Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 55. SERENTETAN PESAN SINGKAT


__ADS_3

Di sebuah restoran yang tak jauh dari hotel tempatnya menginap, di situlah Bayu dan Naura berada saat ini. Dua insan yang berlainan jenis itu duduk berhadapan sedang menikmati makan siang mereka. Lebih tepatnya makan siang menjelang sore, karena sebelumnya mereka tertidur dengan sangat nyenyak sehingga melewatkan waktu makan siang mereka.


Naura menikmati makanannya dengan tenang seolah tidak ada Bayu di hadapannya, sementara Bayu sendiri sesekali mencuri padang pada Naura sambil menyuapi mulutnya sendiri.


Bayu masih penasaran dengan orang yang disebut Mas oleh gadis kecilnya itu, apakah orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang ditemui Naura di taman tiga hari yang lalu.


"Em, gak apa-apa kan malam ini kita menginap di hotel? Besok pagi kita akan melanjutkan perjalanan ke apartemen tempat kita tinggal selama berada di sini. Dan apartemen itu tidak jauh dari lokasi pembangunan cafe nya." ucap Bayu, mencoba memecah keheningan.


Naura mengangkat pandangannya menatap Bayu, kemudian menganggukkan kepalanya. Setelah itu Naura kembali melanjutkan makannya tanpa membalas ucapan kakak dari temannya itu.


"Naura, Aku boleh nanya gak?" ucap Bayu lagi, walau sebenarnya dia agak kecewa kalau ternyata gadis kecilnya itu ternyata sudah memiliki kekasih. Tapi, Bayu tetap penasaran siapkah laki-laki beruntung yang sudah bertahta dihati Naura.


"Ada," jawab Naura singkat.


"Em, siapa?" tanya Bayu lagi.


"Ibu dan Bapakku." jawab Naura, menatap Bayu sebentar lalu melanjutkan makannya lagi.


"Em, kalau selain Ibu dan Bapak Kamu?"


"Mungkin Lusi," jawab Naura, kali ini tanpa melihat Bayu dan tetap fokus pada makanannya.


"Selain itu? Em, maksudku mungkin orang yang spesial gitu,"


"Orang yang spesial buatku hanya Ibu dan Bapakku." jawab Naura dengan mantap.

__ADS_1


Mendengar jawaban terakhir dari Naura, akhirnya Bayu terdiam. Sepertinya, gadis kecilnya itu tidak akan mengatakan siapa laki-laki yang kini sudah bertahta di hatinya. Tetapi, walaupun begitu tak mengurangi rasa kagum Bayu pada Naura. Salahkah dia mengagumi milik orang lain?


Beberapa saat kemudian, Naura dan Bayu telah menyelesaikan makan siangnya. Dan kini dilanjutkan dengan pembahasan mengenai rancangan pembangunan cafe itu. Naura menjelaskan dengan sangat detail sketsa yang akan dibuatnya, dan itu menambah kekaguman Bayu pada gadis kecilnya itu. Benar yang dikatakan Lusi, temannya itu sangatlah berbakat. Baru menjelaskan sketsa saja sudah membuat Bayu sangat puas.


"Bagaimana, Kak? Apa Kak Bayu suka dengan sketsa yang Aku buat ini? Ah, atau kalau tidak nanti malam Aku akan membuat beberapa contoh lagi yang mungkin akan Kak Bayu sukai," ujar Naura, kali ini dia menatap serius Bayu tidak seperti sebelumnya yang terkesan cuek dan Bayu suka itu. Ternyata gadis kecilnya itu sangat pandai berbicara.


"Em, begini Naura. Tugas Aku hanya sekedar memantau pembangunannya saja, selebihnya itu adalah tugas Kamu. Jadi, apapun nanti hasilnya Aku yakin itu pasti yang terbaik." ujar Bayu.


"Tapi Kak, Aku juga harus meminta pendapat Kakak kan?"


"Tidak perlu, Aku yakin hasil karyamu itu pasti yang terbaik," jawab Bayu dengan yakin. "Pokoknya, tugas Aku nanti hanya akan memantau pekerjaan para pegawai serta Kamu juga." sambungnya.


