Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 49. MENUJU CAFE


__ADS_3

Di saat fajar mulai menyingsing, langit mulai terlihat terang, Wahyu memundurkan mobilnya agak menjauh dari area rumah orang tuanya Naura agar tak diketahui keberadaannya. Dan sekarang, Wahyu memperhatikan rumah itu dari kejauhan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Wahyu masih setia di tempatnya terus memperhatikan rumah itu hingga terlihat pintu rumah itu terbuka dan keluarlah Naura, Bu Lastri dan Pak Agung.


Terlihat, Naura dan Bu Lastri yang mencium punggung tangan Pak Agung yang sepertinya akan pergi bekerja. Yah, meski Pak Agung sendiri pemilik tempat pengrajin batik itu, namun Pak Agung sendiri ikut bekerja seperti para pegawai lainnya.


"Baik-baik dirumah ya sama Ibu," Ucap Pak Agung, mengelus puncak kepala putrinya.


"Iya, Pak" Jawab Naura sembari menganggukkan kepalanya.


"Oh ya, Pak. Hari ini Aku izin keluar sebentar ya Pak, sama Lusi." Ucap Naura, dan Pak Agung pun mengerutkan keningnya.


"Mau kemana?" Tanya Pak Agung.


"Em, sebenarnya Aku ada tawaran kerja dari Papa nya Lusi, sebagai desain interior pembangunan cafe Papa Lusi yang di Palembang," Ucap Naura, tersenyum canggung.


"Jadi, kalau seandainya Kamu terima, itu artinya Kamu akan pergi ke Palembang?" Tanya Pak Agung, dan Naura menganggukkan kepalanya.


"Tapi, kalau Bapak gak setuju ya gak apa-apa, hari ini Aku akan pergi sama Lusi untuk membatalkannya," Ujar Naura, sendu. Dia mengira ayahnya tidak akan setuju melihat dari raut wajahnya ayahnya yang terlihat sedang berpikir.


Beberapa saat kemudian, Pak Agung tersenyum sembari menepuk pundak putrinya. "Apapun keputusan Kamu, Bapak akan setuju. Toh ini juga kesempatan untuk mengembangkan bakat kamu, dan biasanya kesempatan itu tidak akan datang dua kali." Ucap Pak Agung, terkekeh.


"Jadi, Bapak bolehin Aku pergi ke Palembang?" Tanya Naura, dan Pak Agung menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih banyak, Pak" Naura memeluk ayahnya itu, kemudian bergantian memeluk ibunya. "Bu, makasih ya" Bu Lastri pun tersenyum dengan mengelus puncak kepala putrinya itu. "Tapi ingat, disana harus tetap jaga kesehatan" Pesan Bu Lastri, dan Naura menganggukkan kepalanya didalam pelukan ibunya


Tak berapa lama, Lusi pun datang menjemput Naura untuk bertemu dengan kakaknya.


"Pak, Bu, izin bawa Naura sebentar ya Bu, Pak. " Ucap Lusi, setelah mencium punggung tangan Pak Agung dan Bu Lastri.


"Iya, Hati-hati dijalan ya" Ucap Pak Agung, tersenyum pada teman putrinya itu, begitupun dengan Bu Lastri.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada Bu Lastri dan Pak Agung, Naura dan Lusi pun berangkat.


Wahyu yang melihat Naura masuk ke dalam mobil Lusi, bersiap-siap hendak mengikuti mobil Lusi yang kini mulai melaju.


Namun, belum lagi Wahyu menyalahkan mesin mobilnya, ponselnya berdering dan terlihat di layar ponselnya nama Bayu yang menelponnya.


"Ya, halo bro ada apa?" Tanya Wahyu setelah menjawab panggilannya.


"Em, Wahyu gimana keadaan Kamu sekarang? Apa masih dirumah sakit? Maaf ya, Aku gak sempat jengukin Kamu," Ucap Bayu diseberang sana.


"Aku sudah pulang kok, udah mendingan juga.'' Jawab Wahyu.


"Syukurlah kalau gitu. Em, Kira-kira hari ini Kamu udah bisa masuk kantor gak ya? Hari ini ada meeting penting, tapi aku tidak bisa hadir karena harus menemui seseorang, takutnya Andi gak bisa ngatasin sendirian, kalau bisa Kamu bantuin Andi. Gimana Wahyu, kira-kira Kamu bisa gak?"


"Em, bisa kok. Meeting nya jam berapa?"


"Jam 9" Jawab Bayu.


