
Bulan jalan-jalan santai mengelilingi taman yang dipenuhi bunga-bunga cantik. Dia sangat menyukai berada disini karena udaranya segar dan bersih. Banyak orang-orang berlalu lalang bersama keluarga ataupun dengan pacar menghabiskan waktu. Keberadaan taman di pinggir kota ini memang terbilang masih baru, namun fasilitas yang diberikan cukup lengkap. Oleh sebab itu taman yang indah ini setiap hari akan ramai pengunjung.
Bulan tidak rugi datang ketempat seindah ini, dia bisa memanjakan matanya menatap indahnya bunga bermekaran dipagi hari yang cerah. Rupanya pergi keluar sendirian tidak seburuk itu, dia malah bisa merasa bebas tanpa kekangan dari siapapun. Berada dirumah terus membuat Bulan bosan, apalagi mendengarkan ceramahan mamanya yang selalu membujuknya untuk menikah dengan Farez membuat telinga Bulan merasa panas.
Dia melangkahkan kakinya menyusuri taman cukup membuat Bulan merasa lelah, peluh menetes di pelipisnya. Bulan memilih istirahat terlebih dahulu duduk di kursi panjang, dengan lembut dia mengusap perut besarnya. Tatapan matanya jatuh pada penjual eskrim yang berjualan didalam taman, kelihatannya enak. Bulan akhirnya berjalan menuju stand penjual eskrim, kebetulan tengah sepi jadi tidak perlu menunggu lama dia mendapatkan pesanan eskrimnya rasa coklat, vanilla, dan stowberry. Setelah mendapatkan eskrim, dia menenteng sekantong plastik berisi makanan dingin itu kembali untuk duduk dikursi panjang sembari melihat lalu lalang orang-orang didepannya. Bulan mengambil eskrim rasa coklat, dia membuka bungkusnya lalu memakannya. Sensasi dingin menyapa indra pengecapnya, terasa manis dan menyegarkan.
Bulan sangat menyukainya. “Kamu pasti juga kepingin makan eskrim ya sayang.” Gumam Bulan mengelus perut besarnya seolah mengajak anaknya untuk berbicara. Bulan begitu menikmati makanan dingin itu, dia memang sedang ngidam.
Disisi lain seorang pemuda yang masih memakai kemeja kerjanya tengah berjalan menuju sebuah taman kota. Dia barusaja melakukan kunjungannya dalam proyek pembangunan apartemen yang letaknya tidak jauh dari pusat kota. Dia sebagai pemimpin perusahaan juga wajib melihatnya secara langsung, dia tidak ingin melakukan kesalahan. Apalagi akhir-akhir ini perusahaannya tengah kalang kabut karena kekurangan dana. Putusnya hubungan kerjasama dengan GA Groub membuat bisnis yang dijalankan oleh Alvaro mengalami kerugian besar, sebisa mungkin dia harus memperbaikinya agar bisnisnya tetap bisa berjalan.
Sedari tadi Alvaro memantau para pekerja didalam mobil karena dia enggan menginjakkan kakinya berbaur dengan bawahannya. Dia memilih melihatnya dari dalam mobil dan menunggu mandor untuk menyerahkan laporan kepada dirinya. Lama kelamaan dia merasa pengap berada dalam kendaraan roda empat itu, jadi dia memutuskan untuk menyegarkan matanya dengan berjalan-jalan sejenak ditaman sembari menenangkan fikirannya yang tengah kalut.
Sebenarnya dia enggan untuk terjun langsung ke tempat proyek, namun bagaimana lagi Alvaro juga perlu memastikan kinerja para bawahannya agar mereka tidak menerima gaji buta. Dalam proyek pembangunan gedung apartemen ini, Alvaro menggelontorkan dana yang sangat besar. Coba bayangkan betapa pusingnya Alvaro saat ini, apalagi ditambah pemberitaan buruk mengenai rumah tangganya juga berdampak pada perusahaannya turut terkena imbas. Alvaro berjuang agar semua binisnya tidak mengalami kebangkrutan. Jika kinerja perusahaannya menurun, papanya pasti akan meremehkannya. Langkah kaki Alvaro berhenti tatkala pandangan matanya menangkap sosok yang dikenalnya, matanya seketika menajam tatkala dia melihat istri pertamanya dari kejauhan. Alvaro perlahan mendekat, namun dia tetap menjaga jarak dari wanita hamil itu agar Bulan tidak kabur darinya.
