Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 35. BERBEDA DARI BIASANYA


__ADS_3

Jam dinding sudah menujukan pukul 7 pagi, semua anggota keluarga sudah berkumpul diruang makan untuk mengisi perut sebelum melakukan aktivitas mereka masing-masing.


Semuanya makan dalam diam, hanya Tasya dan Bu Winda yang sesekali melempar pandangan melihat ke arah Naura dan Wahyu.


Bu Winda memperhatikan wajah putranya yang terlihat berbeda dari biasanya. Biasanya Wahyu selalu ceria saat di ruang makan dan selalu banyak bicara, tapi kali ini tidak. Serta Naura yang juga biasanya dengan telaten meladeni suaminya dengan menyendokkan makanan ke piring Wahyu, kali ini juga tidak dilakukannya. Hari ini benar-benar berbeda dari hari biasanya.


Hening, itulah yang terjadi di ruang makan saat ini. Tidak ada sedikitpun percakapan seperti biasanya.


Hingga terdengar suara dering ponsel Naura yang memecah keheningan itu.


Dengan cepat Naura mengambil air minum. Setelah minum, Naura mengeluarkan ponselnya yang berada di dalam saku celana jeans nya, Naura pun menyunggingkan senyum melihat siapa yang menelponnya dan membuat semua yang ada diruang makan itu mengerutkan keningnya.


"Ma, aku angkat telpon sebentar ya, Ma" ucap Naura dan di angguki oleh Bu Winda.


Naura pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian melangkah meninggalkan ruang makan menuju teras belakang.


"Ya kenapa? tumben nelpon pagi pagi begini, gak biasanya? kangen ya?" canda Naura, setelah mengangkat panggilannya.


"Apaan sih, geli tau aku dengernya" diseberang sana, Lusi mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah oke, coba bilang, kenapa telpon aku pagi-pagi gini? jangan bilang ada mata kuliah, hahahaha" Lagi-lagi Naura bergurau.


"Gak usah bercanda ya, Aku mau ngomong penting, kamu mau kerja gak?" Ucap Lusi, tak ingin berbasa-basi.


"Kerja?" tanya Naura, disana dia mengerutkan keningnya.


"Iya, semalam aku udah ngomong sama Papa aku. Papa aku sangat menyayangkan banget karena diperusahaan nya sekarang tidak ada lowongan. Tapi, kalau cabang perusahaan yang di palembang ada, Ra. Kebetulan disana sedang membutuhkan jasa Desain Interior untuk pembangunan cafe baru Papa aku di sana. Papa aku bilang, kalau kamu mau, Papa bisa rekomendasikan kamu"

__ADS_1


"Mau, aku mau banget, Lus" jawab Naura antusias.


"Tapi Naura, itu artinya kan kamu harus tinggal di sana. Gak mungkin kan, kamu bulak balik Jakarta-Palembang"


"Gak masalah, yang penting aku bisa kerja" kata Naura, dia menyunggingkan senyum. Akhirnya, dia berkesempatan untuk mengembangkan bakatnya, walaupun harus jauh di luar Kota.


"Aduh Naura, kamu ini gimana sih? Kamu kan udah punya suami, gak mungkinlah kamu tinggal di Palembang, sementara suami kamu di sini. Apa kata orang coba?" Lusi sedikit mengkhawatirkan rumah tangga temannya itu.


"Kamu lupa ya? Aku dan Mas Wahyu akan bercerai!" Ucap Naura dengan tegas.


"Kamu beneran mau cerai? Ya ampun Naura, apa gak bisa dibicarakan baik-baik? Ok, iya aku emang minta kamu untuk tidak lemah di hadapan suami kamu, tapi kan gak harus sampai mau pisah juga kali" Di sana, Lusi benar-benar khawatir dengan temannya itu.


"Gini deh Lus, coba seandainya kamu yang jadi aku, gimana rasanya punya suami tapi dia mencintai orang lain?''


