
Seperti janji Noval yang katanya akan mencabut tuntutannya terhadap Wahyu. Siang ini dia mendatangi kantor polisi setelah selesai mengajar di kampus.
Sebelum melaksanakan niatnya itu, Noval meminta izin pada petugas untuk berbicara sebentar hanya berdua dengan Wahyu saja. Dan petugas pun menyetujuinya kemudian pergi ke ruang tahanan untuk memanggilkan Wahyu.
Beberapa saat kemudian, polisi pun kembali ke ruangan dimana Noval menunggu, dan tentunya bersama Wahyu.
"Silakan," ujar polisi paruh baya itu mempersilahkan Wahyu untuk duduk di kursi yang sudah tersedia, dan kursi yang diduduki Wahyu itu tepat berhadapan dengan Noval. Kemudian setelah Wahyu duduk, polisi itupun berpamitan undur diri, memberi ruang antara Wahyu dan juga Noval untuk berbicara berdua.
Sekilas Noval menatap Wahyu yang wajahnya masih nampak bekas membiru akibat ulahnya yang menghajar mantan suami adiknya itu beberapa hari yang lalu.
"Bagaimana rasanya tinggal di penjara, sangat tidak nyaman bukan? Makanya sebelum berbuat sesuatu itu pikiran dulu akibatnya." sindir Noval, namun tatapannya mengarah ke tempat lain.
Wahyu duduk diam menundukkan kepalanya, tak menggubris sedikitpun sindiran lelaki yang duduk di hadapannya itu. Bahkan Wahyu terlihat tenang seolah tak mendengarkan apapun.
"Hari ini Aku akan membebaskanmu dari tempat ini," ucap Noval kemudian, dan Wahyu pun mengangkat kepalanya menatap laki-laki yang pernah menjadi kakak iparnya itu.
"Jika bukan karena Naura yang terus memohon padaku untuk membebaskanmu, Aku akan membuatmu membusuk didalam penjara ini. Dan satu hal yang harus kau tau, Aku mengabulkan permintaan Naura dengan satu syarat." sambung Noval, kemudian mengacungkan jari telunjuknya dihadapan Wahyu.
"Naura atau Kau tidak boleh bertemu dengan alasan apapun kecuali tanpa sengaja. Sebenarnya Aku juga tidak mengizinkan Naura untuk berhubungan dengan keluarga mu lagi, tapi Aku tidak sampai hati menolak keinginannya itu yang bisa membuatnya bersedih." ucap Noval lagi.
"Dan satu hal lagi yang harus kau tahu, jangan pernah mengganggu atau berharap lagi pada Naura karena Naura sudah memiliki penggantimu!" ucapnya lagi penuh penekanan.
Wahyu berkaca-kaca mendengar semua perkataan Noval, terutama kalimat terakhirnya.
Benarkah Naura sudah mendapatkan pengganti dirinya?
Apa Naura sudah benar-benar melupakannya?
Ah, memikirkan hal itu membuat kepala Wahyu terasa berdenyut.
Melihat Wahyu yang hanya terdiam tanpa berniat menyahuti ucapannya, Noval pun beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Wahyu di ruangan itu, kemudian pergi ke ruangan lain dimana dia akan mengurus beberapa persyaratan untuk membebaskan Wahyu.
Satu jam kemudian, Wahyu pun kini sudah berada di luar kantor polisi, disana sudah ada Mama dan adiknya yang menunggu.
Mama Winda berlari kecil ke arah putranya itu, lalu memeluk Wahyu begitupun dengan Tasya yang ikut memeluk kakaknya dengan sangat erat.
Sementara Noval yang ternyata masih berada di area kantor polisi, tersenyum miring menyaksikan pemandangan itu dari dalam mobilnya.
__ADS_1
Seandainya Wahyu tidak pernah bertindak bodoh, mungkin dia tidak akan terpisah dengan keluarganya itu selama sepuluh hari.
Namun sayangnya, dengan mengatasnamakan cinta, Wahyu melakukan sesuatu yang membuatnya berakhir didalam jeruji besi. Beruntung Noval masih berbaik hati mau mencabut tuntutannya walaupun karena terpaksa karena terus didesak oleh adiknya.
"Wahyu, alhamdulillah akhirnya Kamu bebas, Nak" ucap Mama Winda penuh haru.
"Iya, Ma." jawab Wahyu kemudian tersenyum dibalik pelukan dua wanita yang berbeda usia itu. Mama dan juga adiknya.
Beberapa saat kemudian Wahyu pun mengurai tubuhnya dari pelukan adik dan juga mamanya, saat tatapannya tertuju pada mobil Noval yang masih berada di pelataran kantor polisi itu.
"Wahyu, kau mau kemana, Nak?" tanya mama Winda, namun Wahyu tak menjawabnya melainkan meneruskan langkahnya menuju dimana mobil Noval terparkir.