"Oke, kalau gitu aku tutup teleponnya, setelah selesai bersiap-siap Aku langsung ke kantor"


Sambungan telepon pun terputus, Wahyu menatap nanar kedepan, sudah tak terlihat lagi mobil Lusi. Dia gagal mengikuti kemana mobil Lusi pergi membawa Naura. Wahyu pun akhirnya melajukan mobilnya menuju rumahnya untuk bersiap-siap pergi ke kantor.


Sesampainya di rumah, Wahyu disambut dengan tatapan tajam Bu Winda yang memang sudah menunggunya di teras rumah saat mengetahui bahwa putranya dan menantunya tidak ada di rumah sejak semalam.


"Wahyu...! Dari mana aja Kamu? Kenapa kamu pulang sendiri, Naura dimana?" Bu Winda bertanya dengan tidak sabaran, perasaannya mulai tak enak melihat putranya pulang hanya seorang diri.


"Ma, Aku udah tandatangani surat cerainya," Jawab Wahyu sendu, kemudian melangkah memasuki rumah.


"Wahyu, kenapa Kamu tanda tangani? Mama kan udah bilang, Kamu harus bisa bujuk Istri kamu. Wahyu... " Namun, Wahyu tak memperdulikan ocehan Mamanya, dia terus melangkah masuk ke dalam rumah.


"Ma, udah yang sabar ya, Ma. Kak Naura kan udah janji gak akan lupain kita" Ujar Tasya berusaha menenangkan Mamanya.

__ADS_1


"Tapi, Mama cuma mau Naura yang jadi menantu Mama!" Tegas Bu Winda menatap tajam putri bungsu nya itu, sehingga Tasya hanya bisa menelan saliva nya. Tatapan Mamanya sudah seperti ibu tiri saja yang menatapnya tajam seolah ingin menerkam nya.


Setelah selesai bersiap-siap Wahyu pun berangkat ke kantor untuk menggantikan Bayu memimpin rapat, sementara Bayu sendiri dia akan menemui seseorang yang sudah direkomendasikan oleh adiknya sebagai desain interior untuk pembangunan cafe papanya di Palembang.


...*******...


Saat ini Naura dan Lusi sudah berada di sebuah cafe. Lusi mengirim pesan pada kakaknya kalau dia dan temannya sudah sampai di cafe tempat mereka janjian.


Setelah membaca pesan dari adiknya, Bayu pun bergegas membereskan semua tumpukan dokumen yang berserakan di mejanya, setelah selesai Bayu pun melangkah keluar dari ruangannya.


Di lobi, Bayu berpapasan dengan Wahyu yang baru saja sampai.


"Tolong pimpin rapat hari ini ya, Bro" Ucap Bayu menepuk pundak Wahyu.


"Oke, tenang saja. Eh, ngomong-ngomong Kamu mau ketemuan sama siapa sih?" Tanya Wahyu penasaran.


"Itu loh, orang yang diajukan sama Adik Aku, yang akan mendesain pembangunan cafe Papaku di Palembang," Jawab Bayu tersenyum.


"Oh, pantesan aja Kamu kelihatan semangat gini. Sampai-sampai ninggalin rapat hanya buat ketemu sama dia, padahal kan bisa ditunda sampai rapat selesai," Ujar Wahyu, dengan nada meledek temannya itu.


"Ck.Kamu itu, pasti mikir yang macem-macem kan? Aku tuh harus datang sekarang, kalau enggak Adik Aku bisa ngamuk nanti kalau Aku nunda waktunya, sekarang Adik Aku lagi sama temennya itu udah nungguin Aku di cafe sekarang." Ujar Bayu menjelaskan.


"Alah, Adiknya lagi yang dijadikan alasan, bilang Aja emang Kamu yang mau kebelet mau ketemu sama gadis muda, hahaha" Canda Wahyu.


"Ada-ada aja sih, gimana bisa kebelet mau ketemu sama orang yang belum pernah ketemu sama sekali. Kamu itu..." Belum lagi Bayu selesai berbicara, ponselnya berdering dan tertera nama adik kesayangannya di layar ponselnya.


"Nah, tuh kan Adik Aku udah telepon, pasti Dia udah kesel banget nungguin Aku. Ya udah ya Wahyu, Aku pergi dulu. Kamu yang semangat pimpin rapatnya." Ujar Bayu, kemudian berlari kecil meninggalkan Wahyu.


"Kamu juga yang semangat, traktir Aku kalau Kamu bisa deketin gadis itu." Teriak Wahyu, dan di acungi jempol oleh Bayu yang sudah menjauh.


Setelah berada di dalam mobilnya, Bayu segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran kantor menuju cafe tempat janjian bersama adiknya dan juga temannya.

__ADS_1


__ADS_2