Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 45 : Hubungan Gelap


__ADS_3

Daren Emilio Geraldo seorang pemimpin perusaan tambang cukup besar di Indonesia. Dia bukanlah orang sembarangan, pemuda itu adalah CEO PT Borneo Indahtama. Jika dilihat dari jabatannya, pria mapan seperti Daren seharusnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun disayangkan pemuda itu memiliki kebiasaan buruk yang mungkin sebagian wanita akan berfikir dua kali untuk mendekatinya.


Daren itu pria masokis, siapa wanita yang bisa menerima perlakuan kasar darinya ketika berhubungan? Para wanita penghibur akan berakhir babak belur setelah mereka bermalam dengan Daren. Akan tetapi berbeda jika dia bersama dengan Bintang, pemuda itu akan bersikap lembut, dia tidak akan menyakiti wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya. Sudah lama dia mengincar Bintang, bahkan Daren dulu semasa SMA rela berpacaran dengan Bulan agar dirinya bisa mendekati Bintang. Namun Daren harus menerima pil pahit karena Bintang rupanya mencintai pria lain.


“Daren aku mohon tolong kamu hapus vidionya.” Jika sampai Alvaro tahu bahwa dirinya pernah menghabiskan malam bersama dengan Daren pasti Alvaro akan kecewa.


Daren malah tersenyum puas melihat raut wajah ketakutan Bintang, sudah seharusnya perempuan itu takluk dengannya. Bintang fikir Daren bodoh, sebaliknya Bintanglah yang masuk kedalam perangkap yang sengaja dibuat oleh Daren. Pemuda itu memang handal memanfaatkan kesempatan, disaat Bintang merasa kalut karena rencana pernikahan Bulan dan Alvaro akan dilangsungkan, Daren bagaikan sosok berhati malaikat datang untuk menghibur Bintang. Lambat laun Bintang mulai luluh, dia yang depresi mamikirkan nasipnya karena ditinggal Alvaro menikah mulai berani melampiaskan masalahnya dengan minuman alkohol.


Dalam kondisi Bintang yang mabuk Daren menyalurkan hasratnya kepada wanita itu, lalu diam-diam dia merekamnya. Sesaat Daren kecewa karena dia bukanlah orang pertama bagi Bintang. Ada perasaan marah karena Alvaro rupanya telah merenggut kesucian Bintang, namun meskipun begitu Daren yang terlanjur mencintai Bintang dia tetap menerimanya.


Daren menarik pinggul Bintang mendekat, membuat wanita itu terbelalak. “Temani aku malam ini Bintang. ” Wanita itu memberontak berusaha lepas dari dekapan Daren.


“Aku tidak mau!” Tegas Bintang dengan dada bergemuruh menahan emosi.


“Aku lebih menyukai wanita penurut Bintang, jika kamu berani membantah maka aku akan mengirimkan vidio mesum kita kepada suamimu. Aku penasaran bagaimana reaksinya mengetahui wanita yang sangat disayanginya bercinta dengan pria lain.” Bintang mengepalkan kedua tangannya, telinganya terasa panas mendengar ancaman dari Daren. Dia tidak mengira jika bajingan itu merekam malam panas mereka, vidio itu dijadikan alat ampuh untuk mengontrol Bintang.


“Jangan, kumohon jangan kirimkan vidio itu kepada kak Al.” Cicit Bintang menunduk takut. Selama ini dia telah berjuang untuk bisa menjadi pasangan hidup Alvaro meskipun dia harus menyakiti kakaknya sendiri. Dia tidak ingin hanya karena vidio itu usahanya selama ini menjadi hancur.


Daren membelai lembut pipi Bintang dengan sensual membuat Bintang merinding. "Bagaimana hem, sayang?"


"Iya aku akan menemanimu. Tapi hanya tidur bersama, aku tidak ingin berbuat hal lebih jauh dari itu." Ujar Bintang memberitahu. Daren nampak berfikir sejenak, seolah menimang permintaan Bintang.


