
Bintang saat ini berada didalam apartemen Daren menunggu kepulangan pemuda itu dari kantornya, dia bosan dikurung didalam apartemen ini. Pemuda itu benar-benar merenggut kebebasannya, setelah pulang dari classic night club pagi tadi dia dibawa oleh Daren menuju apartemennya. Ponselnya juga bahkan disita oleh Daren. Sungguh Bintang benar-benar dibuat kesal, apalagi Daren tanpa izinnya telah mengotak-atik ponselnya. Daren membohongi Alvaro dengan menggunakan nomer ponselnya, dia mengatakan bahwa Bintang saat ini berada di Surabaya untuk tugas penelitian padahal tidak sama sekali. Bintang benar-benar dibuat frustasi meladeni pria itu, kenapa dia harus dihadapkan situasi sesulit ini?
“Kak Alvaro sedang apa ya sekarang dirumah?” Gumam Bintang penasaran, dia sangat merindukan suaminya. Bintang curiga bahwa kakaknya pasti memanfaatkan kepergiannya untuk berusaha menggoda Alvaro. Kakaknya yang centil itu memang berniat menarik perhatian Alvaro dari sisinya, namun Bintang tidak akan kalah dari kakaknya itu. Tapi dia juga tidak boleh meremehkan Bulan, bisa saja mama Laura turut membantu Bulan dengan rencana liciknya untuk menjebak Alvaro lagi seperti kejadian yang sudah-sudah.
Bintang menggelengkan kepalanya mengenyahkan fikiran negatif dari otaknya, dia yakin bahwa Alvaro tidak akan pernah tergoda dengan bujuk rayu Bulan. Alvaro selalu menegaskan bahwa Bintang satu-satunya wanita yang dicintainya, tidak ada wanita yang lain.
Ceklek
Pintu apartemen terbuka, Bintang beranjak berdiri dari tempat duduknya. Dia menatap sengit pria gagah yang berdiri diambang pintu. Pemuda itu berjalan begitu saja melewati Bintang, dia merasa diabaikan melihat tingkah angkuh Daren yang membuat Bintang muak.
“Daren aku perlu bicara kepadamu.” Ujar Bintang dengan dada bergemuruh menahan emosi. Daren hanya menatap sekilas Bintang, tanpa menjawab pemuda itu malah duduk santai disofa melepaskan tuxedo miliknya menaruh pakaiannya asal begitu saja.
“Daren dengarkan aku!” Bintang berdiri di hadapan pemuda itu dengan raut wajah kesalnya, dia ingin protes dengan tindakan Daren yang semana-mena terhadapnya.
“Ada apa Bi?” Tanya Daren pada akhirnya menanggapi ocehan Bintang.
“Daren kamu telah berjanji jika aku menemanimu tidur semalam, maka kamu akan melepaskanku. Aku ingin pulang sekarang!” Tegasnya, dia ingin bebas tidak mau berada di tempat ini bersama dengan pria brengsek seperti Daren.
Pemuda itu menukikkan alisnya tajam, dia terkekeh mendengar penuturan Bintang barusan. “Kamu ini jahat sekali ya Bi.” Balas Daren membuat Bintang mengernyit bingung. Dia tidak mengerti dengan jawaban ngawur Daren.
“Seharusnya kamu memberi kesempatan Alvaro dengan Bulan untuk menghabiskan waktu mereka bersama. Bukankah seorang suami yang memiliki dua istri harus bersikap adil? Aku berniat baik untuk membantu kakakmu mendapatkan waktu berdua bersama Alvaro tanpa kehadiran orang ketiga.” Bintang mengepalkan tangannya kuat, dia merasa tersentil dengan penuturan Daren membuat hatinya panas. Orang ketiga? Apakah yang dimaksutkan Daren adalah dirinya? Tidak, didalam hubungan kami yang menjadi orang ketiga adalah Bulan bukan dirinya. Sedari awal Bulanlah yang merebut Alvaro darinya, padahal jelas Alvaro mencintai Bintang.
