
Dor...dor...dor
"Al buka pintunya Al, aku mohon..." Teriak Bulan sama sekali tidak digubris oleh Alvaro yang mendengarnya dari balik pintu. "Al hiks...hiks, buka!"
Bintang berjalan mendekati Alvaro, dia berakting sedih. "Kak, kakak nggak kasian sama kak Bulan? Ini sudah malam apalagi hujan, kakak tega membiarkannya tidur kedinginan diluar. Mending kakak bukain aja pintunya, aku sedih melihat kak Bulan tidur diluar." Cicit Bintang memberitahu suaminya seolah turut bersimpati.
Alvaro menatap tajam istri keduanya membuat Bulan menunduk takut karena suaminya terlihat penuh amarah. "Jika kamu berani membukakan pintu membiarkan Bulan masuk ke dalam rumah ini, maka aku tidak akan segan-segan untuk mengusirmu juga untuk angkat kaki dari rumahku." Tegasnya mutlak, pemuda itu lantas berjalan pergi menaiki tangga untuk menenangkan diri dikamarnya.
Bintang menatap nanar kepergian suaminya, dia menyunggingkan senyum lebar. Bintang tidak menyangka respon Alvaro sampai sejauh ini mengusir kakaknya dari rumah. Meskipun dia tidak berhasil membunuh kakaknya, setidaknya ini sudah cukup untuk membuat Bulan menderita. Bintang yakin setelah ini Alvaro pasti akan mempercepat perceraiannya dengan Bulan, rencana Daren yang tidak terduga justru menguntungkan bagi Bulan. Haruskah dia mengucapkan terimakasih kepada pria menyebalkan itu, karena hari ini telah membuat Bintang senang melihat kesedihan kakaknya.
"Ini baru permulaan kak, sebelum aku benar-benar berhasil menyingkirkanmu akan aku buat hidupmu sengsara." Gumam Bintang tertawa sinis, dia tidak peduli dengan Bulan. Kebenciaannya terhadap kakaknya sudah mendarah daging, tujuannya hanya satu yaitu ingin melenyapkan Bulan dari hidupnya. Tidak ingin pendengarannya terganggu karena teriakan kakaknya diluar, Bintang memilih pergi mengikuti Alvaro menuju kamar. Dia ingin tidur lelap sembari memeluk suaminya malam ini.
Dor...dor...dor
__ADS_1
"Al, maafkan aku. Tolong bukakan pintunya, diluar dingin Al hiks...hiks." Bulan terus menggedor pintu rumah, sekeras apapun dia berteriak tidak akan ada gunanya. Tangannya malah semakin sakit karena terlalu keras memukul pintu.
Alvaro salah paham kepada dirinya, dia beranggapan bahwa Bulan telah berselingkuh. Pasti pemuda itu saat ini sangat membencinya, bahkan Alvaro juga menganggap anak dalam perutnya adalah benih dari pria lain. Bulan meluruh duduk bersandar didepan pintu, dia benar-benar lelah rasanya perjuangan dia untuk mendapatkan bukti perselingkuhan adiknya sia-sia. Lagi-lagi Bulan harus dihadapkan oleh kekalahan. Kenapa tuhan? Tanyanya dalam hati sembari menangis tergugu, fitnah ini telah menggiringnya terlalu jauh. Bagaimana dia bisa membersihkan namanya didepan suaminya? Bulan benar-benar bingung.
Dia mengusap kedua bahunya untuk memberikan kehangatan, semilir udara malam menusuk kulitnya. Bulan kedinginan, malam-malam seperti ini dia harus pergi kemana? Bulan tidak mungkin pulang kerumah orang tuanya. Dia tidak mau mamanya melihatnya dalam keadaan menyedihkan seperti ini, pasti mamanya akan marah dan sakit hati. Kesehatan mamanya sangatlah penting apalagi mamanya mempunyai riwayat penyakit jantung, jika dia tahu bahwa anaknya diperlakukan buruk disini itu akan membuat mamanya stres memikirkan Bulan.
“Maafkan mama ya sayang hiks…hiks, kamu juga ikut menderita karena ulah mama.” Gumam Bulan seraya mengelus lembut perutnya. “Jika papamu tidak mengakui kamu adalah anaknya, tidak apa-apa kamu masih punya mama yang akan menyayangimu.” Tuturnya seolah mengajak bicara dengan bayi dikandungannya, dia merasa takut apakah nasipnya juga akan menimpa kepada anaknya kelak? Bulan sedari kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah hanya karena dia lahir dari rahim wanita yang dibenci oleh papanya. Sebisa mungkin Bulan akan menghindarinya, anaknya harus mendapatkan kebahagiaan.
