
"Semoga kamu bahagia, Naura." hanya kata itu yang mampu Wahyu ucapkan setelah menerima sebuah undangan yang bertuliskan nama Naura dan Bayu.
Pernikahan mantan istrinya itu tinggal dua minggu lagi, dan setelah itu Naura nya akan menjadi milik orang lain, tidak ada cela lagi bagi dirinya untuk bisa kembali pada mantan istrinya itu, terlebih yang akan menjadi suami Naura nanti adalah temannya sendiri yang memang ternyata sudah memiliki perasaan pada Naura sebelum Naura menggugat cerai dirinya.
Helaan nafas panjang terhembuskan setelah beberapa saat tercekat ditenggorokan, surat undangan yang masih berada di genggamannya perlahan dia letakan di atas meja kerja yang terdapat banyak tumpukan berkas.
Lalu, perlahan dia mendudukkan tubuhnya diatas kursi kerjanya dan mulai menyibukkan diri dengan tumpukan berkas di hadapannya itu untuk mengalihkan pikirannya dari sepasang calon pengantin yang tidak akan lama lagi menempuh hidup baru.
Namun, seberapa keras dia berusaha untuk tidak memikirkannya, bayangan calon pengantin itu semakin lekat memenuhi memorinya, dan akhirnya Wahyu jadi tak fokus pada pekerjaannya.
"Huh, sebaiknya Aku pulang saja dan mengerjakannya dirumah." Wahyu pun menutup kembali berkas-berkas itu lalu menyisihkan beberapa yang akan dibawanya pulang untuk dikerjakan dirumah. Tak lupa juga Wahyu mengambil undangan itu untuk nanti dia berikan pada mamanya dirumah.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Wahyu pun tampak tak fokus pada kemudi nya, sesekali dia menghembuskan nafasnya dengan kasar seperti orang yang sedang sesak nafas, dan sesekali dia juga melirik ke kanan dan ke kiri guna membuyarkan lamunannya, namun hasilnya nihil. Pikirannya tak terkontrol dan tanpa sadar Wahyu menambah kecepatan laju mobilnya, hingga sampai pada persimpangan dia hampir saja menabrak seseorang yang hendak menyebrang jika tidak segera mengerem mobilnya.
Ciiitttt...
Aaa.....
Decitan ban mobil yang beradu pada aspal serta teriakan seorang wanita yang hampir saja menjadi korban penabrakan, mengundang perhatian beberapa orang yang berada di sana segera berhamburan berlari ke tempat kejadian.
"Astaghfirullah, ya Allah Aku hampir saja nabrak orang," dengan gerakan cepat Wahyu melepas seat belt nya lalu turun dari mobil dan menghampiri orang yang hampir di tabrak nya itu.
"Hati-hati dong, Mas bawa mobilnya, kalau tadi Mba ini ketabrak gimana?" tegur pria paruh baya yang menyaksikan dengan jelas kejadian itu.
"Sudah tau ini persimpangan, kenapa ngebut ngebut bawa mobilnya." ucapnya lagi menatap tak suka pada Wahyu, karena pada dasarnya memang Wahyu lah yang bersalah.
"Iya Pak saya yang salah, saya minta maaf dan saya bakalan tanggung jawab pada Mbak ini." ucap Wahyu sembari menunjuk wanita yang hampir ditabrak nya itu.
"Nah gitu dong, kamu yang salah emang harusnya tanggung jawab, ya udah sekalian aja anterin Mbak ini pulang." ujar bapak itu dan Wahyu pun menganggukkan kepalanya.
Setelah dirasa permasalahan sudah selesai, kerumunan itu mulai bubar satu persatu dan tinggal menyisakan Wahyu dan wanita yang hampir ditabrak nya itu.
"Mbak, saya benar-benar minta maaf ya, saya gak sengaja." ucap Wahyu dan mendapat anggukan pelan dari wanita itu.
"Iya, gak apa-apa, Aku juga yang salah tadi menyebrang gak lihat-lihat dulu." ucap wanita itu.
"Oh ya, sebagai permintaan maaf saya, biar saya antar mbak pulang ya." ujar Wahyu.
"Gak usah, terima kasih, saya bukan mau pulang, tapi mau pergi ke kampus." jawab wanita itu.
"Oh ya gak apa-apa, biar saya antar aja sekalian."
"Gak usah, saya gak mau merepotkan, biar saya tunggu taksi atau ojek saja disini." tolak wanita itu.
