
"Aku ingin segera bercerai darimu." Ujar Bulan dengan sengit, dadanya naik turun menahan luapan amarah.
"Apa yang membuatmu berpaling dariku hah?" Tanya Alvaro mendesis sinis namun Bulan enggan untuk menjawabnya. "Apakah karena Elfarez? Katakan apakah kamu mencintainya?" Desak Alvaro menuntut jawaban jujur dari Bulan.
"Iya aku mencintainya." Alvaro menelisik sorot mata Bulan untuk mencari kebohongan, namun tidak ada. Bulan seolah berkata jujur, setidaknya ketika Bulan berada disamping Farez dia merasakan kenyamanan. Pria itu bersikap hangat dan tulus menyayanginya, semua perlakuan itu tidak pernah dia dapatkan dari Alvaro.
Mendengar penuturan Bulan membuat Alvaro merasa cemburu, hatinya terluka. "Jadi ini alasannya kamu selingkuh dengan Farez?!" Tanya Alvaro dengan raut wajah beringas, dia sungguh murka dengan Bulan.
"Aku tidak pernah selingkuh." Tegas Bulan membela diri. "Jangan samakan aku denganmu Al, akan aku beritahu sebejat apa dirimu. Kamu selingkuh dengan adikku sendiri dan bahkan kamu mengamilinya diluar nikah. Kamu itu bajingan Al, aku sangat membencimu!"
"BULAN DIAM!" Bentak Alvaro merasa geram.
Bulan meringis, lengannya begitu sakit karena cengkraman kuat Alvaro, bahkan kulitnya memerah terkena kuku tajam Alvaro. "Tinggalkan Farez, maka aku akan memaafkanmu." Ujar Alvaro menegaskan, dia masih berharap Bulan akan menjadi istri yang penurut seperti dulu.
"Jangan memaksaku Al! Aku bukan budakmu. Aku tidak mau hidup bersama pria bajingan sepertimu."
PLAK
Kepala Bulan seketika terasa pusing, dia mendapatkan tamparan lagi untuk yang kedua kalinya. "Aku tidak akan melepaskanmu Bulan!" Ujar Alvaro dengan emosi yang membara. "Kamu menyukai Farez karena dia telah memuaskanmu diatas ranjang iyakan? Kamu menginginkannya?" Bulan menggelengkan kepalanya, Alvaro sudah gila! Bulan selalu salah dimata pria itu.
Alvaro mendorong tubuh Bulan terlentang dikasur membuat mata Bulan terbelalak, dia merasa waspada dengan tindakan Alvaro. "Wanita murahan sepertimu tidak pantas diperlakukan dengan lembut." Alvaro menindih tubuh Bulan agar wanita itu berhenti memberontak.
__ADS_1
"Tidak! Lepaskan aku, lepaskan." Bulan menitihkan air mata, dia berusaha mendorong Alvaro dari atas tubuhnya. "Hiks..hiks, aku tidak mau Al!"
"DIAM!" Bentak Alvaro marah, Bulan memang pantas diperlakukan dengan kasar. Alvaro benar-benar geram karena Bulan selalu membangkang perintahnya.
"Mama tolong aku hiks...hiks." Teriak Bulan menangis tersedu-sedu tatkala Alvaro menyingkap dress yang dikenakan oleh Bulan. Alvaro tersenyum sinis, tidak ada satupun orang yang bisa menolong Bulan. "Al kumohon jangan hiks...hiks."
Alvaro membungkam mulut Bulan dengan menciumnya, dia memagut bibir ranum itu dengan menuntut. "Hmmmpptt." Bulan menggelengkan kepalanya menolak cumbuan Alvaro.
Tangan Bulan memukul-mukul dada Alvaro agar pemuda itu melepaskannya, namun tidak digubris oleh suaminya. "Al, lepaskan aku!" Alvaro seolah tuli, dia tetap melanjutkan menggauli Bulan. Dada Bulan naik turun menahan emosinya, Alvaro terlihat masih menikmati tubuhnya. Perlahan tangan kanan Bulan meraba-raba bantalnya disaat Alvaro lengah. Pemuda itu hanya fokus pada tubuh Bulan sehingga dia tidak tahu bahwa Bulan tengah memegang sebuah senjata.
Slep
Alvaro ambruk terjatuh ke lantai, dia merasakan nyeri hebat pada perutnya. "Aarrggh." Dia menunduk meraba perutnya tertancap sebilah pisau, Alvaro mencabut pisau itu dari perutnya hingga darah mengucur membuat Alvaro seketika merasa lemas. Bulan tertegun dengan tindakan nekatnya kali ini, dia gusar karena telah melukai suaminya sendiri. Bulan beranjak bangkit dari ranjang, dia menatap tangan kanannya yang berwarna merah karena terkena darah dari Alvaro.
"Aku tidak bersalah, i-iya dia lebih baik seperti ini." Gumam Bulan lagi menelan ludahnya susah payah. Dia segera membenahi dressnya yang tersingkap. Bulan berlari pergi ingin keluar dari kamar, namun sebuah tangan meraih kakinya membuat Bulan jatuh tersungkur.
