
Alvaro merasa kecewa dengan Bulan, rupanya wanita itu selama 3 bulan ini memanfaatkan kepergiannya ke London untuk selingkuh dengan Elfarez. Bagaimana dia tahu? Alvaro tidak serta merta meninggalkan Bulan begitu saja tanpa pengawasannya, semenjak Bulan meminta cerai darinya membuat pemuda itu kalang kabut. Alvaro selalu diliputi perasaan ketakutan bahwa Bulan akan pergi dari hidupnya, dia belum rela melepaskan istri pertamanya. Bulan terang-terangan mengatakan bahwa dia sudah tidak mencintai Alvaro lagi bahkan Bulan dulu pernah mengaku akan membuka hati untuk pria lain. Ucapan istrinya itu sungguh mengganggu fikiran Alvaro, dia tidak akan membiarkan pria manapun mendekati miliknya apalagi pria mata keranjang seperti Elfarez.
Maka dari itu selama Alvaro berada di London dia memerintahkan orang suruhannya untuk membuntuti dimanapun istri pertamanya itu berada dan bersama siapa. Setiap informasi yang berhasil dia didapatkan, orang suruhannya itu akan melaporkannya. Bahkan dia juga mengirimkan beberapa foto hasil jepretannya kepada Alvaro. Tanpa disangka gambar yang dikirimkannya penuh dengan foto-foto kebersamaan Bulan dengan Elfarez. Ada salah satu foto yang membuat emosinya memuncak yaitu moment dimana Farez sedang mencium kening Bulan didalam mobil.
Apa-apaan itu? Farez mencari kesempatan dalam kesempitan memanfaatkan kondisi Bulan yang tengah tertidur untuk menyalurkan hasratnya. Perbuatan nakal Farez tidak bisa dimaafkan, dia telah melampaui batas berani menyentuh miliknya. Ini bukan yang pertama kalinya karena dulu Farez juga pernah mencium bibir Bulan di parkiran mall. Alvaro rasa pemuda itu memang berniat merebut Bulan dari sisinya, Farez terlihat mempunyai obsesi dengan Bulan. Dari sorot matanya yang memancarkan ketertarikan kepada Bulan dan kelakuannya membuat Alvaro gerah karena pemuda itu terus saja ingin menempel seperti parasit di hidup Bulan.
Cih, jangan harap Farez bisa merebut hati dan raga Bulan. Jika memang Bulan sudah tidak mempunyai perasaan sayang kepada Alvaro maka dia akan membuat Bulan jatuh cinta lagi kepadanya. Tidaklah sulit meluluhkan hati Bulan, dia sudah hafal dengan setiap sifat dan perilaku Bulan sedari kecil apalagi Alvaro merupakan cinta pertamanya Bulan. Sedikit perhatian dan rayuan cukup untuk menaklukkan wanita itu.
"Kak Al." Alvaro tersadar dari lamunannya tatkala Bintang menepuk pelan bahunya. Sedari tadi pemuda itu duduk disofa dengan televisi yang masih menyala. Bintang kira Alvaro tengah menonton tayangan TV tersebut, namun rupanya Bintang mendapati bahwa suaminya malah melamun.
"Kak apa yang sedang kamu fikirkan?" Tanya Bintang menyelidik, entah mengapa akhir-akhir ini suaminya menjadi sering melamun.
Alvaro menggeleng sembari tersenyum. "Aku hanya memikirkan pekerjaanku dikantor karena besok aku sudah mulai bekerja."
"Oh, begitu." Bintang memakluminya, Alvaro adalah tipe pria pekerja keras. Selama 3 bulan ini dia memilih meninggalkan pekerjaannya demi bulan madu bersama dengan Bintang di London. Jika masalah pekerjaan dia memang tergolong seorang pemuda yang ambisius, karena Alvaro ingin membuktikan kepada papanya bahwa dia bisa memajukan perusahaan tanpa bantuan Dirga karena selama ini Papanya selalu meremehkan kemampuannya. Apapun yang Alvaro lakukan papanya selalu ikut campur, seolah-oleh dia adalah robot yang bisa dikendalikan oleh pria tua itu.
Alvaro mengernyitkan dahi tatkala dia melihat Bintang yang telah memakai pakaian rapi dengan membawa tas selempangnya. "Kamu mau kemana?” Tanyanya.
“Kak aku izin kerumah temanku ya kak, karena aku belum menyelesaikan skripsiku. Temanku bilang dia akan membantuku untuk mengerjakan skripsiku. Kamu tahu sendirikan kak, aku mendapatkan dosen pembimbing yang menyebalkan.” Ujar Bintang cemberut kesal, istrinya itu memang pernah curhat kepada Alvaro bahwa dosen pembimbingnya skripsi sulit untuk ditemui.