“Menggelikan!” Umpat Bintang mendesis sinis.
__ADS_1
Daren tahu bahwa Bintang mulai tersulut emosi, dia malah merasa terhibur melihat Bintang marah. “Ceraikan saja suamimu dan menikahlah denganku. Kita besarkan anak kita bersama, daripada kamu tertekan menjalani kehidupan dalam bayang-bayang istri pertama dari suamimu.” Tawar Daren berniat baik, karena jujur dia merasa kasian dengan Bintang. Kebodohannya justru akan menyengsarakan kehidupannya, mencintai pria serakah seperti Alvaro tidak akan bisa membuat hidup Bintang bahagia.
“Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau menikah denganmu. Aku sangat mencintai kak Alvaro, akan lebih baik aku memilih mati jika aku tidak dapat hidup bersamanya.” Ujar Bintang membuat Daren menghela nafas kasar. Ada raut ketakutan yang tergambar jelas pada wajah cantik Bintang, Daren tahu betul bahwa Bintang tergila-gila dengan Alvaro dan Daren bisa memakluminya.
Daren beranjak berdiri, dia memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. “Aku tidak akan memaksamu untuk menikah denganku, tanpa ikatan benang merahpun aku masih bisa menyentuhmu.” Dia nampak tersenyum meremehkan, wanita seperti Bintang memang harus diberi pemahaman agar dia tidak berani melunjak.
“Aku tidak akan menghancurkan rumah tanggamu bersama dengan Alvaro selama kamu masih menjadi wanita yang penurut. Jadi jangan banyak mengeluh dan protes karena aku tidak suka wanita yang berisik.” Tegas Daren seraya pergi meninggalkan Bintang yang termangu meratapi nasipnya.
Sial! Hidupku saat ini dalam kendali Daren, sebisa mungkin aku harus membuat Daren luluh agar kondisi ini berbalik.
...****************...
22.05 PM
Bulan keluar dari kamar mandi, dia baru saja membasuh muka dan sikat gigi. Beberapa kali Bulan menguap karena mengantuk. Jam segini sudah waktunya Bulan untuk tidur.
Disisi lain Alvaro merasa gelisah dikamarnya, sejak kejadian semalam dimana dia menggauli Bulan difikirannya jadi dipenuhi oleh wanita itu. Menurut artikel yang dia baca dari internet, ini adalah hal yang wajar karena ketika seorang istri tengah hamil maka suami akan selalu ingin berada didekat istri dan anak yang berada dalam kandungannya. Jujur Alvaro merasa gengsi sebenarnya kepada Bulan seolah dia yang mengemis perhatian kepada wanita itu, dia sebenarnya tidak ingin menjilat ludahnya sendiri. Berulangkali Alvaro menegaskan dia membenci Bulan tapi nyatanya tidak bisa, hatinya selalu mengharapkan kehadirannya.
Alvaro beranjak dari tempat tidur, kakinya berjalan menuruni tangga. Perlahan dia membuka pintu kamar Bulan, tatapan matanya menajam ketika melihat Bulan melepas dress yang dipakainya sehingga memperlihatkan tubuh putih polosnya. Bulan belum sadar jika Alvaro tengah berdiri diambang pintu memandanginya lekat. Bulan melepas bra yang membungkus buah dadanya, dia memang sudah terbiasa tidur tanpa memakai bra. Tangan lentiknya membuka lemari pakaian, dia mengambil piyama lalu segera mengenakannya. Bulan berbalik ingin segera merebahkan diri di ranjang, betapa terkejutkan dia melihat sosok tinggi besar berada di ambang pintu kamarnya.
“Astaga! Sejak kapan kamu berdiri disitu?” Tanya Bulan menyelidik.
“Baru saja, kenapa memangnya?” Kilah Alvaro, padahal dia sedari tadi termangu disini menatap lekuk tubuh indah Bulan yang sedang berganti baju.
__ADS_1
“Ada apa kamu kesini?” Tanya Bulan lagi membuat Alvaro menukikkan alisnya tajam, dia tidak suka dengan pertanyaan Bulan barusan.
