Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 107. BISA GILA!


__ADS_3

Sepanjang perjalanan setelah dari rumah Naura, Bayu tampak tak fokus pada kemudi nya, sesekali dia menepikan mobilnya guna menenangkan diri agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan.


Betul apa yang dikatakan oleh Bu Lastri, ada baiknya berdiam diri dirumah sampai hari yang ditunggu, tiba. Karena Bayu pun juga tidak ingin terjadi sesuatu yang bisa menghambat pernikahannya dengan Naura.


Setelah merasa lebih tenang, Bayu kembali melajukan mobilnya berbaur dengan kendaraan lain, dengan kecepatan sedang. Meski merasa kesal namun Bayu tidak ingin gegabah, dengan kecepatan tinggi ataupun sedang toh nanti juga akan sampai ke tempat tujuan walaupun memakan waktu yang lama, yang terpenting dirinya selamat hingga sampai ke tempat tujuan.


"Aku ngapain ya hari ini," gumamnya. "Balik ke kantor gak asyik gak ada Naura, mau balik ke rumah, ah paling gelut aja sama Lusi. Aduh, kenapa sih harus ada aturan begitu." Bayu memukul stirr mobilnya, andai saja tidak berdosa jika memaki orangtua, Bayu mungkin sudah memaki calon ibu mertuanya itu yang sudah memberinya saran seperti ini, dan yang lebih menjengkelkan Naura malah menyetujuinya.


"Awas aja ya nanti kalau udah ketemu, bakal Aku kasih pelajaran habis-habisan, lagian ngapain juga sih pake acara setuju sama saran Ibu. Kamu gak tau aja, Aku tuh gak bisa sehari aja gak ketemu kamu, aduh bisa gila Aku." tanpa sadar Bayu menekan klakson yang membuat dirinya sendiri terkejut.


"Astaghfirullah, Ah gara-gara kamu nih, Naura!" kesal Bayu.


"Ya udah lah, mending Aku ke kantor dulu ketemu Andi dan Wahyu memberitahu mereka kalau mulai besok Aku tidak akan masuk kantor." ucap Bayu pelan, padahal dia bisa saja menelpon memberitahu pada dua temannya itu, namun pergi ke kantor akan membuatnya sedikit tenang dari pada harus kembali ke rumah.


Sesampainya di kantor, Bayu langsung menuju ruangan Andi karena jika ke ruangannya hanya akan mengingatkannya pada Naura, namun sayangnya saat sampai diruang Andi, pemilik ruangan itu tidak berada di sana.


"Andi kemana sih? Ya udah lah mending Aku keruangan Wahyu aja, pasti dia ada." dan benar saja, saat Bayu membuka pintu ruangan temannya itu, sang penghuni ruangan tengah fokus pada layar laptopnya.


"Tau gak, Andi kemana?" tanya Bayu sembari melangkah masuk lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Wahyu.


"Mungkin di ruangannya." jawab Wahyu tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptopnya.


"Gak ada, Aku udah dari situ tapi Andi gak ada di ruangannya."


"Wah, Aku kurang tau juga ya," Wahyu pun menutup laptopnya kemudian menatap Bayu. "Emangnya ada apa nyariin Andi?" tanyanya.


"Gak, Aku cuma mau ngasih tau kalau mulai besok Aku udah gak masuk kantor." kata Bayu, dan Wahyu pun menatap Bayu dengan lekat tiba-tiba teringat dengan Naura yang menangis beberapa saat lalu.

__ADS_1


"Kenapa emangnya?" tanya Wahyu.


"Perintah dari calon Ibu mertua, disuruh di rumah aja." jawab Bayu dengan santai, seolah lupa dengan siapa dia berbicara saat ini.


"Oh, di pingit nih ceritanya?" Wahyu menanggapinya dengan ber oh ria, namun dibumbui dengan sedikit tanya basa basi untuk mengurangi sedikit ketegangan dirinya sendiri.


"Yah begitulah, menjengkelkan sih sebenernya karena Aku jadi gak bisa ketemu Naura, tapi yah gak apa apalah ini juga demi kebaikan kita berdua." Wahyu diam tak menanggapi.


