
Hujan yang semakin deras disertai kilatan kilatan, kemudian disusul dengan petir yang menyambar, mengagetkan Wahyu yang tengah duduk di sofa menyandarkan kepalanya.
"Naura...
Dengan cepat Wahyu mengambil jaket serta kunci mobilnya, hendak menyusul wanita yang beberapa saat lalu telah resmi menjadi mantan istrinya.
"Naura, maafkan Mas yang sudah membiarkanmu perg," Saat ini Wahyu tengah mengemudikan mobilnya dengan pelan menelusuri jalan yang diyakini dilalui oleh Naura.
"Naura, Kau dimana?" Wahyu tak melewatkan sedikitpun perhatiannya disetiap jalan dilaluinya. Kepanikan mulai melanda dirinya kala tak bisa menemukan keberadaan wanita yang sudah menjadi mantan istrinya itu.
Hujan yang semakin deras dan kini ditambah dengan angin yang kencang serta kilatan kilatan yang tiada hentinya, semakin menambah kekhawatiran Wahyu akan keberadaan mantan istrinya itu.
Menyesal karena sudah membiarkan Naura pergi, hanya karena kemarahan yang tak berdasar.
"Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padamu, Naura"
Mobil Wahyu sudah sangat jauh menelusuri jalan, namun tak juga menemukan keberadaan Naura, membuatnya berpikiran yang tidak tidak akan terjadi sesuatu pada Naura.
...........
Sementara Naura, setelah tidak melihat lagi keberadaan mobil yang mengantarkannya pulang, Naura pun kembali masuk ke rumahnya dan tak lupa dia mengunci pintunya.
"Siapapun kamu, terima kasih karena sudah mengantarkan aku pulang, yah walaupun kamu itu sangat menjengkelkan." Ucap Naura yang melangkah menuju kamarnya sembari melepas jas yang beberapa saat lalu dipasangkan oleh laki-laki yang hampir menabraknya, namun laki-laki itu juga yang sudah mengantarkannya pulang dengan selamat dari terpaan derasnya hujan.
Baru saja Naura akan membuka pintu kamarnya, dia dikagetkan oleh suara ayahnya yang melangkah dari arah dapur.
"Naura... " Pak Agung pun segera menghampiri putrinya itu.
"Ya ampun Naura, kenapa kamu pulang ditengah malam begini dan kenapa bisa sampai basah kuyup begini? Dimana suami kamu?" Tanya Pak Agung, memperhatikan putrinya yang sudah basah kuyup.
"Aku tidak bersama Mas Wahyu, Pak," Jawab Naura, kemudian menundukkan kepalanya.
"Jadi maksudnya, Kamu pulang sendiri?" Tanya Pak Agung, dan di angguki oleh Naura.
__ADS_1
"Apa-apaan si Wahyu itu! Belum bercerai saja sudah lepas tanggung jawab begini, syukur kamu segera menggugat cerai dia. Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab!" Sarkas Pak Agung, kesal pada laki-laki yang setahun lalu dijodohkan dengan putrinya. Terlebih, melihat putrinya yang pulang sendiri disaat malam yang sangat larut dengan keadaan yang basa kuyup.
"Pak, Aku dan Mas Wahyu sudah resmi bercerai," Ucap Naura, kemudian menyerahkan map coklat yang sudah setengah basah, pada ayahnya.
Pak Agung pun membuka map itu, terlihat jelas kilatan kemarahan di matanya kala melihat goresan tanda tangan Wahyu di atas kertas itu.
Menyesal, yah Pak Agung menyesal telah menerima pinangan dari almarhum teman lamanya itu, setahun yang lalu.
Tangan Pak Agung gemetar, kemudian meremas selembar surat gugatan cerai itu. Rahangnya mengeras menahan amarahnya, benar-benar tak terima dengan apa yang sudah terjadi pada putrinya semata wayangnya.
"Pak, sudah Pak," Ucap Naura berusaha memenangkan ayahnya. Yah, Naura tau jika saat ini ayahnya begitu marah.
"Mungkin sudah takdir aku seperti ini, Pak" Ucap Naura lagi, dan Pak Agung pun menatap putrinya dengan iba.
