
"Kalian pulang saja, nanti aku akan pulang naik Taksi. Dan titip koper ku ya." ucap Wahyu setelah turun dari mobil Bayu.
Bayu menganggukkan kepalanya, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan pelataran kantor polisi. Sebenarnya Bayu ingin ikut masuk menjenguk Diandra, namun Naura melarangnya.
Setelah mobil Bayu tak terlihat lagi, Wahyu membalikkan badannya menatap bangunan didepan nya, dimana bangunan itu menjadi tempat orang-orang yang menjalani hukuman balasan dari tindakan pidananya. Dan Wahyu sendiri pernah berada di dalam sana dalam waktu kurang dari 2 minggu.
Dengan langkah pelan Wahyu memasuki bangunan itu, setelah memberi laporan pada petugas dan mengatakan ingin bertemu Diandra, Wahyu kini menunggu di ruangan khusus.
Setelah beberapa saat menunggu, seorang polisi wanita menghampirinya dan tentunya membawa seseorang yang ingin ditemuinya.
"Silahkan." ujar polisi wanita itu mempersilahkan Diandra duduk.
Diandra pun menganggukkan kepalanya, kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Wahyu dengan sebuah meja yang menjadi penghalang nya.
"Ada apa datang kemari?" tanya Diandra dengan sinis, namun Wahyu malah terkekeh mendengar pertanyaan itu.
"Menurutmu, apa yang membuatku datang kemari?" ucap Wahyu balik bertanya, dan membuat Diandra langsung membuang muka.
"Tidak usah berbasa-basi, cepat katakan apa maumu dan setelah itu cepat pergi dari sini!" sarkas Diandra, menatap Wahyu dengan tajam.
"Santai Diandra, kenapa kau terlihat marah sekali? Kita bertemu setelah lima tahun, apa kau tak merindukan aku, hum?" tanya Wahyu yang mana membuat Diandra semakin kesal sehingga menggebrak meja.
"Lebih baik kau segera pergi dari sini, Wahyu!" teriak Diandra didepan wajah Wahyu.
"Bu Diandra, harap tenang." ujar polisi wanita yang tadi membawa Diandra, dan Diandra pun duduk kembali dengan nafas yang naik turun menahan emosinya.
Wahyu tersenyum menatap Diandra sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
"Oke baiklah, sepertinya kau tak merindukan aku." ucap Wahyu mengulum senyumnya. "Sebenarnya aku pun sama, sama sekali tak merindukanmu." sambungnya dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Dan kedatangan ku hari ini adalah, untuk menanyakan sesuatu yang seharusnya aku tanyakan sejak dulu." tukas Wahyu, senyum diwajahnya berubah menjadi tatapan dingin pada wanita didepannya.
Wanita yang pernah mengisi hatinya, mengisi hari-harinya dengan cinta. Namun, setelah perjodohan itu, Wahyu sendiri menjadi bimbang dengan perasaannya sendiri, antara masih mencintai kekasihnya atau telah jatuh cinta pada istrinya. Hingga terjadi perceraian itu yang menghancurkan segalanya.
"Bahkan Tante Winda hampir setiap hari mendatangi ku, namun dia selalu pulang dengan tak mendapatkan jawaban apapun, dan sama seperti kau hari ini yang akan pulang tanpa mendapat jawaban apapun." ujar Diandra tak kalah sinis.
"Lagipula untuk apa kau ingin tau kenapa aku melakukan itu, seharusnya kau sendiri sudah tau kenapa aku melakukan itu Wahyu. Semua itu karena kau, karena kau Wahyu!" ucap Diandra dengan nada yang berapi-api, kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Bu, bawa aku pergi dari sini." ujar Diandra pada polisi wanita yang membawanya bertemu Wahyu, dan polisi wanita itupun mengangguk, kemudian membawa Diandra kembali ke tempatnya.
Sementara Wahyu masih duduk mematung ditempatnya, ucapan Diandra seolah berputar-putar dikepalanya.
" Semua itu karena kau, karena kau Wahyu!"