Bulan tengah menghabiskan eskrim coklatnya, dia lantas membuang bungkus plastik eskrim kedalam tempat sampah tepat disampingnya. Kening Bulan mengernyit tatkala dia melihat bocah laki-laki dan perempuan sekitar umur 4 tahunan tengah berdebat. Wajah mereka terlihat sangat mirip, Bulan bisa menebak bahwa mereka adalah anak kembar. Entah apa yang diperebutkan kedua bersaudara itu, namun hal tersebut sukses mengusik Bulan. Memang saat ini posisi yang Bulan duduki menghadap arena tempat bermain yang dipenuhi dengan anak-anak. Bulan tidak tahu jika seorang pemuda saat ini mengamatinya secara diam-diam, dia beranjak berdiri berjalan mendekati kedua bocah imut itu tengah bertengkar memperebutkan sesuatu.
"Pelgi sana, pelmen ini punya aku." Bocah perempuan itu mendorong bocah lelaki dihadapannya.
"Huh, tapi aku yang menemukan pelmen lasa stobelli." Bocah lelaki itu tidak ingin kalah.
"Tidakkk! Pelmen ini milikku, aku akan memakannya wleek." Ujarnya sembari menjulurkan lidah mengejek. Bulan terkekeh geli melihat perdebatan lucu itu, membuat Bulan rasanya ingin tertawa. Bagaimana mau memakannya mengupas bungkus permen saja tidak bisa, lihatlah bocah itu nampak kesusahan membukanya.
"Pelmen itu punyakuuu." Bocah lelaki menarik rambut bocah perempuan berkuncir dua.
"Huaaa." Bocah perempuan tidak mau kalah, dia gantian mencubit cukup keras pipi gempil bocah lelaki hingga memekik sakit.
Melihat situasi cukup memanas Bulanpun bertindak. Dia spontan langsung mengambil permen yang menjadi dalang dalam masalah ini. Seketika Bulan langsung membuang permen itu ke tempat sampah, hingga membuat kedua bocah lucu itu berhenti bertengkar dengan tatapan melongo menatap Bulan. Bukan tanpa alasan Bulan membuangnya ketempat sampah karena dia melihat dalam kemasan tertera bahwa makanan itu sudah kadaluarsa, dia tidak ingin anak itu sakit memakannya. Kedua bocah itu mencebik kesal dan detik kemudian dia mengusap matanya bersiap ingin menangis. Namun sebelum bocah itu merengek sedih, Bulan sudah mengeluarkan rayuannya.
"Hei anak-anak jangan cemberut gitu, tente punya es krim buat kalian. Tante akan berikan kalau kalian berdua saling meminta maaf dan berjanji tidak akan berantem lagi." Kedua bocah itu sempat saling menatap satu sama lain, kemudian--
"Maafkan aku ya." Ujar bocah lelaki mengawali, membuat Bulan tersenyum melihatnya.
__ADS_1
"Aku juga minta maaf, aku janji tidak akan belantem lagi." Bocah perempuan mengacungkan jari kelingkingnya begitupun bocah lelaki itu juga menyambutnya, mereka saling menautkan jari kelingking.
"Janji." Ucap mereka mantap, mereka berpelukan dengan tawa cekikikan khas anak kecil. Bulanpun ikut tertawa melihat kedua bocah gembul itu akhirnya akur.
"Mana es klimnya tente?" Tanya mereka berdua sembari mengulurkan tangan kanannya meminta.
Bulan menggiring mereka berdua ke tempat yang tadi dia duduki. Dia mengambil kantung plastik yang masih ada dua es krim tersisa. "Ini untuk kalian."
Mereka membukanya dengan mata berbinar, kedua bocah itu memeluk kaki Bulan. "Makasih tante cantik." Ucapnya serempak membuat Bulan kaget sekaligus gemas, dia mengelus lembut kedua kepala bocah itu. Jika bayinya lahir pasti nanti akan seperti anak-anak ini yang lucu dan imut, Bulan tidak sabar menyambut kehadiran putrinya.
"Sama-sama sayang." Bulan menyunggingkan senyum, kedua bocah gembul itu nampak senang dielus kepalanya oleh Bulan.
Semua interaksi antara Bulan dengan kedua bocah cilik itu tidak luput dari pandangan Alvaro, entah mengapa hatinya merasa tersentil. Melihat perhatian Bulan kepada bocah itu membuat perasaannya menghangat. Dibalik sifatnya yang licik sebenarnya Bulan adalah wanita yang penyayang, dia baru tahu jika Bulan bisa seperhatian ini memperlakukan anak kecil. Jujur Alvaro tersentuh dengan sikap lembut istrinya, dia bisa meluluhkan ego kedua bocah dengan mudah.
Rupanya jika Bulan dihadapkan dengan anak kecil, aura keibuannya keluar. Andaikan Bulan tidak selingkuh dengan pria lain pasti hubungannya dengan wanita itu saat ini akan baik-baik saja, proses perceraian ini tidak mungkin terjadi. Seharusnya Bulan berada disisinya, sejak Bulan kecil dia selalu bergantung dengannya. Wanita itu selalu mengikutinya, hanya Alvaro teman satu-satunya yang dimiliki oleh Bulan. Namun semakin beranjak dewasa sikap Bulan berubah menjadi wanita yang menyebalkan, meskipun begitu Bulan berhasil mengambil separuh hatinya.