Apalagi sekalinya konsul revisinya sangat banyak. Sampai sekarang Bintang belum mendapatkan acc dari dosennya. Tiga bulan dia cuti dari kampus untuk liburan ke London, dosennya sudah mencari dirinya untuk segera menyelesaikan tugas akhirnya. Sebenarnya Bintang merupakan mahasiswi berprestasi karena dia anak yang pintar, namun entah mengapa skripsinya berakhir alot seperti ini.
“Nanti aku akan menginap disana kak.” Lanjut Bintang memberitahu. Sebenarnya Alvaro merasa cemas apalagi ini sudah sudah malam, tidak seharusnya wanita itu pergi sendirian.
“Aku akan mengantarkanmu Bi.” Balas Alvaro.
Bintang langsung menggeleng. “Tidak usah kak, aku sudah dijemput oleh temanku. Sekarang dia sudah berada didepan menungguku.” Ujarnya karena dia tidak ingin merepotkan suaminya untuk mengantar jemput dirinya. Bintang tahu bahwa suaminya pasti tidak tega membiarkannya pergi, Alvaro sangatlah mencintainya.
Bintang yakin bahwa Alvaro nanti malam pasti tidak akan bisa tidur tanpa dirinya, sejenak Bintang mengingat setiap malam dirinya tidur selalu dalam pelukan hangat suaminya seolah pemuda itu enggan untuk melepaskannya. Meskipun Alvaro terkenal dengan sifatnya yang dingin namun setiap berada didekat Bintang dia akan bersikap romantis dan perhatian.
Alvaro beranjak berdiri dari sofa, dia mengusap puncak kepala Bintang seraya tersenyum manis. “Tidak apa-apa, aku mengizinkamu pergi. Tapi ingat Bintang jaga dirimu baik-baik karena kamu sedang mengandung anak kita.” Pemuda itu beralih menyentuh lembut perut Bintang.
__ADS_1
“Iya kak, aku pergi ya kak.” Bintang mengecup sekilas bibir Alvaro, lantas wanita itu berjalan keluar dari rumah dengan perasaan berbinar. Baginya Alvaro adalah penyemangat hidupnya, beban sebesar apapun jika pemuda itu selalu berada disampingnya maka Bintang akan merasa tenang.
Alvaro menghela nafas, dia menatap ke sekeliling rumahnya yang terasa sepi karena kepergian Bintang. Pandangan matanya jatuh pada sebuah kamar yang berada didekat tangga, itu adalah kamar Bulan sedari siang tadi wanita itu sama sekali belum keluar dari kamar. Apa yang dilakukan Bulan didalam kamarnya? Batin Alvaro bertanya. Urusannya dengan wanita itu belumlah selesai. Mengenai perselingkuhan yang Bulan lakukan selama ini, wanita itu perlu menjelaskannya.
Tok...tok...tok
"Bulan!" Alvaro mengetuk pintu kamarnya, namun tidak ada sahutan dari dalam. "Bulan buka pintunya!" Perintah Alvaro tegas.
Bulan sedikit terkejut mendengar gedoran pintu kamarnya cukup keras. Wanita itu memilih diam, tidak ingin menyahut panggilan dari suaminya atau bahkan membukakan pintunya. Dia benar-benar malas menghadapi Alvaro, sekarang biarkan dia bebas. Urus saja hidup masing-masing, Bulan tidak ingin diatur lagi oleh Alvaro.
Ting...
Bulan membuka notifikasi whatsapp yang masuk, mata Bulan menelisik membaca sebuah pesan dari Elfarez.
Farez
Besok kamu ada cara nggak? Aku mau ngajak kamu jalan-jalan besok siang.
^^^Bulan^^^
^^^Baiklah, pergi kemana?^^^
"Bulan! Apa kamu tidak dengar?!" Sekali lagi Alvaro menggedor pintu sembari berteriak memanggil istrinya namun lagi-lagi tidak ada sahutan dari dalam kamar. Sialan, apakah Bulan sudah tidur? Tapi ini masih jam 7 malam. Alvaro benar-benar geram, dia merasa diabaikan dan tidak dihargai sebagai seorang suami.
Ceklek
Bulan berjengkit kaget tatkala seseorang berhasil membuka pintu kamarnya. Dia menoleh, matanya membola mendapati suaminya berdiri menjulang di ambang pintu.
