Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 57 : Memperebutkan Satu Wanita


__ADS_3

Bulan tengah berdiri di depan kaca toilet, dia mengusap bajunya dengan tissue yang dia basahi dengan air agar noda sirup hilang. Dressnya bewarna putih, jadi jika terdapat noda pasti akan terlihat jelas. Bulan menghela nafas kasar, dia melihat pantulan wajah lelahnya dikaca.


"Mama capek, mama ingin pulang. Tapi papamu kelihatannya masih betah disini." Gumam Bulan seraya mengelus perut besarnya. Dia harus segera kembali ketempat pesta karena Alvaro pasti menunggunya disana.


Setelah selesai membersihkan pakaiannya, Bulan berjalan keluar toilet. Tapi kehadiran seorang lelaki membuatnya terkejut. "Kamu disini?" Bulan menatap nanar seorang pria dihadapannya. "Apa yang kamu lakukan didepan toilet perempuan?" Tanya Bulan menyelidik.


"Menunggumu." Jawabnya santai sembari menyilangkan tangan didepan dada.


"Farez pergilah atau kamu akan dijuluki pria mesum jika orang lain melihat keberadaanmu disini."


"Semua orang sedang menikmati pesta, tidak akan ada orang yang kesini." Ujar Elfarez kekeuh membuat Bulan gusar. Jika Alvaro tahu bahwa Farez mengikutinya sampai ke toilet, pria itu akan marah. Ayolah Farez jangan menambahi beban hidup Bulan, dia akhir-akhir ini sudah berbaikan dengan Alvaro, oleh karena itu Bulan tidak ingin memicu emosi suaminya lagi.


Bulan terlihat gelisah. "Farez maaf sebelumnya, aku harus segera kembali ketempat pesta karena Alvaro pasti akan cemas jika aku tidak segera kembali kesana." Dia sebenarnya senang berbicara dengan Farez karena pemuda itu merupakan teman baiknya. Namun Bulan tidak ingin membuat keributan dengan Alvaro, suaminya itu terlihat sangat membenci Elfarez dan selalu menuduhnya selingkuh dengan Farez.


Bulan ingin melangkah pergi namun tangannya ditahan oleh Elfarez. "Tunggu Bulan, beri aku kesempatan untuk berbincang denganmu disini." Bulan menoleh menatap Farez dengan dahi berkerut. Bagaimana ini? Bulan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tidak mungkinkan Alvaro akan mencarinya? Pemuda itu pasti sedang ayik bersama teman-temannya membahas bisnis. Bulan tidak sepenting itu hingga Alvaro akan mencarinya jika dia hilang.


"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku Rez?" Tanya Bulan penasaran.


"Aku berulang kali menelfonmu dan mengirimimu pesan, kamu dimana saja Bulan? Aku sangat khawatir, jika terjadi sesuatu yang buruk denganmu." Ujar Farez memberitahu. Dia seperti ini bukanlah tanpa alasan. Bulan tinggal bersama moster seperti Alvaro, Farez takut jika pemuda itu menyiksa Bulan. Setiap malam Elfarez bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena pikirannya melayang pada sosok wanita yang sekarang berada tepat dihadapannya.


"Ponselku rusak, jadi aku tidak bisa membalas semua pesanmu." Balas Bulan seraya tersenyum. Perasaan Bulan menghangat karena mendapatkan perhatian dari Elfarez, dia seolah mempunyai saudara yang sayang padanya. Elfarez telah banyak membantunya, Bulan merasa dia terlalu merepotkan pemuda itu.


“Apakah Alvaro sering menyakitimu?” Tanya Elfarez penasaran bagaimana kehidupan Bulan selama kembalinya Alvaro ke Indonesia.


Bulan menggeleng pelan. “Tidak, Alvaro memperlakukanku dengan baik.” Farez tidak yakin dengan ucapan Bulan, dia selalu menutupi perilaku buruk suaminya. Melihat bagaimana Alvaro tega menghianatinya tapi Bulan masih saja melindungi nama baik suaminya. Farez miris melihat Bulan, tidak sepantasnya wanita ini berada dalam belenggu pria kejam seperti Alvaro.

__ADS_1


Farez menggenggam kedua tangan Bulan, dia menatap intens wanita cantik dihadapannya. “Bulan tolong jaga perasaanmu, jangan memberi kesempatan suamimu untuk menyentuh hatimu lagi.” Bulan tersentil dengan ucapan Elfarez barusan, mengapa Farez berkata demikian?


“Bulan percayalah aku bisa membantumu untuk mempercepat perceraianmu.”


Deg


Bulan tertegun, perceraian? Iya, dia akan segera berpisah dengan Alvaro setelah bayinya lahir. Ya tuhan sejenak Bulan melupakan fakta itu karena akhir-akhir ini Alvaro bersikap perhatian kepadanya, memperlakukannya dengan manis selayaknya seorang istri. Jujur Bulan sempat terhanyut dengan pesona suaminya, namun Bulan ingat bahwa Alvaro memiliki ego yang tinggi membuat sifatnya bisa cepat berubah. Mungkin saat ini Alvaro bersikap baik, dan Bulan tidak tahu jika sewaktu-waktu Alvaro akan kembali bersikap kasar kepadanya karena musuh terbesar Alvaro sebenarnya adalah dirinya.


