
Bintang menginjakkan kakinya di teras rumah, dia barusaja pulang dari kampus sehabis konsultasi dengan dosen pembimbingnya skripsi. Dia memijat kepalanya yang pening, jujur saja semenjak hamil Bintang merasa mudah lelah ketika beraktifitas apalagi mengurusi tugas akhirnya yang mengharuskan Bintang bolak balik ke kampus dari pagi hingga sore hanya untuk menemui dosen yang kadangkala tidak ontime sesuai janji. Wanita itu mengernyitkan dahi ketika masuk kedalam rumah nampak sepi, kemana suaminya?
Bintang naik keatas tangga menuju kamar Alvaro. “Kak Al.” Wanita itu memanggil dengan keras, berharap suaminya akan menyahut. “Kakak! Kak Al.” Bintang menghela nafasnya yang memburu, dia sedikit kesal mendapati rumah besar ini kosong.
Dia hanya belum terbiasa menjalani kehidupan rumah tangga seperti ini. Biasanya jika dirumah Papanya setiap pulang kerumah Bintang selalu disambut hangat oleh Mamanya, bahkan ketika lapar makanan langsung tersedia dimeja. Berbeda dengan sekarang dia harus melakukan apapun secara mandiri, untung dia jago dalam memasak daripada kakaknya. Setidaknya dibanding Bulan dia mempunyai kemampuan yang lebih sebagai seorang istri.
Perlahan langkahnya memasuki kamar, di duduk sejenak dipinggir ranjang sembari menatap layar ponselnya berharap Alvaro meninggalkan pesan. Namun nihil, tidak ada satupun notifikasi whatsapp yang masuk padahal sebelumnya Alvaro hampir setiap hari mengabarinya jika dia pulang terlambat. Semalam Alvaro mengatakan bahwa hari ini dia hanya ada meeting pagi dengan klien setelah itu dia akan segera pulang, tapi sampai sore menjelang malam suaminya belum sampai dirumah. Aneh, jika dia kerja lembur seharusnya kabari Bintang agar dia tidak cemas.
Bintang beranjak berdiri, dia menuju meja rias menatap pantulan wajahnya yang kusam karena belum mandi. Dia mengambil beberapa kapas, membasahinya dengan make-up remover untuk membersihkan wajahnya yang berminyak. Setelah selesai dia membuang bekas kapas pada tempat sampah, namun tatapan matanya tertuju pada sebuah map biru yang teronggok mengenaskan didalam tong sampah. Bintang kemarin melihat map itu pernah dibawa oleh suaminya, dia penasaran apa isinya.
Pandangannya terpaku pada gumpalan kertas kusut yang nampaknya sengaja diremas kuat oleh seseorang, lantas dia mengambilnya lalu membuka gumpalan kertas itu untuk membacanya. Untung saja belum sobek, mata Bintang membola tatkala tulisan dikertas itu menyatakan bahwa sang kakak mengajukan gugatan perceraian kepada Alvaro. Wanita itu seketika tersenyum sumringah, akhirnya kakaknya mau berpisah dengan Alvaro.
Tapi kenapa kak Al malah membuang kertas ini? Dia seharusnya langsung menandatangani surat gugatan perceraiannya agar bisa segera diproses. Batin Bintang mengernyit heran, tidak tahu apa yang ada difikiran suaminya.
Lamat-lamat Bintang mendengar suara derum mobil, dia membuka tirai jendela balkon untuk mengintip. Mobil BMW hitam memasuki pelataran rumah, mengetahui bahwa suami tercintanya telah pulang dengan wajah berseri-seri Bintang keluar dari kamar. Ditangannya Bintang menggenggam kertas yang dia temukan tadi di kamar, dia ingin menanyakan alasan Alvaro membuang surat penting ini. Dengan langkah cepat dia menuruni tangga, namun langkahnya seketika terhenti ketika dia mendapati Alvaro datang bersama dengan Bulan yang berada dalam gendongan pemuda itu. Bulan sebenarnya tidak ingin manja digendong seperti ini oleh Alvaro, dia kuat jalan sendiri namun Alvaro kekeuh ingin mengantarkannya kekamar dengan menggendong dirinya. Tidak ingin berdebat akhirnya Bulan menurut, dia mengalungkan tangannya pada leher suaminya agar tidak jatuh. Dia tahu bahwa Bintang saat ini pasti menahan kesal melihatnya.