"Iya, aku ngerti perasaan kamu, tapi kan Wahyu udah jadi suami kamu sekarang, dan kamu lebih berhak dari pada Bu Diandra, walaupun suami kamu itu sudah lama berhubungan dengan Bu Diandra" Lusi mencoba memberi pengertian pada temannya itu, walaupun sebenarnya dia juga kesal dengan Wahyu.


"Serius? Suami kamu bilang gitu?"


"Aku belum tuli, Lusi" Naura merasa kesal karena temannya itu seperti tak mempercayai ucapannya.


"Oke, Naura sepertinya kita perlu ketemu deh"


Sambungan telepon itu pun terputus. Sejenak Naura membawa tubuhnya duduk di kursi yang tersedia. Naura memijit pelipisnya, kepalanya tiba-tiba saja terasa pusing.


Ternyata pernikahan tak seindah yang Naura bayangkan, ternyata pernikahan tak seindah namanya. Adakalanya merasa sakit, jika pernikahan yang diharapkan tak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.


Serumit inikah yang namanya pernikahan? Naura berpikir, setelah menikah nanti dirinya akan menjadi seorang Ratu satu-satunya didalam istana suaminya. Namun ternyata dia salah, sudah ada Ratu lain yang lebih dulu bertahta di hati suaminya, dan Naura sendiri ternyata hanyalah seorang Selir yang berkedok Ratu.

__ADS_1


Setelah beberapa saat diam merenungkan nasib pernikahannya, Naura pun beranjak dari tempat duduknya, melangkah kembali menuju ruang makan.


Dari kejauhan Naura melihat Mama mertuanya itu menatap tajam ke arah suaminya. Semakin dekat, samar-samar Naura mendengar Mama mertuanya itu sedang menginterogasi suaminya.


"Wahyu, sebenarnya apa sih yang terjadi antara kamu dan Naura? Mama merasa dari kemarin istri kamu itu sedikit berbeda" tanya Mama Winda, namun yang ditanya hanya diam saja.


"Wahyu, Mama tanya tuh dijawab dong, jangan diam aja!" kesal Mama Winda, karena putranya itu hanya diam saja tak menjawab pertanyaannya


Naura yang telah sampai diruang makan dan duduk di tempatnya semula, dapat mendengar dengan jelas kalimat terakhir Mama mertuanya yang terdengar kesal karena suaminya itu tak menjawab pertanyaan sang Mama.


Bu Winda, melihat menantunya datang, seketika membungkam mulutnya.


"Ma, aku izin ya mau keluar sebentar ketemu teman, sebentar aja kok Ma" ucap Naura berpamitan pada Mama mertuanya.


Sementara Bu Winda, dia menatap Naura sebentar kemudian beralih menatap bingung pada putranya. Dan beberapa saat kemudian, Bu Winda pun menganggukkan kepalanya tanpa menjawab menantunya.


"Makasih ya Ma" Ucap Naura, kemudian beranjak dari tempat duduknya, melangkah menuju kamar untuk bersiap-siap pergi bertemu Lusi.


"Tuh, lihat sendiri kan? Bahkan istri kamu hanya izin nya sama Mama, bukannya sama kamu yang suaminya. Wahyu, Mama mohon deh coba kasih tau Mama, ada masalah apa kamu sama Naura?" Desak Bu Winda.


"Maafin aku, Ma" jawab Wahyu sendu.


"Wahyu, Mama tuh mau denger penjelasan kamu, bukannya permintaan maaf kamu, gimana sih" Bu Winda jadi kesal pada putranya.


"Iya, Ma. Aku minta maaf, aku yang sudah buat Naura kayak gitu" Ucap Wahyu, kemudian menundukkan kepala, dia tidak berani menatap Mama nya.


"Kamu, udah buat Naura kayak gitu? Maksudnya apa sih, Mama gak ngerti. Wahyu coba jelasin sama Mama yang jelas jangan berbelit-belit begini"

__ADS_1


__ADS_2