Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 12 : Malaikat Pelindung Berhati Iblis


__ADS_3

Seorang remaja lelaki berlari tergesa-gesa melewati lorong sekolah. Dia tadi baru saja selesai bermain basket dengan teman setimnya di lapangan, namun salah satu siswi bertanya kepadanya mengenai keberadaan Bulan. Pasalnya Bulan yang berpamitan mengikuti ekstrakurikuler dance tidak hadir dalam latihan. Siswi tersebut tahu bahwa Alvaro adalah sahabatnya Bulan, dia fikir Alvaro mengetahui kenapa Bulan tidak ikut latihan hari ini.


Pemuda itu nampak bingung, dia tidak tahu sama sekali dimana Bulan berada. Fikiran buruk kini berkecamuk dalam otak Alvaro, pemuda itu tahu bahwa banyak anak yang membenci Bulan apalagi para gadis disekolahnya yang terang-terangan iri terhadap kecantikan Bulan. Tidak terkecuali cowok-cowok yang menyukainya tidak pernah direspon oleh Bulan membuat mereka kesal. Mungkin saat ini Bulan sedang mendapatkan masalah, Alvaro memutuskan untuk mencari gadis itu.


Jika mereka mempunyai rencana yang buruk, Alvaro bisa menebak bahwa Bulan mungkin akan disekap di tempat yang gelap dan sempit. Dan tempat satu-satunya adalah gudang belakang sekolah. Tidak perlu bertanya bagaimana Alvaro bisa dengan mudah menebaknya, karena kejadian ini bukanlah yang pertama kalinya. Jika benar saat ini Bulan terkunci di dalam gudang, maka kejadian ini terhitung sudah kelima kalinya peristiwa ini terjadi. Tanpa pikir panjang lagi Alvaro berlari menuju gudang belakang sekolah untuk mencari keberadaan Bulan.


Dor...dor...dor


"Tolong...tolong! Siapapun diluar sana, tolong bukain pintunya hiks..hiks." Bulan berusaha sekuat tenaga untuk menggedor pintu berharap ada orang yang mendengarnya.


"Bulan kamu didalam?" Teriak Alvaro dengan lantang memastikan keberadaan gadis itu. Terlihat dari raut wajah tampannya dia begitu khawatir.


"Al-Alvaro itu kamu?! Teriak Bulan dengan keras, berharap lelaki itu mendengar dan segera menyelamatkannya. "Al aku disini, aku terkunci didalam gudang. Selamatkan aku hiks...hiks. Aku takut Al hiks."


Mendengar suara gadis yang dicarinya, Alvaro segera berjalan mendekat tanpa basa-basi pria itu menendang pintu gudang dengan kuat hingga pintu rapuh itu terbuka lebar. Melihat sosok Alvaro di ambang pintu dengan langkah tertatih Bulan langsung memeluk pemuda itu.


"Aku takut. Aku sangat takut Al hiks...hiks." Alvaro mengelus lembut punggung bergetar Bulan untuk menenangkan gadis itu.


Beberapa detik kemudian Bulan mengurai pelukannya. Alvaro mengusap sisa air mata yang membasahi pipi Bulan. Tatapan matanya jatuh pada lutut Bulan yang nampak luka mengeluarkan darah. Luka itu didapat karena dia tadi memanjat mencoba keluar dari jendela akan tetapi karena kursi yang dia naiki rapuh alhasil gadis itu terjatuh membuat kakinya kesleo dan tergores kayu lemari.


Tanpa basa-basi lagi Alvaro mengangkat tubuh Bulan, dia memekik kaget karena tiba-tiba Alvaro menggendong tubuhnya. Otomatis Bulan mengalungkan tangannya pada leher Alvaro. Pemuda itu membawa Bulan menuju UKS, dia membaringkan tubuh Bulan di brankar.


Alvaro mengambil kotak P3K, dia duduk di samping brankar mengobati luka Bulan dengan mengoleskan kapas yang telah diberi alkohol. Bulan nampak meringis merasakan perih ketika kapas itu bersentuhan dengan kulitnya.