"Gak merepotkan kan kok, anggap saja sebagai pertanggung jawaban saya karena sudah hampir menabrak Mbak tadi."
__ADS_1
"Tapi...
"Mbak tolong nurut aja ya, saya gak punya banyak waktu, saya juga gak mau dibilang gak bertanggung jawab sama mereka." sela Wahyu sembari menunjuk ke arah beberapa orang yang tadi berkerumun.
Wanita itupun mengangguk kepalanya walaupun sebenarnya dia enggan di antar oleh Wahyu. Melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan dia hampir terlambat membuatnya terpaksa menerima tawaran Wahyu untuk mengantarkannya ke kampus tempatnya mengajar.
"Saya harus mengantar Mbak ke kampus yang mana?" tanya Wahyu, saat ini mobilnya sudah melaju.
Wanita itupun memberitahu dimana letak kampus yang dituju nya, dan Wahyu sendiri mendumel kesal dalam hati karena lokasi kampus itu sangat jauh dari posisinya sekarang.
"Ya udah lah, itung-itung menolong orang. Ah, ini semua gara-gara undangan itu Aku sampai gak fokus dan hampir nabrak orang." gerutunya dalam hati.
Kurang lebih hampir satu jam berkendara, mobil Wahyu pun berhenti didepan sebuah universitas yang tak kalah populer dari kampus mantan istrinya dulu.
"Terima kasih ya sudah mengantar, maafkan juga sudah merepotkan." ucap wanita itu tidak enak hati.
"Ya gak apa-apa, itu adalah bentuk pertanggung jawaban saya, juga sesama manusia sudah sepatutny saling tolong menolong." ujar Wahyu dan wanita itupun mengangguk membenarkan lalu turun dari mobil Wahyu.
Setelah wanita itu turun dari mobil nya, Wahyu yang hendak melajukan mobilnya urung saat melihat sosok yang sangat dikenali nya turun dari taksi yang bersebelahan dengan mobilnya.
"Loh, itukan Diandra, kenapa dia ke kampus ini. Bukannya dia mengajar di kampus tempat Naura kuliah dulu, atau jangan-jangan sekarang dia pindah mengajar disini ada karena pernikahannya dengan Noval yang gagal, apa mungkin begitu? Ah, sudahlah apa perduli ku, apapun yang dia lakukan sekarang bukanlah lagi urusanku dan Aku juga sudah tak mau mencampuri nya."
Wahyu pun kembali melajukan mobilnya. Tujuannya sekarang adalah pulang kerumahnya menenangkan fikiran nya yang terganggu, dan lagipula ada banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.
Setelah sampai di rumahnya, Wahyu mencari mamanya untuk memberikan undangan pernikahan Naura dan Bayu. Dan mama Winda yang sedang berada di ruang tamu sedikit terkejut saat Wahyu memberikan undangan itu. Sama seperti Wahyu, mama Winda pun turut sedih karena sudah tak ada harapan lagi Naura menjadi menantunya kembali, namun mama Winda harus bisa menerima kenyataan itu karena itulah adanya.
"Entahlah, Ma. Kurasa sebaiknya Mama dan Tasya saja yang datang." jawab Wahyu lalu beranjak dari tempat duduk hendak kekamar nya, tak lupa dia mengambil beberapa berkas yang sebelumnya dia letakan di atas meja.
Mama Winda hanya bisa menatap nanar langkah putranya yang berlalu dari ruang tamu, merasa iba dengan nasib Putranya itu, namun mama Winda tak bisa memungkiri yang terjadi saat ini adalah karena ulah putranya sendiri.
"Jika sudah seperti ini, kamu harus belajar melupakan Naura, nak" ucap mama Winda dengan lirih.
.
.
.
Halo semuanya othor menyapa 🤗🤗🤗
Kemaren kemaren promosikan novel teman, dan sekarang othor mau promosi novel othor sendiri. Mampir yuk barangkali suka 🙏🙏🙏 Masih sepi banget 😥😥😥
POTONGAN BAB 👇👇👇
__ADS_1
"Ada apa? kenapa kamu melihatku seperti itu, jangan bilang sekarang kamu sudah jadi laki-laki mesum" Nirmala memicingkan matanya karena Evan terus menatapnya tanda berkedip.
Mendapat tuduhan seperti itu Evan malah terkekeh, sungguh gadis yang disukainya luar biasa dalam berkata-kata. Kadang-kadang membuat terkesima, kadang-kadang juga seperti menjatuhkan.
