
Saat masuk kedalam kamarnya, mata Wahyu terbelalak melihat apa yang dilakukan oleh istrinya.
"Naura...
Dengan langkah cepat Wahyu menghampiri istrinya, lalu mengambil koper yang sudah terdapat beberapa pakaian Naura didalamnya.
" Naura, apa yang kau lakukan?" Wahyu mengeluarkan baju-baju Naura dari dalam koper itu, kemudian memasukkan nya kembali ke dalam lemari.
"Mas, apa yang kau lakukan?" Naura merampas koper nya kembali, kemudian hendak mengambil baju-baju nya lagi dari dalam lemari, tapi Wahyu segera menghalangi Naura dengan berdiri di depan lemari menahan pintu lemari itu.
"Mas, menyingkirkan lah, aku harus mengemasi pakaian ku"
"Tidak Naura, kau tidak boleh pergi"
"Kenapa Mas? Kenapa aku tidak boleh pergi, kenapa, huh!?"
__ADS_1
"Bukankah Mas tadi mengatakan kalau aku sudah sarjana aku akan dengan mudah mencari pekerjaan setelah Mas menceraikan aku, lalu kenapa sekarang Mas melarangku untuk pergi? Kenapa Mas!" Tubuh Naura sampai bergetar karena amarah nya.
"Naura, dengarkan Mas dulu...
"Apalagi yang harus aku dengarkan, Mas? Semua yang aku dengarkan tadi itu sudah sangat jelas!
" Semua yang Mas katakan pada Bu Diandra, itu sudah sangat jelas, Mas!
"Naura, ini semua karena amanah Papa, Papa bilang...
"Apapun amanah Papa, aku tidak perduli Mas, itu bukan urusan ku. Jadi sekarang Mas menyingkir lah, aku harus mengemasi semua barang-barang ku dan segera pergi dari sini. Aku tidak ingin meninggalkan apapun disini, dan aku juga tidak akan membawa apapun dari sini,
"Setelah ini aku akan menjadi diriku sendiri, tanpa suami aku pun bisa hidup di luar sana. Ini semua juga salahku, dari awal seharusnya aku tidak mempercayai Mas begitu saja!"
Mata Naura memerah karena emosinya, dia sekuat tenaga menahan air matanya agar tak jatuh lagi dihadapan suaminya itu. Sementara Wahyu hanya bisa berdiri mematung di tempatnya, tanpa berani memotong ucapan istrinya.
__ADS_1
Sejenak Naura diam, mengatur deru nafasnya yang memburu karena emosi yang menguasai dirinya. Namun, itu menjadi kesempatan Wahyu untuk memeluk istrinya itu, berharap Naura akan menjadi tenang dengan pelukannya.
Sekuat apapun Naura memberontak, namun dia tidak bisa melepaskan diri dari pelukan suaminya. Wahyu memeluknya begitu erat.
Hingga, perlahan Naura mulai tenang, dia pun membalas memeluk tubuh suaminya, tubuh yang sudah menjadi candu nya itu. Namun, tubuh itu, tidak akan lama lagi bukan menjadi miliknya lagi.
"Kamu jahat, Mas. Kamu jahat!" Naura memeluk suaminya itu dengan erat. Walaupun dia sudah bertekad untuk berpisah, tapi tetap saja sudah ada cinta yang tumbuh di hatinya, dan mungkin akan sulit baginya untuk mengubur rasa itu.
Baginya, Wahyu adalah laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta, merasakan apa itu cinta. Namun suaminya itu pula, yang sudah mematahkan hatinya, bahkan patah sepatah patahnya.
Beberapa saat berada di dalam pelukan suaminya, Naura pun tersadar akan tujuannya hari ini. Yaitu, pergi dari rumah yang sudah setahun ini dia tempati sebagian seorang istri dan menantu.
"Minggir Mas, aku mohon jangan menghalangi aku lagi" Naura melepaskan kedua tangannya yang membalas pelukan suaminya, kemudian mendorong pelan tubuh itu.
Naura bergegas membuka lemari, kemudian mengambil semua pakaiannya, tapi Wahyu tidak membiarkan begitu saja. Wahyu lagi-lagi merampas pakaian Naura, dan kali ini bukan memasukkan nya kembali ke dalam lemari, melainkan melempar semua pakaian itu ke atas lantai.
__ADS_1
"Mas bilang jangan pergi, Naura!" kali ini Wahyu membentak istrinya itu, hal yang tidak pernah dilakukan oleh Wahyu selama 1 tahun pernikahannya.