
“Ayo cepat, kita harus siap-siap. Jangan sampai telat.” Laura menyeret pergelangan tangan putrinya, menggiring Bulan untuk masuk kedalam kamar.
Wanita paruh baya itu berdecak kesal karena melihat Bulan terus saja terisak menangis membuat telinga Laura berdengung. “Ck, hapus air matamu Bulan!” Laura mengusap kasar linangan cairan bening dipipi putrinya.
Buru-buru Laura membuka lemari, dia mencari baju yang cocok untuk dikenakan putrinya pada malam hari ini. Tatapan matanya jatuh pada dress sexy bewarna soft pink polos yang nampak cantik. Laura mengambilnya dari dalam lemari, dia menyerahkan dress itu kepada Bulan. “Pakai baju ini!” Perintah Laura dibalas anggukan pelan oleh Bulan, dia menghela nafas gusar karena perintah mamanya tidak bisa dibantah lagi.
Bulan ingin menolak karena dia merasa baju ini tidak cocok untuk dia kenakan, dressnya memang longgar tapi Bulan merasa terlalu terbuka untuknya karena akan menampilkan punggung telanjangnya. Dress panjang selutut yang memiliki belahan dada rendah, selera mamanya benar-benar buruk dalam memilih pakaian. Pasti Laura sengaja memilihkannya baju menggoda, Farez bukannya tertarik kepadanya tapi mungkin pemuda itu akan merasa jijik dengan penampilannya. Bulan mulai mengganti pakaiannya begitupun dengan Laura yang heboh sendiri bergonta-ganti baju.
“Jika kamu sudah selesai memakai dress, kemarilah mama akan merias wajahmu.” Ujar Laura memberitahu.
Bulan mendelik mendengarnya, dia tidak mau dirias oleh mamanya. “Ma aku akan merias wajahku sendiri.” Sahut Bulan memberanikan diri, mungkin jika mamanya yang turun tangan wajahnya akan mendapatkan polesan make up tebal.
“Baiklah.” Ujar Laura mengizinkan. “Berdandanlah yang cantik agar Elfarez terpesona denganmu, ingat Bulan kamu bukan hanya berjuang untuk mendapatkan hati Elfarez tapi kamu juga harus meluluhkan Papanya juga agar kamu mendapatkan restu.” Nasehat Laura agar putrinya yang bodoh ini mengerti.
Bulan mengangguk patuh. “I-iya ma.”
__ADS_1
Laura berdehem, dia bersikap keras dengan putrinya bukan tanpa alasan. Selama ini dia hidup dalam naungan keluarga Bramasta penuh dengan perjuangan, merawat putrinya sendirian. Meskipun Laura masih mempunyai suami namun dia dituntut untuk melakukan semuanya mandiri karena Zhafran tidak pernah peduli dengannya. Laura menderita penuh tekanan dirumah ini menghadapi Zhafran maupun istri kedua suaminya itu. Sampai kapanpun Laura tidak akan pernah merasa puas dan bahagia jika dia belum membalaskan dendamnya kepada Nadia serta anaknya yang menyebalkan.
Tidak butuh waktu lama Bulan selesai merias wajahnya. Bulan menatap pantulan cermin dirinya yang memakai dress soft pink memamerkan punggung mulusnya dan sebagian belahan dadanya. Bulan sedikit risih, dia menaikkan bajunya agar dadanya tidak terlihat menonjol. Dress ini meskipun polos namun terlihat anggun dan nampak indah cocok dikulit putih susunya.
Rambut hitam Bulan yang lurus sengaja dia curly, wajahnya yang biasa tampil tanpa riasan sehari-hari kini dia poleskan make up dengan taburan bedak. Sapuan blush on tipis dipipi serta liptint dibibir ranumnya menambah kecantikan wanita manis itu. Sebenarnya Bulan tidak terlaku percaya diri berdandan seperti ini, dia takut kalo penampilannya justru membuat mamanya malu.
"Bulan bagaimana? Apakah kamu sudah siap?" Tanya Laura yang masih sibuk mencari tasnya dengan mengobrak-abrik lemari.
"Bulan sudah selesai ma." Cicit Bulan.
Laura menenteng tasnya yang sudah ketemu, matanya melirik jam dinding rumahnya menunjukkan hampir jam tujuh malam kurang limabelas menit lagi. Astaga! Laura kelabakan, dia tidak boleh telat menemui calon besannya.
"Suusttt kamu jangan banyak bicara, ayo kita harus berangkat." Tegas Laura memotong ucapan Bulan. Wanita itu segera menggeret tangan Bulan agar berjalan mengikutinya. Untung saja Bulan saat ini memakai flatshoes, jadi mempermudah dirinya untuk melangkah.
