Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 59. BERUSAHA UNTUK IKHLAS


__ADS_3

"Bu, Aku keguguran, Bu." ucap Naura, sembari terisak didalam pelukan ibunya.


Sungguh, dia benar-benar merasa bersalah karena kenapa bisa sama sekali tidak mengetahui jika ada janin yang sedang tumbuh didalam rahimnya. Dan sekarang dia sudah kehilangan janinnya tanpa sempat mengetahuinya terlebih dahulu.


"Bodohnya Aku, kenapa Aku sendiri sampai tidak tau kalau Aku sedang hamil, Bu." Naura semakin terisak, membuat orang yang ada di ruangan itupun ikut menitihkan air matanya.


"Sudahlah Naura, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Lihatlah, bahkan anak itu tidak ingin hadir di antara kalian. Dan Bapak bangga sama Kamu, Kamu sudah mengambil keputusan yang tepat dengan menggugat cerai laki-laki brengsek itu!" rahang pak Agung mengeras mengingat mantan menantunya itu, yang sudah mempermainkan hati putrinya.


Bayu yang mendengar penuturan pak Agung menjadi merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Naura dan suaminya hingga sampai bercerai, dan Naura sendirilah yang menggugat cerai suaminya. Akhirnya Bayu pun mengajak Lusi keluar dari ruangan itu, adiknya itu pasti banyak mengetahui tentang Naura.


"Kenapa sih, Kak, ngajak Aku keluar?" kesal Lusi.


"Apa Kamu bisa menceritakan pada Kakak, tentang Naura? Kenapa Dia bisa sampai bercerai dari Suaminya?" tanya Bayu.


"Ya ampun, kirain ada apa. Taunya mau nanyain itu, lagian sejak kapan sih Kakak kepo sama urusan orang lain," Lusi menatap jengah kakaknya itu.


"Lus, Kamu ceritain sama Kakak ya," bujuk Bayu. Dia harus tau banyak tentang gadis yang sudah membuatnya terpesona itu, Bayu tak ingin salah langkah untuk kedepannya, jika menyimpan perasaan lebih dalam. Namun, gadis yang disukainya itu ternyata masih terikat sebuah hubungan dengan orang lain.


"Jawab dulu, kenapa Kakak mau tau tentang Naura, huh?" Lusi menatap kakaknya itu sekilas.


'Ya ampun Lusi, masa Kakak harus bilang kalau Kakak suka sama teman Kamu itu' Ucap Bayu dalam hati.


"Ya enggak kenapa-kenapa, Kakak mau tau aja," sangkal Bayu, tidak mungkin dia memberitahu adiknya itu tentang alasannya ingin mengetahui tentang Naura. Bisa-bisa adiknya itu menertawai nya sambil koprol karena sudah naksir pada gadis yang lebih pantas menjadi adiknya.

__ADS_1


"Kok Aku gak percaya ya, kalau Kakak hanya sekedar ingin tau saja," Lusi menatap curiga pada kakaknya itu.


"Ya sudah kalau Kamu tidak mau memberitahu Kakak," Bayu pun akhirnya menyudahi keinginan untuk bertanya, rasanya percuma saja membujuk adiknya itu tanpa dia memberitahu alasannya.


Bayu membawa tubuhnya duduk di kursi panjang yang berada tepat didepan ruangan Naura dirawat, kemudian disusul oleh adiknya yang juga duduk disampingnya.


"Kak Bayu," panggil Lusi, menyenggol lengan kakaknya itu.


"Hem," jawab Bayu dengan deheman.


"Kok Aku ngerasa ada yang beda ya sama kakak," ujar Lusi, menatap intens kakaknya.


"Beda apanya? Kakak makin ganteng ya? Ya iyalah, Bayu gitu loh." canda Bayu, membuat adiknya itu mengerucutkan bibirnya.


"Terus, apa dong?"


"Kakak kok sekarang jadi kepo ya sama perempuan, perasaan Kakak tuh gak pernah kayak gitu. Apalagi setiap kali Papa bahas soal perempuan sama Kakak, pasti Kakak selalu menghindar. Oh, atau jangan-jangan Kakak suka ya sama Naura, ayo ngaku?" Lusi mendekatkan wajahnya pada kakaknya dengan matanya yang membulat menatap kakaknya itu.


"Sok tau," elak Bayu, kemudian memalingkan wajahnya tak ingin diinterogasi lebih jauh oleh adiknya itu.


"Em, kirain Kakak tuh suka sama Naura," ujar Lusi, kemudian menyenderkan kepalanya, lalu menghela nafas berat seolah turut merasakan apa yang dirasakan oleh temannya itu.


"Aku kasihan sama Naura. Dulu, Dia tuh dijodohin sama Suaminya, padahal waktu itu Naura masih kuliah. Tapi, meskipun dijodohin Naura tuh seneng banget karena Suaminya itu perhatian banget sama Dia. Yah, tapi Aku juga gak nyangka ternyata semua perhatian Suaminya Naura itu hanya untuk menutupi hubungannya dengan kekasihnya. Dan tepat satu tahun pernikahan Naura dan Suaminya, Naura akhirnya mengetahui tentang hubungan Suaminya itu dengan kekasihnya. Karena itulah Naura meminta cerai." tanpa sadar, Lusi pun menceritakan tentang temannya itu.

__ADS_1


"Laki-laki bodoh!" celetuk Bayu setelah mendengar cerita adiknya tentang Naura.


"Huh, eh yah kok Aku malah cerita sih sama Kakak. Curang! Sekarang giliran Kakak yang bilang, kenapa Kakak pengen banget tau tentang Naura?"


"Kasih tau gak ya," ucap Bayu melirik adiknya yang terlihat kesal.


"Ya udahlah, males ngomong sama Kakak." Lusi pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian masuk kembali ke dalam ruangan perawatan Naura.


Melihat Lusi masuk, bu Lastri mengurai pelukannya dari tubuh Naura dan memberikan ruang kepada Lusi untuk bercerita pada putrinya. Kemudian menyusul suaminya yang duduk di sofa.


"Ra, gimana keadaan Kamu?" tanya Lusi, mengelus punggung tangan temannya itu.


"Udah baikan kok, Lus." jawab Naura dengan tersenyum.


"Yang sabar ya, Ra. Tuhan pasti sudah menyediakan sesuatu yang terbaik dari apa yang sudah menimpa Kamu ini," ujar Lusi, kemudian memeluk Naura.


"Iya, Lus. Aku akan berusaha untuk ikhlas. Tapi, yang sangat Aku sesali, Aku sama sekali tidak tau kalau ternyata Aku sedang hamil."


"Itu karena kalian memang sudah ditakdirkan untuk berpisah. Coba aja kalau Kamu tau sedang hamil, pasti perceraian Kamu dan Wahyu akan tertunda." celetuk pak Agung menyahuti ucapan putrinya.


"Pak, ngomong apa sih!" bu Lastri menegur suaminya.


Sementara pak Agung hanya mendelikkan matanya mendapat teguran dari istrinya, karena menurutnya ucapannya itu tidak salah.

__ADS_1


__ADS_2