Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 71 : Dendam


__ADS_3

Elfarez tersenyum sumringah didepan kaca kamarnya, jantungnya berdetak kencang. Melihat Bulan memasak untuknya malam ini membuat Farez terbawa suasana. Dia merasa seperti sudah memiliki seorang istri, bahagianya Farez andaikan itu benar terjadi. Fikiran Farez melayang membayangkan tatkala dia tadi pulang bekerja disambut oleh Bulan yang tengah sibuk membuatkan makanan didapur, Bulan memancarkan aura keibuan baginya. Penampilan Bulan yang memakai kemeja putih kebesaran miliknya dengan rambut yang diikat asal membuat Farez tidak bisa mengedipkan mata walaupun sedetik.


Lelaki normal manapun pasti akan terpesona dengan kecantikan Bulan, sebisa mungkin Farez menahan hasratnya. Tidak mudah bagi Farez mengontrol dirinya apalagi didepan wanita yang dia cintai, dulu Farez selalu bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan. Bahkan para wanita itu yang menawarkan diri untuk menjadi penghangat ranjangnya. Jujur saja, dia bukanlah pria baik dan polos karena Farez dulu merupakan seorang pria nakal yang senang bergonta-ganti pasangan. Tapi sekarang dia mencoba ingin berubah, karena papanya mengancam Elfarez jika tetap berperilaku buruk maka ayahnya akan mencoret namanya dari kartu keluarga.


Papanya sebenernya menuntut dirinya untuk segera mencari seorang istri, namun dia hanya ingin menikah dengan Bulan. Tidak ada wanita lain yang bisa menyentuh hatinya selain Bulan. Meskipun Bulan telah bersuami Farez tidak peduli, lagipula Alvaro yang merupakan suaminya Bulan telah mencampakkan wanita itu dengan kejam. Elfarez bertekat kuat ingin merebut Bulan dari tangan Alvaro.


Perlahan Farez menghela nafas, dia menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. Setelah menenangkan jantungnya berdetak tidak karuan lantas dia memutuskan untuk turun kebawah menemui Bulan yang sedang menunggunya. Dimeja makan Bulan sudah menyajikan masakannya yaitu nasi goreng omelet.


Melihat kedatangan Farez, dia nampak berbinar senang. “Farez duduklah, ah iya aku akan menuangkan saosnya. Nasi goreng omelet akan terasa enak jika dimakan dengan saos.” Ujar Bulan mengoleskan sedikit saos diatas telur.


Farez duduk dikursi, berhadapan langsung dengan Bulan. Dia masih senantiasa mendengarkan Bulan yang masih mengoceh. “Sebelumnya apakah kamu pernah makan nasi goreng omelet?” Tanya Bulan menatap Farez dengan raut wajah penasaran. Dia sebenarnya takut jika Farez tidak tertarik dengan masakannya, karena Bulan memang tidak handal dalam memasak.


"Pernah." Balas Elfarez, dia mulai menyantap makanan buatan Bulan. Sejenak Farez terdiam usai mencicipinya. "Masakan buatanmu bahkan lebih enak daripada omelet yang pernah aku beli direstaurant." Ujarnya memberitahu membuat Bulan melongo. Tidak menyangka bahwa Farez melontarkan pujian untuk masakannya. Sebelumnya tidak pernah ada satupun orang yang menghargai makanan buatannya.


Farez berkata jujur, dia tidak berbohong. Memang nasi goreng omelet ini sangatlah enak. "Bulan besok bisakah kamu membuatkan bekal untukku. Aku akan membawanya kekantor, karena aku akan kerja lembur dan pulang malam."


"Kamu ingin aku membuatkan bekal makan siangmu besok?" Tanya Bulan dengan mata berbinar senang.


"Iya, apakah aku tidak merepotkanmu?" Jika Bulan tidak mau juga tidak apa-apa. Entah mengapa melihat Bulan memasak, Farez ingin merasakan membawa bekal seperti beberapa temannya yang telah beristri kadangkala membawa sekotak makanan buatan istrinya di kantor.


