
08.05 AM
Bulan menyibakkan selimut yang membalut tubuhnya, dia meringis nyeri pada area sensitifnya. Semalam Alvaro menyetubuhinya lagi seakan belum puas menyiksa dirinya. Berulangkali Bulan mengusap perut besarnya berharap anaknya yang berada didalam kandungan baik-baik saja karena ulah ayahnya sendiri. Tubuh Bulan terasa lengket, penuh keringat akibat pergumulannya bersama dengan Alvaro semalam.
"Aahhh, sakit sekali." Disaat tubuhnya ringkih seperti ini, bayinya malah ikut menendang perutnya. Bulan mengelusnya pelan, akhir-akhir ini bayinya memang aktif bergerak. "Sayang, tenang ya. Kalau kamu nendang-nendang terus perut mama sakit." Gumam Bulan menahan nyeri.
Bulan masih ingat kebrutalan Alvaro semalam membuat perasaannya pilu. Dia menggelengkan kepalanya agar ingatan buruk itu hilang, Bulan merasa tertekan jika dibayang-bayangi kejadian semalam. Dia beranjak turun dari ranjang, tangannya memegangi nakas untuk menyangga tubuhnya. Dia ingin berjalan menuju toilet untuk mandi. Kakinya gemetaran, dia masih berusaha mandiri untuk sampai kedalam toilet
Bruk
Bulan jatuh terduduk dilantai, kakinya lemas seperti jelly. Dia berusaha untuk bangkit kembali namun tidak bisa. Bulan menghela nafas, dalam hatinya dia meremehkan dirinya sendiri yang lemah. Pantas saja orang-orang mudah menindasnya, dadanya bergemuruh menahan kesal. Jika seperti ini Bulan akan diperlakukan semena-mena oleh Alvaro.
Ceklek
Suara pintu kamar dibuka, Bulan mendongak menatap nanar Alvaro yang tengah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi dinginnya. Perlahan pemuda itu berjalan mendekati Bulan yang nampak tidak berdaya, dia berjongkok dihadapan Bulan.
“Lambat laun rasa sakitnya juga akan menghilang. Jadi, sudahlah terima saja bahwa sekarang kamu adalah pelacur milikku. Aku akan bersikap lembut jika kamu menurut, dan sebaliknya aku akan kasar kalau kamu melawan." Ujar Alvaro tanpa memikirkan perasaan Bulan, kata-kata pelacur yang selalu diucapkan oleh Alvaro benar-benar menyakiti hati wanita itu
Bulan menggeleng, dia tidak mau menjadi pemuas nafsu Alvaro. "Nggak! Kenapa bukan Bintang Al? Dia istrimu yang sangat kamu cintai, kenapa aku yang harus melayani nafsumu. Aku ingin hidup bebas tanpa kekangan darimu Al, aku tahu kamu membenciku maka dari itu biarkan aku pergi." Ujar Bulan menggebu-gebu hingga dadanya naik turun meredam amarah.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum aku puas dengan tubuhmu. Kamu boleh menghirup udara bebas jika aku sudah bosan denganmu Bulan.” Gila, Alvaro benar-benar tidak waras. Pemuda itu hanya ingin memanfaatkan tubuh Bulan sebagai alat kepuasannya semata. Bulan tidak menyangka Alvaro bisa sekeji ini kepadanya, pemuda itu memperlakukannya bagaikan wanita hina.
Alvaro membelai surai rambut Bulan, namun wanita itu menolehkan wajah enggan untuk disentuh membuat Alvaro terpancing emosinya. Dia tersenyum sinis berusaha meredam amarahnya. "Kenapa bukan Bintang, heh?" Alvaro menarik dagu Bulan untuk menatap matanya, bukankah wanita itu butuh jawaban? Alvaro akan menjelaskannya agar Bulan paham.
“Aku akan memperlakukan Bintang dengan lembut ketika bercinta dengannya karena dia adalah wanita yang tulus dan setia. Berbeda dengan wanita murahan sepertimu memang pantas diperlakukan dengan kasar, lagipula kamu tidak usah munafik Bulan. Katakan saja jika kamu menyukainya iyakan? Bukankah kamu terbiasa melayani dua pria, seharusnya kamu tidak perlu mengeluh.” Balas Alvaro meratukan Bintang, dia tidak akan menyakiti wanita yang dicintainya.