"Kak Al kamu--." Alvaro tidak menggubris keberadaan Bintang, dia berjalan masuk kedalam kamar Bulan membaringkan tubuh wanita itu diatas ranjang. Bintang mengepalkan kedua tangan, dia marah karena rupanya Bulan telah mencuri perhatian Alvaro darinya.
"Aku akan mengambil bubur didapur untukmu Bulan." Ujar Alvaro seraya mengusap kepala Bulan lembut, diperlakukan dengan manis seperti ini Bulan hanya diam. Dia sedikit bingung, ada apa dengan Alvaro hari ini? Mungkin dia merasa bersalah karena dirinya hampir keguguran karena tindakan anarkis Alvaro.
Pemuda itu keluar dari kamar Bulan, dia berpapasan dengan Bintang yang masih mematung di tempat. "Kak Al." Panggil Bintang dengan dada bergemuruh membuat Alvaro menoleh menatap lekat istri keduanya.
"Ada apa Bi?" Tanya Alvaro mengerutkan dahi.
"Aku ingin menanyakan sesu--."
__ADS_1
"Sebaiknya kamu bantu aku membuatkan bubur untuk Bulan, dia sedang sakit." Bintang tersentak mendengarnya, dia bahkan belum selesai bicara tapi Alvaro malah memotong ucapannya.
Membuatkan bubur untuk kakaknya? Cih, Bintang tidak sudi. Lagipula kenapa Alvaro bersikap baik dengan bedebah itu? Bintang akhirnya memilih menyembunyikan kertas yang berada dalam genggamannya di balik punggungnya. Dia merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya kepada Alvaro.
"Jika tidak ada yang ingin kamu bicarakan, aku kedapur dulu." Ujar tegas Alvaro berjalan pergi meninggalkan Bintang dengan raut wajah masam. Wanita itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Bulan menatap sengit kakaknya dalam keadaan lemah di atas kasur.
"Aku salah telah meremehkanmu kak." Ujar Bintang tiba-tiba membuat Bulan yang duduk bersandar di tiang ranjang seketika menoleh. "Aktingmu bagus sekali, kamu pura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian dari kak Al."
Bulan yang mendengar ocehan tidak bermutu dari adiknya hanya bisa diam, malas untuk menanggapi. Biarlah anjing menggonggong, dia yang berfikiran waras memilih untuk tetap tenang.
"Aku sungguh kasian kepadamu kak, mengemis cinta dari kak Alvaro. Sebagai perempuan kamu tidak mempunyai harga diri, semua rencana licikmu akan sia-sia karena kak Alvaro hanya mencintaiku saja." Mendengar ucapan dari adiknya, Bulan hanya tersenyum sinis. Dia tidak peduli dengan hinaan yang dilontarkan Bintang kepadanya. Seharusnya yang malu itu adalah Bintang telah merebut suami orang lain dan bahkan dia hamil diluar nikah.
"Kakak apa kamu tuli!" Bentak Bintang pada akhirnya mulai tersulut emosi karena merasa Bulan telah mengabaikannya. "Kakak kamu benar-benar membuatku marah" Wanita itu sudah akan melayangkan tangannya keatas ingin memukul kakaknya, sedangkan Bulan hanya bisa pasrah karena tubuhnya masih lemas untuk sekedar membela dirinya saja dia tidak mampu. Namun sebelum tangannya menyentuh kakaknya, Alvaro datang masuk kedalam kamar membawa semangkuk bubur.
"A-aku akan kekamar untuk mandi." Ujar Bintang seraya berjalan keluar dari kamar kakaknya.
Bulan memejamkan matanya, lagi-lagi dia menangis. Akhir-akhir ini Bulan menjadi mudah sedih jika ada seseorang yang menyakitinya, segera dia mengusap linangan air mata di pipinya. Dia tidak ingin terlihat cengeng didepan Alvaro, jika Bulan lemah pasti dia akan diinjak-injak oleh suaminya dan juga adiknya.