Tidak dapat dipungkiri bahwa Daren sangat merindukan Bintang, sudah lama Daren tidak bertemu dengannya. Apalagi ketika dia mendengar kabar bahwa Bintang bulan madu ke London selama 3 bulan, rasanya Daren ingin mengikutinya kesana.


Daren melepaskan tubuh Bintang dari rengkuhannya, dia berjalan mendekati ranjang lalu membaringkan tubuhnya. "Kemarilah sayang." Daren menepuk ranjang disampingnya, senyuman nakal terpatri jelas di wajah tampannya.


Dalam hati Bintang menggeram kesal dengan perlakuan semena-mena Daren, dia sangat menyesal kenapa dia dulu mempercayai lelaki manipulatif ini. Seharusnya saat ini Bintang bisa tidur bersama dengan suaminya, namun dia sekarang harus melayani Daren.


Bintang akan melakukan apapun agar rumah tangganya tetap utuh, termasuk rela menjual harga dirinya untuk Daren. Bintang tidak bisa membayangkan jika vidio itu tersebar, pasti nama baiknya akan hancur dan yang paling buruk Alvaro jelas akan meninggalkannya. Siapa yang akan diuntungkan? Jelas Bulan akan tertawa penuh kemenangan karena dia akhirnya bisa menjadi istri satu-satunya Alvaro. Tidak! Bintang tidak akan membiarkan kakaknya itu memiliki Alvaro seutuhnya.


Bintang melepas jaketnya menyisakan kaos tipis yang melekat ditubuhnya. "Kenapa kamu terlihat canggung?" Tanya Daren sembari meneliti setiap lekuk tubuh indah Bintang.


"Tidak." Elak Bintang, dia menaiki kasur ikut berbaring disamping Daren. Tangan besar pria itu mengusap lembut perut buncit Bintang, dia menyunggingkan senyumnya.


"Aku merindukan anakku." Gumam Daren menatap lekat perut Bintang.

__ADS_1


"Ini adalah anakku bersama dengan kak Alvaro. Kamu jangan asal bicara!" Tegas Bulan membantah ucapan ngawur Daren.


"Ayolah Bi akui saja. Kita bahkan sudah melakukannya sebanyak tiga kali tanpa pengaman. Kemungkinan besar ini adalah buah cinta kita." Bintang mengalihkan pandangannya, ucapan Daren barusan cukup mengganggu fikirannya.


Bintang mulai merasa takut, bagaimana jika bayi yang dia kandung rupanya anak hasil hubungan gelapnya bersama Daren? Tidak-tidak! Bintang yakin ini adalah benih dari Alvaro. Berulang kali Bintang merutuki dirinya sendiri atas kebodohannya, kenapa dia dulu merelakan tubuhnya untuk disentuh oleh pria brengsek seperti Daren. Sekarang Bintang kebingungan bagaimana dia bisa bebas dari jeratan Daren.


"Kurang baik apa aku untukmu Bi, jika kamu mau aku akan bertanggung jawab menikahimu karena kamu telah mengandung anakku. Tapi kamu malah memilih untuk menjadi istri kedua Alvaro." Ujar Daren menguliti masa lalu Bintang yang berusaha untuk merebut suami kakaknya sendiri. "Hatiku hancur melihatmu menikah dengan Alvaro. Tapi setelah aku fikir-fikir lagi, itu bukanlah suatu masalah selama aku masih bisa menikmati tubuhmu."


Dasar gila! Dada Bintang rasanya nyeri mendengar ucapan Daren, dia bukanlah wanita murahan yang bisa dipakai bebas orang pria lain. Tapi ingin melawanpun itu hanya sia-sia karena resikonya terlalu besar. Sebisa mungkin Bulan akan memikirkan bagaimana cara agar dia bisa menghapus vidionya dari Daren agar pemuda itu tidak lagi bisa mengancam dirinya.


