
*******
"Mas Wahyu, Bu Diandra" Walau lidahnya terasa keluh Naura memberanikan diri menyebut nama dua orang yang saat ini berdiri membelakangi nya.
Mendengar suara yang menyebut namanya, sontak Wahyu dan Diandra menoleh secara bersamaan ke arah ambang pintu. Disana Naura berdiri dengan masih mengenakan Toga nya, terlihat jelas air matanya yang membasahi kedua pipinya.
Wahyu tercekat, melihat istrinya tiba-tiba sudah berada disana, padahal sebelumnya dia sudah memastikan kalau tidak ada yang melihatnya pergi.
Sementara Diandra, dia mengambil tas nya yang berada di atas meja. Diandra ingin pergi dari ruangan itu, dia tidak ingin ikut terseret dalam drama rumah tangga kekasihnya. Namun, baru saja dia akan melewati Naura yang berdiri di ambang pintu, Naura dengan cepat mencekal lengannya agar tak pergi.
"Bu Diandra...
__ADS_1
Diandra menoleh, tatapannya bertemu dengan tatapan Naura. Mereka sama-sama merasa sakit saat ini, sangat terlihat jelas dari dua pasang mata sendu yang bertatapan itu.
Diandra merasa sakit, karena kekasihnya menikahi wanita lain, dan sialnya wanita lain itu adalah mahasiswinya sendri. Belum lagi, Wahyu yang terus memintanya untuk bersabar menunggu hingga waktu yang tetap agar mereka bisa kembali bersama, namun hingga 1 tahun lamanya kekasihnya itu tak juga memberikan kepastian, malah kekasihnya itu terlihat sangat dekat dengan istrinya, membuat Diandra merasa sakit hati menyaksikan itu semua.
Sementara Naura, rasanya sangat sakit saat mengetahui kebenaran tentang suaminya yang ternyata selama ini telah memiliki kekasih, dan kekasih suaminya itu adalah Dosennya sendiri. Selama 1 tahun ini Naura merasa sangat bahagia karena suaminya itu memperlakukan nya dengan sangat baik, meskipun mereka berdua menikah hanya karena perjodohan. Sikap Wahyu, semua perhatian yang Wahyu berikan membuatnya merasa bak seorang istri raja, yang dimanja dan di sayang. Naura merasa sangat dicintai oleh suaminya itu.
Naura telah salah, dia telah salah mengartikan sikap dan perhatian suaminya selama 1 tahun ini. Naura mengira itu adalah cinta, namun ternyata semua hanyalah dusta. Suaminya ternyata tidak mencintai nya, dan dia telah salah memberikan cinta pertamanya pada laki-laki yang salah, laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya.
Perlahan, Naura melepaskan cekalan tangannya dari lengan Diandra. Dia menundukkan kepala sembari mengusap air matanya.
Sebenarnya...
__ADS_1
"Jelaskan lah, Mas. Jelaskan sejelas jelasnya, jangan sampai ada yang terlewatkan. Karena setelah ini, kita harus mengambil keputusan!"
Tanpa sadar, air matanya pun kembali luruh, sejujurnya dia tidak sanggup mendengar penjelasan yang mungkin akan terdengar lebih menyakitkan dari yang dia dengar sebelumnya.
"Naura... " Melihat istrinya menangis, entah kenapa hatinya terasa perih, tidak bisa dipungkiri selama 1 tahun pernikahannya, dia begitu dekat dengan Naura, tidak menutup kemungkinan tidak ada rasa dihatinya walaupun hanya setitik.
" Cukup Mas! Jangan katakan yang lainnya lagi, aku hanya ingin mendengar penjelasan Mas, sekarang!"
Dengan nada yang sarkas, mungkin Naura akan terlihat tegar, walau sebenarnya kini dadanya kian terasa sesak, kakinya seolah tak mampu menopang tubuhnya lagi.
Terdengar helaan nafas panjang yang dihembuskan oleh Wahyu, kemudian dia melangkah pelan ke arah dua wanita yang tengah berdiri di ambang pintu, sedang menatap kearahnya. Dua wanita itu sama-sama memiliki peran dalam hidup Wahyu, istri dan kekasihnya.
__ADS_1
Saat ini, sebenarnya Wahyu berada diantara dua keputusan yang sangat sulit dia putuskan. Dia ingin mengakhiri pernikahannya dengan Naura dan kembali pada kekasih yang sangat dicintainya, namun disisi lain ada satu amanah yang membuat Wahyu begitu sulit dalam mengambil keputusan itu. Amanah dari mendiang Papa nya, amanah yang mengharuskan dia mencintai dan menjaga istrinya.
Akhirnya, Wahyu pun menceritakan semuanya pada Naura.