"Tidak repot kok, aku malah senang memasak makanan untuk orang lain." Ujar Bulan terlihat bersemangat. Di rumah Alvaro dia jarang memasak karena suaminya tidak pernah menyukai makanan buatannya, sehingga Bulan jadi malas untuk berkutat di dapur.

__ADS_1


Bulan dan Elfarez menikmati makan malam berdua sembari mengobrol santai. Saat bersama dengan Farez Bulan menjadi wanita yang banyak bicara berbeda ketika dia bersama dengan Alvaro, dia memilih untuk diam membisu karena takut ucapannya dapat membuat pria arogan itu marah. Farez memiliki sifat ramah selalu bisa mencairkan suasana, sehingga Bulan merasa nyaman berada didekatnya.


...****************...


Alvaro dikamarnya masih berkutat didepan laptop, banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan. Entah mengapa dia tidak bisa fokus mengerjakan tugas kantornya, ada beberapa proposal dan rekapan data perusahaan yang harus dia periksa. Arrghh! Alvaro mengacak rambut tebalnya, dia terngiang-ngiang dengan ucapan Farez tadi dikantor. Alvaro penasaran siapa kekasih yang dimaksutkan oleh Elfarez?


Alvaro meraih ponselnya di atas nakas, dia menekan nomer mertuanya untuk memastikan sesuatu. Seharusnya Bulan pulang kerumah orang tuanya ketika dirinya diusir. Fikiran Alvaro tidak akan tenang sebelum dia tahu keberadaan Bulan sekarang.


Panggilan telefon berdering sedang menghubungkan, beberapa detik kemudian suara dari sebrang menyapa telinganya. "Hallo, Al."


"Hallo Ma" Balas Alvaro seraya mengusap kasar wajahnya. "Ma apakah Bulan saat ini berada dirumahmu?" Tanyanya dengan gusar.


"Tidak, Bulan tidak ada disini. Sudah sebulan dia tidak berkunjung kerumah, memangnya ada apa?" Laura balik bertanya, dia penasaran karena Alvaro tiba-tiba menelfonnya menanyakan keberadaan putrinya. Tidak biasanya Alvaro seperti ini, Laura menjadi curiga. "Al katakan, sebenarnya ada apa? Apakah Bulan keluar tanpa seizinmu, sehingga kamu mencarinya? Kalian bertengkar lagi?" Tanya Laura menebak, Alvaro dan Bulan memang sering bertengkar tapi setidaknya mereka seharusnya membicarakannya baik-baik.


"Lalu Bulan ada dimana? Al kamu pokoknya harus mencari Bulan sampai ketemu." Perintah Laura mendesak Alvaro.


"Mama tenang saja, Bulan kemungkinan menginap dirumah temannya. Jika amarahnya sudah mereda dia pasti akan pulang kerumah." Ujar Alvaro memberitahu.


"Baiklah Al, kabari mama jika kamu sudah menemukan Bulan." Jujur Laura cemas jika Bulan kabur-kaburan seperti ini. Laura masih berharap putrinya akan tetap bertahan bersama Alvaro. Laura cukup tahu bagaimana sakit hatinya Bulan selama ini tinggal serumah dengan istri keduanya Alvaro, namun jika Bulan memilih kabur berarti dia malah yang kalah.


"Iya aku akan mengabari mama." Setelah selesai berbincang ditelefon, Alvaro langsung mematikan ponselnya sepihak. Sial! Alvaro mengumpat dalam hatinya, kemana perginya Bulan? Awas saja jika perempuan ****** itu tidur dirumahnya Elfarez, sumpah Alvaro tidak akan membiarkannya.

__ADS_1


Dada Alvaro bergemuruh panas, dia pasti akan menemukan keberadaan Bulan. Alvaro rasa dia salah mengusir Bulan, pasti perempuan itu malah senang karena bisa bebas berkeliaran bersama pria-pria selingkuhannya. Alvaro tidak bisa membayangkan bahwa Bulan akan menjajakan tubuhnya untuk Daren dan juga Farez.


