
"Wahyu..." panggil mama Winda saat putranya itu hendak beranjak meninggalkan ruang makan.
"Ada apa, Ma?" tanya Wahyu kembali duduk di tempatnya semula.
"Apa Kamu gak kepikiran buat nikah lagi?" tanya mama Winda. "Umur kamu itu sudah sangat matang Wahyu." sambungnya.
"Belum ketemu jodohnya aja, Ma." jawab Wahyu dengan santai.
"Ck. Itu, siapa sih itu namanya pacar kamu itu?" tanya mama Winda lagi sembari berdecak kesal. "Kenapa kamu gak nikahin dia aja?" tanya mama Winda lagi.
"Dia udah putusin Aku, Ma."
"Lah kenapa dia mutusin Kamu? Seharusnya kan dia senang kamu udah cerai sama Naura, aneh!" ketus mama Winda.
"Aku gak tau, Ma." ucap Wahyu sembari menyeruput secangkir teh hangat dihadapannya.
"Dasar perempuan aneh! Kenapa dia baru mutusin kamu sekarang setelah kamu dan Naura itu cerai, kenapa gak dari dulu coba kalian itu putusnya!" kesal mama Winda.
"Ma, udah ya Aku gak mau bahas itu lagi," ucap Wahyu lalu beranjak dari tempat duduknya. "Aku berangkat ke kantor dulu, Ma" sambungnya.
"Oh ya, tumben kamu berangkat ngantor siangan gini?" mama Winda menautkan kedua alisnya.
"Semalam Aku begadang selesai kerjain Aku, Ma." jawab Wahyu. "Assalamu'alaikum." ucapnya lalu mencium punggung tangan mamanya.
"Waalaikum salam." jawab mama Winda, dan Wahyu pun melangkah keluar dari ruang makan itu.
Satu jam kemudian, Wahyu pun sampai di perusahaan tempatnya bekerja selama 7 tahun ini.
Saat di lobi, Wahyu berpapasan dengan Andi yang terlihat sangat tergesa-gesa. Namun, Wahyu tak menghiraukan nya dan tetap melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
__ADS_1
Sementara Andi yang kini sudah berada di pelataran kantor, dengan cepat berlari kembali masuk kedalam kantor hendak menemui Wahyu karena ada suatu hal yang lupa dia sampaikan.
Saat sampai di depan ruangan Wahyu, Andi masuk begitu saja tanpa mengetuk terlebih dahulu seperti yang sering dia lakukan.
"Wahyu..." panggil Andi, sembari melangkah masuk.
"Ada apa?" tanya Wahyu menatap Andi sebentar lalu kembali fokus pada layar laptop nya.
"Wahyu, maaf ya hari ini Aku gak bisa temenin Kamu meeting," ucap Andi lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Wahyu.
"Kenapa memangnya?" tanya Wahyu tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptopnya.
"Tadi Pak Jhohan telepon, Aku disuruh menyiapkan parcel buat lamaran." jawab Andi, sembari menyeka peluh di keningnya.
"Parcel lamaran, buat siapa?" Wahyu menghentikan kegiatannya, kemudian menatap lekat Andi. "Siapa yang mau lamaran?" tanyanya.
"Ya Bayu lah, gak mungkin Pak Jhohan, bisa di gorok dia sama istrinya." Jawab Andi sembari terkekeh.
"Loh, emangnya Pak Jhohan kemana?" tanya Wahyu.
"Ke Palembang buat resmikan cafe barunya di sana, kamu gak tau?" Wahyu menggelengkan kepalanya.
"Ya udah kamu pergi sana, meeting hari ini biar Aku yang tangani." ucap Wahyu kemudian.
"Semangat!" ucap Andi lalu keluar dari ruangan Wahyu.
Setelah Andi keluar dari ruangannya, Wahyu menatap nanar pada pintu ruangannya yang baru saja tertutup. Helaan nafas terhembus, rasa perih yang sudah mulai sirna kembali menggerogoti hatinya.
Apakah wanita yang akan dilamar oleh Bayu itu adalah Naura?
__ADS_1
Ah, memikirkan hal itu membuat Wahyu tak fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya saat ini.
Namun, sebisanya dia akan berusaha untuk tidak perduli akan hal itu. Perjuangannya selama dua bulan ini akan sia-sia jika dirinya tetap merasakan perih itu. Berdamai dengan keadaan akan jauh lebih baik dari pada terus berada dalam keterpurukan. Hubungannya dengan Naura sudah berakhir, dan mungkin tidak ada cela lagi untuk bisa kembali bersama walaupun sedikit saja.
Tak ingin terus berlarut-larut dalam pemikiran yang menyesakkan itu, Wahyu beranjak dari kursi kerjanya hendak mengambil wudhu, setelah itu ia mengambil Al-Quran ya ia letakkan di atas meja kerjanya, mungkin dengan mengaji sembari menunggu waktu Dzuhur akan membuat hatinya lebih tenang dari keperihan yang kembali melanda nya karena kabar yang ia dengar hari ini.
...*******...
Naura yang baru terjaga dari tidur panjangnya setelah semalam mengalami demam tinggi, dikejutkan dengan kedatangan Lusi dan kedua orangtuanya yang tiba-tiba, padahal mereka sudah mengatakan akan datang besok.
Dan kini Naura lebih terkejut lagi saat pak Jhohan mengatakan akan melamarnya untuk Bayu, setelah pulang ke Jakarta.
Naura terdiam, berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh lelaki paruh baya itu. Hingga terdengar suara Bayu membuyarkan lamunan nya.
"Naura, gak usah dengerin Papa, dia itu cuma bercanda'' ujar Bayu.
"Siapa yang bercanda, huh?" pak Jhohan menatap tajam Bayu. Bisa-bisanya putranya itu berkata demikian, padahal sebelumnya putranya itu sangat senang saat dia mengatakan akan melamar Naura untuknya.
Ada apa dengan Bayu?
"Asal kamu tau ya, Papa udah menugaskan Andi untuk menyiapkan parcel lamaran. Setelah kita pulang ke Jakarta, Papa akan mendatangi kedua orangtuanya Naura." ucap pak Jhohan dengan tegas.
Sekali lagi, Naura tercengang seolah kehabisan kata-kata mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh pak Jhohan.
Apakah dirinya akan kembali mengalami pernikahan yang berawal tanpa cinta seperti ini.
Ingin menolak, namun saat melihat tatapan pak Jhohan yang seperti benar-benar berharap padanya membuat Naura tak sampai hati mengutarakan penolakannya itu. Namun, jika dia menyetujuinya, itu artinya dia akan kembali hidup dalam pernikahan tanpa cinta. Sementara Naura sendiri masih trauma dengan kegagalan pernikahannya, pernikahan yang terlihat sempurna namun tidak sama seperti kelihatannya. Naura harus mengalami kesakitan yang mendalam saat dia sudah mulai mencintai suaminya.
Dan Naura tidak ingin hal itu terulang kembali jika dia memaksakan diri menerima lamaran pak Jhohan untuk putranya.
__ADS_1
"Naura, kamu mau kan menikah dengan Bayu?" tanya pak Jhohan.