipipi, dia segera menyelipkan pisau itu dibawah bantalnya. Bulan memutuskan kembali lagi menuju meja makan, dia duduk berhadapan dengan Alvaro menyantap nasi gorengnya. Mereka berdua sarapan bersama dengan keheningan, sesekali Bulan menatap Alvaro namun Bulan segera menundukkan kepalanya lagi. Setelah selesai sarapan Bulan membereskan meja, dia lantas kedapur untuk mencuci piring bekas makan mereka.


Tangan besar seseorang tiba-tiba mematikan kran westafel membuat Bulan mendelik, dia tahu siapa pelakunya. Alvaro menarik tangannya menggiringnya menuju ruang tengah.


Tubuh Bulan melayang tatkala Alvaro menggendongnya untuk mendudukkan wanita itu diatas meja panjang. "Apa yang ingin kamu lakukan Al?" Tanya Bulan merasa jengah.


"Aku ingin makanan penutup." Ujar Alvaro memberitahu seraya menatap lekat istrinya, Bulan menelan ludahnya susah payah karena pemuda dihadapannya terlihat bernafsu meneliti tubuhnya.


Alvaro tidak menggubrisnya, dia menarik dress yang dikenakan istrinya memperlihatkan tubuh polosnya. Alvaro merebahkan Bulan di atas meja. Dia mencengkram kedua tangan Bulan untuk menahannya. Alvaro mendekatkan wajahnya, menatap lekat wajah cantik yang selalu membuat dirinya terpesona dan hanyut dalam gairah. Bulan terlihat pasrah karena memberontakpun tidak ada gunanya.


Alvaro memagut lembut bibir Bulan, wanita itu nampak diam tidak merepon seolah mempersilahkan Alvaro untuk berbuat sesuka hati kepada tubuhnya. Dada Bulan sakit, hingga dia seakan telah mati rasa. Alvaro menggeram disela-sela ciumannya, dia marah karena Bulan bersikap dingin dan acuh kepadanya. Setiap mereka melakukan hubungan badan Bulan seperti mayat hidup yang terpaksa menerima setiap sentuhannya.


Tidak berselang lama Alvaro melepas tautan bibirnya memberi kesempatan Bulan untuk bernafas. Pemuda itu menjamah leher jenjang Bulan memberi beberapa tanda kemerahan, tidak tinggal diam tangan kanannya menyusuri kaki jenjang Bulan naik membelai perutnya.

__ADS_1


Dia menggigit bibir bawah, meredam suaranya. Alvaro bisa melihat ekspresi meringis istrinya yang menahan nyeri. Alvaro tidak peduli, dia menarik tubuh Bulan untuk duduk kembali dalam pelukannya. Alvaro kembali menyambar bibir ranum Bulan, menciumnya secara intens. Bibir Bulan begitu manis, dia menyukai rasanya.


Bulan merasa capek, dia bersandar pada dada telanjang Alvaro karena pemuda itu memeluknya dengan erat seakan enggan untuk melepaskan.


Alvaro membelai surai rambut panjang istrinya. "Diamlah Bulan, aku menyukai wanita yang penurut tidak banyak bicara." Ujar Alvaro menikmati tubuh istrinya yang menggoda. Tubuh mereka melekat satu sama lain dengan keringat membasahinya. Bulan mendongakkan kepalanya karena Alvaro mencumbu dirinya. Wanita itu nampak tersengal-sengal dengan dada naik turun bernafas.


"Al, alvaro berhenti." Cicit Bulan memberitahu, kakinya sudah merasa kebas. Alvaro mencengkram pinggul Bulan menahan wanita itu yang sedang berusaha mendorong tubuhnya untuk menyingkir. Alvaro mengamati lekat wajah cantik Bulan, perlahan matanya terpejam. Bulan kehilangan kesadarannya dalam pelukan Alvaro membuat pemuda itu menghela nafas kasar.


Alvaro menepuk pipi Bulan beberapa kali. "Bulan." Panggilnya, namun wanita itu tidak meresponnya. Ini bukanlah yang pertama karena Bulan seringkali pingsan ketika mereka berhubungan, jadi Alvaro tidak terlalu cemas dengan kebiasaan Bulan. Pemuda itu melihat tubuh Bulan kian hari semakin melemah, apakah mungkin karena mendekati persalinannya.


Tinggal menghitung hari, bayi dalam kandungan Bulan lahir membuat Alvaro gusar. Fikirannya melayang pada surat gugatan perceraian yang diajukan oleh Bulan sebelumnya, sampai detik ini Alvaro enggan untuk menandatanganinya. Jujur dia belum rela untuk menceraikan Bulan, hatinya belum siap jika Bulan dimiliki oleh pria lain. Dia memang membenci Bulan karena penghianatan yang dilakukannya, tapi masih ada perasaan sayang dibenak Alvaro untuk istri pertamanya itu. Bulan akan tetap menjadi miliknya dan Alvaro enggan untuk membiarkan Bulan pergi dari hidupnya.


Pemuda itu menggendong Bulan, dia membawanya menuju kamar. Perlahan dia membaringkan tubuh Bulan diatas ranjang, tidak ingin istrinya kedinginan karena AC menyala lantas Alvaro menyelimuti tubuh polos Bulan. Pagi ini hujan begitu lebat, menambah sejuk suasana hari ini. Alvaro mengulurkan tangannya membelai pipi istrinya dengan lembut.


"Aku tidak akan melepaskanmu Bulan." Gumamnya menatap lekat wajah cantik istrinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2