Melihat ekspresi Bulan yang nampak menahan sakit, Alvaro lantas meniup luka di lututnya berharap dengan begitu sedikit mengurangi rasa sakit. Bulan tersenyum, dia trenyuh dengan perlakuan Alvaro terhadapnya. Selama ini hanya Alvaro yang mau berteman dengannya di sekolah, kemana lelaki itu pergi pasti Bulan akan mengekorinya dari belakang. Baginya Alvaro adalah malaikat pelindung baginya, ketika dia sering di bully anak-anak pasti Alvaro akan membelanya bahkan lelaki itu tidak segan-segan memukul lelaki yang terang-terangan mengganggunya. Bulan benar-benar menyukai Alvaro, sifat baik dan perhatiannya nyatanya mampu membuat Bulan tersipu.


Gadis itu perlahan bangkit, dia beralih untuk duduk. "Al makasih ya." Ujar Bulan menatap lelaki dihadapannya sembari tersenyum manis.


"Hmm." Ujar Alvaro hanya berdehem, dia meletakkan kembali kapas beserta botol alkohol ke dalam kotak P3K.


Aktifitas Alvaro yang sibuk membereskan obat untuk membersihkan lukanya tidak luput dari pandangan Bulan, gadis itu terus menatap wajah tampan Alvaro sambil senyam-senyum sendiri karena senang.


"Ada apa?" Tanya Alvaro yang menyadari bahwa dia ditatap oleh Bulan sedari tadi.


Cup


Alvaro menegang tatkala bibir Bulan bersentuhan dengan bibirnya. Ciuman sekilas namun terasa manis bagi Alvaro. Gadis itu meremas rok abu-abu pendeknya, dia takut karena tindakan agresifnya bisa menyebabkan Alvaro marah kepadanya.


Dengan takut-takut Bulan melirik Alvaro. "A-a-aku sangat menyukaimu Al." Ujarnya seraya menundukkan kepalanya, dia berani mengutarakan perasaannya karena melihat Alvaro yang nampak diam saja, dia bahkan juga tidak marah. Bulan tidak terlalu berharap jika rasa sukanya mendapatkan balasan baik dari Alvaro karena dia tahu dimana posisinya. Namun setidaknya dia sudah mengungkapkan perasaannya sedikit membuat dirinya lega.


Alvaro menolehkan pandangan, dia menatap lekat wajah gadis didepannya. "Kalau kamu menyukaiku kenapa kamu malah jadian dengan Daren?" Tanyannya dengan nada dingin.

__ADS_1


Bulan kebingungan menjawab, sebenarnya alasan dia menjalin hubungan dengan Daren karena dia ingin membuat Alvaro cemburu, begitu juga sebaliknya alasan Daren mau berpacaran dengan Bulan karena dengan begitu dia bisa menjadi lebih dekat dengan adiknya yaitu Bintang. Tidak ada rasa cinta diantara hubungan mereka selain hanya sebatas hubungan kerjasama untuk tujuan masing-masing.


"A-aku--" Bulan tergagap, dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Apakah kamu memberikan ciuman pertamamu kepada Daren?" Tanya Alvaro memotong ucapan Bulan.


"Tidak!" Bulan seketika mengangkat kepalanya, dia tidak ingin Alvaro salah paham. "I-ini adalah ciuman pertamaku, aku tidak pernah memberikan kesempatan Daren untuk menyentuhku." Cicit Bulan pada akhirnya.


Entah kenapa Alvaro malah terlihat tersenyum mendengar jawaban polosnya membuat Bulan kesal jadinya. Alvaro mengangkat tangannya, dia membelai pipi Bulan dengan usapan lembut. Gadis itu menatap lekat Alvaro, begitupun sebaliknya. Dari segi manapun Alvaro akui Bulan memang gadis yang cantik, mata lentiknya, hidung mancung yang mungil, dan bibir tipis semerah cherry mampu menghipnotis lelaki manapun yang melihatnya. Tanpa terasa jarak diantara mereka berdua menipis bahkan Bulan bisa mencium aroma mint dari hembusan nafas Alvaro.


