Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 105 : Keinginan Laura


__ADS_3

Laura menunduk, dia memasang wajah sedih sesekali dia juga mengusap matanya yang tidak mengeluarkan air mata. “Aku sedih Farez, memikirkan nasip putriku. Alvaro menolak perpisahan ini, dia pasti akan menggunakan uangnya untuk membatalkan sidang perceraiannya.” Ujar Laura memberitahu keluh kesahnya kepada Farez.


Pemuda itu mengepalkan tangan kanannya terlihat emosi mendengar penuturan Laura, Elfarez tidak habis fikir dengan Alvaro. Dia sudah menyakiti istrinya dengan begitu kejam, namun ketika Bulan menginginkan perceraian, pria bejat itu malah berusaha menolak. Alvaro benar-benar brengsek! Farez tidak akan membiarkan Bulan jatuh ke tangan pria itu lagi.


“Alvaro mengancam Bulan, apabila dia tetap melanjutkan proses perceraian maka Alvaro akan mengambil hak asuh anak mereka jika bayi dalam kandungan Bulan telah lahir.” Farez menggeram marah, dia juga akan bertindak agar Bulan bisa segera berpisah dengan Alvaro dan setelah itu maka Farez akan langsung menikahinya.


“Saya akan membantu Bulan, itu bukanlah hal yang sulit bagi saya tante.” Ujar Farez berusaha meyakinkan Laura. “Tante jangan sampai Bulan kembali kepada Alvaro, saya bisa membantu kalian.” Laura sumringah mendengar ucapan Farez, dia merasa sedikit lega jika memang Farez mau membantunya.


“Tante jujur saja, saya mencintai putri tante.” Laura seketika mendongak menatap lekat Farez, pemuda itu mengakui bahwa dirinya tertarik dengan Bulan membuat Laura turut senang. “Setelah Bulan berpisah dengan Alvaro saya ingin menikahi putri tante. Jika saya menjadi suami Bulan, apapun akan saya lakukan demi kebahagiaan putri tante. Saya juga akan menyanyangi anaknya Bulan seperti anak saya sendiri.” Laura mengulum senyum, memang itu yang dia inginkan.


“Alvaro tidak akan bisa merebut hak asuh anak Bulan jika putri tante mau menjadi istri saya. Jikapun Alvaro tetap kekeuh mengambil anaknya, dia tidak akan menang melawan saya tante.” Ujar Elfarez dengan tegas.


“Tante akan memberi restu untuk kalian.” Sahut Laura dengan lantang, jelas dia akan menyetujuinya.


Farez tersenyum, perasaannya lega mendengar penuturan wanita paruh baya dihadapannya. Dia sudah mendapatkan restu dari Laura, tinggal meyakinkan Zhafran dan juga Bulan. “Tenang saja Farez, tante akan membujuk Bulan. Dia juga pasti bersedia menjadi istrimu, dia pasti mau.” Ujar Laura menggebu-gebu.


Farez nampak menghela nafas perlahan, dia berharap Bulan bisa menerimanya namun kelihatannya Bulan masih butuh waktu. “Saya tidak ingin memaksa Bulan tante, saya memang mencintainya akan tetapi belum tentu Bulan juga memiliki perasaan yang sama kepada saya.”


Laura menggeleng cepat. “Farez dengarkan tante, kamu pasti bisa mendapatkan Bulan. Dia tidak akan mampu membesarkan anaknya sendirian. Bulan tetap membutuhkan sosok suami dalam hidupnya, dan kamu adalah lelaki yang tepat untuk putri tante. Lambat laun Bulan akan menyadari ketulusanmu, tante yakin perlahan dia akan mulai mencintaimu. Kamu jangan menyerah, tante akan mendukungmu.” Farez mengangguk senang, setidaknya Laura akan mempermudah jalannya untuk lebih dekat dengan Bulan.


Wanita paruh baya itu mendongak, menatap seseorang dari dibelakang Farez. “Ah sayangku, ayo kemarilah.” Seketika Farez menoleh, dia mendapati Bulan menjulang berdiri didekatnya.


"Ayo duduklah sayang, kami sudah menunggumu untuk makan bersama." Ujar Laura dengan antusias, sejenak Bulan dan Farez saling beradu pandang. Bulan segera mengalihkan tatapannya, dia lantas duduk disamping mamanya.


Laura mengambilkan nasi kepiring Bulan dan juga Farez membuat pemuda itu sedikit canggung dengan perlakuan Laura yang begitu perhatian kepadanya. “Bulan, mama membuatkanmu sayur bayam, ayo coba kamu cicipi. Mama melihat di internet bahwa sayur bayam bagus untuk ibu hamil.” Ujar Laura membuat Bulan tersenyum.