"Arrgghhh." Bulan rasanya ingin pingsan, perutnya sakit sekali menghantam lantai. "Hiks...hiks...hiks." Bulan menyentuh perutnya yang terasa nyeri, bagaimanapun juga dia harus bisa keluar dari apartemen ini.
"Ka-kamu mau ke-kemana!" Alvaro yang terkulai lemas masih bisa memegangi kaki Bulan, menahan wanita itu agar tidak kabur darinya. Bulan menendang-nendangkan kakinya agar tangan Alvaro bisa lepas darinya.
"Hiks...hiks, lepas-lepas Al." Semakin lama mata Alvaro berkunang-kunang, dia telah kehilangan banyak darah. Bulan menendang sekeras mungkin, hingga jeratan tangan Alvaro lepas dari kakinya.
__ADS_1
Bulan beranjak berdiri, dengan langkah tertatih-tatih dia keluar dari kamar. Bulan bernafas lega tatkala dia melihat dompet Alvaro tergeletak di atas meja. Dia mengambil cardlock dan juga mencuri beberapa lembar uang dari dompet suaminya. Dengan langkah cepat Bulan membuka pintu apartemen Alvaro menggunakan cardlock milik pemuda itu, pintu apartemen berhasil dibuka. Dia berlari keluar dari apartemen secepat mungkin yang dia bisa.
Bulan sama sekali tidak menoleh kebelakang, dia sudah tidak peduli lagi dengan kondisi Alvaro. Diotaknya saat ini hanya berfikir untuk kabur agar lepas dari jeratan Alvaro. Kaki Bulan rasanya kebas, tapi dia paksa untuk terus berjalan. Lorong apartemen sangat sepi karena jam menunjukkan tengah malam waktunya istirahat. Lagipula Bulan memang sengaja menghindari orang-orang di apartemen ini apalagi para petugas karena takut. Bangunan apartemen ini adalah miliknya Alvaro, jika dia meminta bantuan orang dalam lingkup tempat ini, Bulan yakin dia akan tetap tidak akan selamat. Alvaro adalah orang yang manipulatif dan berkuasa, setiap ucapan yang terlontar dari mulut manisnya akan mudah dipercaya oleh orang-orang.
Bulan akhirnya berhasil keluar dari graharaja residence, dia merasa sedikit lega. Nafasnya tersengal-sengal, dia mengatur dadanya yang bergemuruh. Bulan berada dipinggir jalan, dia menoleh kekanan dan kekiri mencari tumpangan untuk bisa pulang kerumah. Nampaknya tuhan berpihak padanya, matanya menatap sebuah taxi yang parkir dipinggir jalan. Bulan berjalan mendekat, dia menggedor-gedor kaca mobil taxi itu membangunkan sopir yang tengah tertidur di dalam mobil.
"Pak, pak tolong pak." Panggil Bulan berharap sopir taxi itu mau membukakan pintu mobilnya dan bisa membantunya untuk mengantarkannya pulang.
Sopir itu nampak mengucek kedua matanya, dia langsung membuka mobilnya. Pria paruh baya itu mengernyitkan dahi ketika melihat penampilan Bulan yang acak-acakan berjalan tanpa mengenakan alas kaki, tatapannya jatuh pada dress putih Bulan yang terdapat bercak noda darah membuat sopir itu sedikit merasa was-was.
"Pak to-tolong antarkan saya pulang." Ujar Bulan menatap nanar pria paruh baya dihadapannya.
"Maaf mbak, saya tidak menerima orderan." Balas sopir itu menolak secara halus, melihat Bulan yang nampak kacau membuatnya ragu. Tidak kehabisan akal Bulan merogoh saku dressnya, dia menyorkan sejumlah uang kepada sopir itu.
"Saya akan membayar bapak satu juta, jika bapak bersedia mengantarkan saya pulang." Ujar tegas Bulan membuat pria paruh baya itu sejenak berfikir.
"Baiklah mbak, silahkan naik." Pria paruh baya itu menerima uangnya dengan berbinar senang. Bulan bernafas lega, dia segera naik kedalam taxi itu.
"Kita akan kemana mbak?" Tanya pak sopir, ingin tahu arah tujuannya.
"Sa-saya ingin pulang pak, ru-rumah saya masuk perumahan kusumasari pak." Ujar Bulan, dia masih terisak menangis dengan perasaan kalut.
__ADS_1
Disisi lain, lebih tepatnya di dalam apartemen para petugas riuh karena mereka menemukan bos mereka yaitu Alvaro Artha Mahendra bersimbah darah, terkapar tidak sadarkan diri didalam kamar apartemennya. Mereka membawa Alvaro menuju rumah sakit agar mendapatkan penanganan, sejauh ini pengelola apartemen masih mencari tahu siapa pelaku yang berniat membunuh Alvaro dari rekaman CCTV.
Bersambung...