Alvaro mengepalkan kedua tangannya. "Awas saja kamu Bulan, aku akan menemukanmu dan memberi pelajaran yang setimpal atas penghianatanmu!" Geram Alvaro dengan rahang bergemelatuk emosi.


Disisi lain Bulan baru selesai mencuci piring dan membereskan dapur, Bulan duduk di sofa ruang tamu. Tangannya terulur mengelus perut besarnya, kadangkala dia merasakan nyeri pada perutnya. Usia kehamilannya sekarang memasuki 7 bulan, bahkan Bulan bisa merasakan tendangan kencang dari anaknya. Dia sudah lama tidak cek kandungan ke dokter, bukannya Bulan tidak peduli dengan anaknya namun memang dia belum sempat untuk datang kerumah sakit. Masalah dalam hidupnya terus berdatangan, hingga Bulan merasa stres memikirkannya kadang dia sampai lupa jika dirinya tengah hamil.


Menanggung beban sendirian sangatlah berat, Bulan tidak berani untuk sekedar curhat kepada mamanya. Padahal mamanya merupakan satu-satunya keluarga yang peduli dengannya, kalau saja mamanya tidak mempunyai riwayat penyakit jantung mungkin Bulan akan langsung pulang kerumah. Saat ini hanya Farezlah yang bisa membantunya, Bulan sadar jika dia terlalu bergantung dengan Farez.


Huh, Bulan merebahkan sejenak tubuhnya di sofa. Sekarang mungkin Alvaro tengah bergembira bersama dengan Bintang tanpa adanya gangguan darinya. Tidak apa-apa memang semestinya seperti itu, sudah seharusnya Bulan enyah dari kehidupan mereka sejak dulu. Lamat-lamat kedua mata Bulan terpejam, dia merasakan kantuk yang tidak bisa dibendung.


Langkah kaki Farez berjalan menuju ke dapur, dia tadi selesai makan merebahkan dirinya sejenak di kamar. Pemuda itu menunggu kedatangan Bulan, namun wanita itu tidak kunjung muncul. Elfarez mengernyitkan dahinya tatkala tidak menemukan keberadaan Bulan.


"Bulan." Panggil Farez sembari mengedarkan pandangannya pada seisi ruangan namun sama sekali tidak ada sahutan.


Farez berjalan menuju ruang tamu, dia menatap nanar seorang wanita yang tengah berbaring tidur pada sofa ruang tamu. Farez mendekatinya, dia tersenyum melihat Bulan. Kenapa dia malah tidur disini? Pantas saja Farez sedari tadi menunggu dikamar Bulan tidak kunjung datang. Farez tidak tega membangunkan Bulan, dia perlahan mengangkat tubuh Bulan menggendongnya menaiki tangga.


Farez memasuki kamarnya, membaringkan tubuh Bulan di atas kasur. Dia menyingkirkan uraian rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Bulan. Tangannya terulur mengusap pipinya, Bulan terlihat tidur dengan damai membuat Farez menyunggingkan senyumnya. Farez senang dia bisa sedekat ini dengan Bulan meskipun dirinya hanya bisa mengamatinya. Mata lentik Bulan terpejam, wanita itu telah mengarungi dunia mimpi.


Elfarez masih betah berlama-lama memandangi wajah cantik Bulan, tidak heran jika banyak pria yang mengidolakan wanita itu saat Bulan masih terjun didunia modeling. Dari sekian banyaknya pria mengapa harus Alvaro? Mengapa bukan dirinya saja tuhan yang menjadi suaminya Bulan? Tatapan Farez jatuh pada bibir Bulan yang sedikit terbuka, dia mengulurkan tangannya mengusap lembut bibir ranum Bulan.


"Sekali saja, bolehkah?" Gumam Farez bertanya pada dirinya sendiri, dia terlihat gusar. Perlahan Farez mendekatkan wajahnya, dia menautkan bibirnya ******* bibir ranum Bulan sekilas. Jantungnya kembali berdebar tidak karuan, dia diam-diam telah mencium bibir manis Bulan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2