
“BULAN!” Panggil Alvaro dengan keras, wanita itu malah berlari untuk menghindari suaminya. Dia tidak ingin bertemu dengan Alvaro, Bulan benar-benar takut.
Alvaro membulatkan matanya tatkala dia melihat Bulan berusaha menghindar darinya, dengan langkah lebar dia mengejar wanita itu. Alvaro berhasil menggapai Bulan, dia lantas menarik tangan istrinya. “Ahhh.” Bulan hampir terjungkal karena tarikan kuat Alvaro, dia menatap nanar wajah tegas suaminya.
“Alvaro.” Cicit Bulan gemetar ketakutan, dia berusaha lepas dari cengkraman pemuda itu.
Alvaro tidak akan membiarkan istrinya lepas begitu saja, kali ini dia hanya ingin berbicara baik-baik dengan Bulan tapi kelihatannya Bulan enggan untuk bertemu. Alvaro tahu perlakuannya kepada Bulan memanglah kejam, dia seperti itu juga karena kesalahan yang dibuat oleh Bulan. Seharusnya wanita itu sadar dan mulai merenungkan perbuatannya yang telah berbohong, Alvaro membenci seorang pengkhianat.
Dia tahu bahwa dirinya juga menyakiti perasaan Bulan dengan menikah dengan Bintang. Oleh karena itu dia selama ini mencoba bersikap adil dengan kedua istrinya, kalau boleh jujur Alvaro mencintai Bulan meski wanita itu keras kepala dan membuat hatinya terluka karena Bulan diam-diam telah selingkuh dibelakangnya. Mungkin caranya dalam menunjukkan rasa sayangnya kepada Bulan salah. Dia cenderung memaksa, bertindak kasar kepada istrinya semata-mata ingin membelenggu Bulan untuk tetap berada disisinya. Alvaro tidak ingin Bulan memutus tali pernikahan mereka, jikapun nantinya anak dalam kandungan Bulan bukanlah anaknya dia akan menyikirkan anak itu. Mungkin Alvaro bisa menyerahkan anak itu dalam panti asuhan. Alvaro hanya menginginkan Bulan, dia tidak ingin bercerai dengan istri pertamanya itu.
"Al lepaskan aku! Aku akan berteriak jika kamu menahanku." Ujar Bulan mengancam, ditempat ini cukup ramai. Jika Bulan berteriak pasti orang-orang akan mendekat untuk menolongnya. Dia trauma, Alvaro selalu berbuat sadis kepadanya. Apakah Alvaro berniat ingin menyakitinya lagi? Ya tuhan, kenapa dia bisa bertemu dengan pria ini disini? Bulan ketakutan, dia menatap kesekelilingnya.
"Ikutlah denganku, aku ingin berbicara penting denganmu." Tegas Alvaro memberitahu dibalas gelengan cepat oleh Bulan.
"Tidak! Aku tidak mau. Tolong lepaskan aku Al, kenapa kamu selalu memaksaku? Al lepaskan aku." Bulan memberontak namun Alvaro masih mencengkramnya kuat membuat Bulan meringis merasakan tangannya memerah. Dia ingin berteriak, tapi kalah cepat dengan Alvaro langsung membekap mulut Bulan agar istrinya diam.
"Dengar Bulan, aku tidak segan menculikmu jika kamu berteriak. Sudah aku bilang bahwa aku hanya ingin berbicara berdua denganmu. Aku tidak akan berbuat macam-macam jika kamu menurut." Desis Alvaro berbisik ditelinga kanan Bulan. Pemuda itu lantas melepaskan bekapan tangannya dimulut Bulan, membuat wanita itu mendelik.
Alvaro merogoh saku celananya, dia mengambil ponsel lalu mengarahkan benda pipih canggih itu kedepan wajah istrinya. "Aku mempunyai vidio saat kamu menusukku didalam apartemen. Aku hampir kehilangan nyawa kalau saja manager apartemen tidak menemukanku. Kamu tahu Bulan, aku bisa saja melaporkanmu kepolisi. Bahkan dalam kondisimu yang hamil kamu bisa saja mendekam dipenjara." Ancam Alvaro membuat Bulan tertegun mendengarnya. Tubuhnya melemas, tega sekali Alvaro berniat menjebloskannya dalam penjara. Pemuda itu benar-benar tidak mempunyai hati.
