
"Apakah hubungan kita selama tujuh tahun, sama sekali tidak ada artinya bagimu?"
"Angkat teleponnya, kita harus berbicara,"
"Wahyu, temui Aku di taman."
Semburat senyum terukir diwajah Wahyu membaca serentetan pesan singkat dari Diandra. Namun, bukan karena dia senang, melainkan tersenyum remeh pada wanita yang lebih dulu bertahta di hatinya sebelum Naura.
"Kau sendiri yang memutuskan hubungan kita secara sepihak, Diandra. Jadi untuk apa sekarang kau terus menghubungiku, apakah karena kau tidak jadi menikah dengan Noval dan sekarang kau ingin kembali padaku. Tidak, Aku tidak ingin lagi, Diandra." gumamnya sembari menghapus pesan itu satu persatu.
Bukan hanya pesan yang dihapusnya, bahkan nomor Diandra pun Wahyu blokir, dia benar-benar sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan wanita itu, karena dia sendiri yang sudah memutuskan hubungan mereka, dan memilih untuk bersama laki-laki lain.
"Aku memang bodoh, Diandra, seharusnya dari dulu Aku sadar kalau cintamu itu tak setulus yang kukira. Tapi ya sudahlah, semuanya sudah terjadi, dan mungkin memang lebih baik seperti ini." lirih nya, lalu kembali menonaktifkan ponselnya.
Wahyu menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya, netranya lurus menatap pada langit-langit ruangan. Semua pekerjaannya telah selesai, namun Wahyu merasa enggan untuk pulang ke rumah.
Hingga beberapa saat terus melamun, Wahyu menegakkan tubuhnya lalu mengaktifkan ponselnya lagi.
Setelah ponselnya aktif kembali, Wahyu membuka galeri di ponselnya, ibu jarinya terus bergerak men scroll mencari sebuah foto yang masih dia simpan didalam.
Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman ketika menemukan foto yang dicarinya.
Sebuah gambar yang diambil oleh adiknya saat dia mengucap ijab kabul atas nama Naura.
"Waktu itu Aku sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun padamu," ucapnya pelan, ibu jarinya bergerak mengusap wajah kedua pengantin di foto itu.
"Namun, entah kenapa hatiku tergerak untuk memperlakukanmu selayaknya istri, mungkin karena kamu adalah gadis yang baik, jadi kau pantas diperlakukan dengan baik pula, meski saat itu kita sama-sama terpaksa," Wahyu menyunggingkan senyum mengingat awal-awal pernikahannya dengan Naura.
"Dan lama-kelamaan malah Aku sendiri yang menjadi nyaman denganmu, tapi karena sudah ada wanita lain yang lebih dulu bertahta dihatiku membuat Aku tidak bisa menyadari kalau sebenarnya Aku telah jatuh cinta pada istriku sendiri,"
"Tapi, semuanya sudah terlambat, menyesal pun rasanya sudah tidak ada gunanya lagi, Aku sudah benar-benar kehilanganmu."
"Mas," ucapnya lirih sembari tersenyum, mengingat saat pertama kali Naura memanggilnya dengan sebutan Mas.
Beberapa saat terus menatap foto pernikahannya dengan Naura, Wahyu menegakkan tubuhnya sembari menghela nafas. Yah, kali ini dia harus membuat keputusan agar hatinya menjadi lebih tenang.
"Benar kata Mama, Aku harus belajar untuk melupakan Naura, semoga kamu bahagia." ucapnya, beriringan dengan menekan tombol delete di layar ponselnya.
Wahyu tersenyum kala foto pernikahannya dengan Naura itu sudah terhapus dari galeri ponselnya.
__ADS_1
"Jika kamu bahagia, Aku juga akan ikut senang. Maafkan laki-laki bodoh ini, Naura. Maaf Mas mu ini." ucapnya kemudian tersenyum kecut.
Kini tak ada lagi yang tersisa dari Naura, foto pernikahan yang sengaja dia simpan didalam ponselnya pun kini telah dihapusnya.
Dan yang perlu dilakukannya sekarang adalah terus melangkah ke depan tanpa harus menoleh lagi ke belakang, belajar melupakan masa lalu demi menjemput masa depan yang baru.
...*******...
Di sebuah taman, Diandra duduk di kursi panjang yang berdekatan dengan lampu taman, sembari terus menatap layar ponselnya.
