Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 28 : Alvaro Cemburu Buta


__ADS_3

Di depan kasir Alvaro masih mengecek benda pipih canggihnya, file yang tersimpan dalam memori ponsel ternyata masih aman. Tatkala dia berbalik ingin keluar dari restaurant tatapan matanya tanpa sengaja melihat siluet seorang wanita yang sangat dikenalnya.


"Bulan." Gumamnya, dia menatap lamat-lamat untuk memastikan. Iya benar dia adalah istri pertamanya, Alvaro sangat hafal. Matanya menyorot tajam pada seorang lelaki yang tengah menggenggam tangan Bulan dengan tatapan penuh kekaguman. Bagi Alvaro pemuda itu adalah salah satu fans fanatik Bulan yang tidak waras. Setelah dirinya batal bertunangan dengan Bintang, dia kini malah berulah dengan gencar mendekati Bulan.


Emosi Alvaro tersulut, dia tidak suka miliknya disentuh oleh pria lain. Alvaro berjalan mendekati mereka berdua, dia menarik tangan Bulan kasar hingga membuat wanita itu beranjak berdiri karena terkejut. Farez bisa melihat bahwa Bulan merintih sakit tatkala Alvaro mencengkram pergelangan tangannya.


"Ayo pulang!" Perintah Alvaro tegas namun Bulan menggelengkan kepala enggan untuk menuruti suaminya.


Bulan mencoba melepaskan tangannya. "Al lepaskan tanganku dulu Al."


Alvaro geram mendapati istrinya berani membantah, dia malah semakin mengeratkan cengkramannya tidak peduli dengan ringisan Bulan tatkala dia merasakan kebas ditangan kanannya.


"Jangan memaksanya Al! Bulan tidak ingin ikut denganmu." Tegas Farez lantang, dia tidak tega melihat Bulan dikekang oleh Alvaro apalagi lelaki itu bersikap kasar kepada Bulan.


"Diam kamu! Bulan adalah istriku. Tidak usah ikut campur kamu dalam urusanku." Balas Alvaro beringas, berani sekali Farez turut bicara ingin menjadi sok pahlawan. Dia tahu betul lelaki seperti Farez, dia ingin tebar pesona didepan istrinya apalagi pemuda itu tahu saat ini Bulan sedang dalam keadaan terpuruk.


Alvaro tidak akan tinggal diam, jika Farez berniat merebut Bulan darinya maka Alvaro tidak akan segan melenyapkannya. Jika dibilang dia serakah, ya Alvaro akui dia ingin memiliki Bintang dan juga Bulan sekaligus dalam hidupnya.


Farez berjalan mendekat, dia meraih tangan kiri Bulan ingin mengambil alih perempuan itu dari sisi Alvaro. "Bulan ikut saja denganku."


Bulan bingung, tangan kanan dan kirinya masing-masing digenggam oleh Farez dan juga Alvaro. Dia tidak ingin ikut keduannya, tidak bisakah dia mencari ketenangan sendirian. Kenapa kedua pemuda ini malah bertengkar membuat kepala Bulan berdenyut pusing.


Alvaro mengetatkan rahang tegasnya, emosinya semakin membara. Untuk kedua kalinya Farez berani menyentuh miliknya, dia menatap tajam Elfarez dengan tatapan sengit.


"Bulan sadarlah dia pria brengsek, kamu seharusnya jangan menuruti perin--."


BUGH

__ADS_1


Sebelum Farez menyelesaikan ucapannya, pukulan keras dilayangkan oleh Alvaro mengenai pipi Farez hingga pemuda itu terkapar di lantai. Bulan membulatkan matanya, dia tidak menyangka Alvaro akan berbuat anarkis seperti ini didepan umum. Para pelayan di restaurant ini bahkan menatap mereka dengan was-was namun tidak berani mendekat.


Farez mengusap sudut bibirnya yang berdarah, dia berusaha bangkit berdiri namun Alvaro langsung menarik kerah kemeja Elfarez kuat hingga pemuda itu mendongak menatapnya masih dengan tatapan angkuh. Kepalan tangan Alvaro siap ingin memukul Farez kembali, dia tidak peduli jika nantinya Farez marah sehingga akan berdampak pada kerjasama bisnis mereka.


Jika Farez sampai membatalkan bisnis yang dijalankan antar perusahaan mereka, maka Alvaro akan menyetujuinya karena dia juga tidak ingin kerjasama dengan pria jelalatan seperti Elfarez yang terang-terangan tidak sopan menatap istrinya dengan pandangan mesum.


"Sudah lama aku ingin menghajarmu Farez, kamu pantas mendapatkannya." Ujar Alvaro kembali memukul Farez, pemuda itu terlihat hanya diam saja tidak ingin melawan. Bulan takut jika Farez mengalami luka parah karena perkelahian ini, Alvaro jika marah tidak pandang bulu. Dia akan berubah beringas seperti monster, tidak peduli lawannya kuat maupun lemah Alvaro enggan memberinya ampun.


Bugh...bugh...bugh


Pukulan Alvaro baru berhenti tatkala Bulan memeluk erat tubuhnya dari belakang. Alvaro bisa merasakan pelukan hangat istrinya, dia tahu bahwa Bulan melakukan ini karena ingin melindungi Farez. Bulan mencoba menarik Alvaro agar pemuda itu melepaskan Farez yang sudah tidak berdaya.


