
Beberapa saat terus berdebat didalam ruangan, akhirnya Bayu mengalah dan membuka pintu ruangannya, dan kini dia dan Naura berada dalam perjalanan menuju rumah Naura.
Sesampainya dirumah, mereka berdua disambut hangat oleh Bu Lastri, sementara pak Agung berada di halaman belakang rumah sedang membersihkan selokan yang mulai buntu.
"Bapak mana, Bu?" tanya Naura setelah mencium punggung tangan ibunya, begitupun dengan Bayu.
"Ada dibelakang, ayo masuk dulu." ajak bu Lastri pada Bayu dan Naura.
Bayu dan Naura pun mengikuti Bu Lastri masuk ke dalam rumah, dan kini mereka duduk di ruang tamu.
"Tumben pulangnya cepat? Masih siang loh ini." ujar Bu Lastri sembari menujuk jam dinding yang menunjukkan baru pukul 1 siang.
"Naura ngambek, Bu, mau pulang katanya." jawab Bayu sembari melirik Naura, namun Naura sendiri malah terlihat cuek.
"Lah, ngambek kenapa emangnya? Udah besar kok masih ngambek, kayak anak kecil aja." ujar bu Lastri.
"Iya nih Bu, masa masalah sepele aja Naura marah, malah nangis pula." Bayu mengadu pada calon ibu mertuanya itu.
"Lagian kalo ngomong gak di pikir dulu, siapa yang gak kesel coba, kalau ucapan Kak Bayu dikabulkan sama dedemit gimana coba?" Naura menatap nyalang pada calon suaminya itu.
"Emangnya nak Bayu ngomong apa sih, sampai buat Naura kesel gitu?" tanya Bu Lastri penasaran.
Naura pun menceritakan pada ibunya itu tentang permintaan Bayu dalam do'a nya sehingga membuat dirinya kesal bahkan sampai menangis.
"Astaghfirullah, Nak Bayu, lain kali jangan ngomong seperti itulah. Memang, setiap pertemuan itu pasti akan ada perpisahan. Tapi, yang perlu Nak Bayu ketahui, Allah itu sudah mengatur semuanya dengan baik dan kita sebagai hamba-Nya hanya bisa menjalankannya tanpa perlu merasa khawatir, dan Allah itu lebih tau mana yang terbaik untuk hamba-Nya," Bu Lastri menjeda ucapannya sebentar sembari menatap Naura dan Bayu yang tampak fokus mendengarkan petuahnya.
"Manusia hanya bisa merancang, namun tetap Allah lah yah menentukan. Contohnya seperti Naura dan Wahyu, saat itu kami sebagai orangtua sangat senang karena perjodohan yang sudah kami sepakati itu berjalan sesuai rencana, baik Wahyu maupun Naura tidak ada yang menolak waktu itu. Tapi yah... Seperti itulah intinya, kita tidak ada yang pernah tau bagaimana akhir dari sebuah kisah. Pernikahan Naura dan Wahyu terlihat baik-baik saja hingga satu tahun lamanya, namun pada akhirnya mereka berpisah karena... Huh... Ya sudah lah, Ibu rasa Nak Bayu sudah tau soal itu," Bayu menganggukkan kepalanya.
"Jadi intinya, rencana yang sudah kita susun dengan rapi, tak selalu akan berjalan sesuai dengan skenarionya. Nak Bayu paham kan maksud Ibu?" Bayu menganggukkan kepalanya lagi.
__ADS_1
"Tuh dengerin kata Ibu, lain kali kalau ngomong itu di pikir dulu jangan asal ceplas ceplos aja." ujar Naura menatap sinis Bayu.
"Iya Aku yang salah, Aku minta maaf, janji deh lain kali Aku gak bakal ngomong gitu lagi." Bayu menatap Naura dengan sendu, lalu tangannya terulur ingin meraih tangan Naura.
"Hus, jangan pegang-pegang, gak boleh belum halal!" Naura memukul tangan Bayu yang hendak memegang tangannya.
"Ck. Di depan Ibu aja sok jual mahal, padahal tadi di kantor kamu sendiri yang meluk Aku sambil nangis." ucap Bayu dan seketika mendapat tatapan tajam dari Naura.
"Naura, jangan gitu ih, sama calon suami sendiri gak boleh galak-galak, mulai sekarang harus belajar menghormati Nak Bayu, dia itu calon suami kamu." tegur bu Lastri.
