Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 78 : Menikmati Tubuhmu


__ADS_3

Bulan beranjak berdiri, dadanya naik turun menahan emosinya yang menggebu-gebu. "Birkan sampah ini pergi supaya hidupmu tenang." Ujarnya seraya berjalan menuju pintu tidak menggubris suaminya.


Alvaro mengepalkan kedua tangannya, hingga urat-uratnya nampak menonjol. Rahangnya bergemelatuk tersulut emosi, Bulan berani membantah ucapannya. Sifat Bulan benar-benar sudah berubah, dulu wanita itu selalu merengek kepadanya untuk mendapatkan perhatiannya. Namun sekarang wanita itu malah mengabaikannya dan lebih memilih bersama pria lain. Perasaan cinta untuk Alvaro seolah sudah luntur, ada perasaan marah, takut, dan benci dalam benak Alvaro bercampur menjadi satu.


Alvaro marah karena Bulan telah berpaling darinya, dia takut kehilangan Bulan, dan dia benci saat Bulan meremehkannya sebagai seorang suami. Bisa-bisanya Bulan mencari kepuasan dengan lelaki lain bahkan memiliki anak dari selingkuhannya. Sebenarnya memang Alvaro tidak pernah rela Bulan yang merupakan sahabatnya sedari kecil yang kini berubah status menjadi istrinya dimiliki oleh pria lain. Alvaro tidak akan membiarkan hal itu terjadi!


"BULAN!" Bentak Alvaro menggelegar di seisi ruangan apartemennya. Bulan hendak membuka pintu, dia ingin keluar dari sini, Bulan mengingat kata sandi apartemen pria itu. Tangannya baru menyentuh kenop pintu, tapi keburu ditarik oleh seseorang.


"Kemari kamu." Alvaro menyeret Bulan, dia memaksa Bulan masuk kedalam kamarnya. Wanita itu berusaha memberontak, dia sudah muak dengan Alvaro yang selalu menuntut.


"Lepaskan aku brengsek!" Umpat Bulan, dia berusaha lepas dari cengkraman Alvaro namun pemuda itu terlalu kuat untuk dilawan.


Alvaro mendorong tubuh Bulan ke atas kasur, dia menatap Bulan dengan sorot mata tajam. Terlihat jelas di wajah tegasnya saat ini Alvaro benar-benar emosi. "Buka bajumu!" Perintahnya membuat Bulan seketika mendelik, reflek tangannya memegangi kerah bajunya.


"Apa maksutmu Al? Aku tidak mau!" Bentak Bulan dengan amarah. Dadanya naik turun karena kesal, dia merasa muak. Bulan beranjak bangkit dari tempat tidurnya namun Alvaro kembali menarik bahunya. Pemuda itu menindih tubuh Bulan membuat wanita itu merasa was-was dengan tindakan Alvaro.


"Menyingkirlah Al, lepas. Ah, lepaskan aku!" Bulan berusaha mendorong tubuh besar Alvaro. Dia memberontak, matanya membola tatkala Alvaro melepaskan kemejanya hingga membuat dirinya bertelanjang dada dihadapan Bulan. "Apa yang ingin kamu lakukan Al? Biarkan aku pergi." Bulan merasa takut, kini tubuhnya gemetar. Fikiran buruk kini berkecamuk diotaknya. Tidak ada satupun orang yang bisa dia mintai pertolongan disini.


"Biarkan aku menikmati tubuhmu sepuasku sebelum kita bercerai. Kamu telah membiarkan pria lain untuk menyetubuhimu bukan? Maka sekarang giliran puaskan aku seperti kamu melayani selingkuhanmu." Bulan melotot mendengar ucapan Alvaro. Pemuda itu sudah salah paham kepadanya, Bulan tidak pernah melakukan tindakan seperti apa yang telah dituduhkan oleh Alvaro.


"Tidak, tidak aku tidak mau!" Bulan memukul dada bidang Alvaro, bahkan kakinya berusaha menendang Alvaro agar menyingkir dari atas tubuhnya.

__ADS_1


Alvaro geram, dia menahan kedua tangan Bulan agar berhenti bergerak. "Aku masih suamimu Bulan, aku bebas untuk menyentuhmu kapanpun aku menginginkannya." Ujarnya mendesis sinis didekat telinga Bulan. Meskipun Alvaro suaminya tapi Bulan tidak ingin melakukan hubungan badan dengan Alvaro. Pemuda itu saat ini dalam keadaan marah, Bulan takut. Alvaro selalu bersikap kasar kepadanya, dia hanya menjadikan Bulan sebagai pelampiasan saja.


