
Meski waktu sudah beranjak sore, namun kota yang terkenal dengan makanan khasnya yang dikenal dengan Pempek, cuacanya masih sangat panas serta berpolusi. Belum lagi jalanan yang macet berkilo kilo meter, membuat banyaknya kendaraan roda empat yang melaju seperti siput yang berbaris.
Disaat macet seperti inilah yang menjadi kesempatan bagi para pedagang asongan, penjual koran, serta penjual bunga menjajakan barang dagangan mereka. Tak jarang ada beberapa pengamen yang mendatangi satu persatu mobil, menghibur si penumpang mobil lalu diberikan imbalan.
"Ck," umpatan kecil terdengar dari bibir Bayu yang merasa kesal karena sudah hampir satu jam terjebak kemacetan.
Andai mobilnya punya sayap, pasti Bayu akan menerbangkan mobilnya itu agar cepat sampai ke apartemen nya. Rasa panas di area pinggulnya karena terlalu lama duduk, membuat Bayu mendengus kesal.
"Sabar, Kak." kata Naura. Sebenarnya dia juga sudah merasa pegal, tapi tidak kesal seperti Bayu.
Bayu tak merespon ucapan Naura, dia malah membunyikan klakson terus menerus sehingga mengundang para pengendara lainnya juga membunyikan klakson dan akhirnya terjadilah suara gaduh klakson yang bersahut-sahutan menambah kebisingan di jalan ditengah kemacetan itu.
"Kak Bayu, hentikan!" tegur Naura. "Mau Kakak pake trompet atau speaker sekalipun gak akan membuat kendaraan di depan bisa segera melaju." ujar Naura.
"Iya, tapi pinggang Aku udah pegel banget, Naura!" dengus Bayu. Wajahnya sudah seperti kanebo kering, merengut sambil meliuk-liuk badannya meregangkan otot-otot bagian pinggulnya yang terasa pegal dan keram.
__ADS_1
"Sama, Kak. Aku juga udah pegel banget, yah tapi mau gimana lagi, gak mungkin kan kita turun terus jalan kaki,"
Wahyu pun terdiam, ucapan Naura ada benar juga. Lagi pula dia laki-laki, sementara gadis kecilnya disampingnya itu sama sekali tidak mengeluh sepertinya dirinya.
Tuk... tuk... tuk..
Seorang wanita paruh baya yang membawa beberapa aneka macam bunga, mengetuk kaca jendela mobil Bayu. Bayu pun menurunkan kaca mobilnya lalu menatap wanita paruh baya yang langsung tersenyum padanya.
"Ada apa, Bu?" tanya Bayu, membalas senyuman wanita paruh baya itu.
"Mau beli bunga nya, Mas? Untuk istrinya," ujar wanita paruh baya itu.
"Aku beli semua deh, Bu, bunganya." kata Bayu, membuat wanita paruh baya yang menjual bunga itu seketika mengucapkan syukur. Wanita paruh baya itupun mengucapkan do'a yang membuat Bayu dan Naura terkikik geli.
"Alhamdulillah ya Allah, lancarkan rezeki pasangan suami istri ini, buatlah rumah tangga mereka langgeng sampai Kakek Nenek." selesai mengucapkan do'a nya, wanita paruh baya itupun memberikan semua bunga yang dijualnya pada Bayu, kemudian Bayu memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu sebagai bayarannya.
__ADS_1
"Terima kasih Bu, atas do'a nya. Tapi, kami ini bukan suami istri." ujar Bayu setelah membayar bunga yang diborong nya itu.
"Oalah maaf ya Ibu gak tau. Ibu kira kalian ini suami istri, soalnya cocok banget kelihatannya." ucap penjual bunga itu merasa tidak enak karena sudah salah mengira.
"Gak apa-apa, Bu." jawab Bayu.
"Ya sudah, kalau begitu Ibu pamit dulu, terima kasih sudah memborong bunga Ibu. Tapi, Ibu do'a kan semoga kalian berdua segera menemukan jodoh kalian."
''Amiiin." jawab Naura dan Bayu serentak.
Wanita paruh baya penjual bunga itupun pergi, dan Bayu kembali menutup kaca mobilnya. Kemudian, Bayu memberikan semua bunga yang dibelinya itu pada Naura.
"Untuk Aku?" tanya Naura, menatap Bayu bergantian menatap bunga yang disodorkan Bayu padanya.
"Kamu dengar kan kata penjual bunga itu tadi? Beli bunganya, Mas. Untuk istrinya." ujar Bayu menirukan ucapan penjual bunga itu.
__ADS_1
Naura pun mengambil bunga-bunga itu dari tangan Bayu, lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak merasa konyol.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, akhirnya mobil Bayu bisa terbebas dari kemacetan dan melaju dengan cepat menuju apartemen nya.