
Dibalik jeruji besi, Wahyu meringkuk di sudut ruangan itu. Lebam diwajahnya masih terasa perih, namun itu sama sekali dia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perasaannya yang kini telah hancur.
Harapannya untuk bisa memiliki Naura telah sirna, dan kini dirinya berakhir didalam sel tahanan, dijuluki narapidana kasus penculikan terhadap mantan istrinya sendiri serta mencoba menikahinya secara paksa bahkan secara ilegal tanpa izin tersurat dari negara. Sungguh miris nasibnya.
"Naura, apakah kita tidak ditakdirkan untuk bersama lagi?" lirih nya. Berada didalam sel tahanan hanya beralaskan dengan tikar yang muat untuk dirinya sendiri tanpa selimut, membuat Wahyu sangat kedinginan.
Hingga sudah berhari-hari dilalui Wahyu berada dalam tahanan, wajahnya terlihat pucat karena jarang makan bahkan sering tak menyentuh makanannya sama sekali.
Noval yang katanya akan mencabut tuntutannya terhadap Wahyu setelah satu minggu pun belum juga datang, padahal ini sudah hari kedelapan Wahyu berada dalam penjara.
Setiap hari mama Winda dan Tasya datang menjenguknya, merasa sangat khawatir melihat keadaan Wahyu yang terlihat sangat lemah, makanan yang mereka bawa pun selalu pulang dalam keadaan yang masih utuh tak tersentuh sedikitpun.
Wahyu benar-benar merasa terpuruk berada didalam tahanan selama delapan hari ini. Sedikit penyesalan karena sudah bertindak gegabah dengan menculik Naura demi ingin memilikinya seutuhnya. Namun, apa yang dilakukannya itu hanya membuahkan sebuah kegagalan besar. Naura tidak akan mempercayainya lagi, dan bahkan mungkin Naura juga tidak akan perduli lagi padanya.
Waktu begitu cepat berlalu, dan hari ini sudah genap sepuluh hari Wahyu berada dalam tahanan. Namun, yang dirasakan oleh Wahyu dirinya sudah tinggal bertahun-tahun didalam tahanan itu.
Di tempat lain, Naura terus membujuk Noval agar menepati janjinya untuk mencabut tuntutannya terhadap Wahyu.
Awalnya Naura membiarkan saja meski satu minggu sudah berlalu. Namun, karena mama Winda yang terus memohon padanya agar membebaskan Wahyu, Naura pun jadi tak tega pada paruh baya yang pernah menjadi mama mertuanya itu.
Namun, Naura tak bisa berbuat apa-apa selain terus membujuk kakak sepupunya untuk membebaskannya mantan suaminya.
"Kak Noval, ini sudah sepuluh hari loh, kakak kan janjinya hanya satu minggu." ujar Naura.
"Kenapa kamu yang jadi gak sabaran sih?" Noval mendengus kesal.
"Bukannya gitu, Kak. Kalau Mama Winda gak terus mohon sama Aku, Aku juga gak akan mohon mohon gini sama kakak."
"Ck. Iya nanti kakak bakal ke kantor polisi" ucap Noval sedikit kesal.
"Kapan?" tanya Naura memastikan.
"Ya nanti, Naura. Kakak masih ada jam mengajar sebentar lagi." jawab Noval dengan nada di pelan namun penuh penekanan.
"Tapi janji ya, Kak, hari ini. Kasihan Mama Winda loh."
"Iya, kalau kakak sempat." jawab Noval acuh. "Seharusnya kamu tidak memanggilnya dengan sebutan Mama lagi, dia itu bukan siapa-siapa kamu lagi." sambungnya.
__ADS_1
"Aku hanya menghormati Mama Winda, Kak. Selama menjadi menantunya, Mama Winda selalu memperlakukan Aku dengan sangat baik, bahkan lebih dari pada anak-anak nya sendiri." tutur Naura.
"Tapi, sayangnya hanya Mamanya saja yang tulus sama kamu, anaknya tidak." ucap Noval dengan santainya.
"Udahlah, Kak. Gak perlu membahas itu lagi. Kalau Kak Noval bebasin mas Wahyu hari ini juga, Aku bakalan ikutin usulan Kak Bayu buat gabung di perusahaannya." ucap Naura dengan mantap.
"Serius?" Naura menganggukan kepalanya.
"Oke, kalau gitu nanti kakak akan ke kantor polisi setelah pekerjaan kakak selesai." ujar Noval kemudian beranjak masuk ke dalam mobilnya.
Beberapa hari ini Noval menginap di rumah Naura. Noval hanya ingin memastikan kalau adiknya itu baik-baik saja dan tidak mengalami trauma atas penculikan yang dialaminya itu. Dan Noval bersyukur beberapa hari ini Naura terlihat baik-baik saja.