Dengan uang yang Farez punya dia bisa membantu Bulan untuk keluar dari jeratan pernikahannya bersama dengan Alvaro. Akan lebih baik jika perpisahan Bulan dipercepat, Farez tidak tega wanita itu menderita lebih lama lagi bersama dengan Alvaro. Pemuda itu sudah siap mengambil posisi Alvaro, dengan begitu jalannya Farez untuk memiliki Bulan semakin terbuka lebar.


Di lain sisi Alvaro sedang berjalan menuju toilet untuk memastikan keberadaan dari istrinya, sedari tadi dia menunggu tapi Bulan tidak kunjung muncul juga ditempat pesta. Padahal Bulan sudah lama berada ditoilet, aneh jika hanya membersihkan bajunya bisa selama ini.


Perlahan Bulan menyentuh perutnya. "Tapi anakku nanti akan lahir tanpa seorang ayah. Aku--."


Dia terkejut mendengar ucapan Elfarez, kali ini Bulan tidak menyukai bercandaan pemuda itu. Kenapa Farez bisa bicara semudah itu? Farez tidak mungkin menikahi janda sepertinya nanti.


"Jangan bercanda Farez. Aku tahu kamu kasihan kepadaku, tapi tolong jangan bicara sembarangan." Tegas Bulan menasehati. Dia bisa mengatasi masalahnya sendiri, dia tidak suka orang lain menganggap dirinya remeh. Selama ini banyak orang yang mempermainkannya hanya karena dirinya sosok wanita yang lemah.


Farez menangkup pipi Bulan membuat Bulan mendongak menatap lekat Elfarez. "Aku serius Bulan, aku berani bicara seperti ini karena aku mencintaimu."


"A-apa?" Bulan masih mencerna ucapan pemuda dihadapannya, mencintainya? Apakah Bulan tidak salah dengar.


Farez mengangguk. "Iya Bulan aku sangat mencintaimu." Tegasnya lagi. Bulan menelisik pada manik mata Elfarez, tapi dia tidak menemukan kebohongan disana. Sejak kapan pemuda itu menyimpan rasa kepadanya? Disaat banyak para wanita cantik diluaran sana mengapa Farez menambatkan hatinya kepada Bulan? Pria seperti Elfarez bisa mendapatkan wanita yang lebih baik daripada dirinya.


"Farez sadarlah, kamu hanya mengagumiku saja. Kamu tidak benar-benar mencintaiku." Balas Bulan mencoba memberi pemahaman bagi Elfarez.

__ADS_1


"Tidak Bulan, aku tulus mencintaimu. Aku menunggu jawabanmu, setelah kamu bercerai dari Alvaro aku akan meminangmu."


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat mereka dengan sorot mata tajam. Dia adalah Alvaro yang berdiri mematung dari balik tembok mendengarkan perbincangan antara Bulan dan Elfarez. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya terkepal kuat mendengar Farez memprovokasi Bulan untuk bercerai darinya. Pria itu rupanya berulah lagi seakan belum kapok menggoda istrinya. Lagipula kenapa Bulan juga malah meladeninya hah? Bikin gerah saja.


"Bulan jika kamu mau menjadi istriku, aku akan membantumu untuk mendapatkan hak asuh anakmu. Kita akan membesarkan anak itu bersama." Bulan nampak berfikir sejenak, hak asuh anaknya? Bulan bisa merawat bayinya setelah bercerai dari Alvaro, dia tidak perlu takut untuk kehilangan anaknya. Ini merupakan kesempatan yang bagus untuk Bulan. Melihat betapa kayanya keluarga Abraham, pemuda itu bisa melakukan apapun yang dia mau dengan kekuasaannya.


Jika Bulan menerima pinangan Elfarez, dia bisa hidup bersama dengan anaknya serta mendapatkan kebebasannya. Tapi Bulan tidak mencintai Elfarez, bukankah itu tidak adil bagi Farez? Tidak seharusnya Bulan memanfaatkan kebaikan Farez untuk kepentingannya.


"Farez aku--- ah."


Seseorang menarik pergelangan tangan Bulan dengan kasar membuat Elfarez terkejut. "Alvaro." Gumam Bulan menatap suaminya nanar. Dada Bulan bergemuruh karena takut, pemuda itu terlihat menahan amarah. Bahkan Bulan bisa merasakan cengkraman kuat ditangannya yang terasa sakit.


Alvaro meraih kerah kemeja Farez. "Aku peringatkan kamu jangan pernah menggoda istriku. Sampai mati aku tidak akan pernah menceraikannya, jadi jangan harap kamu bisa menikahinya. Langkahi dulu mayatku, paham." Dia mendorong kasar Elfarez dengan emosi yang menggebu-gebu.


"Untuk apa kamu mempertahankan Bulan jika kamu tidak mencintainya hah? Lepaskan saja dia, biarkan aku yang membahagiakannya." Tutur Farez dengan berani, dia tidak pernah main-main demgan ucapannya.


Cihh, bocah tengik ini sungguh membuatku kesal! Ujar Alvaro dari dalam hati.


"Itu bukan urusanmu!" Tegas Alvaro tidak ingin berdebat lebih jauh lagi dengan Farez. Cukup, Alvaro sudah muak dengan pemuda itu. Dia mati-matian menahan emosinya, rasanya tangannya gatal ingin memukul wajah Farez yang congak.


"Ayo pulang!" Alvaro menarik tangan Bulan untuk pergi. Dengan langkah lebar Alvaro menggiring Bulan menuju parkiran hingga Bulan terseok-seok berusaha mengimbangi suaminya. Tidak tinggal diam Farez mengikuti mereka dari belakang.


Langkahi dulu mayatku sebelum kamu merebut istriku dari genggamanku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2