Bulan terkejut ketika benda kenyal menyentuh bibirnya, matanya membola menatap Alvaro kini menciumnya. Bulan reflek memundurkan tubuhnya namun Alvaro malah menekan tengkuknya memperdalam ciumannya. Alvaro ******* bibir Bulan, seolah terasa candu.


"Hmpphhh." Bulan hanya bisa memejamkan matanya, dia kewalahan tidak bisa mengimbangi permainan Alvaro. Ini pertama kalinya dia berciuman, berbeda dengan Alvaro yang memang sudah handal dalam melakukan hal seperti ini dengan seorang gadis melihat sepak terjang dirinya yang menjadi idola kaum wanita disekolahan ini.


Bulan meremas kaos oblong yang dikenakan Alvaro, dia mendorong dada lelaki itu karena mulai kehabisan nafas. Alvaro melepaskan tautan bibirnya memberi kesempatan Bulan untuk menghirup oksigen. Bulan nampak terengah-engah, dia fikir Alvaro akan menyudahinya. Namun ternyata lelaki itu malah beralih mencium lehernya memberi tanda kemerahan disana. Bulan hanya diam saja diperlakukan seperti itu oleh Alvaro. Dia tidak merasa senang, dia juga tidak menikmatinya. Tapi dia takut Alvaro akan marah jika menyuruhnya berhenti.


Pemuda itu masih bermain dengan memberikan beberapa tanda di leher jenjang gadis itu, tidak sampai disitu bahkan tangannya kini berani membuka kancing seragam putih yang dikenakan Bulan. Dua kancing teratas telah terlepas menampakkan belahan dada Bulan terpampang. Gadis itu membelalakkan matanya, dia tersadar jika ini dilanjutkan mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk. Mereka saat ini berada di area sekolah yang sepi, tidak ada satu orangpun disini selain mereka berdua karena semua orang sudah pulang.


"Al berhenti." Cicit Bulan sembari memegang tangan Alvaro yang melepas kancing bajunya. Sungguh Bulan takut sekali jika mereka keblabasan.


Alvaro seketika mendongak menatap intens gadis di hadapannya yang nampak bergetar takut. "Tenanglah, aku tidak akan melakukan hal sejauh itu, hapus fikiran kotormu." Ujar Alvaro mencoba menenangkan gadis di hadapannya.


"Ta-tap tapi." Bulan nampak ragu, bukankah ini sama saja diluar batas meskipun mereka tidak melakukan hubungan secara intim.


"Tidak." Cicit Bulan, dia benar-benar takut jika Alvaro marah. Dia tidak ingin pemuda itu kecewa, karena hanya Alvaro teman satu-satunya yang mau bergaul dengannya di sekolah. Pria itu juga baik, selalu menolongnya disaat dia susah. Alvaro adalah sahabatnya sedari kecil dan Bulan sangat mencintainya, lalu bagaimana mungkin gadis itu tidak percaya kepada Alvaro? Bulan sangat percaya penuh dengan Alvaro.


"Baiklah, lakukan sesukamu." Lanjutnya melirik ke arah Alvaro.


Alvaro tersenyum mendengarnya, pemuda itu melanjutkan aksinya. Dia kembali menyambar bibir ranum Bulan seraya melepas semua kancing seragam gadis itu bahkan dia juga melepaskan penghalang yang menutupi buah dada Bulan. Gadis itu hanya bisa pasrah, membiarkan pemuda itu menyentuh tubuhnya. Dengan berani Alvaro meremas kedua buah dada Bulan membuat gadis itu menegang sesaat namun dia berusaha tenang. Kini Alvaro perlahan membaringkan tubuh Bulan di atas brankar, Alvaro menyangga tubuhnya agar tidak terlalu menindih gadis itu.


"Al aku sangat mencintaimu." Ujar Bulan disamping telinga Alvaro ketika pemuda itu menyusuri leher jenjangnya. Gadis itu memeluk tubuh Alvaro menenggelamkan kepalanya dalam kehangatan tubuh Alvaro. Pemuda itupun membalas pelukan itu seraya mengusap lembut rambut panjang Bulan.


