
"Tante, Om, Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Kedatangan Saya kemari berniat untuk membatalkan pernikahan yang akan dilangsungkan dalam dua minggu lagi." dengan berat hati akhirnya Noval menyampaikan maksud kedatangannya setelah beberapa saat terdiam.
Dua paruh baya yang dipanggil tante dan om itupun saling tatap kemudian kembali menatap Noval dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa, Nak Noval, apakah waktu dua minggu itu terlalu cepat? Baiklah kalau begitu, mumpung undangan juga belum disebar, kita bisa memundurkan nya menjadi bulan depan." ucap lelaki paruh baya yang tak lain adalah papanya Diandra.
"Maaf, Om. Kedatangan saya bukan untuk menunda ataupun memundurkan waktu. Tapi, saya benar-benar ingin membatalkan pernikahan saya dan Diandra." ucap Noval secara terang terangan.
Setelah mengatakan itu, Noval pun menundukkan kepalanya. Noval tau apa yang dilakukannya ini pasti akan menyakiti dua paruh baya di hadapannya itu. Namun, Noval juga tidak bisa menikahi wanita yang telah menyebabkan adiknya menjadi seorang janda meskipun dia mencintanya. Sungguh tega bila dia menikah dan hidup bahagia dengan wanita yang telah membuat adiknya hidup dalam kepalsuan cinta, cinta yang penuh dusta.
"Apa-apaan ini, Nak Noval! Kau sendiri yang datang pada kami meminta putri kami menjadi istrimu. Tapi, hari ini kau datang untuk membatalkannya secara sepihak, Kau ingin mempermainkan kami, huh?" papanya Diandra pun mulai tersulut emosi.
"Maaf, Om. Saya harus melakukan ini, saya tidak bisa menikahi wanita yang telah merusak rumah tangga adik saya." tukas Noval, dengan sangat terpaksa Noval harus mengatakannya.
"Apa yang Kau katakan, Noval? Jangan menuduh putri kami dengan hal yang hina seperti itu, putri kami adalah gadis baik-baik. Tidak mungkin Diandra merusak rumah tangga orang lain!" geram Papa Diandra dengan nada yang bergetar.
"Maafkan saya, Om. Itulah kebenarannya, jika Diandra adalah wanita baik-baik, seharusnya dia memutuskan hubungannya dengan kekasihnya setelah menikahi adik saya. Tapi, kenyataannya Diandra masih berhubungan dengan laki-laki yang sudah beristri. Karena perbuatannya itu adik saya sekarang menjadi seorang janda, dan bodohnya saya baru mengetahuinya hari ini."
Mendengar penuturan Noval, kedua orangtua Diandra pun terkulai lemas. Tidak menyangka bahwa putri mereka bisa melakukan hal demikian. Berhubungan dengan laki-laki yang sudah beristri ada hal hal yang paling hina, dan itu dilakukan oleh putri kebanggaan mereka.
"Silahkan pergi dari rumah kami, Nak Noval. Dan semuanya sudah selesai." ujar papanya Diandra, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Noval dan juga istrinya di ruang tamu.
__ADS_1
"Tante, saya benar-benar minta maaf." kata Noval, dia menatap sayu wanita paruh baya didepannya.
Mamanya Diandra tersenyum kecut mendengar permintaan maaf laki-laki yang beberapa waktu lalu datang meminta putrinya sebagai istri, dan kini angan-angan itu telah sirna didepan mata karena ulah putrinya sendiri.
"Tidak perlu meminta maaf, Nak Noval. Andai kami punya anak laki-laki, mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama sepertimu jika apa yang dialami adikmu terjadi pada putri kami."
"Terima kasih atas pengertiannya, Tante. Saya permisi dulu." ucap Noval lalu beranjak dari tempat duduknya.
Mamanya Diandra hanya bisa menatap nanar langkah Noval yang kini sudah menghilang dari balik pintu.
Perasaannya marah, namun entah marah pada siapa. Pada laki-laki yang membatalkan pernikahan dengan putrinya atau pada putrinya sendiri yang secara tidak langsung menjadi penyebab batalnya pernikahannya sendiri.
Di luar, saat Noval akan memasuki mobilnya, sebuah taksi singgah disamping mobilnya. Dan ternyata itu adalah Diandra yang datang.
"Noval, kamu datang." ujar Diandra, lalu bergelayut di lengan Noval.
"Maaf Diandra, Aku harus pergi." Noval pun melepaskan tangan Diandra di lengannya.
"Noval, ada apa?"
"Aku tidak perlu menjawab apapun lagi Diandra, semuanya telah selesai, dan Aku sudah mengembalikan semuanya seperti semula." ucap Noval dingin, dia hendak membuka pintu mobilnya, namun Diandra mencegahnya.
__ADS_1
"Noval, apa maksudmu?"
"Tanyakan saja pada kedua orangtuamu, dan urusan kita telah selesai!" tukas Noval penuh penekan, saat Diandra lengah Noval pun masuk kedalam mobilnya lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Diandra.
Sementara Diandra sendiri segera berlari masuk kedalam rumahnya mencari kedua orangtuanya hendak menanyakan apa yang dimaksud oleh Noval.
...*****...
Di tempat lain, Wahyu terus berusaha menghubungi nomor Naura namun hasilnya nihil, nomor mantan istrinya itu masih saja tidak aktif.
Wahyu pun kesal, dia mengusap wajahnya dengan kasar. Bahkan ketukan dibalik pintu ruangannya tak dia hiraukan, beberapa tumpukan berkas di atas mejanya pun belum ia periksa sejak pagi.
Wahyu hanya sibuk memikirkan Naura, Naura dan Naura saja. Belum lagi setelah mengetahui gadis yang sering diceritakan oleh Bayu adalah mantan istrinya sendiri membuat wahyu semakin tak tenang, bahkan saat itu Naura masih menjadi istrinya.
"Apa, apa yang harus Aku lakukan? Naura tidak boleh berpaling dariku, tidak boleh! Lelaki manapun tidak boleh memiliki Naura termasuk Bayu!'' Wahyu menggebrak meja kerjanya lalu menundukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian, Wahyu pun tersenyum menyeringai saat terpikirkan sesuatu.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Wahyu berpamitan pada mama dan juga adiknya pergi ke luar kota dengan alasan pekerjaan.
Mama Winda pun mendoakan putranya itu selamat hingga sampai tempat tujuan. Begitupun dengan Tasya yang langsung memeluk kakaknya itu dengan erat seolah tak mengizinkannya pergi.
__ADS_1
Tasya akan semakin merasa kesepian kalau kakaknya tidak ada, apalagi saat ini sudah tidak ada papanya dan juga Naura yang selalu mendengarkan keluh kesahnya.