"Al tindakanmu sudah sangat keterlaluan, aku akan memberitahu semua perlakuan burukmu pada mama. Jika mama tahu kamu selama ini menyiksaku, mama pasti akan mendukungku untuk berpisah darimu. Bahkan sebelum anakku lahir aku ingin mempercepat perceraian kita." Ancam Bulan ingin mengadu kepada mamanya, dia sudah lelah berbohong menyembunyikan kebusukan Alvaro dari mamanya. Bulan tidak bisa lagi memendamnya sendirian. Wanita itu ingin kebebasannya, dia tidak sanggup mendapatkan perlakuan kejam dari Alvaro.
"Laporkan semaumu, aku yakin mamamu pasti akan lebih mempercayaiku." Ujar Alvaro dengan percaya diri, dia sangat hafal bagaimana perangai mertuanya itu yang telah menggantungkan hidup Bulan kepadanya. Laura sejak dulu ingin Bulan dan Alvaro hidup bersama dalam ikatan pernikahan, dia tidak mau pernikahan putrinya yang selama ini dia rancang dengan penuh perjuangan bubar begitu saja.
Alvaro menunjukkan ponsel Bulan yang berada dalam genggaman tangannya. "Sekarang lihatlah, ponselmu telah aku sita." Ujarnya sembari menunjukkan ponsel Bulan yang telah berada di genggamannya.
Bulan tercengang. "Alvaro kembalikan ponselku." Bulan berusaha meraih ponselnya, wanita itu beranjak mencoba berdiri meraih ponselnya. Namun tubuhnya malah terjatuh ke lantai lagi karena kakinya lemas dan kebas. "Arrgghh." Rintih Bulan merasakan sakit ketika kakinya digerakkan.
"Kamu tahu, kekasihmu menelfonmu sejak semalam." Ujar Alvaro memberitahu.
Bulan mengerutkan dahi bingung. "Maksutmu apa?"
"Farez, dia menghubungimu berulangkali. Tapi tenang saja, aku sudah membalasnya untuk jangan mengganggu dirimu lagi karena kamu akan kembali bersama denganku."
__ADS_1
Bulan membulatkan matanya, dadanya bergemuruh mendengar penuturan Alvaro barusan. Bisa-bisanya dia mengotak-atik ponselnya, Farez pasti akan merasa sedih. Alvaro tega sekali membalasnya seperti itu, padahal Bulan tidak ingin kembali rujuk dengan Alvaro.
"Kamu masih menjadi istriku Bulan, aku berhak atas dirimu sepenuhnya." Tegas Alvaro menegaskan bahwa dialah yang mempunyai kuasa untuk mengatur hidup Bulan.
"Jika sewaktu-waktu aku menginginkan tubuhmu, kamu harus siap untuk melayaniku diatas ranjang." Ujar Alvaro sembari menggendong tubuh telanjangnya Bulan membuat wanita itu memekik terkejut.
"Turunkan aku! Turunkan aku Al hiks...hiks." Bulan memukul dada bidang Alvaro. Dia tidak mau menjadi budak nafsu Alvaro, dia takut.
"Al turunkan aku hiks...hiks."
Alvaro membawa Bulan ke dalam kamar mandi, dia meletakkan tubuh wanita itu di bathub yang telah terisi dengan air hangat. "Tenanglah Bulan, aku hanya membantumu ke kamar mandi karena kamu sekarang tidak bisa jalan sendiri." Ujar Alvaro sedikit melunak.
"Hiks...hiks...hiks." Bulan masih saja menangis, duduk meringkuk memeluk kedua lututnya dengan sebagian tubuh terendam air. Kepalanya menunduk ketakutan.
Alvaro mengambil sabun cair, dia menyentuh kulit mulus Bulan. Wanita itu sontak beringsut mundur hingga punggungnya membentur ujung bathub. "Jangan Al." Cicit Bulan memelas.
"Tinggalin aku sendiri hiks...hiks."
"Diam Bulan!" Gertak Alvaro melotot tajam membuat Bulan seketika terdiam. Alvaro melumuri tubuh mulus Bulan dengan sabun cair, dia perlahan mengusapnya hingga menimbulkan busa. Tangannya yang licin mengusap dada Bulan.
__ADS_1
Bagi Alvaro, Bulan merupakan boneka hidup yang harus tunduk padanya. Bulan adalah miliknya, boneka pemuas nafsu yang kapan saja harus siap melayani hasratnya. Dia akan melepaskan Bulan pergi jika Alvaro sudah bosan dengan tubuh Bulan dan balas dendamnya atas penghianatan wanita itu sudah terbalas.
Bersambung...