Maafkan aku Bul, tapi aku tidak akan pernah bisa membalas perasaanmu karena aku lebih mencintai adikmu. Maaf karena keegoisanku, kamu menjadi pelampiasan amarahku. Batin Alvaro merasa bersalah.


Alvaro mengingat kejadian dua hari yang lalu ketika dia menyatakan perasaannya kepada Bintang dia ditolak mentah-mentah oleh gadis manis itu.


"Bi apakah kamu mau menjadi kekasihku?" Tanya Alvaro penuh harap sembari menggenggam kedua tangan Bintang.


Gadis manis itu segera melepas genggaman tangan Alvaro. "Maaf kak." Bintang menundukkan kepalanya, merasa tidak enak hati. "Aku tidak bisa kak, aku ingin fokus belajar dulu saat ini. Aku tidak bermaksut menolakmu kak, justru aku ingin menjaga perasaanmu. Jika kita menjalin hubungan saat ini, aku tidak yakin bisa mempunyai banyak waktu untukmu kak karena kesibukanku."


Alvaro memaklumi jika Bintang mungkin belum siap karena gadis itu masih SMP, mungkin dia masih labil apalagi sebentar lagi dia akan menghadapi ujian kelulusan.

__ADS_1


"Daripada aku mengecewakanmu alangkah lebih baik kita berteman saja." Jawabnya kemudian seraya tersenyum manis, namun penyataan itu cukup membuat perasaan Alvaro terluka hingga dia melampiaskan kepada Bulan yang tidak tahu apa-apa. Memanfaatkan kepolosan dan ketulusan Bulan hanya untuk ego Alvaro semata.


"Al berjanjilah, kamu nggak akan ninggalin aku." Ujar Bulan menggigit bibir bawahnya, dia berusaha menahan ******* karena ulah Alvaro.


Alvaro lagi-lagi tersenyum, senyuman cukup menenangkan tapi sebenarnya mematikan. "Aku janji." Jawabnya singkat lalu melanjutkan menggerayangi tubuh indah Bulan.


Jika teringat masa lalunya, Alvaro akui dia memang brengsek. Bulan yang dahulu adalah gadis polos meskipun keras kepala berbeda dengan sekarang wanita itu berubah kejam karena ambisinya. Dan sialnya, Bulan saat ini malah menjadi istrinya. Alvaro menghela nafas kasar, kenapa bayangan masa lalu berputar di fikirannya? Itu membuat suasana hatinya menjadi buruk.


Alvaro menaiki tangga rumahnya, dia barusaja pulang dari kantor. Melihat jam ditangannya menunjukkan pukul 6 sore, langkahnya terhenti ketika dia berada di ambang pintu. Dia ingat bahwa di dalam kamarnya saat ini terdapat macan betina, dia harus berhati-hati. Alvaro mengeluarkan kunci dari saku celananya, dia mulai membuka pintunya.


Pemuda itu melihat istrinya tengah duduk disamping ranjang dengan mengenakan bathrobe kebesaran miliknya. Wanita itu diam tak bergeming sama sekali membuat Alvaro mengernyitkan dahinya. Dia berjalan mendekati Bulan seraya meletakkan paperbag berisi dress di atas nakas.


"Keluargamu mengundang kita makan malam bersama, cepatlah bersiap-siap ganti pakaianmu." Perintah Alvaro dengan nada dingin.


Bulan melirik sekilas ke arah suaminya. "Aku tidak mau!" Ujarnya tidak mau peduli, sungguh Bulan merasa kesal dengan Alvaro. Rasanya dia ingin menangis lagi. Bayangkan saja, belum sembuh luka yang ditorehkan Alvaro karena kejadian brutal semalam, lelaki itu begitu tega mengunci dirinya di kamar sedari pagi. Apa dia sengaja ingin membuatnya mati kelaparan disini, untuk menghilangkan rasa hausnya saja dia minum air kran di westafel. Bahkan dia hanya memakai bathrobe milik Alvaro, hanya ini kain yang melekat ditubuhnya.


Di kamar Alvaro sudah tidak tersisa lagi baju ataupun barang-barang miliknya karena Alvaro yang uring-uringan tidak ingin sekamar dengan wanita iblis seperti dirinya. Alhasil Bulan lebih memilih mengangkut semua barang-barangnya dan lebih memilih tidur di kamar tamu.