__ADS_1
"Jika kamu ingin bebas, turutilah keinginanku." Alvaro menyeret Bulan untuk mengikutinya, dia bersikap antisipasi. Bisakah dia mempercayai Alvaro setelah apa yang dilakukan oleh pemuda itu sebelumnya?
"Al berhenti Al! Aku tidak ingin ikut dengamu." Cicit Bulan, dia mulai meneteskan air matanya.
Alvaro menoleh, menatap Bulan dengan sengit seolah ingin menguliti wanita itu yang terus saja merengek. "Jika kamu tidak ingin aku jebloskan kedalam jeruji besi, maka ikutlah denganku Bulan!" Desisnya mengancam dengan penuh penekanan, Bulan tidak ingin masuk kedalam penjara, apalagi dalam kondisinya saat ini sedang hamil besar. Pemuda itu terus menariknya hingga keluar taman.
Kemana Alvaro akan membawanya? Tidak ada pilihan lain selain mengikuti pemuda itu. Jika sampai Alvaro berbuat hal yang keji kepadanya, Bulan hanya bisa pasrah. Alvaro menggiringnya menuju pinggir jalan, dia lantas melepaskan cengkraman tangannya. “Masuklah kedalam mobilku!” Perintah Alvaro sembari membuka pintu mobilnya membuat Bulan seketika melotot menatap kendaraan roda empat didepannya.
“Jangan berfikiran buruk Bulan.” Ujar Alvaro memberitahu seolah mengetahui isi fikiran istrinya. “Masuklah cepat!” Bulan meneguk ludahnya susah payah, dia menghela nafas sesaat lalu masuk kedalam mobil hitam milik suaminya. Alvaro juga duduk disisi kemudi, dia menutup pintu mobilnya.
Bulan melirik suaminya, tangannya yang dingin *******-***** dress selututnya. “Al katakan apa yang ingin kamu bicarakan? A-aku ingin segera pulang.” Cicit Bulan menunduk lesu, dia ingin Alvaro memberitahu apa maksut dan tujuannya agar Bulan bisa segera pergi.
Bulan seketika tersentak tatkala mendengar ucapan ngawur Alvaro barusan, dia tetap ingin proses perceraiannya berjalan dengan lancar. “Aku tidak ingin membatalkannya.” Alvaro terlihat mengeratkan rahangnya emosi dengan jawaban Bulan.
Pemuda itu bahkan mengeratkan tangannya pada setir mobil hingga urat ditangan kekarnya nampak menonjol. Alvaro menghela nafas perlahan, dia mencoba sabar agar luapan emosinya tidak keluar. Bulan pasti akan tambah ketakutan jika Alvaro memarahinya.
“Bulan jika kamu kembali padaku, aku akan memaafkan semua kesalahanmu.” Bulan mengerutkan dahinya, dia sudah mantap untuk berpisah dengan suaminya. Bulan enggan kembali lagi bersama dengan Alvaro, lagipula Bulan sama sekali tidak mempunyai kesalahan apapun kepada Alvaro. Rasa cintanya untuk Alvaro kini tergantikan dengan ketakutan, hidup bersama dengan Alvaro membuatnya selalu tertekan. Akan lebih baik berpisah, daripada setiap hari Bulan makan hati.
“Biarlah proses perceraian kita berjalan dengan semestinya Al, bukankah kamu dari dulu menginginkannya? Kamu selalu menganggapku sebagai penganggu didalam hidupmu. Akan lebih baik jika kita berpisah.” Balas Bulan memberitahu, ini untuk kebaikan mereka bersama. Dia sudah tidak ingin berurusan dengan Alvaro maupun adiknya, Bulan memang tidak bisa melupakan masa lalunya namun setidaknya dia bisa terlepas dari rasa sakit yang membelenggu dirinya.