Laura lantas menatap pemuda dihadapannya. “Farez makanlah yang banyak, jangan sungkan-sungkan.” Farez mengangguk, dia mulai menyantap makanan dipiringnya begitu juga dengan Bulan. Ayam goreng dan sayur bayam buatan mamanya sangatlah enak meskipun ini hanyalah makanan sederhana. Bulan jadi teringat dengan papanya, setiap mamanya memasak papanya tidak pernah mau mencicipinya. Pemuda paruh baya itu lebih menyukai masakan mama Nadia padahal makanan buatan mamanya tidak kalah lezat. Oleh karena itu jika papanya berada dirumah Laura tidak pernah memasak, dia tidak ingin membuang tenaga dan waktunya untuk membuatkan makanan yang dianggap hambar oleh Zhafran.

__ADS_1


“Hm Farez, apakah hari ini kamu akan pulang kerumahmu?” Tanya Laura tiba-tiba membuat Bulan seketika menoleh menatap nanar pemuda didepannya saat ini. Berarti hari ini Farez akan kembali kerumahnya, itu lebih baik. Bulan merasa sungkan dengan tetangga disekitar jika Farez tinggal lebih lama lagi dirumahnya. Rumor mengenai rumah tangganya saat ini masih memanas, Bulan tidak ingin mendatangkan gosip baru yang dapat memperkeruh keadaan.


“Iya tante, maaf jika saya merepotkan.” Balas Elfarez, dia menginap dirumah ini karena Bulan. Pria itu ingin selalu berada didekat Bulan.


“Kita sama sekali tidak merasa direpotkan Farez. Tante malah senang kamu beberapa hari ini tinggal disini, kami menjadi merasa aman.” Sahut Laura dengan lantang. "Pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk kamu."


Bulan menghela nafas, dia masih menyantap makanannya tidak menghiraukan mamanya yang tengah asyik berbincang dengan Elfarez. "Kapan-kapan menginaplah lagi dirumah ini karena Bulan merasa senang ketika kamu berada didekatnya."


"Uhuk...uhuk." Bulan mengambil gelas diatas meja lalu meminumnya, dia sampai tersedak mendengar penuturan mamanya barusan.


Laura melirik putrinya yang berada tepat duduk disampingnya. “Putriku itu pemalu, jadi jangan heran jika dia kadangkala merasa canggung ketika berdekatan dengan seorang pria.” Ujar Laura memberi penjelasan kepada Farez agar pemuda itu memaklumi Bulan yang kadangkala bersikap dingin.


“Ma—“


Laura menatap Bulan lekat, memotong ucapan putrinya yang ingin membuka suara. “Sebentar lagi Bulan akan bercerai dari Alvaro, setelah mereka resmi berpisah tentu Bulan akan menikah lagi.” Bulan mengerutkan dahinya, dia merasa malu. Kenapa mamanya tiba-tiba berkata demikian? Bulan belum berfikir sejauh itu. “Aku rasa kalian berdua serasi, kenapa kalian tidak mencoba membuka hati satu sama lain? Farez adalah pria yang baik, mama rasa dia merupakan pria yang cocok untuk menjadi suamimu kelak Bulan.” Bulan seketika melotot mendengarnya.


"Bulan pernah bilang mengenai dirimu, katanya kamu adalah pria yang lembut dan perhatian." Laura lagi-lagi memotong pembicaraan Bulan, seolah tidak memberikan kesempatan bagi Bulan untuk berbicara. Laura beralih menatap intens pemuda dihadapannya. "Bagaimana menurutmu Farez? Apakah kamu bisa menerima Bulan apa adanya? Tante ingin kamu yang menjadi suaminya Bulan.” Laura sengaja menunjukkan kepada putrinya bahwa dirinya berniat menjodohkan Bulan dengan Farez.


Bulan memandangi mamanya seolah menyuruh wanita paruh baya itu untuk berhenti berbicara, lama kelamaan kalau dibiarkan Laura semakin tidak terkendali. Mamanya selalu berbuat semaunya sendiri tanpa mendengarkan Bulan terlebih dahulu membuatnya geram.


“Itu tergantung Bulan tante, saya menunggu jawaban darinya. Jika dia bisa menerima saya, setelah proses perceraian maka saya akan segera menikahinya.” Bulan termangu di tempat, saat ini Farez menatapnya ingin melihat bagaimana reaksi Bulan.