"Terkadang kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta, karena itu terjadi begitu saja. Meski mulut berkata tidak, tapi hati tidak bisa menolak. Nirmala, aku jatuh cinta padamu" entah ia mendapatkan kata-kata dadakan itu dari mana, namun Evan akhirnya bisa bernafas lega karena sudah mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Evan tersenyum, namun seketika ia melenguh karena gadis itu malah tertawa.
"Hahahaha, aduh apa aku gak salah dengar, kamu bilang apa tadi?''
"Kamu tidak salah dengar Nirmala, aku serius" ucap Evan, matanya mulai berkaca-kaca, bagaimana jika gadis itu menolaknya? sungguh ia pasti akan kecewa, namun itu sudah menjadi resikonya. "Nirmala, aku jatuh cinta padamu" ucapnya lagi.
"Aku kira aku salah dengar, dan ternyata kamu benar-benar mengatakannya" kata Nirmala, ia merasa lucu dengan satu kata yang meluncur dari bibir lelaki itu.
"Iya Nirmala, aku mengatakannya, jadi apa jawabanmu?"
Dan Nirmala lagi-lagi kembali tertawa, membuat Evan menjadi bingung.
"Kamu merasa nggak? ada yang berbeda dari kata-kata kamu tadi" tanya Nirmala.
Evan menggelengkan kepalanya, ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh gadis itu.
"Kamu tadi menyebut nama aku, dan itu adalah yang pertama kalinya selama kita kenal" Dan Nirmala pun kembali tertawa, setelah menjelaskan pada Evan sebab ia tertawa.
Evan menekan pangkal hidungnya, jadi karena itu gadis itu tertawa. Evan kira, Nirmala menertawakannya karena mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.
"Nirmala jangan bercanda, aku mohon, aku ingin mendengar jawaban kamu" kini sorot mata Evan berubah sendu menatap gadis itu dengan penuh permohonan.
Nirmala menarik sudut bibirnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Evan Evan, kamu tuh ada-ada aja ya, masa bilang cinta sama aku. Kamu lupa ya aku ini siapa? aku ini bukan kriteria wanita yang kamu sukai" ucap Nirmala, ia terkekeh dengan kata-katanya sendiri.
"Tapi kalau boleh jujur, aku juga suka sama kamu. Tapi aku lebih memilih diam karena aku sadar aku ini siapa, aku gak pantas buat kamu, Evan" Sambungnya. "Kalau boleh tau, sejak kapan kamu jatuh cinta sama gadis club'malam ini" tanyanya kemudian dengan sedikit tertawa.
"Jangan berbicara seperti itu, Nirmala. Aku yakin, kamu pasti gadis baik-baik. Dan sejak kapan aku jatuh cinta aku juga tidak tau sejak kapan, yang aku tau aku merasa nyaman bila didekat kamu, dan merasa kehilangan bila berjauhan. Dan kamu sendiri sejak kapan menyukai aku?"
Nirmala terkekeh. "Lucu ya, aku suka sama kamu dan kamu juga jatuh cinta sama aku, tapi kita sama-sama diam"
"Jadi bagaimana sekarang, Nirmala?"
"Kalau bertanya padaku, aku akan menjawab seperti ini. Cinta kita adalah yang terbaik, karena kau imanku bertambah. Kau membantuku di dunia ini, dan karena itu aku ingin kembali bertemu denganmu di surga kelak. Maka dari itu, aku bukan hanya ingin menjadi pacarmu, namun menjadi kekasih halalmu. Evan, apakah kau mau menjadikan aku kekasih halalmu?''
"Ah kok jadi aku yang nembak kamu sih" Nirmala menggaruk telinganya. "Seharusnya nya kan kamu, kan yang jatuh cinta itu kamu"
Evan terkekeh dengan tingkah konyol gadis itu. "Ok baiklah, ekhem..." Sejenak Evan berpikir untuk merangkai kata-katanya. "Aku merasa lengkap meski kita belum sempurna, aku merasa senang, meski hatimu belum juga ku genggam. Aku tidak mempunyai kesempurnaa layaknya orang lain, tapi aku memilih satu hati yang akan selalu setia padamu"
Nirmala terdiam mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan lelaki yang katanya jatuh cinta padanya itu.
Dan di detik berikutnya, Nirmala tertawa kencang.
__ADS_1
Hahahaha hahahaha...