"Tidak Al, aku tidak mau!" Bentak Bulan, dia sekuat tenaga masih melakukan perlawanan. Alvaro tersenyum meremehkan, tenaga Bulan tidak sekuat dirinya. Pemuda itu merobek dress yang dipakai Bulan membuat wanita itu panik. Semakin lama Bulan lelah memberontak, dia mulai meneteskan air matanya. Cengkraman kuat dikedua tangannya membuat pergerakan Bulan terbatas.


"Al jangan, apa kamu tidak kasihan dengan anak kita. Kamu bisa melukainya, ah aku--."


"Aku tidak peduli!" Tegas Alvaro memotong ucapan Bulan. "Anak yang kamu kandung bukanlah anakku, aku tidak peduli dia hidup ataupun mati sekalipun." Bulan tertegun, dia menatap nanar Alvaro. Tega sekali dia mengatakan kalimat pedas seperti itu kepada darah dagingnya sendiri.


Alvaro hanya memikirkan kepuasannya semata, didalam hatinya hanya ada dendam yang ingin dia lampiaskan kepada Bulan. Dia sama sekali tidak peduli dengan bayi dalam kandungan Bulan. Pemuda itu melucuti kain penutup terakhir yang melekat pada tubuh Bulan.


Pemuda itu membungkam mulut Bulan dengan pagutan bibirnya. "Hmmppttt." Bulan kewalahan melayani nafsu Alvaro yang menggebu-gebu. Pemuda itu menekan tengkuk Bulan untuk memperdalam pagutannya.


Alvaro tidak menggubrisnya, dia menyambar bibir Bulan kembali mensesap rasa manis. Bulan sudah tidak kuat, nafasnya bahkan tercekat. Buliran airmata tidak hentinya menetes membasahi pipi.


"Hmppptt." Alvaro memaksa Bulan membuka mulutnya, pemuda itu membelit lidah bulan. Tubuh mereka saling menempel berbagi kehangatan.


Sayup-sayup mata Bulan terpejam, sakit yang dia rasakan tidak mampu ditahan hingga membuat dirinya pingsan. Alvaro tidak peduli, dia menggarap tubuh Bulan yang tengah hamil secara kasar tanpa perasaan. Emosi yang tersulut dengan demdam membara seolah membutakan Alvaro. Berkali-kali dia mencapai puncak kenikmatan bahkan dikala Bulan yang tidak sadarkan diri dia masih saja bermain dengan tubuh mulusnya.


...****************...


22.59 PM

__ADS_1


Bintang duduk di sofa ruang tamu, dia berulangkali melihat jam dinding rumahnya menanti suaminya pulang. Sedari siang tadi Bintang menghubungi ponsel Alvaro tapi sama sekali tidak tersambung. Aneh, Alvaro tidak biasanya seperti ini sebelumnya. Jika memang pemuda itu lembur seharusnya mengabarinya terlebih dahulu. Tidak putus asa Bintang mengambil ponselnya, dia kembali mencoba menelfon Alvaro berharap panggilannya kali ini mendapatkan respon. Awalnya panggilan Bintang tidak terjawab, namun untuk yang kedua kalinya terdengar suara bariton serak khas lelaki menyapanya membuat Bintang seketika berbinar senang.


"Hallo Bi."


"Hallo kak." Balasnya dengan antusias karena akhirnya Alvaro mengangkat telfonnya. "Kak, kakak sekarang ada dimana?" Tanya Bintang penasaran membuat Alvaro mengerutkan dahi. Jujur Bintang khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk kepada suaminya karena jam segini Alvaro belum pulang juga kerumah.


"Aku masih ada dikantor, malam ini aku tidak bisa pulang kerumah." Tegas Alvaro dengan nada dingin, pemuda itu berbohong. Jelas-jelas dia saat ini berada di apartemennya.


Bintang merasa kesal, kalau dia tidak bernisiatif untuk menelfon pemuda itu mungkin Alvaro akan enggan untuk mengabarinya. "Oh begitu, ta-tapi besok kakak pulangkan?" Tanya Bintang, dia cukup memaklumi kesibukan suaminya di kantor. Sebagai seorang pemimpin perusahaan pasti banyak proyek bisnis yang harus dikerjakan oleh Alvaro.


"Hm, besok aku pulang." Sahut Alvaro dari sebrang telefon. Bintang tersenyum, malam ini dia akan tidur sendirian tanpa ditemani oleh suaminya.


"Kak--."


Tut...tut.


Bintang masih ingin berbicara panjang bersama dengan Alvaro namun pemuda itu malah mematikan sambungan telefonnya sepihak. Huh, Bintang menghela nafas kasar merasa geram. Dia menunduk mengelus perut besarnya.


Malam ini kamu tidur sama mama ya sayang, papamu lagi sibuk bekerja. Gumam Bintang seraya tersenyum menatap perutnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2