Setelah sampai, Wahyu mengetuk pelan kaca mobil Noval, dan tak menunggu waktu lama Noval pun menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa?" tanyanya dingin.
"Izinkan Aku bertemu dengan Naura, Aku mohon sekali ini saja. Aku hanya ingin meminta maaf padanya." ucap Wahyu tulus.
Noval pun terdiam sejenak, lalu mengangguk-anggukan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, Noval, Wahyu, mama Winda dan juga Tasya sudah berada di sebuah cafe untuk bertemu dengan Naura. Sebelumnya saat masih di perjalanan Noval sudah mengirim pesan pada adiknya itu untuk datang ke cafe yang biasa mereka datangi.
Dan tak lama kemudian, Naura pun datang dan langsung mendudukkan tubuhnya di samping Noval.
Naura agak bingung melihat ada mantan suaminya, mama Winda dan juga Tasya, karena saat Noval memintanya datang, kakaknya itu tidak memberitahukan hal ini. Naura pun menatap Noval dengan tatapan tanya.
"Mantan suamimu ini ingin meminta maaf padamu, apa kau mau memaafkannya?" ujar Noval. Tatapan tanya adiknya itu dia jawab dengan kalimat pertanyaan pula.
"Ibu dan ayahku tidak pernah membenci siapapun, meskipun mereka marah atas sikap orang-orang yang sudah menyakiti hati mereka. Dan Akupun akan melakukan hal yang sama seperti mereka." jawab Naura.
"Bagaimana, Kau dengar sendiri kan apa yang dikatakan oleh Naura? Itu artinya dia sudah memaafkanmu, dan Aku rasa cukup sampai disini saja pertemuan hari ini, dan Aku harap tidak akan ada pertemuan lainnya diantara kalian berdua terkecuali tanpa sengaja bertemu!" ujar Noval menatap tajam ke arah Wahyu.
"Naura, ayo kita pulang." ucapnya lagi, kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Kak, Aku baru saja sampai masa harus pulang sekarang?" protes Naura.
"Apa kau mau kakak gendong untuk pergi dari sini, huh!" ancam Noval, dan Naura pun mengalah kemudian juga ikut beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
Naura dan Noval pun melangkah keluar dari cafe itu, meninggalkan Wahyu, mama Winda dan juga Tasya disana tanpa memberikan kesempatan untuk Wahyu mengatakan sendiri permintaan maafnya pada Naura.
"Yang sabar ya, Nak." ujar mama Winda sembari mengusap punggung tangan putranya itu.
"Sekarang ayo kita juga pulang, ada sesuatu yang ingin Mama katakan padamu," ucap mama Winda lagi.
"Apa, Ma?" tanya Wahyu.
"Nanti saja dirumah Mama kasih taunya." lalu mama Winda pun beranjak dari tempat duduknya.
Mereka bertiga pun pulang kerumah mereka dengan menggunakan taksi, karena mobil Wahyu sendiri masih berada di kantor polisi. Polisi menyita nya sebagai salah satu barang bukti yang digunakan Wahyu untuk melancarkan aksi penculikan nya.
Setelah sampai dirumah, mama Winda pun menceritakan semuanya pada Wahyu, apa yang diceritakan oleh Naura beberapa hari lalu tentang kecelakaan yang menimpa Naura yang mengakibatkan Naura mengalami keguguran.
"Seandainya Naura mengetahui kehamilannya sejak awal, mungkin kalian tidak akan pernah bercerai dan Naura tidak akan kehilangan janinnya." ucap mama Winda, dan membuat Wahyu semakin menyesali perbuatannya.
Yah, seandainya saja dia tidak mendustai istrinya itu, dan memutuskan hubungannya sejak awal dengan Diandra, mungkin saat ini dirinya masih bersama dengan Naura dan akan hidup bahagia bersama buah hati mereka kelak.
Namun sayangnya itu semua hanyalah sebuah andai, yang tak akan pernah mungkin bisa terwujud lagi.
.
.
.
Sambil nunggu up selanjutnya mampir yuk ke novel teman Othor🙏
Meskipun ayahnya seorang kaisar, Luxia harus tetap berhati-hati demi keselamatannya dari musuh yang siap menyerang dan mengendalikan kekuatan yang dia miliki, agar tidak berubah menjadi iblis sang penghancur dunia apa yang harus Luxia lakukan?
Akan tetapi dengan kemampuan yang dia miliki, meski banyak ancaman yang datang kapan saja apakah Luxia akan berhasil menyelamatkan dirinya dari seorang yang berniat jahat?
Berhasilkah Luxia menyelamatkan dunia dan tidak harus menjadi seorang iblis penghancur?
Apakah yang akan Luxia hadapi nanti? dan bagaimana cara Luxia menyelamatkan dunia dan menjaga dirinya agar tak menjadi iblis sang penghancur? saksikan perjalanan Luxia
__ADS_1