Kembalikan Senyumku Suamiku

Kembalikan Senyumku Suamiku
BAB 88 : Berlindung


__ADS_3

Ting...tung...ting...tung


Tidur nyenyak Laura terganggu dengan suara bel rumahnya yang berbunyi, dia dirumah hanya sendirian karena Zhafran dan Nadia masih berada di luar negeri. Laura sengaja mengabaikannya, dia malas untuk sekedar membukakan pintu. Lagipula siapa tengah malam bergini bertamu di rumahnya? Laura tetap melanjutkan tidurnya karena dia mengantuk.


Ting...tung...ting...tung


Semakin lama Laura merasa geram karena bel dirumahnya terus saja berbunyi, dia jadi tidak bisa tidur. Laura beranjak bangun dari tempat tidurnya, dia penasaran siapa orang yang memencet bel rumahnya hingga beberapa kali membuatnya emosi. Laura berjalan menuju pintu utama, tapi sebelumnya dia menyempatkan diri untuk mengintip terlebih dahulu di jendela. Dia melihat siluet putrinya diluar sana, astaga apakah itu Bulan?


Laura segera membukakan pintu rumahnya, benar dia adalah Bulan putri kesayangannnya. Laura kaget melihat penampilan Bulan yang acak-acakan, dia datang kesini bertelanjang kaki. Mata laura tertuju pada bercak darah di pakaian Bulan. Ya tuhan ada apa dengan putrinya?


"Hiks...hiks, mama." Bulan berderai air mata, dia berhambur memeluk mamanya. Dia lega akhirnya bisa menemui mamanya, bisa merasakan hangatnya dekapan Laura. Tangan Laura mengusap lembut surai rambut putrinya, dia bisa merasakan tubuh Bulan gemetaran. Mendengar putrinya menangis membuat hati Laura seperti tersayat. Siapa yang berani menyakiti putrinya?


Laura mengurai pelukannya menatap lekat Bulan, dia bisa melihat pipi putrinya membiru seperti bekas tamparan seseorang bahkan sudut bibirnya terdapat bekas darah yang telah mengering. Tubuh Bulan juga dipenuhi dengan memar membuat Laura miris dengan kondisi putrinya.


Tangan Laura menggenggam jemari putrinya, dia mengusap lengan Bulan yang memerah seperti bekas cengkraman kuat seseorang. Laura lantas menatap tajam putrinya. "Katakan Bulan siapa orang yang telah menyakitimu seperti ini?" Tanya Laura dengan emosi yang ditahannya.


Bulan menitihkan air mata. "Ma dia, hiks..hiks...hiks." Bulan malah menangis tersedu-sedu membuat Laura semakin emosi.


Laura menangkup pipi putrinya agar mendongak melihatnya, saat ini dada Laura bergemuruh. Dia tidak bisa menerima tindak kekeraan yang dialami putrinya. "Katakan, katakan sayang siapa yang melakukannya?!" Tanya Laura menuntut pengakuan dari Bulan.


"Al-Alvaro."


Laura seketika lemas mendengarnya, dia bahkan perpegangan pada tembok untuk menyangga tubuhnya. "Mama, mama hiks...hiks." Bulan terkejut dengan reaksi mamanya, dia takut jika penyakit jantung Laura kambuh. Bulan segera memapah mamanya untuk masuk kedalam kamar, dia mendudukkan Laura ditepi ranjang. Bulan bersimpuh dikaki mamanya masih menangis terisak karena melihat Laura yang terlihat linglung.


"Ma, mama..." Panggil Bulan berharap mamanya memberi respon.

__ADS_1


Laura termangu, dia sebagai seorang ibu yang telah melahirkan Bulan turut merasa terluka. Bulan adalah putrinya yang telah dia besarkan dengan penuh kasih sayang, sedari Bulan lahir Zhafran sebagai seorang ayah tidak pernah peduli dengan anak yang dilahirkannya. Selama ini Laura berjuang demi anaknya, dia menjadi sosok ibu sekaligus ayah bayi putrinya. Dia bertahan dirumah ini juga demi Bulan, agar anaknya mendapatkan kehidupan yang layak menjadi bagian dari keluarga Bramasta.


Melihat Bulan mendapatkan perlakuan kejam dari orang lain membuat hati Laura seperti disayat-sayat. Laura sekalipun tidak pernah bersikap kasar kepada putrinya. Dia selalu memperlakukan putrinya dengan lembut karena baginya Bulan adalah permata hatinya.


