
Bintang menunjuk jari telunjuknya tepat didepan wajah Bulan. "Berkacalah kak, betapa murahannya dirimu!" Hina Bintang dengan mulut pedasnya, padahal dia juga harusnya melihat dirinya sendiri yang telah menikah dengan suami orang lain tapi Bintang enggan untuk sadar diri.
"Kak Al hanya menjadikan dirimu pelampiasan saja. Tidak ada cinta untukmu, yang ada hanyalah nafsu semata. Hanya aku satu-satunya wanita yang dicintai kak Al"
Deg
Bulan tertohok dengan ucapan adiknya barusan seolah mempertegas posisinya. Perasaan Bulan berdenyut nyeri namun dia berusaha agar tidak terpancing amarahnya. Jika dia ikut berbicara untuk sekedar membela diri pasti masalah ini akan menjadi rumit. Situasi saat ini sudah memanas, Bulan tidak ingin memperkeruh keadaan.
"Aku sangat membencimu kak, enyahlah kamu dari kehidupan kami!" Bintang mendorong tubuh Bulan dengan keras hingga wanita itu terjatuh membuat Alvaro melotot dengan tindakan istri kesayangannya itu.
"Ahh..." Bulan meringis sakit sembari memegangi perutnya karena merasakan nyeri.
"Bintang!" Bentak Alvaro memperingatkan wanita itu, tingkahnya kali ini sungguh keterlaluan. Tidak ingin menggubris Alvaro yang sedang marah padanya, Bintang berlari menaiki tangga menuju kamar mereka. Alvaro tidak menyangka Bintang bisa sekasar ini kepada saudarinya sendiri. Meskipun Bintang adalah wanita yang paling spesial dihati Alvaro namun pemuda itu tidak akan membenarkan tindakan jahat apapun bentuknya.
Alvaro berjongkok, dia cemas dengan Bulan yang merintih kesakitan. "Ayo aku akan mengantarkanmu ke dokter." Ujar Alvaro dengan tegas dibalas gelengan oleh Bulan.
“Tidak, aku tidak apa-apa. Perutku sakit karena sedikit terkejut.” Bulan mencoba bangun, dia memekik tatkala tubuhnya melayang. Alvaro meraih tubuhnya, menggendongnya masuk kedalam kamar. Pemuda itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Alvaro duduk ditepi ranjang menatap nanar Bulan yang mengelus perut besarnya, pemuda itu menghela nafas dia menjadi merasa bersalah karena belum mampu memperlakukan kedua istrinya dengan adil. “Kamu yakin tidak ingin dibawa kerumah sakit?” Tanya Alvaro memastikan, dia khawatir dengan kondisi anaknya yang berada dalam kandungan.
Bulan menganggukkan kepalanya. “Tidak perlu Al, lagipula hanya dorongan kecil.” Ujar Bulan memberitahu, dia hanya ingin menyelesaikan obrolan ini.
Alvaro menyunggingkan senyum, tangannya terulur membelai surai rambut istrinya. “Baiklah istirahatlah dikamar saja, aku akan membawa sarapanmu kesini.” Pemuda itu beranjak berdiri berjalan keluar kamar.
Bulan menatap punggung suaminya pergi, dia mengusap lembut perut besarnya. “Sabar ya sayang, mama yakin kita pasti bisa melewatinya.” Gumamnya sendu menguatkan diri.
Dikamar Bintang mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan, ranjang nampak berantakan. Tercium bau percintaan mereka semalam pada sprei kasur membuat Bintang bertambah geram. Tatapan matanya jatuh pada keranjang tempat pakaian kotor. Bintang berjalan mendekat, dia mengambil dress putih bermotif bunga sakura. Dia yakin ini adalah pakaian kakaknya, Bintang memegangi dadanya yang bergemuruh membayangkan mereka semalam memadu kasih dikamar ini. Hati Bintang seketika berdenyut nyeri, dia benar-benar tidak rela suaminya menjamah perempuan lain selain dirinya.
__ADS_1
Ceklek
Bintang menoleh tatkala mendengar pintu kamar terbuka, dia segera menaruh dress itu kembali ke keranjang. Dia mendapati Alvaro berdiri diambang pintu. Pemuda itu melangkahkan kakinya mendekati Bintang, Alvaro tahu bahwa Bintang saat ini kecewa kepadanya tergambar jelas dari wajah juteknya.
“Bi, aku menyayangkan tindakanmu hari ini.” Ujar Alvaro menatap tajam wanita dihadapannya, dia tidak ingin basa-basi lagi kepada Bintang karena wanita itu sudah keterlaluan dengan Bulan. Sebencinya Alvaro dengan Bulan namun dia tidak akan membela Bintang yang jelas salah karena memperlakukan kakaknya sendiri dengan kasar.
“Kamu mendorong Bulan hingga jatuh, jika dia keguguran bagaimana?" Tanya Alvaro sedikit meninggikan suaranya.
Bintang termangu, sebegitu pentingnya Bulan bagi Alvaro hingga pemuda itu membentaknya seperti ini? Bintang merasa dirinya sama sekali tidak salah, ini sudah menjadi resiko bagi Bulan karena telah membuat masalah dengan dirinya. Wanita penggoda seperti kakaknya pantas mendapatkan ganjaran. Akan lebih baik jika bayi yang dikandung Bulan keguguran agar Bintang bisa hidup tenang tanpa adanya gangguan dari kakaknya dan anak dari perempuan itu yang sama-sama menyebalkan baginya.