"Hiks...hiks, Al tolong berhenti." Ujarnya sembari menangis terisak. Bulan malu dilihat banyak orang, baik pelanggan maupun pelayan di restaurant ini menatap mereka begidik ngeri, tidak ada yang berani membantu Farez.


"Al aku akan menuruti semua perintahmu, tapi tolong berhenti. Ayo kita pulang." Alvaro yang mendengar ucapan Bulan barusan seketika melepaskan kerah kemeja Farez.


Sesampainya diparkiran Alvaro mendorong tubuh Bulan agar wanita itu masuk kedalam mobilnya. Wanita itu menelan ludahnya susah payah, dia gemetar takut melihat wajah arogan suaminya saat ini. Alvaro sengaja mengunci pintu mobilnya agar Bulan tidak bisa keluar.


"Al kenapa--."


"Kamu tahu apa kesalahanmu?" Tanya Alvaro memotong ucapan Bulan. Wanita itu nampak menghela nafas, dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


Bulan menghapus sisa air mata yang mengalir membasahi pipi. "Apalagi kesalahanku Al? Apapun yang aku lakukan dimatamu selalu salah. Aku capek."


"Kamu tanpa seizinku pergi menemui Farez, apakah pantas kamu yang telah memiliki suami menemui pria lain. Apalagi kamu terlihat mesra bersamanya." Ujar Alvaro menggeram marah.


Bulan berdecih sinis, Alvaro tidak berkaca pada dirinya sendiri yang gemar selingkuh. Berulangkali Bulan menjelaskan bahwa dirinya hanya bertemen dengan Farez tidak ada hubungan lebih. Lagipula kenapa Alvaro marah-marah seperti ini? Dia tidak berhak mengatur hidup Bulan karena sebentar lagi mereka akan bercerai.

__ADS_1


"Terserah, aku tidak suka hidupku diatur olehmu. Setelah anak yang kukandung lahir kita akan bercerai." Tegas Bulan mutlak, dia sudah muak dengan Alvaro. "Setelah aku fikir-fikir sudah saatnya aku membuka hati untuk pria lain yang bisa mencintaiku dengan tulus."


Alvaro mengepalkan kedua tangannya kuat, mendengar Bulan kekeuh untuk berpisah dengannya membuat dadanya seketika bergemuruh. Apalagi Bulan terang-terangan berniat mencari sosok pria lain untuk pendamping hidupnya padahal dia telah bersuami. Dia anggap apa Alvaro selama ini?


"Jadi alasanmu ingin bercerai dariku karena Farez. Apakah setelah bercerai dia akan menikahimu?" Tanya Alvaro sembari menatap lekat wanita yang duduk disampingnya.


Bulan menoleh, dia mengarahkan pandangan tak kalah sengit kepada suaminya. "Sudahlah Al cukup! Aku malas berdebat denganmu. Jangan kamu campuri urusanku lagi, hubungan rumah tangga kita juga sebentar lagi akan berakhir."


"BULAN DIAM!" Bentak Alvaro dengan emosi menggebu. "Kamu rupanya sangat mencintai Farez ya, sampai kamu membela dirinya. Apakah dia juga mencicipi tubuhmu hingga dia sampai tergila-gila padamu hah?!" Alvaro mencengkram kuat bahu Bulan.


Wanita itu hanya diam saja, sudah biasa dihina oleh Alvaro sebagai wanita murahan. "Sudah berapa kali dia menikmati tubuhmu hah? Apa jangan-jangan anak dalam kandunganmu adalah benihnya?"


Deg


Hati Bulan seketika tersayat, Alvaro boleh menghina dirinya namun apakah dia juga masih meragukan siapa ayah dari anak dalam perutnya? Dia tidak pernah melakukan hubungan terlarang dengan pria manapun, satu-satu pria yang telah menyentuhnya adalah suaminya sendiri. Jikapun Alvaro tidak mengakui janin yang berada dalam kandungan Bulan dari benihnya maka tidak masalah, Bulan akan merawat bayinya sendiri. Lagipula dia tidak rela Alvaro mengambil bayi yang capek-capek dilahirkannya ketangan pria brengsek seperti Alvaro.


"Iya ini bukan anakmu!" Balas Bulan pada akhirnya merasa jengah.


"BULAN!" Alvaro melayangkan tangannya keatas siap menampar pipi istrinya yang lancang berbohong. Padahal tadi Alvaro hanya menggertak Bulan dengan menfitnah wanita itu mengandung anak dari lelaki lain, tapi Bulan malah membenarkannya seolah ingin menantang dirinya.


Tanpa terasa air mata Bulan menetes, setiap berbicara dengan Alvaro tidak ada ketenangan. Pemuda itu selalu menyulut emosi Bulan. "Tampar! Ayo tampar aku, aku tidak takut!"


"BULAN TUTUP MULUTMU ATAU AKU AKAN--."


"Arrrghhh." Alvaro menghentikan bentakannya, dia melihat Bulan merintih kesakitan sembari mencengkram perutnya. Ada apa dengan Bulan? Alvaro cemas, wanita itu meringkuk menahan nyeri hebat yang mendera perutnya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak agar aku semangat update setiap hari ya, jika banyak yang menyukai cerita ini aku akan update sehari 2 kali.


__ADS_2