“Duduk dan makanlah.” Ujar Bulan langsung dibalas anggukan oleh kedua bocah itu, mereka duduk dikursi panjang itu sembari menjilati eskrimnya masing-masing. Bulan menyunggingkan senyum, mereka berdua sangatlah manis, rasanya Bulan ingin mencubit pipi gembulnya yang menggemaskan.
“Nama kalian siapa?” Tanya Bulan penasaran manatap kedua bocah itu yang tengah lahap memakan eskrimnya.
"Kakak aku mau nanya sama kakak, boleh?" tanya Lala meminta izin membuat Bulan mengerutkan dahinya.
Bulan mengangguk. "Boleh boleh boleh." Sahutnya menirukan tingkah anak kecil itu sambil tersenyum geli.
"Perut kakak kenapa? Kakak pasti kekenyangan gala-gala makan esklim telus sampek gedhe begitu." Ucapan polos bocah cilik itu membuat Bulan tertawa terbahak-bahak.
“Iya, sehalusnya kakak halus ke doktel.” Timpal Jeno menatap khawatir perut besarnya. Mereka berdua belum mengerti kalau Bulan tengah hamil, malah mengira kalau perutnya kembung karena kebanyakan makan es.
Bulan mengelus perutnya lembut seraya menunjukkannya kepada kedua bocah itu. "Di dalam perut kakak ada dedek bayinya." Jelasnya memberitahu membuat Lala dan Jeno seketika melongo.
"Wahhhhh." Anak kecil itu bertepuk tangan girang.
__ADS_1
"Kamu mau pegang?" Ujar Bulan mempersilahkan.
"Mau." Sahut kedua bocah itu dengan antusias.
Bulan tersenyum melihat tangan kecil mereka meraba-raba perutnya. "Dedeknya lagi jalan-jalan kak di dalem, gelak-gelak telus." Cicit Lala tersenyum sumringah.
"Pasti seru punya dedek bayi, aku juga mau minta mama bikin dedek bayi kayak punya kakak." Timpal Jeno secara tiba-tiba membuat Bulan gemas dengan lelaki cilik dihadapannya.
"Jeno!" Suara seorang wanita dari arah belakang membuat mereka seketika menoleh.
"Lala!"
"Mamaaaaa Papaaa" Mereka berdua langsung berlari kencang memeluk Mama dan Papanya, Bulan juga turut berjalan mendekati orang tuanya sikembar.
"Maaf ya dek, Jeno sama Lala pasti ngrepotin kamu. Dia ini anak nakal, suka ngilang dari pengawasan." ucap Mama kedua bocah cilik itu.
"Nggak apa-apa tante." Bulan tersenyum tulus, ada perasaan iri melihat keluarga bahagia dihadapannya. Jeno dan Lala begitu beruntung memiliki keluarga yang lengkap dan terlihat begitu menyayanginya.
"Ayo Jeno Lala kita pulang, Oma sama Opa udah nunggu kamu dari tadi." Ujar papanya memberitahu.
"Tunggu dulu Pa, ada yang ketinggalan." Jeno berlari menghampiri Bulan disusul oleh Lala yang tidak ingin kalah dari saudaranya.
"Ada apa?" Bulan menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan kedua bocah kembar itu.
Muachh. Ternyata Jeno dan Lala mencium pipi kanan dan kiri Bulan.
"Dadaaaa kakak cantik." Jeno dan Lala melambaikan tangan dalam gendongan Papanya, sedangkan Mamanya mengelus rambut kedua bocah itu gemas.
Bulan tersenyum bahagia melihat keharmonisan keluarga Jeno dan Lala, berharap dia juga bisa memiliki keluarga seperti itu. Dia mengelus perutnya lembut, harapannya tidak mungkin terkabul karena kenyataannya putrinya nanti tidak bisa memiliki keluarga yang utuh. Namun Bulan berjanji, meskipun tanpa sosok seorang suami dia bisa merawat dan memberikan kasih sayang yang melimpah untuk anaknya. Bulan menghela nafas, dia hanya bisa menatap kepergian keluarga Jeno dan Lala hilang dari balik pandangan.
“Bulan.” Suara bariton seorang pria membuat bulu kuduk Bulan seketika meremang, di sangat hafal dengan nada panggilan itu. Bulan meneguk ludahnya susah payah, dia tidak berani menoleh. Bulan mulai berjalan menjauh tidak memperdulikan suara pria itu yang terus memanggil namanya, dia mulai berlari untuk bersembunyi namun pria itu berhasil meraih tangannya.
__ADS_1
“Mau kemana kamu Bulan? Jangan kabur dariku!”
Bersambung...