“Tidurlah dikamarku!” Perintah Alvaro dengan nada dingin membuat Bulan melongo. Tumben Alvaro memperbolehkan Bulan untuk tidur dikamarnya, padahal dulu dia yang mengusirnya. Semenjak kehadiran Bintang pemuda itu selalu memilih tidur bersama dengan adiknya sehingga saat ini Bulan tidur sendirian dikamar tamu.
“Aku tidak mau! Aku lebih nyaman tidur dikamarku sendiri.” Tegas Bulan, wanita itu sudah akan membaringkan dirinya dikasur namun tubuhnya tiba-tiba melayang karena Alvaro menggendongnya membuat Bulan panik. Karena tidak ingin jatuh Bulanpun mengalungkan kedua tangannya pada leher Alvaro.
Sesampainya dikamar Alvaro menurunkan tubuh Bulan, sungguh dia merasa kesal dengan sikap suaminya. “Bereskan kamarku dulu sebelum tidur!” Perintah Alvaro.
Bulan berdecak kesal, jadi dia dibawa kesini hanya untuk membereskan kamar pemuda itu yang saat ini seperti kapal pecah. Baru sehari ditinggal oleh Bintang kamar ini menjadi berantakan. Bulan menghela nafas, mungkin Alvaro frustasi karena ditinggal oleh Bintang.
Bulan mengemasi berbagai kertas entah apalah itu, sepertinya adalah berkas laporan dari kantornya yang berserakan diatas meja. Bulan melirik Alvaro sekilas, pemuda itu nampak enak-enakan tiduran dikasur sembari memainkan ponsel pintarnya. Tatapan Bulan jatuh pada tumpukan baju yang dibiarkan tergeletak begitu saja disofa, kelihatannya itu adalah baju yang baru di laundry. Bulan mengelus dadanya berusaha sabar. Kedua matanya terasa lengket, rasanya dia ingin memejamkannya tapi dia harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu. Dengan telaten Bulan memasangkan hanger pada baju Alvaro lalu menyusunnya rapi didalam lemari gantung.
“Al aku sudah merapikan kamarmu, aku akan kembali kebawah untuk tidur.” Bulan ingin membuka pintu kamar tapi terkunci, wanita itu mengernyitkan dahi. “Al kenapa kamu kunci pintunya?” Tanya Bulan menuntut jawaban.
Alvaro meletakkan ponselnya diatas nakas. “Mulai sekarang tidurlah bersamaku disini sampai Bintang kembali.” Perintah Alvaro mutlak.
“Ta-tapi—“
“Kemarilah, jangan buat aku marah.” Sentak Alvaro dengan arogan.
Perlahan Bulan mendekati sisi ranjang Alvaro, karena Bulan mengantuk berat dia lantas membaringkan diri disamping pemuda itu. Sebenarnya Bulan ada rasa takut, tapi dia berusaha mengenyahkan fikiran negatifnya. Tubuhnya sudah letih, dia hanya ingin beristirahat tidak peduli ini adalah kamar dari suaminya yang kejam. Sewaktu-waktu dia tidak akan tahu hal mengerikan bisa saja terjadi disela-sela tidur lelapnya. Tapi yang pasti Bulan percaya bahwa Alvaro memang tega untuk menyakitinya tapi pemuda itu tidak akan mampu melihat calon anaknya terluka.
Tidak berselang lama mata Bulan terpejam, dia sudah mengarungi dunia mimpi dalam tidur lelapnya. Alvaro menghela nafas, dia melirik kearah istrinya yang tertidur memunggunginya. Alvaro menyelimuti tubuh mereka berdua tapi tidak cukup hangat bagi Alvaro, dia lantas memeluk tubuh Bulan merapatkan dirinya untuk memperoleh kenyamanan.
__ADS_1
Bersambung...
Jika kalian suka dengan cerita ini kalian bisa like, komen, vote dan memberi gift. Terimakasih :)