"Sejak kapan dia menganiyaya dirimu seperti ini?" Tanya Laura dengan nada dingin. Bulan seketika mendongak menatap sendu mamanya, dia bisa melihat lelehan air mata dipipi tirus Laura.


"Se-sejak kami menikah hiks...hiks." Dada Laura seketika berdenyut nyeri mendengarnya. Pantas saja Bulan dari dulu selalu meminta cerai dari Al, ini semua memang salahnya karena terus memaksa Bulan tetap bertahan bersama dengan Alvaro demi mewujudkan tujuannya. Nyatanya rencana Laura malah berbalik pada dirinya sendiri, putrinya menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Laura fikir permasalahan dalam hubungan Bulan hanya perdebatan biasa, dia tidak menyangka jika Alvaro juga bermain tangan kepada Bulan hingga putrinya babak belur seperti ini.


"Apa Alvaro juga berbuat kasar kepadamu saat hamil?" Tanya Laura lagi dibalas anggukan pelan oleh Bulan, sungguh sakit dada Laura mengetahui kenyataan ini. Bulan saat ini tengah mengandung anak dari Alvaro tapi mengapa pemuda itu tega bersikap keji kepada Bulan?


Laura mengusap air matanya yang membasahi pipi, dia memegang kedua bahu putrinya yang bersimpuh dihadapannya agar beranjak bediri. Laura menggiring putrinya yang saat ini menangis terisak untuk duduk disampingnya.


Wanita paruh baya itu menatap nanar putrinya. "Bulan ceritakan semuanya sama mama, apa yang dilakukan oleh Alvaro kepadamu?" Laura menggenggam lembut kedua tangan putrinya. Bulan terlihat gemetar takut, bahkan sedari tadi putrinya tidak berhenti menangis. "Sayang, jangan takut. Ceritakan semua sama mama hem."


"Ma--." Bulan menarik nafas, dia merasa tercekat. Bulan mengumpulkan tenaga untuk bercerita sejujur-jujurnya kepada Laura. "Ma hiks...hiks. Alvaro mengusirku dari rumah karena dia menuduhku selingkuh bahkan Alvaro meragukan anak yang berada dalam kandunganku bukanlah darah dagingnya. Aku tidak pernah melakukannya ma, sungguh aku berani bersumpah hiks...hiks." Bulan sudah tidak bisa menyembunyikan perilaku busuk suaminya lagi.


Laura menyeka air mata yang membasahi pipi putrinya, ya tuhan semua ini salahnya. Dia memang ibu yang bodoh! Laura selama ini terlalu mempercayai menantunya. Alvaro mengaku pada dirinya jika Bulan melarikan diri, oleh karena itu Laura membantunya agar dapat menemukan putrinya. Tapi ternyata tindakannya salah, dia seakan mengundang seorang monster untuk menangkap putrinya. Laura bahkan menyuruh Alvaro untuk menjaga Bulan, bagaimana bisa dia menyerahkan putrinya kepada pria kejam seperti Alvaro.


Tangan lembut Laura mengusap pipi Bulan yang membiru. "Mama akan melaporkan tindakan kekerasan ini ke kantor polisi, Alvaro harus dipenjara. Mama tidak bisa terima putri mama disiksa batin maupun fisiknya dengan keji seperti ini."


Bulan menggeleng, jika mamanya melaporkan kasus ini kepada polisi bukan Alvaro yang dipenjara melainkan dirinyalah yang akan mendekam dalam pesakitan. "Ma jangan hiks...hiks, jangan laporkan ke polisi." Laura heran, baginya perbuatan Alvaro sudah keterlaluan. Pria itu pantas untuk mendapatkan balasan yang setimpal atas kejahatannya.


"Kenapa Bulan, kenapa hah?" Tanya Laura kesal, mati-matian dia menahan emosinya kepada Alvaro. Dia ingin melihat lelaki yang telah berbuat kejam kepada putrinya dipenjara.


"Ma aku, aku hiks...hiks. Aku telah melakukan perbuatan kriminal ma, aku-aku hiks." Bulan menggigit kuku dijemari tangannya, dia menunduk cemas menatap dinginnya lantai kamar.

__ADS_1


"Kenapa Bulan, katakan sama mama?" Tekan Laura mengerutkan dahinya bingung.