Alvaro duduk ditepi ranjang, dia menatap Bulan dengan sorot mata tajam. "Kamu nangis?" Tanyanya sembari mengelus surai rambut Bulan. "Jangan sedih Bulan, aku janji tidak akan bersikap kasar lagi kepadamu jika kamu menjadi wanita penurut seperti dulu." Ujarnya.
Apakah dia hanya akan menjadi boneka hidup bagi Alvaro dan juga Mamanya. Selama ini alur hidupnya seolah diatur oleh Mamanya, dan sekarang dia harus menuruti perintah Alvaro. Hati dan fikiran Bulan sudah lelah, rasanya menunggu anak yang barada dalam kandungannya lahir begitu lama. Dia ingin segera bebas dari belenggu Alvaro.
"Buka mulutmu, aku akan menyuapimu." Ujar Alvaro mengulurkan sesendok bubur buatannya. "Semoga saja rasanya enak, sudah lama aku tidak pernah memasak bubur."
Bulan terkejut mendengarnya, kenapa Alvaro repot-repot membuatkannya bubur? Sumpah Bulan semakin dibuat bingung dengan perhatian Alvaro. Tolong jangan seperti ini, hati Bulan mudah sekali luluh jika diperlakukan baik oleh seseorang.
__ADS_1
"Aku akan makan sendiri." Bulan ingin mengambil mangkuk bubur dari tangan Alvaro, namun pemuda itu enggan untuk memberikannya.
"Biarkan aku menyuapimu." Ujar Alvaro dibalas anggukan pelan oleh Bulan.
Dengan telaten Alvaro menyuapi istrinya, kalau boleh jujur bubur buatan Alvaro rasanya sangat enak. Alvaro tersenyum melihat Bulan lahap memakan bubur buatannya hingga tanpa terasa makanan di mangkuk habis.
Alvaro mengambil vitamin yang diberikan oleh dokter Sinta. "Ini minumlah." Ujarnya seraya mengulurkan vitamin dalam bentuk kapul beserta air putih kepada Bulan.
Wanita itu menggeleng. "Aku tidak mau Al, rasanya pahit."
Alvaro berusaha bersabar. "Ini hanya vitamin Bulan, tidak terlalu pahit. Kata dokter kandunganmu sangat lemah, jika kamu tidak mengonsumsi vitamin dengan rutin akan berakibat buruk pada kandunganmu." Sebisa mungkin Alvaro akan memastika Bulan minum vitamin ini dengan rutin.
Tangan lentik Bulan terulur mengelus perutnya, dia menyalahkan dirinya sendiri karena begitu egois. Sayang kamu harus tumbuh sehat didalam sana ya, maafkan mamamu yang lemah ini tidak becus menjagamu. Batin Bulan miris karena anaknya terkena imbas dari masalah yang selalu menekan hidupnya.
Bulan mengambil vitaminnya lalu segera menenggak kapsul itu, mengabaikan rasa pahit yang melekat dilidah.
Alvaro senang Bulan kembali menjadi wanita penurut, jika dia tidak berulah sebenarnya Alvaro juga akan bersikap lembut kepada istrinya. "Sekarang istirahatlah." Lagi-lagi Bulan mengangguk patuh, dia berbaring ditempat tidur. Alvaro menyelimuti tubuh Bulan agar hangat, sebelum pergi keluar dari kamar Bulan pemuda itu menyempatkan diri untuk mencium kening istrinya.
"Jika kamu butuh sesuatu, panggil saja aku Bulan." Ujar Alvaro seraya tersenyum manis, lantas pemuda itu berjalan keluar meninggalkan istrinya didalam kamar.
Rasanya dada Bulan berdebar kencang, senyuman Alvaro kembali memikat hatinya. Kumohon jangan memupuk perasaan sayang ini kepadamul Al, jika seperti ini maka aku akan sulit meninggalkanmu.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak agar aku semangat update. Menurut kalian bagaimana dengan episode kali ini?
__ADS_1