"Jika kamu tidak cepat bersiap, kita akan terlambat Bulan." Ujar Alvaro memberitahu. Jika boleh memilih pria itu sebenarnya tidak sudi mengajak Bulan kesana namun jika Bulan tidak ikut keluarganya pasti akan menanyakan ketidakhadiran Bulan dan Alvaro malas untuk mencari alasan.


Bulan bangkit dari kasur, dia menatap Alvaro dengan dada bergemuruh. "Aku tidak peduli!" Ujarnya kemudian, dia berjalan ingin keluar dari kamar setan ini. Biarlah dia mendapat predikat istri durhaka karena melawan suaminya, Bulan sudah muak.


Alvaro mencengkram bahu Bulan menghentikan langkahnya. "Jangan membuatku marah Bulan, kamu memilih mengganti pakaianmu sendiri apa aku yang akan menelanjangimu disini." Ancam Alvaro mendesis tajam.


Bulan memberanikan diri menatap suaminya meredam rasa nyeri dibahu kanannya. "Aku bilang aku tidak mau, bangsat!"


Berani sekali Bulan memaki dirinya seperti itu, apalagi dia sampai mengumpatinya seperti itu membuat Alvaro semakin emosi. Dengan kasar dia menarik tangan Bulan dia hempaskan tubuhnya di atas kasur.


"Lapaskan aku Al." Bulan mencoba bangkit kembali, namun dia tidak bisa karena tubuhnya ditindih oleh Alvaro. Lelaki itu membuka paksa bathrobe yang melekat pada tubuh istrinya hingga telanjang. Alvaro tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.


"Hiks...hiks...hiks." Bulan menangis tersedu-sedu. Mendengar tangisan wanita dibawahnya entah mengapa membuat dada Alvaro berdenyut nyeri, apalagi dia menatap sekujur tubuh mulus Bulan penuh dengan bekas kemerahan karena ulahnya semalam. Dia sedikit merasa iba, dan perasaan itu sungguh mengganggu dirinya.


Alvaro segera bangkit, lelaki itu menatap istrinya yang nampak mengenaskan. "Cepatlah bersiap-siap, aku tidak akan bersikap buruk kepadamu jika kamu menuruti perintahku." Ujar Alvaro melunak. "Aku tunggu kamu diluar." Lelaki itu berjalan keluar kamar seraya menutup pintunya, memberi kesempatan istrinya untuk berdandan.


Bulan mengusap air mata yang membasahi pipinya. Wanita itu membuka paperbag, dia menatap getir dress putih bermotif bunga sakura. Dress yang cantik namun sayang baju ini diberikan oleh monster bernama Alvaro. Bulan yakin jika sebenarnya dress ini bukan diperuntukkan untuk dirinya, mungkin saja dress ini untuk kekasihnya tersayang yaitu Bintang karena dia tidak suka alhasil dilemparkan kepada Bulan. Tebaknya menerka-nerka karena sebelumnya dia tidak pernah mendapatkan apapun dari Alvaro.


Setelah berganti pakaian dan berdandan, Bulan keluar dari kamar. Dia sedikit berlari menuruni tangga karena Alvaro sudah menunggu di dalam mobilnya. Dia tidak ingin memancing emosi suaminya karena telah menunggu lama.


Melihat mobil tesla milik suaminya di halaman rumahnya, Bulan bergegas memasuki mobil. Tanpa melihat atau bahkan melirik istrinya untuk memastikan apakah wanita itu sudah memasang seatbelt atau belum. Alvaro sama sekali tidak peduli, dengan kecepatan tinggi dia melajukan mobilnya begitu saja membuat kepala Bulan hampir mencium dashboard. Bulan hanya bisa memejamkan matanya sembari mengelus dada karena lagi-lagi kesabarannya diuji.


Ini baru permulaan Bulan, entah apa yang akan terjadi di tempat makan malam nanti. Bulan tidak sanggup untuk membayangkannya.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk like dan komentar jika kalian suka dengan cerita ini❤️


__ADS_2