"Tuh dengerin kata Ibu, jangan galak-galak, hormati suami." ujar Bayu dengan nada mengejek.
"Calon suami, belom jadi suami!" tukas Naura memperingati.
"Sama aja, tinggal hitung hari kok." ucap Bayu tak ingin kalah.
"Ya Allah, jagalah mereka berdua, dan Aku yakin ini adalah salah satu rencanamu untuk mereka berdua, termasuk Naura. Dulu Aku berpikir Wahyu adalah laki-laki yang tepat untuk Naura, namun ternyata Aku salah, ENGKAU memiliki rencana yang lain, dan Aku berharap Nak Bayu adalah orang yang tepat." doa bu Lastri untuk Bayu dan Naura.
"Oh ya Nak Bayu, ada yang mau Ibu omongin sama Nak Bayu mumpung lagi disini."
Mendengar ucapan bu Lastri, Naura dan Bayu pun menyudahi perdebatan mereka, lalu serentak menatap bu Lastri.
"Mau ngomongin apa ya, Bu?" tanya Bayu penasaran.
"Ini soal kalian berdua," jawab bu Lastri. Bayu dan Naura pun saling pandang.
"Soal kami berdua, memangnya kami kenapa Bu?" tanya Bayu lagi sembari melirik Naura, sementara Naura yang sudah tau arah pembicaranya ibunya itu terlihat acuh.
"Kalau Ibu boleh kasih saran, ada baiknya kalian berdua ini mulai dari sekarang lebih baik berdiam diri dirumah sampai hari pernikahan kalian. Ibu gak bermaksud apa-apa, ini hanya untuk antisipasi aja agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." ucap Bu Lastri.
__ADS_1
"Tapi Bu, acaranya kan masih dua minggu, masih lama itu Bu."
"Sudah kuduga, pasti bakal protes." ucap Naura dalam hati.
"Iya Ibu tau, tapi kan apa salahnya hanya duduk anteng dirumah sambil nunggu hari H nya, gak terasa loh." kata Bu Lastri.
"Udah sih Kak Bayu dengerin aja apa kata Ibu. Kalau Kak Bayu ngeyel terus masih pergi pergi juga, terus ditabrak becak terus pincang, gak lucu ya masa pengantin pria nya pincang." sahut Naura.
"Hus, Naura gak boleh ngomong gitu ih." tegur Bu Lastri.
"Abisnya Kak Bayu ngeyel sih Bu dibilangin."
"Tapi Bu, kalau misalnya Aku pengen ketemu Naura, Aku boleh datang ke sini kan Bu?" Bayu menatap calon ibu mertuanya itu dengan penuh harap, berharap Bu Lastri akan mengiyakan permintaannya.
"Kalau bisa sih kalian berdua itu jangan sering-sering bertemu dulu sampai hari pernikahan tiba. Sekarang kan teknologi sudah semakin canggih, kalian berdua masih bisa bertatap muka walaupun tidak bertemu secara langsung. Ngerti kan, ngertilah masa gak ngerti maksud Ibu," Bayu pun menganggukkan kepalanya, sementara Bu Lastri terkekeh sendiri akan ucapannya itu.
"Lagipula, nanti kalau udah nikah, kalian berdua bakal bosen sendiri ketemu terus, sekarang aja udah sering ribut, gimana coba nanti kalau udah nikah?"
"Kalau Aku InsyAllah gak bakal bosen, Bu, gak tau deh kalau sama Naura. Dia juga yang sering ngajak ribut." ujar Bayu membela diri.
"Gimana gak ribut coba, Kak Bayu tuh ngeselin banget Bu." ucap Naura juga membela diri.
Tak lama, pak Agung pun datang dari arah halaman belakang, lalu ikut bergabung di ruang tamu itu.
"Ada apa ini, kok ribut-ribut?" tanya pak Agung yang baru saja duduk di samping istrinya.
"Dia pak, " ucap Bayu dan Naura serentak dengan saling menunjuk.
Pak Agung pun menengahi perdebatan sepasang calon pengantin itu, dan topik pembicaraan pun berubah menjadi pembahasan pra pernikahan, hingga tak terasa waktu telah beranjak sore, Bayu pun berpamitan pulang.
__ADS_1