Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
KEMBALI DEMI SEBUAH MISI


__ADS_3

"Pak, sebenarnya tujuan Bapak mau kemana?" tanya supir taksi yang ditumpangi Wahyu saat ini. Sudah hampir 30 menit taksi itu melaju namun Wahyu belum juga mengatakan kemana tujuannya.


"Jalan saja dulu Pak, nanti akan saya kasih tau," jawab Wahyu sembari mengirim pesan pada seseorang.


"Bapak tenang saja, berapapun tarifnya akan saya bayar." ucapnya lagi dan dijawab dengan anggukan kepala oleh supir taksi itu.


Sembari menunggu pesan balasan dari seseorang, Wahyu mengalihkan tatapannya pada jendela disampingnya, menatap bangunan berlantai yang seolah mengikuti pergerakan mobil taksi yang ditumpanginya itu. Lima tahun meninggalkan kota Jakarta ternyata sudah banyak sekali perubahannya saat ia kembali.


Dan hari ini ia akan memulai sebuah misi yang seharusnya ia lakukan sejak dulu, namun entah dirinyakah yang begitu pengecut sehingga ia menurut saja saat Bayu memintanya ke luar Negeri.


Terdengar dentingan di ponselnya menandakan ada pesan masuk, Wahyu pun tersenyum melihat isi pesan itu yang bertuliskan sebuah alamat sekolah dasar.


"Pak, sekarang kita ke alamat ini." ucap Wahyu sembari menunjukkan layar ponselnya yang terdapat alamat sekolah dasar, pada supir taksi.


"Oh jadi bapak mau jemput anaknya di sekolah, bilang dong dari tadi." supir taksi itupun memutar arah laju mobilnya menuju alamat tersebut.


Sementara Wahyu hanya tersenyum menanggapi ucapan supir taksi itu.


Anak? Entahlah.


Namun, jika takdir baik menghendaki itu akan mempermudah langkahnya, karena itulah keinginannya sejak awal. Menjadi sosok ayah pengganti untuk gadis kecil yang malang itu. Tetapi, tetap akan ada rintangan yang menghalau langkahnya karena seseorang yang sulit diluluhkan hatinya.


Beberapa saat kemudian, taksi yang ditumpanginya itu telah berhenti didepan sebuah sekolah dasar terpopuler di kota Jakarta.


Dan Wahyu tau, sekolah ini adalah pilihan Bayu. Temannya itu sudah banyak menceritakan tentang Rania dan Melani, dan Bayu akan memberikan yang terbaik untuk Melani sebagai bentuk rasa terima kasihnya pada Andi yang sudah mendonorkan jantungnya, dan juga pada Rania yang sudah dengan suka rela jantung suaminya didonorkan.


...*******...


"Kenapa Kak Bayu memberikan alamat sekolah Melani padanya? Bagaimana kalau dia membawa Melani tanpa izin dan membuat Kak Rania khawatir, itu hanya akan semakin memperkeruh keadaan, Kak." ujar Naura sedikit kesal pada suaminya.


"Ya ampun, Sayang maaf aku gak kepikiran sampai situ. Oke, aku telpon Wahyu dulu."


"Gak usah, mending Kak Bayu sekarang susul ke sekolah Melani aja, dan ajak Rayan, setelah itu telpon Kak Rania bilang mau ajak Melani jalan-jalan supaya Kak Rania gak curiga." ujar Naura.

__ADS_1


"Ide bagus. Ya udah ayo Sayang." Bayu merangkul pinggang istrinya sembari berjalan menuju kamar Rayan.


Tak lupa Bayu memberitahu Mama Winda jika ia akan menjemput Wahyu di bandara, dan tentu Mama Winda senang mendengarnya. Akhirnya setelah lima tahun putranya itu kembali juga.


Mama Winda ingin ikut, namun Bayu melarangnya, tentu itu karena Bayu tidak ingin Mama Winda melihat kekacauan yang mungkin akan terjadi.


Beberapa saat kemudian mobil Bayu berhenti di depan sekolahnya Melani, bertepatan dengan jam sekolah telah usai.


Bayu dan Naura mengedarkan pandangannya diantara kerumunan anak-anak yang satu persatu keluar dari gerbang sekolah, mencari keberadaan Wahyu dan Melani.


"Itu, di sana." tunjuk Naura ke arah seberang jalan, terlihat Wahyu dan Melani yang berdiri di pinggir jalan sepertinya sedang menunggu kendaraan umum lewat.


Bayu pun menjalankan mobilnya ke arah di mana Wahyu dan Melani berada.


