
Menikah lalu bahagia adalah impian setiap wanita, namun terkadang apa yang diharap tak selalu berjalan sesuai dengan skenario yang kita buat.
Naura pikir saat dirinya dijodohkan dengan Wahyu lalu menikah sebulan kemudian setelah perjodohan, dan setiap hari dirinya diperlakukan bak ratu didalam istananya, itulah awal bahagia untuknya.
Namun, siapa sangka Naura justru mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya pada pernikahannya yang kedua dengan laki-laki lain.
Tak ada yang sempurna di dunia ini, kesempurnaan hanya milik Tuhan.
Namun, terkadang seseorang merasa hidupnya sempurna apabila yang diharapkan sudah ia dapatkan.
Seperti Naura, tak ada lagi yang diinginkan nya saat ini selain selalu bisa melihat canda tawa dua laki-laki terhebat setelah ayahnya, didalam hidupnya.
Naura yang saat ini sedang duduk di sofa ruang keluarga tiada hentinya tersenyum melihat putra dan suaminya yang sedang bermain dengan seru nya.
Namun, beberapa saat senyum itu berubah menjadi kekehan kala mengingat permintaan suaminya agar dia memberikan anak yang banyak.
Dan semoga Allah mengabulkannya.
..............
Di tempat lain, Wahyu menatap langit yang terlihat cerah, namun terik yang menyengat tak mampu menghangatkan perasaannya yang begitu pilu.
Pekerjaan yang ditugaskan padanya sebagai sebuah hukuman untuk menggantikan seseorang yang telah tiada, sudah selesai. Namun, Wahyu masih bimbang antara ingin pulang atau tetap tinggal sebentar lagi.
Perasaannya semakin tak menentu semakin menyeruak mengganggu pikirannya, rasa bersalah pada dua wanita yang kehilangan orang yang dicintai terus mengganggu tidurnya.
"Andi, maafkan aku. Andai saja waktu itu aku tak meminta tolong padamu, mungkin hingga saat ini kau masih ada. Aku ingin menebus rasa bersalah ku itu, tapi dengan cara apa?" ucapnya lirih.
Bahkan setelah lima tahun, Wahyu masih belum bisa merasakan tidur nyenyak setelah peristiwa yang menewaskan Andi itu, walaupun sebenarnya bukan murni kesalahannya namun itu semua berawal darinya.
Andai saja...
Andai saja waktu dia tak meminta Andi datang menolongnya, mungkin hingga saat ini Andi masih ada dan dirinya lah yang... Tiada.
__ADS_1
"Istrimu marah padaku, sangat marah dan mungkin dia tidak akan pernah memaafkan aku,"
Seribu kali pun dia mengucapkan maaf atau berlutut sekalipun mungkin dirinya tak akan pernah mendapatkan maaf itu.
"Andi, apa kau akan mengizinkan jika aku menjadi ayahnya Melani? Untuk menebus rasa bersalah ku karena telah menyebabkan kau tiada. Huh, walaupun kau izinkan itu juga akan sangat sulit karena Rania sangat membenciku, dia ingin membunuhku jika melihatku,"
Sejenak Wahyu terkekeh, atau mungkin lebih baik membiarkan dirinya mati ditangan wanita yang sudah dia buat kehilangan itu. Namun wajahnya seketika murung saat mengingat ucapan Rania.
"Hingga kau matipun aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
Nafas Wahyu tercekat saat mengingat waktu itu, dimana Rania yang histeris saat Andi dinyatakan telah meninggal dunia. Dia tau bagaimana rasanya kehilangan, namun kehilangan yang dirasakan oleh Rania sangat berbeda jauh dengan apa yang dirasakannya.
"Aku seperti laki-laki pengecut yang bersembunyi di sini, tapi bukan berarti aku tidak ingin bertanggung jawab. Aku sangat ingin, tapi bagaimana Andi?"
Wahyu pun terdiam, namun tatapannya masih tertuju pada langit yang cerah itu.
Beberapa saat kemudian, Wahyu membalikkan badannya lalu mengambil ponselnya yang berada di atas nakas di sampingnya.