Daren menyentuh dagu Bulan hingga wanita itu menoleh kesamping menatapnya. "Jaga anak kita baik-baik Bi, jika terjadi sesuatu yang buruk kepada anakku maka aku tidak akan segan-segan membunuhmu." Tegas Daren memperingati Bintang.


Cih, percaya diri sekali pria ini. Belum tentu juga janin yang berada dikandungannya adalah anak Daren. Batin Bintang mencemooh.


Daren mulai mendekatkan wajahnya, dia menyingkirkan uraian rambut yang menutupi wajah cantik Bintang. Perlahan Daren ******* bibir Bintang. Dia terpaksa menggerakkan bibirnya membalas ciuman dari Daren. Pemuda itu tersenyum disela-sela ciumannya, dia semakin dalam ******* dan mensesap bibir manis Bintang. Dia menggigit dan menarik lembut bibir bawah wanita itu meminta untuk membuka mulutnya. Bintang mengikuti kemauan Daren, dia membuka sedikit mulutnya sehingga Daren bisa menelusupkan lidahnya menggelitik rongga mulut Bintang dan mengulum lidahnya dengan lembut.


Maafkan aku kak Al, aku terpaksa melakukan ini demi keutuhan rumah tangga kita. Batin Bintang menangis pilu.


...****************...


Bulan telah menuruti permintaan Alvaro, lelaki itu ingin menikahi adiknya, Bulan hanya diam saja. Pemuda itu ingin berpisah, Bulan juga akan mengabulkannya. Lalu apalagi yang Alvaro inginkan?


“Kamu juga harus ingat, sampai detik ini aku masih menjadi suamimu. Sebelum palu pengadilan diketuk maka kamu berkewajiban melayaniku sebagai seorang istri termasuk urusan ranjang.”


Mengingat ucapan yang dilontarkan Alvaro semalam sangat menyakiti hati dan perasaan Bulan. Itu berarti selama Bulan masih menjadi istrinya Alvaro maka pemuda itu hanya akan menjadikan Bulan sebagai penghangat ranjangnya saja. Bulam paham jika Alvaro berniat balas dendam kepadanya. Percayalah Bulan sudah berusaha untuk memperbaiki keadaan, apakah Alvaro tidak bisa melihat usahanya? Bahkan disaat dirinya sedang memperjuangkan anak Alvaro yang berada dalam kandungannya, pria itu masih saja memperlakukannya dengan kejam.


"Hiks...hiks...hiks." Bulan membekap mulutnya agar suara tangisannya redam. Alvaro saat ini tertidur disampingnya, dia tidak ingin pria dingin itu bangun dan melihatnya dalam keadaan kalut seperti ini.


Bulan mengusap lelehan air mata yang membasahi pipi, namun lagi-lagi cairan bening itu terus merembes keluar tanpa bisa dibendung. Bulan menyentuh dadanya, dia berusaha menenangkan dirinya.


Tidur Alvaro mulai terusik dengan suara isakan seseorang yang mengganggu indra pendengarannya. Lamat-lamat dia membuka matanya, Alvaro menoleh menatap bahu bergetar seorang wanita yang berbaring memunggunginya.


"Hiks...hiks."


"Bulan." Panggilnya lirih, seketika Bulan terdiam mendengar suara serak suaminya.

__ADS_1


Alvaro beranjak duduk dari ranjangnya, dia menarik tubuh Bulan dari balik selimut membuat wanita itu terkejut. Dia tidak peduli dengan keadaan Bulan yang polos tanpa sehelai benangpun. Pemuda itu menatap nanar istrinya, pandangan matanya jatuh pada lelehan air mata yang membekas dipipinya. Ada perasaan iba dalam benak Alvaro melihat Bulan sedih seperti ini.