"Ayo masuk." ucap Bayu dengan hanya menyembulkan kepalanya dijendela mobil.


Meski heran melihat kedatangan Bayu yang tiba-tiba, Wahyu pun mengajak Melani masuk kedalam mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Kemudian setelah itu Bayu keluar dari mobilnya lalu mengajak Wahyu berbicara sebentar di luar.


Wahyu terhenyak mendengar ucapan Bayu, ia tahu tidak seharusnya menemui Melani secara sembunyi-sembunyi seperti ini. Namun, dengan cara seperti inilah ia bisa bertemu dan mendekatkan diri dengan Melani.


"Aku akan mengantar Melani pulang, kau juga ikut tapi setelah sampai kau jangan keluar dari mobil. Aku tidak ingin sampai ada keributan, karena Rayan ikut."


Wahyu pun mengangguk patuh kemudian mengikuti langkah Bayu menuju mobil.


"Oh ya, kau tidak memberitahu namamu pada Melani kan?" tanya Bayu menghentikan langkahnya saat akan membuka pintu mobilnya. "Soalnya anak kecil itu suka bercerita tentang dengan siapa saja yang bertemu hari ini dengannya."


"Tidak, aku tidak memberitahu namaku." jawab Wahyu sembari menggelengkan kepalanya.


"Bagus." ucap Bayu kemudian masuk kedalam mobilnya, begitupun dengan Wahyu yang masuk di kursi penumpang di belakang bersama Melani.


Setelah Bayu melajukan mobilnya, suasana didalam mobil itupun hening.

__ADS_1


Rayan yang biasanya cerewet suka bertanya ini dan itu tampak diam sembari memperhatikan Wahyu dari kaca spion. Begitupun dengan Wahyu yang sesekali menatap keluarga kecil didepannya itu.


Dalam hati Rayan bertanya, siapakah orang asing yang ikut dengan mobil papanya itu?


Karena merasa begitu penasaran, Rayan pun bertanya pada mamanya.


"Mama, Om yang duduk sama Kak Melani itu siapa Ma?" tanyanya.


"Itu Om yang sering mengirim salam pada Rayan." ujar Bayu menjawab pertanyaan Rayan sembari mengusap puncak kepala putranya itu.


"Benarkah, Pa?" Bayu menganggukan kepalanya.


Dan Rayan langsung menoleh menatap Wahyu yang juga menatapnya.


"Jadi ini Om yang sering kirim salam sama Rayan?" Wahyu menganggukan kepalanya.


"Nama Om siapa?" tanya Rayan dan membuat Bayu dan Naura menjadi cemas, khawatir Wahyu akan menyebutkan namanya dan Melani akan tau.


"Nama Om Pratama, panggil saja Om Tama." jawab Wahyu kemudian tersenyum pada Rayan.


Tentu saja Wahyu tidak akan menyebutkan namanya karena Bayu sudah memperingatinya. Namun, nama yang ia sebutkan itu adalah nama kepanjangannya, Wahyu Pratama.


"Jadi sekarang Rayan panggilnya Om Tama ya." Wahyu menganggukan kepalanya lagi sembari tersenyum.


Sepanjang jalan Rayan tak hentinya berceloteh bertanya ini dan itu pada Wahyu, dan Wahyu pun meladeni setiap pertanyaan Rayan dengan senang hati.


Benar apa yang pernah dikatakan oleh Bayu, ia akan iri nanti saat bertemu Rayan. Putra bayu dan Naura itu benar-benar tampan dan membuatnya seolah tersihir ingin terus menatapnya. Namun beberapa saat Wahyu menyadari sesuatu jika wajah Rayan lebih mirip dengan Naura.


Wahyu pun tersenyum masam, dengan masih menatap Rayan.


"Andai saja waktu itu Naura tidak keguguran, pasti saat ini anakku juga sudah besar." gumamnya dalam hati.


"Seandainya kecelekaan waktu itu tidak membuat Naura keguguran, pasti saat ini anakmu juga sudah besar, teman." ucap Bayu juga dalam hati, ia memperhatikan Wahyu dari kaca spion yang terus menatap Rayan.

__ADS_1


Bayu tau apa yang sedang dipikirkan oleh temannya itu. Pasti Wahyu teringat anaknya yang bahkan belum sempat ia ketahui keberadaannya.


Dan Wahyu beberapa saat kemudian Wahyu pun mengalihkan tatapannya dari Rayan. Sudah tidak sepatutnya ia mengenang masa lalu, yang terpenting sekarang adalah tujuannya kembali demi sebuah misi.


__ADS_2