Laura menggiring Bulan menuju pelataran rumah dimana mobil hitamnya berada, dia menyuruh Bulan untuk segera masuk kedalam mobil. Laura menyalakan kendaraan roda empat miliknya membelah jalanan ibu kota. Diperjalanan Bulan hanya diam melihat pemandangan malam kota Jakarta dari balik kaca mobilnya, sesekali dia juga melirik Laura yang tengah fokus menyetir. Wajah Laura begitu sumringah berseri-seri, mamanya saat ini tengah gembira. Mungkin karena dia akan bertemu dengan Farez dan juga Pak Giandra. Saat ini mamanya benar-benar terobsesi untuk menjadi bagian dari keluarga Abraham. Tidak ada pilihan bagi Bulan, dia akan menjalani hidupnya sesuai dengan alur yang dirancang oleh mamanya.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Laura sampai didepan rumah besar milik keluarga Abraham. Dua orang satpam penjaga segera membukakan gerbang dengan sigap. Kendaraan roda empat itu terparkir didepan pelataran rumah. Laura bergegas turun, begitupun juga Bulan telah berdiri disamping mamanya. Wanita paruh baya itu mengamati rumah megah bak istana milik keluarga Abraham tanpa berkedip. Giandra memang seorang konglomerat, dia adalah pemilik pabrik kapal pesiar terbesar di Indonesia. Bayangkan saja betapa kayanya dia tidak akan habis tujuh turunan. Bukan hanya itu saja, bisnis properti dan real estate ada didalam negeri maupun diluar negeri. Aduhh, ya ampun Laura memikirkannya saja sudah pusing.
"Ini adalah rumah masa depanmu Bulan." Ujar Laura masih mengagumi bangunan didepannya. Sebentar lagi dia akan menjadi bagian dari keluarga Abraham, Laura tidak sabar menantikan hari bahagia itu. Bulan menoleh menatap nanar mamanya, dia tahu apa yang ada diotak mamanya sekarang.
"Heh, kekayaan papamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Giandra." Celetuk Laura lagi tidak ditanggapi oleh Bulan. "Haduh kenapa kita malah mengobrol disini." Laura sadar jika dia terlalu banyak mengoceh, dia merutuki dirinya sendiri membuang waktu karena sibuk mengamati istana megah keluarga Abraham.
Laura meraih tangan putrinya. "Ayo Bulan kita temui calon mertuamu." Ujarnya menggiring putrinya untuk masuk kedalam rumah Giandra. Seorang pelayan wanita menyambut kedatangan mereka berdua membuat Bulan mengernyit heran. Dulu Bulan pernah tinggal beberapa hari dirumahnyan Elfarez nampak sepi, tapi sekarang terlihat ramai karena ada beberapa pelayan.
"Mari nyonya nona, saya akan antar kalian." Ujar pelayan wanita paruh baya itu dengan sopan. Laura dan Bulan lantas mengikutinya, pelayan itu menggiring mereka berdua menuju ruang tengah. Disana Bulan bisa melihat dua orang pria berbeda generasi tengah duduk dikursi. Bulan merasa ragu dan canggung tapi Laura terus mendesaknya untuk berjalan mendekat.
Farez merasakan kedatangan seseorang, dia menoleh menatap wanita yang dia tunggu-tunggu rupanya sudah datang. Seketika senyum Elfarez terbit, pemuda itu beranjak berdiri. Dia sedikit membenahi tuxedo yang dipakainya, entah mengapa Farez menjadi salah tingkah. Saat ini Bulan berdiri dihadapannya membuat jantung Elfarez berdenyut kencang.
Ya tuhan, Bulan benar-benar cantik malam ini. Batin Farez terpesona, dia bahkan tidak berkedip sama sekali terus memandangi Bulan. Tidak sebenarnya bukan hanya malam ini saja, setiap hari Bulan terlihat menawan bagi Farez.
Giandra tahu bahwa putranya saat ini tengah tergila-gila dengan seorang wanita, tapi tidakkah berlebihan jika Farez terus menatapnya seperti ingin menerkam Bulan. Wanita itu pasti akan ketakutan dengan tingkah putranya. Giandra hanya bisa geleng-geleng kepala, dia dulu juga pernah muda merasakan bagaimana jatuh cinta kepada seorang wanita jadi Giandra memakluminya. Dari sorot mata yang terpancar pada manik mata putranya, Farez memang benar-benar tulus menyayangi Bulan. Dia akui bahwa putri sulung Zhafran sangat cantik, pantas aja Farez menambatkan hatinya hanya untuk Bulan seorang.
__ADS_1
“Ekhem.” Giandra sengaja berdehem membuat Farez seketika sadar dan mengalihkan pandangannya yang sedari tadi tidak lepas dari rasa kagumnya kepada Bulan. Wanita itu nampak anggun menggunakan dress polos yang melekat ditubuhnya, seperti biasanya Bulan bersikap malu-malu dihadapan Farez hingga pemuda itu menjadi gemas dengan tingkah Bulan.
Bersambung...