Tangannya terulur mengusap pipi Bulan dengan lembut. "Kenapa kamu menangis?" Tanya Alvaro menuntut penjelasan, Bulan memilih untuk tetap diam enggan untuk menjawab membuat Alvaro menggeram marah.


"Katakan Bulan apa yang kamu tangisi hah? Apa karena aku menjamah tubuhmu semalam iya?" Alvaro bertanya dengan nada sarkas menyebabkan Bulan semakin tertekan. "Kamu tidak rela kusentuh, padahal aku adalah suamimu. Tapi kamu malah senang melempar tubuhmu untuk pria lain."


Deg


Lagi-lagi Alvaro menyakiti perasaan Bulan dengan ucapan tajamnya. Pemuda itu bahkan mencengkram kedua bahu Bulan hingga menimbulkan bekas merah yang nampak kontras dikulit putihnya.


"Hiks..hiks, lepaskan aku Al. Jika kamu membenciku aku akan keluar dari rumahmu." Alvaro menukikkan sebelah alisnya tajam, dia semakin tersulut emosi mendengar ucapan istrinya barusan.


"Aku tidak akan melepaskanmu pergi!" Bentak Alvaro kesal. Ini masih jam 2 dini hari tapi istrinya sudah mengajaknya bertengkar.


"Hiks...hiks...hiks." Bulan semakin kencang menangis membuat Alvaro pusing mengatasinya. Jujur dia masih mengantuk, tapi Bulan malah mencari masalah dengannya lagi.


"Aku tidak ingin bertengkar dengamu, tidurlah kembali." Sentak Alvaro berusaha mengontrol emosinya.


"Tidak! Aku ingin pergi, aku ingin pergi menemui mama. Aku ingin pulang hiks...hiks..." Bulan dengan brutal memukul dada bidang Alvaro dengan kedua tangannya.


"Bulan dengar! Bulan." Alvaro menahan kedua tangan wanita itu agar dia tidak memberontak. Pukulan Bulan tidak seberapa baginya, namun sebisa mungkin Alvaro harus menenangkan Bulan yang terlihat kacau.


"Lepas Al, aku ingin pulang. Aku ingin bersama mama!" Ujar Bulan meracau, dia terus memberontak ingin menyakiti Alvaro.


Alvaro langsung memeluk tubuh istrinya dalam dekapan hangatnya. "Suussttt tenanglah. Iya kamu akan menemui mamamu, besok ya." Ujar Alvaro seraya mengelus surai rambut panjang Bulan. Alvaro tahu betul bagaimana kebiasaan istrinya itu, disaat Bulan depresi dia akan mengigau tidak jelas seperti ini. Bukan sekali ataupun dua kali, sebelumnya Bulan juga pernah mengalaminya, jadi Alvaro tidak akan kaget lagi.


"Hiks...hiks...hiks." Perlahan tangisan Bulan mulai mereda, hanya sisa-sisa air matanya yang membasahi pipi. Wanita itu memejamkan matanya kembali, dia merasa kelelahan dan tubuhnya seketika melemas. Bulan tertidur dalam dekapan Alvaro, pemuda itu menghela nafas. Ada rasa sedikit bersalah dalam benak Alvaro karena telah membentak istrinya barusan, disaat seperti ini seharusnya dia bisa bersikap lembut kepada Bulan karena wanita hamil memang cenderung sensitif.


Alvaro merebahkan tubuh Bulan diranjang kembali, dia menyelimutinya agar merasa hangat. Tangan kekar Alvaro mengusap lembut perut buncit Bulan dengan sayang.


"Percayalah, papa sama sekali tidak bermaksut untuk menyakiti mamamu." Gumamnya seolah mengadu pada bayi yang berada dalam kandungan Bulan.


Bersambung....


Alvaro sebenarnya cinta apa nggak sama Bulan menurut kalian gimana?

__ADS_1


Follow ig kepenulisanku : puput_1211


__ADS_2