Dia mengusap lelehan air mata yang menggenang di pipinya, Bulan tersenyum miris. Dia kecewa dengan Alvaro, akhir-akhir ini pemuda itu bersikap manis kepadanya memberikan harapan untuk Bulan namun sekarang pemuda itu malah mencampakkannya tanpa memberikan kesempatan berbicara untuk sekedar menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah difikirkan lagi ini tidak terlalu buruk untuk Bulan, saat ini Alvaro sangat membencinya. Dengan begini akan mempermudah dirinya untuk berpisah dari lelaki kejam itu. Dulu Alvaro pernah mengancamnya jika Bulan ingin bercerai darinya maka resikonya Alvaro akan mengambil hak asuh anak mereka sehingga Bulan tidak bisa menemui bayinya. Sekarang Alvaro mungkin akan menarik ucapannya karena dia sendiri yang menghina bayi yang dikandungnya adalah anak haram, lagipula Bulan tidak butuh pengakuan darinya. Bulan akan membuktikan jika dirinya mampu membesarkan anaknya sendirian, dia tidak akan membiarkan Alvaro merebut bayinya.
Disisi lain Alvaro tengah duduk bersender ditepi ranjang sembari menatap layar ponselnya, dia terlihat fokus bahkan tidak menggubris keberadaan Bintang yang berada disampingnya. Wanita itu nampak mengerutkan dahi, dia penasaran apa yang sedang Alvaro tonton? Bintang tahu bahwa suaminya sibuk, tapi dia juga kesal jika diabaikan seperti ini.
__ADS_1
Ponsel Alvaro terhubung dengan CCTV rumah, dia saat ini sedang mengamati Bulan yang berada di luar rumahnya. Bulan masih berada di depan pintu sembari menangis, ada sedikit perasaan iba sebenarnya dalam benak Alvaro melihat Bulan sedih. Namun Alvaro tidak bisa lagi memaafkan istri pertamanya itu, dia telah membuatnya terluka karena selingkuh dengan pria lain bahkan Alvaro sampai meragukan anak yang berada dalam kandungan Bulan kemungkinan besar bukanlah anaknya.
Alvaro tidak habis fikir bahwa Bulan bisa menghianatinya, padahal dia mengira jika Bulan hanya mencintainya saja. Ternyata dia bukanlah satu-satunya, melainkan masih ada pria lain yang telah menyentuh istrinya. Sorot mata Alvaro menajam tatkala dia melihat Bulan beranjak berdiri, lalu dia terlihat berjalan menembus derasnya hujan keluar dari pelataran rumahnya. Mau kemana wanita itu pergi? Batinya bertanya-tanya, Alvaro lantas menggelengkan kepalanya. Cukup! Dia seharusnya tidak usah memperdulikan Bulan.
Bintang menggenggam tangan Alvaro membuat pemuda itu sedikit terkejut. “Kakak apa yang sedang kamu kerjakan? Sedari tadi kamu hanya memainkan poselmu.” Tanyanya pada akhirnya menatap sendu suaminya.
Alvaro menoleh, dia mematikan ponselnya lalu meletakkannya di atas nakas. “Aku hanya memeriksa beberapa email yang masuk dari rekan bisnisku.” Kilahnya berbohong, dia mengulurkan tangannya mengelus lebut surai rambut Bintang.
Wanita itu tersenyum manis. “Kak aku mengantuk, ayo kita tidur.” Ajaknya dibalas anggukan oleh Alvaro, dia bisa melihat raut wajah lelah diwajah istrinya. Alvaro merebahkan dirinya, Bintang lantas memeluk suaminya seakan tidak ingin melepaskannya.
Tangan kekar Alvaro mengusap-usap bahu istrinya, Bintang merasa nyaman berada dalam rengkuhan Alvaro. Tidak berselang lama Bintang memejamkan matanya, dia tidur terlelap mengarungi mimpi. Sedangkan Alvaro masih terjaga, dia menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan murung. Fikirannya berkelana pada sosok Bulan yang masih tengiang-ngiang diotaknya membuat Alvaro bimbang.
Bulan selamat, kamu telah berhasil menghancurkan hatiku. Ujarnya dari dalam hati dengan perasaan kecewa.
__ADS_1
Bersambung...