"A-aku telah menusuk Alvaro menggunakan pisau dapur ma hiks...hiks...hiks agar aku bisa lari darinya. Terakhir kali aku meninggalkannya, dia dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah. Aku takut ma, ah-a-aku telah membunuh Alvaro ma hiks..hiks." Sungguh Laura benar-benar syok mendengarnya, dia tidak menyangka putrinya mengambil tindakan sejauh itu. Noda darah yang nampak kontras di dress putih putrinya membuktikan bahwa Bulan mungkin telah mengakhiri nyawa orang lain.


Bulan menangis tersedu-sedu. "Aku pasti akan mendekam dipenjara ma hiks...hiks. Mereka-mereka semua pasti akan menangkapku ma."


Laura memeluk Bulan, mecoba menenangkan putrinya. "Jangan takut sayang." Dia mengusap surai rambut Bulan, sejenak Laura memejamkan matanya. Dia bisa merasakan ketakutan yang dialami Bulan. "Selama mama masih hidup, mama tidak akan membiarkan kamu dipenjara." Ujar tegas Laura, dia akan menjadi garda terdepan untuk membela putrinya. Cukup! Dia tidak rela anaknya menangggung derita lagi. Selama Bulan kecil hingga dewasa, putrinya selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang-orang disekitarnya bahkan dari ayah kandungnya sendiri.


Laura berulang kali mencium puncak kepala putrinya dengan sayang. "Kamu putri mama sayang, mama mempertaruhkan nyawa mama untuk melahirkanmu. Mama berjuang untuk membesarkanmu sendirian, dan jika perlu mama bahkan rela mengotori tangan mama untuk menyingkirkan orang-orang yang berani menyakiti putri mama. Mama akan melakukan apapun demi kamu sayang." Bulan menganggukkan kepalanya, dia berlindung dalam dekapan mamanya. Tidak ada tempat ternyaman dan setenang ini selain dalam pelukan seorang ibu.


Laura menitihkan air matanya sembari mengepalkan tangannya kuat. Mama janji sayang, mama pasti akan membalas perbuatan jahat mereka semua kepada kita. Batinnya dalam hati, hanya menunggu waktu yang tepat maka Laura akan segera bertindak.


Wanita paruh baya itu mengurai pelukannya, dia mengusap pipi putrinya. "Ma, ta-tapi aku telah membunuh Alvaro ma. Ji-jika Alvaro ma-mati aku pasti akan dihukum hiks...hiks."


"Sayang dengerkan mama, Alvaro baik-baik saja. Dia tidak mati, percaya sama mama ya." Ujar Laura mencoba menenangkan putrinya yang kalut. "Jangan terlalu memikirkan dia, orang jahat sepertinya pantas untuk mendapatkannya." Laura tersenyum, seolah dia membenarkan tindakan putrinya. Rasa sakit yang dirasakan Alvaro sekarang tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami oleh Bulan.


Laura tersenyum menatap putri kesayangannya dengan perasaan miris. "Mama akan membereskan semuanya, kamu jangan khawatir."


Bulan mengangguk, ucapan mamanya membuat perasaan Bulan sedikit tenang walaupun ada perasaan takut didalam benaknya. "Tidurlah, kamu butuh istirahat." Iya benar, Bulan sangat lelah. Tenaganya seakan terkuras, dia ingin tertidur dan berharap semuanya hanyalah mimpi buruk.


Dia merebahkan dirinya dikasur, Laura menyelimuti tubuh putrinya. Bulan terus menggenggam jemari tangan mamanya. "Ma temani Bulan ya ma, Bulan ta-takut." Cicit Bulan dengan sendu.


Laura mengelus surai rambut putrinya. "Iya sayang mama akan disini terus menemani kamu." Bulan mengulum senyum, matanya perlahan terpejam. Dia merasa letih, tidak berselang lama Bulan tertidur dalam belaian lembut mamanya.


Laura menatap Bulan yang telah tertidur pulas, putri cantiknya yang manis disia-siakan oleh pria bajingan yang tidak bertanggung jawab karena ulahnya. Laura yang memulainya maka dia juga yang akan mengakhirinya. Wanita paruh baya itu mengambil ponselnya dari atas nakas, dia lantas mencari nomor dikontak ponselnya.

__ADS_1


Dia menelfon seseorang, sekiranya dia bisa menyelesaikan masalahnya lewat orang lain. "Hallo Jonathan, aku butuh bantuanmu."


Bersambung...


__ADS_2