"Eh Wahyu kamu dulu kayak gitu juga gak sih? Di pi ngi... t," Bayu menghentikan ucapannya saat menyadari dengan siapa dia berbicara saat ini. Dia berbicara dengan mantan suami dari calon istrinya. Sementara Wahyu mengerutkan keningnya, lalu mengalihkan tatapannya pada layar ponselnya yang menyala namun hanya bergetar seperti memang sengaja tidak diberi nada dering.


"Em, kok gak di angkat, siapa tuh yang telepon?" Bayu menaikan lehernya hendak melihat layar ponsel Wahyu, namun dengan cepat Wahyu membalikan ponselnya itu.


"Bukan siapa-siapa, udah biarin aja gak penting juga." ucap Wahyu membiarkan ponselnya terus bergetar.


"Ya udah kalau gitu Aku pamit pulang dulu, dan jangan lupa kasih tau Andi ya." Wahyu menganggukkan kepalanya dan Bayu pun beranjak dari tempat duduknya.


"Ada apa?" tanya Bayu menatap Wahyu sembari mengerutkan keningnya.


"Tanya gak ya, kenapa Naura tadi menangis," ujar Wahyu dalam hati.


"Tapi kalau Aku tanya kira-kira Bayu marah gak ya," bingung antara ingin bertanya namun tidak enak pada temannya itu.


"Ah gak usah deh, takutnya Bayu nanti salah paham lagi. Lagian kenapa juga sih Aku mau tau, ayolah Wahyu Naura itu udah bukan siapa-siapa kamu lagi."


"Wahyu, ada apa, kamu baik-baik aja kan?" Bayu menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan di hadapan wajah Wahyu.


"Ah gak apa-apa." jawab Wahyu terkesiap.

__ADS_1


"Kamu tadi kenapa manggil Aku?" tanya Bayu.


"Gak jadi." jawab Wahyu dengan cengengedengana


"Dasar aneh?" tukas Bayu lalu melangkah keluar dari ruangan itu. "Jangan lupa kasih tau Andi." ucapnya saat sebelah kakinya sudah melangkah keluar dari pintu.


Dan Wahyu hanya menjawabnya dengan anggukan kepalanya.


Sementara Bayu, akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah, beristirahat sambil melakukan video call dengan calon istrinya itu mungkin akan sedikit mengurangi rasa lelahnya juga rasa rindu yang menggebu walaupun baru beberapa saat yang lalu mereka bertemu.


Sesampainya di rumah, Bayu melangkah dengan pelan memasuki rumah sembari menggantungkan jas nya di pundak.


Saat melewati ruang tamu, ternyata semua keluarganya sedang berada di sana, namun Bayu merasa begitu enggan untuk ikut berkumpul dan lebih memilih untuk ke kamarnya sendiri.


"Kenapa tuh Kak Bayu, kok kelihatannya gak bersemangat gitu." ujar Lusi yang memperhatikan kakaknya itu.


"Pasti lagi galau karena beberapa hari gak akan ketemu sang pujaan hati." ujar pak Jhohan dengan mengeraskan suaranya agar Bayu mendengarkan.


"Maksud Papa?" Lusi menatap tanya pada papanya itu.


"Iya, tadi pak Agung telepon, katanya Bayu sama Naura mulai hari disuruh dirumah aja gak usah pergi kerja sampai hari pernikahan. Terus gak boleh juga ketemu sama Naura." jawab pak Jhohan masih dengan mengeraskan suaranya.


"Oh gitu, wah kasihan banget dong kakakku. Gak apa-apa Kak, kan bisa video call sampai tengah malam kayak waktu itu loh." Lusi meneriaki kakaknya.


Namun Bayu terus melangkah menuju kamarnya tanpa memperdulikan ucapan keluarga yang Bayu tau sedang mengejek dirinya.


"Ah, bisa gila Aku kalau kayak gini! Oh ayolah Bayu tahan dua minggu lagi, semangat!" gumamnya sembari menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Sesampainya di kamar, Bayu langsung menghubungi Naura dengan sambungan video call tanpa membuka sepatu dan mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


__ADS_2