Bulan beranjak berdiri menatap heran suaminya. "Ba-bagaimana ka-kamu bisa masuk?" Tanya Bulan tergagap, dia tadi padahal sudah mengunci pintunya.
Alvaro tersenyum remeh mendengar pertanyaan dari Bulan, dia tidaklah bodoh! Alvaro mempunyai kunci cadangan kamar Bulan sehingga dia bisa kapan saja menyelinap masuk kedalam kamar wanita itu. Dia berjalan mendekati Bulan, otomatis wanita itu melangkah mundur. Tangan Alvaro terkepal kuat mendapati Bulan rupanya tidak tidur, dia dari tadi mengetuk pintu kamar dan berulang kali memanggil namanya tapi Bulan tidak menjawab.
__ADS_1
"Apa kamu tuli? Apa kamu bisu hah?!" Bentak Alvaro sarkas. Bulan hanya menundukkan kepalanya, dia tidak berani menjawab. Tatapan matanya mengarah pada ponsel yang berada digenggaman Bulan yang masih menyala. Alvaro merebut ponsel itu membuat Bulan terperanjat, dia berusaha merebut ponselnya.
"Kembalikan poselku." Tangan Bulan berusaha menggapai ponselnya namun pemuda itu menahan tubuhnya agar tetap diam di tempat. Rahang Alvaro bergemelatuk tersulut emosi membaca pesan Elfarez bersama dengan istrinya. Pemuda bajingan itu mengajak istrinya kencan dan dengan polosnya Bulan malah menyetujuinya. Ini semakin menguatkan bukti-bukti yang telah dia dapatkan bahwa rupanya Bulan memang menjalin hubungan spesial dengan Farez.
Sialan! Bagaimana bisa Alvaro kecolongan seperti ini. Dia mengira bahwa Bulan sudah berubah menjadi sosok wanita yang lebih baik, oleh sebab itu Alvaro berusaha bersikap lembut kepadanya. Namun sekarang dia sadar bahwa sikap lunaknya telah dimanfaatkan oleh Bulan, dia jadi berbuat semaunya sendiri. Bulan memang tidak pantas mendapatkan perlakuan lembut darinya, wanita itu memang pantas diperlakukan secara kasar.
BRAK
Alvaro membanting ponsel Bulan dengan keras ke lantai hingga pecah menjadi dua membuat wanita itu seketika melotot menantap nanar ponselnya yang rusak.
"Al kamu gila!" Bulan menunduk ingin mengambil ponselnya namun Alvaro dengan keras menarik tubuhnya.
"Sampai sejauh mana hubunganmu dengan Farez hah?" Desis Alvaro tajam menuntut penjelasan dari Bulan. Wanita itu nampak memutar bola matanya malas, sungguh Bulan merasa pusing karena yang ada difikiran Alvaro hanyalah kecurigaan terus-menerus.
"Itu bukan urusanmu Al!" Tegas Bulan tidak kalah emosi.
"JAWAB BULAN!" Bentak Alvaro menggelegar hingga membuat telinga Bulan berdengung.
"Aku telah tidur bersamanya, bahkan aku akan menikah dengannya setelah kita bercerai. Apa kamu puas dengan jawabanku hah!" Bulan sudah muak dengan Alvaro, akan lebih baik jika pria itu membencinya agar proses perceraian mereka semakin dipermudah.
Alvaro tertawa sumbang, dia seakan tidak percaya dengan ucapan Bulan barusan. "Aku sangat menyukai kejujuranmu." Ujarnya menatap Bulan dengan beringas.
Alvaro lantas mendorong tubuh Bulan dengan keras hingga terlentang dikasur. Pemuda itu menindih tubuh Bulan, mengurung wanita itu agar tidak memberontak. Mata Bulan melebar tatkala Alvaro membuka bajunya dihadapan Bulan.
Dada Bulan berdetak kencang, tidak dapat dipungkiri bahwa dia saat ini merasa takut. "Al, Alvaro ka-kamu mau apa?" Cicitnya gemetar takut, dia mencoba memberontak dari rengkuhan suaminya.
"Kamu bilang selingkuhanmu telah mencicipi tubuhmu. Aku rasa kamu tidak keberatan jika malam ini kamu memuaskan suamimu sendiri." Ujar Alvaro sembari meneliti lekuk tubuh istri pertamanya yang menggoda.
"Ja-jangan, aku tidak mau!"
Bersambung...
__ADS_1
Biar aku semangat menulis cerita ini mohon dukungannya dengan like, komen, vote dan memberi gift jika kalian menyukai novel ini. Terimakasih :)