
Belum lagi Lusi membuka pintu kamar yang berada di dekat dapur, suara teriakan mamanya menggema dari arah kamar utama, Lusi pun terkejut dan sontak langsung berlari menuju di mana mamamnya itu berteriak.
Begitupun dengan pak Jhohan yang menunggu di ruang tamu, sama terkejutnya mendengarkan teriakan istrinya, pak Jhohan pun dengan cepat berlari ke arah kamar utama, dan di sana dia serentak sampai dengan Lusi.
"Mama ada apa?" tanya pak Jhohan dan Lusi serentak. Saat ini istrinya pak Jhohan berdiri di ambang pintu kamar utama.
"Itu lihat," tunjuk istrinya pak Jhohan ke arah ranjang.
Pak Jhohan dan Lusi pun serentak menoleh ke arah ranjang didalam kamar utama itu.
"Astaghfirullah ya Allah, Bayu...!!!" teriak pak Jhohan lalu dengan langkah cepat masuk ke dalam kamar itu kemudian menarik kaki putranya yang tertidur di atas ranjang di samping Naura.
Bayu yang tertidur pulas sontak kaget saat terjatuh dari atas ranjang, saat membuka matanya seketika Bayu terkejut dan dengan cepat berdiri melihat didalam kamar itu sudah ada papa, mama dan juga adiknya.
"Loh kok kalian udah datang, katanya besok?" tanya Bayu dengan ekpresi terkejutnya.
"Kalau kita datangnya besok, kita gak bakal tau kelakuan kamu begini ternyata!" geram pak Jhohan.
"Pa, maksud Papa apa?" Bayu tidak mengerti dengan ucapan papanya.
"Kalau kamu memang suka sama Naura, seharusnya kamu itu bicara sama kita dan Papa akan melamar Naura untuk kamu, bukannya malah meniduri dia seperti ini, Bayu! Papa kecewa sama kamu."
Bayu tertegun mendengar ocehan papanya, sejenak dia menundukkan kepalanya mencerna maksud perkataan papanya, belum lagi saat ini dia baru bangun tidur dengan cara terkejut, kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.
__ADS_1
Hingga beberapa saat terdiam, Bayu pun menepuk keningnya sendiri sembari menoleh ke arah Naura yang masih tertidur pulas.
"Aduh, Papa salah paham nih. Aku sama sekali gak ngelakuin apa yang kalian pikiran." ucap Bayu.
"Kalau gak ngapa-ngapain, terus kenapa kamu bisa tidur di atas ranjang yang sama dengan Naura?" tanya pak Jhohan dengan berapi-api.
"Papa sabar, Pa." istrinya pak Jhohan mengelus pundak suaminya itu guna menenangkannya.
"Kak Bayu, Aku gak nyangka ya kakak tega lakuin hal kayak gini ke teman Aku." sahut Lusi, menatap kecewa kakaknya.
"Aduh kalian ini salah paham, dengerin dulu penjelasan Aku." ujar Bayu terlihat frustasi.
"Mau jelasin bagaimana, huh? Udah jelas-jelas kita lihat kamu tidur di atas ranjang yang sama dengan Naura, mau mengelak bagaimana kamu, huh!" pak Jhohan masih ngotot dengan fakta yang dilihatnya.
Pak Jhohan dan istrinya serta Lusi saling pandang mendengar penuturan Bayu, kemudian serentak menyilang kedua tangannya di dada lalu menatap tajam ke arah Bayu.
"Ya ampun kalian masih gak percaya juga?" Lusi dan kedua orangtuanya serentak mengangguk.
"Kalian perhatikan baik-baik ya, kalau Aku dan Naura memang ngapa-ngapain, gak mungkin dong pakaian kita masih utuh gini. Orang yang lagi begituan pasti ngelepas semua pakaiannya kan, iya kan Pa, iya kan Ma, Lusi?" Bayu menatap adik, mama dan papanya bergantian.
"Idih, ngapain kakak tanya sama Aku!" sarkas Lusi.
"Yah bisa aja kan setelah itu kalian pakai baju terus tidur." sahut pak Jhohan masih kekeuh dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Ya Allah, harus gimana lagi sih Aku jelasinnya." Bayu benar-benar frustasi dibuatnya.
"Gak usah bawa-bawa nama Allah ya, Bayu!" tegur mamanya sembari menatap tajam putranya itu.
"Gini aja deh, kalian periksa aja sendiri, Naura itu semalam demam tinggi, badannya panas banget." pasrah Bayu.
"Ma, coba Mama periksa Naura." perintah pak Jhohan pada istrinya.
"Iya sih, Pa. Kening Naura emang sedikit hangat." ujar istrinya pak Jhohan sembari menempelkan punggung tangannya di kening Naura.
"Tuh bener kan, Aku gak bohong kok Naura emang lagi demam, nih lihat bekas kompresan nya. Bayu menarik ember dari bawah ranjang yang berisi air serta kain bekas mengompres kening Naura.
"Ya ampun Kak, ngompres kok pakai air seember gitu? Gak pakai baskom sekalian atau bak mandi yang Kakak angkat kesini." kekeh Lusi, tatapan kecewa pada kakaknya itu berubah menjadi senyuman mengejek.
"Ya abisnya Kakak bingung mau ngapain, Kakak panik."
"Ya sudah ayo keluar, biarin Naura istirahat." ujar pak Jhohan kemudian melangkah keluar dari kamar itu dengan diikuti istrinya dan Lusi serta Bayu.
"Tapi kamu harus tetap nikahin Naura setelah kita pulang ke Jakarta," ujar pak Jhohan setelah mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tamu.
"Loh, kenapa Pa, apa Papa masih gak percaya sama Aku?"
"Ck. Papa percaya, yah memang nya kamu gak mau nikah sama Naura, kamu suka kan sama dia?" tanya pak Jhohan memicingkan matanya.
__ADS_1