"Maafkan Bapak, Naura. Yang terjadi padamu juga karena Bapak. Seandainya dulu, Bapak tak langsung menerima perjodohan kalian, mungkin kamu tidak akan pernah mengalami ini semua. Maafkan Bapak, Naura." Pak Agung pun meraih tubuh putrinya itu kedalam dekapannya. Tubuh yang tak lagi tegap itu bergetar seiring dengan air mata yang jatuh membasahi pundak putrinya.
Naura pun membalas pelukan ayahnya dengan sangat erat, dia mengelus punggung yang mulai terlihat bungkuk itu, saling menguatkan dengan apa yang terjadi.
Naura harus terlihat kuat, agar kedua orang tuanya tak terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi padanya.
Naura akan memulai kehidupannya yang baru, memulai hari hari baru dan berharap suatu saat kelak akan menemukan cinta sejati dalam hidupnya. Cinta yang penuh ketulusan, tak ada dusta dan tak ada kepalsuan.
"Jangan pernah menyalahkan diri Bapak lagi, ini bukan salah siapapun, ini adalah takdirku, Pak" Ucap Naura, mengurai pelukannya, kemudian mengusap air mata ayahnya itu.
"Kenapa Bapak menangis? Aku saja tidak menangis kok, Pak" Naura tersenyum, menunjukkan pada ayahnya itu kalau dia baik-baik saja.
"Gantilah pakaianmu, nanti kamu masuk angin. Bapak akan meminta Ibu untuk menyiapkan makanan untukmu" Naura mengangguk, dan Pak Agung pun berlalu untuk memanggil istrinya di kamar. Yah, Bu Lastri belum mengetahui kepulangan putrinya .
Beberapa saat kemudian setelah mengganti pakaiannya, Naura berkumpul bersama Ibu dan ayahnya di ruang makan. Tak hentinya Bu Lastri mengelus puncak kepala putrinya, hingga makanan di piring Naura tandas tak bersisa. Yah, sejak beberapa jam yang lalu, Naura memang merasa sangat lapar, belum lagi hawa dingin guyuran hujan yang kerap membuat perut jadi keroncongan, membuat Naura makan dengan sangat lahap.
Bu Lastri tersenyum, melihat putrinya yang makan dengan sangat lahap, seolah tidak terjadi apapun pada putrinya itu. Namun, sebelum senyum itu terukir diwajah tuanya, sebelumnya Bu Lastri sempat menangis saat suaminya menceritakan tentang kepulangan putrinya.
Hingga, perintah sang suami yang menyuruhnya untuk menyiapkan makanan untuk putri mereka, barulah Bu Lastri menghentikan tangisannya dan segera pergi menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk putri semata wayangnya itu.
__ADS_1
..............
Merasa tak mungkin menemukan Naura di jalanan, Wahyu pun memutuskan untuk mendatangi rumah mantan mertuanya, barangkali yang sedang dicarinya sudah berada disana.
Wahyu pun telah sampai, namun dia tak turun dari mobilnya melainkan terus menatap rumah itu dari dalam mobil. Rumah yang setahun lalu menjadi saksi dia menerima Naura sebagai calon istrinya.
Sampai terdengar azan subuh, Wahyu masih setia menatap rumah itu tanpa berniat untuk keluar dari mobilnya. Bahkan, rasa kantuk pun sama sekali tak dia rasakan, dan itu sudah terjadi sejak pertama kali Naura meninggalkan rumahnya. Wahyu tak bisa tidur tanpa pelukan dan elusan tangan Naura di kepalanya.
Entah apa yang akan terjadi pada Wahyu? Sementara orang yang bisa membuatnya tidur dengan nyenyak, tak akan bisa melakukan itu lagi. Karena di antara mereka sudah tak ada hubungan apa-apa lagi.
Mantan. Yah, itulah sebutan untuk Wahyu dan Naura saat ini.
Hingga pagi menjelang, Wahyu masih setia didalam mobilnya menatap kearah rumah orang tuanya Naura.
.
.
.
KETINGGALAN VISUAL NYA NOVAL, JADI AKU KASIH ULANG LAGI VISUAL NUA DISINI YA 🤭🤭🤭.
__ADS_1