...*******...
Sama seperti hari hari sebelumnya, hari ini mama Winda dan Tasya kembali mengunjungi Wahyu di penjara. Dan sama seperti biasanya selama sepuluh hari ini, Wahyu tak sedikitpun menyentuh makanan yang dibawakan oleh mama Winda.
Melihat keadaan putranya seperti ini mama Winda sangat prihatin, takut kalau putranya itu akan sakit jika terus seperti ini.
"Wahyu, makan ya, Nak. Mama suapin ya." bujuk mama Winda namun Wahyu seolah tak mendengarnya.
Ruangan itupun menjadi hening, mama Winda tak lagi membujuk putranya itu untuk makan sementara Tasya juga diam dengan masih memeluk kakaknya, dan Wahyu sendiri bersikap seolah hanya ada dirinya sendiri di ruangan itu.
Hingga terdengar suara dering ponsel mama Winda memecah keheningan di ruangan itu.
Mama Winda tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu lagi mama Winda segera menjawab panggilan itu.
"Iya Naura, ada apa, Nak?" tanya mama Winda.
Mendengar nama Naura disebut, dengan cepat Wahyu mengangkat pandangnya menatap mama Winda, namun beberapa saat kemudian Wahyu kembali menundukkan kepalanya. Tak ada gunanya lagi, apa yang sudah dilakukannya itu pasti akan membuat mantan istrinya itu semakin membencinya, begitulah pikir Wahyu saat ini.
"Alhamdulillah," ucap mama Winda. Raut wajahnya terlihat senang. Dan beberapa saat berbicara dengan Naura di sambungan telepon mama Winda pun menutup panggilan itu.
"Ada apa, Ma?" tanya Tasya, keheranan melihat mamanya yang senyum-senyum sendiri. "Kak Naura kenapa telepon?" tanyanya lagi.
"kata Naura, hari ini kakaknya mau mencabut tuntutannya pada Wahyu." ucap mama Winda dengan berbinar.
Mama Winda meraih tangan putranya lalu mengusap lembut punggung tangannya.
__ADS_1
"Setelah kamu bebas dari sini, kamu harus berterima kasih pada Naura karena dia yang sudah membujuk kakaknya untuk mencabut tuntutannya terhadap kamu. Dan kamu juga harus meminta maaf pada Naura atas apa yang sudah kamu lakukan padanya." namun Wahyu hanya menatap mamanya sekilas lalu kembali menundukkan kepalanya.
"Apa dia akan memaafkan Aku?" lirih nya.
"Naura itu gadis yang baik, dia pasti akan memaafkan kamu." ucap mama Winda yakin.
"Iya Kak. Kak Naura itu orangnya baik, terbukti selama ini dia selalu bersikap baik sama Aku dan juga Mama walaupun Kak Naura sudah bukan siapa-siapa kita lagi." sahut Tasya sembari mengusap usap punggung kakaknya.
Setelah mendengarkan penuturan mama dan juga adiknya Wahyu pun merasa sedikit lebih tenang, dan akhirnya mau memakan makanan yang dibawakan oleh mama Winda.
Mama Winda pun senang melihat Wahyu yang makan dengan sangat lahap bahkan terlihat seperti orang yang sangat kelaparan, akhirnya di hari kesepuluh ini, rantang yang dibawanya tidak pulang dengan keadaan yang masih utuh.
Beberapa saat kemudian, makanan didalam rantang dua susun itupun tandas tak bersisa.
.
.
.
Halo akak² readers, mampir ke novel teman Othor yuk sambil nunggu up selanjutnya 🙏
Flavia Gu, adalah anak dari selir kesayangan Tuan Gu. Dibawa olehnya masuk ke dalam keluarga Gu. Ketika ibunya meninggal
Namun, tidak pernah dianggap sebagia anggota keluarga Gu.
Bahkan dia harus menghidupi dirinya sendiri dari keahlian yang dia miliki. Keahlian yang dia sembunyikan dengan baik.
Tidak hanya itu saja, bahkan Flavia dijadikan tumbal malam pertama untuk menggantikan peran Olivia Gu yang ingin menjadi menantu utama keluarga Lin
Siapa sangka Flavia yang selama ini diam akan menyerang balik mereka semua, yang pernah mencelakainya. sampai pada akhirnya takdir membawa Flavia ke pangkuan Eryk Lin, seorang Mysophobia yang sengaja memilih menjadi dokter Forensik demi mengatasi rasa takutnya yang berlebihan.
Akankah ketika konflik bersemi, justru malah akan membuat keduanya saling jatuh cinta dan menginginkan satu sama Iain?
__ADS_1