Bintang menatap sendu suaminya. "Kak kenapa kakak malah membela kak Bulan hah?" Tanyanya dengan perasaan kalut.
Alvaro harus bersikap tenang menghadapi Bintang, dia yang lebih dewasa berusaha sabar menghadapi Bintang karena wanita itu masih labil apalagi emosinya Bintang naik turun semenjak hamil. "Karena kamu salah Bi, jika terjadi sesuatu yang buruk dengan bayi yang berada dalam kandungan Bulan maka aku akan--."
"Menceraikanku, iya?!" Tantang Bintang menggebu-gebu. Dia sebenarnya tidak bermaksut mengatakannya namun entah kenapa dia jadi keceplosan karena tersulut emosi. "Katakan kak, kakak lebih pilih aku atau kak Bulan hah? Jika kakak tidak segera berpisah dengannya maka lebih baik kakak ceraikan aku saja!" Tegasnya mutlak, dia memang sengaja ingin mengancam Alvaro. Bintang masih cukup percaya diri jika Alvaro pasti akan memilihnya karena Alvaro sangat menyayanginya.
Bintang menggeleng seakan tidak terima dengan jawaban Alvaro, rupanya pemuda itu memang telah terjerat pada pesona kakaknya. Hanya karena embel-embel anak yang dikandungnya, Alvaro menjadi luluh. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, Bintang harus mengambil tindakan.
"Kak, bayi yang berada didalam kandungan kak Bulan itu bukanlah anakmu." Tuduh Bintang menfitnah Bulan, berharap Alvaro mempercayai ucapannya.
"Bi jangan mengada-ngada." Balas Alvaro memperingati.
Bintang memutar bola matanya malas. "Kak aku berbicara jujur, selama ini kak Bulan menjalin hubungan dengan Daren." Wanita itu mengerutkan dahi tatkala melihat Alvaro malah tertawa. Ayolah, Alvaro merasa bingung dengan kedua istrinya. Sebelumnya Bulan yang menuduh adiknya selingkuh dengan Daren sekarang malah sebaliknya.
Bintang menatap manik mata suaminya, dia saat ini sedang berbicara serius bukan melucu dihadapan Alvaro. "Aku pasti bisa membongkar kebusukan kak Bulan selama ini."
Sejenak Alvaro berfikir karena Bulan terlihat meyakinkan, jika diteliti lebih dalam lagi memang Bulan sebelumnya pernah berpacaran dengan Daren sewaktu SMA. Tapi semenjak Daren pergi ke Amerika mereka tidak pernah berhubungan sama sekali. Sebenarnya ada apa dengan kedua istrinya ini, kenapa mereka berdua kompak saling menfitnah satu sama lain? Alvaro benar-benar tidak habis fikir.
__ADS_1
"Jika kamu punya bukti maka aku akan percaya." Ujar Alvaro menatap tajam Bintang dengan raut wajah dinginnya. "Sekarang aku memberimu waktu untuk merenungkan kesalahanmu Bi." Alvaro lantas berjalan pergi meninggalkan Bintang dikamar sendirian.
"Arrgghhhh sial!" Umpat Bintang merasa kesal, semua ini adalah kesalahan kakaknya. Alvaro sekarang menjadi marah kepadanya, Bintang pulang kerumah ingin memperoleh ketenangan diri tapi kenyataannya dia malah dihadapankan dengan masalah.
"Aku akan menghancurkanmu kak Bulan." Desis Bintang penuh dengan emosi, dia tidak tahan hidup serumah dengan Bulan.
Tring...tring...tring
Ponsel Bintang berdering, dia segera merogoh tas selempangnya mengambil ponsel. Dari layar benda pipih itu tertera nama Daren yang menelfon, dia sebenarnya enggan untuk menjawab namun Bintang tidak ingin membuat masalah lagi dengan pemuda bajingan itu.
Bintang mengangkat telfonnya dengan perasaan malas. "Hallo."
"Hallo sayang. Hei kenapa nada suaramu jutek seperti itu? Padahal aku ingin mendengar sapaan dengan suara lembutmu." Balas Daren sembari terkekeh membuat Bintang semakin kesal.
"Ada apa kamu menelfonku hah? Jika tidak penting lebih baik aku menutup telefonnya." Ujar Bintang geram, dia sudah muak mendegar suara Daren yang menyebalkan.
"Tunggu dulu sayang." Daren menghentikan Bintang yang ingin memutus pembicaraan mereka di telfon. "Mengenai rencana kita, besok aku akan mengeksekusinya."
Bintang seketika sumringah mendengarnya, baru kali ini Daren membuatnya senang. "Aku ingin kamu melenyapkannya." Tegasnya memberitahu, dia sudah tidak peduli lagi dengan siapa Bintang berhadapan dan apapun resikonya.
"Sebelum dia ke neraka, aku ingin bermain-main dengannya." Ujar Daren tersenyum sinis. "Sayang sekali tubuh indahnya jika aku belum menyentuhnya dia tidak boleh mati bukan?" Tanyanya seraya tertawa membayangkan mangsanya besok.
"Terserah aku tidak peduli! Aku hanya ingin dia enyah dari hidupku selamanya."
Daren kembali tertawa mendengarnya, rupanya Bintang seorang psycho, dia tidak sepolos yang Daren kira. Membunuh orang bukan perkara yang mudah, tapi demi Bintang apapun akan dia lakukan.
Bersambung...
__ADS_1