Kemudian Wahyu membawa tubuhnya duduk di sofa sembari mencari nomor yang ingin di teleponnya.
"Terserah, jika kau sudah merasa aman maka pulanglah." jawab Bayu dengan terkekeh.
"Tapi jika Rania tau kau akan pulang, pasti dia akan mengasah pedang untuk menyambut kepulanganmu sekaligus mengantarkanmu ke peristirahatan terakhirmu." ucap Bayu lagi dan kali ini Bayu tertawa mendengar helaan nafas Wahyu.
"Apa kau takut mati, huh?" tanya Bayu dengan nada mengejek.
"Jika dengan seperti itu Rania mau memafkan aku, aku siap, aku akan datang menemuinya." jawab Wahyu dengan tenang.
"Em, kau sudah bosan hidup rupanya. Baiklah, aku akan mengurus kepulanganmu dan besok kau sudah bisa pulang.
" Iya, aku sudah tidak sabar ingin pulang, dan sebelum benar-benar mati ditangan Rania, aku ingin bertemu Rayan terlebih dahulu."
"Jangan, nanti kau iri padaku, aku takut kau berubah pikiran dan merebut mereka dariku." canda Bayu.
__ADS_1
"Aku tidak segila itu Bayu, jika aku ingin aku sudah merebutnya dari dulu." ucap Wahyu terkekeh.
"Yah aku percaya padamu, dan jika kau berani melakukan itu maka bukan hanya Rania yang akan membunuhmu." Lagi-lagi Bayu terkekeh.
"Hem, bagaimana dengan Mama dan adikku, apa mereka merepotkanmu?"
"Tidak, tidak sama sekali. Justru aku merasa sangat terbantu dengan adanya Mama Winda dan Tasya disini, karena Naura tidak akan kesepian jika aku pergi bekerja. Dan kau tenang saja, mereka tidak kekurangan apapun disini. Mama Winda juga sangat menyayangi Rayan, tapi aku kadang kasihan pada Mama Winda karena Rayan sering berbuat iseng padanya."
"Hem, namanya juga anak-anak. Terkadang mereka memang suka seperti itu."
"Yah kau benar, meskipun Rayan suka iseng tapi itu justru membuatnya semakin disayangi oleh semua orang."
"Apa Rayan ada bersamamu? Aku ingin menjadi mendengar suaranya."
"Rayan ada dikamar bersama Naura, mereka sedang bersiap-siap, hari ini kami bertiga akan pergi jalan-jalan mumpung hari minggu, karena jika hari lain aku tidak akan sempat, kau tau sendiri bukan? Semenjak kau dan Andi tidak ada aku harus turun tangan sendiri, kadang-kadang aku harus pulang malam."
"Papa ayo berangkat, Rayan sama Mama sudah siap." teriak Rayan yang terdengar oleh Wahyu.
"Rayan sudah siap, sekarang pergilah bersenang-senang, dan katakan pada Rayan aku akan segera datang menemuinya." ucap Wahyu.
"Yah, itupun kalau kau masih bernyawa saat sampai di sini." Bayu tertawa kemudian mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu apa yang akan di ucapan oleh Wahyu.
"Kak, siapa yang menelpon?" tanya Naura yang kini sudah berdiri di samping suaminya.
"Om nya Rayan, dia akan pulang katanya." jawab Bayu lalu menggendong putranya.
"Apa kau sudah siap, boy?" tanyanya pada Rayan.
"Siap dong Pa, nanti disana Rayan mau main sepuasnya dan beli ice cream yang banyak." jawab Rayan dengan bersemangat.
"Baiklah, apapun yang Rayan mau Papa akan mengabulkannya." ucap Bayu tersenyum lebar pada putranya itu.
"Kak, jangan terlalu memanjakan anak." tegur Naura, karena pada dasarnya Naura memang tidak pernah memanjakan Rayan, namun tidak juga membuat putranya itu merasa diabaikan.
__ADS_1
Bayu menanggapi ucapannya istrinya itu dengan tersenyum, kemudian melangkah keluar dari rumah dengan menggendong Rayan menuju mobilnya.