Laura tersenyum sumringah, pria manapun pasti akan tertarik dengan pesona putrinya. Hanya lelaki bodoh seperti Alvaro yang matanya katarak rela mencampakkan Bulan demi rumput liar.


“Tapi a—“ Laura segera menginjak kaki kiri putrinya hingga membuat Bulan meringis merasakan nyeri.


Elfarez meletakkan sendoknya diatas piring, dia sudah menyelesaikan makannya. “Tante, terimakasih untuk sarapan pagi ini. Saya izin berangkat ke kantor.” Pamit Farez seraya beranjak berdiri.

__ADS_1


Laura memberi anggukan. “Iya hati-hati ya Farez.”


Sekilas pemuda itu melirik Bulan yang hanya diam membisu, namun tidak lama kemudian Farez berjalan keluar dari kediaman keluarga Bramasta. Bulan menatap punggung Elfarez yang telah menghilang dari balik pandangannya. Wanita itu menghela nafas, lantas dia menatap mamanya dengan sorot mata tajam. “Ma, mama kenapa berbicara seperti itu kepada Farez?” Tanya Bulan merasa kesal dengan sikap mamanya.


"Supaya kamu bisa menjadi bagian dari keluarga Abraham yang kaya raya itu." Balas Laura dengan santai.


"Ma, aku belum ingin menikah. Setelah bercerai aku ingin fokus untuk merawat anakku ma.” Ujar Bulan menatap Laura dengan sendu.


Laura merasa geram, dia mencengkram bahu putrinya menatap Bulan dengan sorot mata tajam. “Dengar Bulan, jika kamu ingin merawat anakmu maka kamu harus menikah dengan Elfarez. Karena hanya dia yang bisa membantumu agar anakmu tidak jatuh ketangan Alvaro.” Bulan meneteskan air mata, dia merasa jengah terus dipaksa oleh mamanya. Dulu mamanya menjodohkannya dengan Alvaro dan sekarang dia malah menginginkan dirinya untuk menikah dengan Farez. Bulan capek menuruti semua rencana mamanya, seolah-olah hidupnya seperti boneka yang dikendalikan oleh mamanya.


Wanita paruh baya itu memutar bola matanya malas karena Bulan malah menangis, padahal Laura melakukan ini demi kebaikan putrinya dan masa depan cucunya.


"Mama hanya bisa membantumu sampai disini saja Bulan, mama sudah menghabiskan banyak uang demi proses perceraianmu. Kamu fikir siapa lagi yang bisa menolong kita selain Farez hah? Dengan kamu menjadi istrinya Farez maka Alvaro tidak akan mempunyai kesempatan untuk mengambil hak asuh anakmu. Dia tidak akan berani berbuat macam-macam kepadamu karena kamu memiliki kuasa dalam naungan keluarga Abraham." Laura berusaha menegaskan dimana posisinya Bulan seharusnya berada.


"Pikirkan ini baik-baik Bulan, jika memang kamu tidak mau menikah dengan Elfarez, maka siapkan dirimu untuk kehilangan bayimu." Tegas Laura merasa kesal dengan putrinya yang bodoh. Wanita manapun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, Elfarez terang-terangan menunjukkan rasa cintanya. Seharusnya Bulan senang dan langsung menerimanya namun Bulan malah jual mahal membuat Laura jengkel.


Batas kesabaran Farez juga ada batasnya, jika pemuda itu marah karena menunggu kepastian Bulan bisa-bisa Farez mencari wanita lain. Laura tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Farez harus menikah dengan putrinya bagaimanapun caranya. Mau tidak mau Laura akan memaksa Bulan untuk menerima Farez agar tujuannya untuk menghancurkan Bintang dan Nadia tercapai.


“Tapi ma—“


Laura beranjak berdiri, dia memandangi putrinya dengan raut wajah emosi. “Sudahlah Bulan, mama capek nasehatin kamu!” Wanita paruh baya itu lantas pergi menjauh meninggalkan Bulan sendirian duduk termangu di meja makan. Dia mengusap lelehan air matanya yang membasahi pipi, apakah Bulan tidak bisa hidup bebas tanpa kekangan dari siapapun? Bulan hanya ingin hidup damai dengan anaknya.


Dia perlahan mengusap lembut perut besarnya, sampai kapan Bulan seperti ini? Dirinya berada dalam kendali mamanya. Bulan sangat hafal bagaimana tabiat mamanya, bukannya Bulan ingin membantah tapi Bulan sudah lelah mengikuti semua rencana Laura yang bertujuan untuk membalaskan dendam.


“Bulan juga capek ma.” Gumam Bulan merasa miris dengan dirinya sendiri yang diperlakukan seperti boneka hidup oleh mamanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2