Beberapa pesan yang dikirimkannya pada Wahyu sudah tercentang dua berwarna biru yang artinya pesan itu sudah terbaca, namun sudah dua jam lamanya dia berada di taman tapi pesan nya belum juga mendapat balasan.
"Waktu 7 tahun hanya terbuang percuma, Aku kira cinta kamu itu tulus, namun ternyata Aku salah menilai kamu, Wahyu." Diandra tersenyum kecut lalu memasukkan ponselnya kedalam tas.
Beberapa saat diam dalam keheningan, Diandra pun beranjak dari tempat duduknya.
Pulang ke rumah dan mengistirahatkan tubuh dari lelahnya mengajar, lebih baik dari pada terus larut dalam renungan yang tak berujung.
Di pinggir taman, Diandra berdiri sembari menunggu taksi pesanannya, sesekali dia mengecek ponselnya masih berharap Wahyu akan membalas pesannya.
Namun, harapannya itu sia-sia, karena sampai kapanpun Wahyu tidak akan membalas pesannya lagi.
Sudah h djarot itu sudah kamiampir satu jam menunggu, namun taksi yang di pesannya belum juga datang membuat kaki Diandra terasa pegal karena terlalu lama berdiri.
Tak lama kemudian, sebuah taksi singgah tepat dihadapannya, dan Diandra yakin itu adalah taksi yang di pesannya.
"Akhirnya datang juga," ucapnya, lalu melangkah mendekati taksi itu, bersamaan dengan supir taksi itu yang turun dari taksi.
"Mbak Diandra ya?" tanya supir taksi itu sembari menunjuk Diandra.
Diandra menganggukkan kepalanya. " Iya Pak, kok lama banget sih Pak sampainya?" Diandra balik bertanya.
"Maaf ya Mbak, tadi saat mbak order kebetulan saya sedang ada penumpang yang tujuannya juga ke taman ini, tapi penumpangnya cerewet banget Mbak, saya harus antar belanja dulu dan saya disuruh tunggu." ucap supir taksi itu mengadu pada Diandra.
"Oh iya Pak, gak apa-apa kok. Terus penumpang itu sekarang dimana, katanya mau ke taman ini juga?" tanya Diandra.
"Nah itu dia Mbak masalah nya, orangnya gak mau turun sampai pacarnya datang, kata nya sih pacarnya juga mau datang ke taman ini."
"Aduh ribet juga ya Pak kalau gitu," supir taksi itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya udah Pak, biar Aku aja yang mau ngomong sama orangnya langsung kasih dia pengertian biar mau turun, karena Aku juga buru-buru mau pulang."
"Oh iya Mbak, silahkan, saya juga udah pusing dibuatnya."
Diandra pun mengetuk kaca mobil taksi itu, dan tak lama pintu mobil taksi terbuka, namun si penumpang yang berada didalamnya tak juga turun dari taksi.
"Karena tempat tujuan Mbak sudah sampai, jadi saya mohon Mbak segera turun ya dari taksi ini karena saya juga harus segera pergi menggunakan taksi ini." ucap Diandra.
Namun penumpang yang diajaknya berbicara itu tak menjawab, melainkan segera turun dari taksi.
"Perkenalkan, nama saya Renita," ucap seorang wanita yang baru saja turun dari taksi itu, sembari mengulurkan tangannya pada Diandra. "Panggil aja Nita." sambungnya.
"Diandra," jawab Diandra juga memperkenalkan namanya.
"Kamu mau naik taksi ini?" tanya Renita, dan Diandra hanya menganggukkan kepalanya.
"Oke kalau gitu, silahkan. Pak, tolong turunkan barang-barang saya ya," perintahnya pada supir taksi.
"Silahkan," ucap Renita mempersilahkan Diandra untuk menaiki taksi itu setelah sang supir taksi menurunkan barang-barang nya.
"Senang bertemu denganmu." ucap Renita lagi sebelum Diandra masuk ke dalam taksi.
Diandra hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, setelahnya dia masuk ke dalam taksi.
.
.
.
DIANDRA: Thor, Renita itu siapa sih, kok cantik banget?"
AUTHOR: Pemeran baru, saingan kamu 🤭🤭🤭
DIANDRA: Tega banget sih Thor, aku udah sedih juga putus sama pacar trus gagal nikah 😥😥😥
AUTHOR: Bodoh amat, kamu kan jahat 🤪🤪🤪
DIANDRA: 🙄🙄🙄
__ADS_1
WELCOME TO RENITA, NANTI OTHOR KASIH VISUALNYA 😁