"Karena aku? Tapi kenapa? Bukankah permasalahan diantara aku dan Diandra sudah lama berakhir, lalu apa yang membuatnya ingin mencelakai aku?" gumam Wahyu, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa Diandra ingin mencelakai nya.
"Ah sudahlah, aku menyesal datang ke sini menemuinya. Aku rasa selamanya dia akan menjadi orang bisu untuk peristiwa itu."
Di luar kantor polisi, sebuah taksi sudah menunggunya. Taksi yang sudah ia pesan saat menunggu Diandra didalam.
Wahyu pun masuk ke taksi itu, dan meminta supir mengantarkan nya ke tempat pemakaman umum.
...*******...
"Andi, aku datang," ucap Wahyu sembari mengusap batu nisan Andi.
"Hari ini aku menemui putrimu, dan apa kau tau? Melani tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik." ucap Wahyu dengan tersenyum, namun pupil matanya berembun.
"Melihat Melani, aku semakin merasa bersalah, Andi. Dan mungkin selamanya aku akan merasa bersalah karena membuat Melani kehilanganmu,"
__ADS_1
"Seandainya waktu itu aku tak meminta tolong padamu, mungkin hingga saat ini kau masih ada." ucap Wahyu mulai terisak.
"Apa kau tau, Andi. Istrimu sangat marah padaku, dia ingin membunuhku bila melihat aku,"
"Seandainya waktu dapat diputar kembali, aku... Aku tidak akan memintamu datang untuk menolongku, dan mungkin aku yang berada disini saat ini. Namun itu semua sudah terjadi Andi, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Wahyu menundukkan kepalanya, menempelkan keningnya pada batu nisan Andi. Air matanya mengalir begitu saja.
Hingga desiran angin mengibaskan rambutnya yang sedikit memanjang. Selama berada di luar Negeri ia seolah tak memiliki waktu untuk merawat dirinya sendiri, waktunya ia habiskan untuk pekerjaan Andi yang ia gantikan dan memikirkan bagaimana ia bisa mendapatkan maaf dari Rania.
Hari beranjak sore, Wahyu pun meninggalkan pemakaman itu dengan langkah yang berat dan sesekali menoleh pada batu nisan Andi. Seolah mengatakan, kenapa bukan aku saja yang berada di sana.
Sementara di rumah Bayu, Mama Winda terus mondar-mandir di pekarangan rumah. Hari sudah beranjak sore, namun putranya itu belum juga menampakkan keberadaannya.
Selama lima tahun, Mama Winda menahan rindunya pada Wahyu, dan hari ini dengan tak sabar ia menunggu putranya itu.
"Sabar Mama, putra Mama itu sebentar lagi akan datang." ucap Bayu memegang kedua pundak Mama Winda.
Selama lima tahun tinggal bersama, Bayu sudah menganggap Mama Winda seperti mamanya sendiri, bahkan Bayu tak sungkan memanggil Mama Winda dengan sebutan Mama.
Sungguh beruntung Wahyu memiliki teman sekaligus atasan seperti Bayu.
Jika itu orang lain, mungkin Wahyu dan keluarganya sudah dihempaskan sejauh mungkin dari kehidupan Naura, terlebih Wahyu sendiri adalah mantan suaminya Naura yang telah menjadi istrinya Bayu.
Dan Wahyu, kini ia telah berada di dalam sebuah taksi, namun sama seperti sebelumnya, Wahyu tak mengatakan kemana tujuannya. Ia masih bingung mau kemana, suatu hal yang tidak mungkin jika ia pergi ke rumah Bayu, namun disana ada Mama dan adiknya, lagipula Bayu sudah memintanya datang ke rumahnya dan kopernya pun sudah berada di sana.
"Pak, tujuan Bapak mau kemana?" tanya supir taksi, namun Wahyu tak bergeming.
Merasa kesal supir taksi itupun menghentikan mobilnya di sisi jalan, kemudian menoleh menatap Wahyu yang duduk di kursi penumpang di belakang.
__ADS_1
"Bapak ini sebenarnya mau kemana?" tanya supir taksi itu lagi dengan nada kesal.
Dan setelah beberapa saat berpikir, Wahyu pun memberitahu supir taksi itu alamat rumah Bayu.