__ADS_1
“Kita jalani hidup kita masing-masing Al, kamu bahagia bersama dengan wanita yang kamu cintai dan aku akan akan hidup bersama dengan anakku.” Ujar Bulan sembari mengusap perut besarnya dengan lembut.
“Apa karena anak itu adalah buah cintamu bersama dengan selingkuhanmu sehingga kamu begitu menyayanginya hingga kamu bahkan rela mengorbankan ikatan pernikahan kita?” Tanya Alvaro membuat Bulan seketika menatap nanar pemuda itu dengan tatapan heran. Sejenak Bulan memejamkan matanya menahan emosi, lagi-lagi Alvaro memicu amarahnya. Tapi Bulan cukup bersabar karena dia tahu betul bagaimana sifat suaminya, semua hinaan dari Alvaro merupakan hal biasa bagi Bulan.
“Jelas aku lebih memilih anakku daripada dirimu Al.” Ujar Bulan berlinang air mata, meskipun dia menahan amarahnya namun dia tetap tidak bisa membendung lelehan cairan bening yang kini membasahi pipinya. “Tidak apa-apa jika kamu membencinya, tapi aku sangat menyayangi anakku. Dia adalah nafasku, aku tidak akan bisa hidup tanpanya.” Bulan mengelus perutnya, dia berharap putrinya yang berada dalam kandungan tidak mendengar ucapan menyakitkan dari ayah kandungnya sendiri.
Alvaro berdecih, dia sekilas menatap perut besar istrinya merasa kesal karena Bulan lebih memprioritaskan anak haram itu daripada dirinya. “Aku tidak peduli Bulan, yang aku inginkan adalah pembatalan proses perceraian kita besok.” Putus Alvaro dengan sesuka hatinya, besok memang jadwal mereka untuk melangsungkan perceraian dipengadilan. Pemuda itu mulai ketar-ketir jika Bulan menolak perintahnya, istri pertamanya tidak boleh lepas darinya. Sampai kapanpun Alvaro tidak akan membiarkan Elfarez merebut Bulan.
"Aku tetap pada pendirianku untuk bercerai darimu." Tegas Bulan membuat telinga Alvaro berdengung sakit mendengar bantahan dari istrinya. Pemuda itu menatap sengit wanita disampingnya, dia mencengkram bahu Bulan kuat. Entahlah dia tidak bisa menahan emosinya kali ini.
"Al, kamu menyakitiku." Cicit Bulan meringis sakit karena lengannya dicengkram kuat oleh suaminya. Rahang pemuda itu mengetat terlihat aura menakutkan. Alvaro menyeramkan ketika dia marah, Bulan seketika menunduk karena nyalinya menciut.
"Dengar Bulan, kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku." Desis Alvaro menggebu-gebu, dia terlalu takut ditinggalkan oleh Bulan. "Jika besok kamu tetap menjalankan proses percerain ini maka aku tidak segan-segan menjebloskanmu kedalam penjara karena kamu berniat ingin membunuhku." Ancam Alvaro lagi, dia berkata serius tidak main-main. Setidaknya jika Bulan mendekam dipenjara, wanita itu tidak bisa bersama dengan pria lain. Jika Alvaro tidak bisa memiliki Bulan maka lebih baik Bulan berada dalam jeruji besi selama seumur hidup.
Wanita itu termangu, dia menangis miris. Alvaro ingin membuatnya hidup sengsara, dia enggan membiarkan Bulan bahagia. Bulan bingung tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia lelah mendengarkan berbagai ancaman yang terlontar dari mulut suaminya.
"Jika kamu tega membuatku mendekam dipenjara, maka lakukanlah Al." Balas Bulan sembari mengusap air matanya, dia sudah pasrah apapun yang akan terjadi di masa depan. Bulan akan menanggung segala resikonya, keinginannya ingin berpisah dengan Alvaro sudah bulat. Jikapun pemuda itu mengancamnya, Bulan tidak akan takut.
Bersambung...
__ADS_1