"Oh, oke. Terima kasih kalau Kak Bayu sepenuhnya mempercayakan project ini denganku."


"Tentu, Aku yakin cafe Papaku nanti akan menjadi cafe yang paling top tahun ini."


Naura mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, kemudian melihat ulang semua pesan yang beberapa saat lalu dikirim oleh mantan suaminya itu.


''Naura, Mas kangen.''


"Naura, apa kita bisa bertemu?''


"Kenapa tidak mengangkat telepon, Mas?''


''Naura, jangan bilang kalau sekarang Kamu sedang menghindari Mas,''

__ADS_1


'Naura, tolong angkat teleponnya, Mas ingin berbicara, Mas kangen."


Naura berkaca-kaca membaca semua pesan itu, Namun itu tidak mampu menggerakkan hatinya untuk kembali. Saat ini, Naura benar-benar sudah menutup hatinya walaupun masih ada sedikit rasa untuk mantan suaminya itu. Tapi, Naura yakin seiring dengan berjalannya waktu semua rasa itu akan hilang seperti saat dulu saat pertama kali ikatan itu ada, saat itu Naura sama sekali belum memiliki rasa pada laki-laki yang mengirimkannya serentetan pesan singkat padanya.


Merasa jahat jika terus mengabaikan pesan itu, akhirnya Naura pun mulai mengetikkan pesan balasan untuk mantan suaminya itu. Toh, sebelumnya dia juga sudah berjanji untuk tidak menolak jika nanti mantan suaminya itu datang untuk menawarkan pertemanan padanya.


"Mas, maaf karena Aku baru balas pesannya, tadi Aku ketiduran. Mas, maaf mungkin untuk beberapa hari ini kita tidak bisa bertemu karena Aku sedang berada di luar kota. Alhamdulillah sekarang Aku sudah mendapatkan pekerjaan, Aku juga tidak tahu pasti berapa lama Aku di sini."


Pesan terkirim, Naura memasukkan kembali ponselnya kedalam tas, kemudian mengangkat pandangannya menatap Bayu yang ternyata sedang menatapnya.


"Ah maaf," Bayu pun menjadi salah tingkah karena ketahuan terus menatap gadis kecilnya itu, Bayu pun juga segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon temannya untuk mengurangi kecanggungan nya.


"Halo Bro, gimana meetingnya tadi, lancar kan?" tanya Bayu, setelah panggilannya dengan seseorang di ibukota tersambung.


"Alhamdulillah lancar Bro, gimana? Apa sekarang Kamu sedang bersama gadis itu?" tanya teman Bayu, yang tak lain adalah Wahyu. Wahyu saat ini sudah sampai di rumahnya setelah tadi bertemu dengan Diandra di taman.


"Ah iya, ini lagi makan di restoran." jawab Bayu pelan, sekilas dia melirik ke arah gadis kecilnya itu lalu dengan cepat mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Wuih mantap Bro, coba kirim foto kalian berdua, Aku mau lihat" kata Wahyu, saat ini dia tengah berbaring di atas tempat tidurnya. Walaupun saat ini dia tengah berbicara pada temannya, namun fokusnya tetap tertuju pada Naura, sebelah tangannya mengusap usap kasur di mana Naura selalu tidur disampingnya.


"Ah ngada-ngada loh, belum sejauh itu kali," Kesal Bayu, temannya itu seolah terus menantang dirinya untuk mendekati gadis kecilnya itu. "Ya udah Aku tutup teleponnya dulu ya, Aku cuma mau nanya soal meeting itu aja, dan alhamdulillah kalau semuanya berjalan lancar." ucap Bayu kemudian seperti kebiasaannya yang selalu mengakhiri panggilan tanpa permisi.


Di sana Wahyu berdecak kesal karena temannya itu selalu saja seperti itu, memutuskan panggilan tanpa permisi walaupun temannya itu sendiri yang memulai panggilan.


"Bayu Bayu, semoga suatu saat nanti Kamu bisa menemukan tambatan hatimu, dan Kamu akan menjaga dan menyayangi dia sepenuh hati. Tidak seperti Aku yang sekarang hanya bisa menyesal." Gumam Wahyu, beberapa saat kemudian dia tersenyum mendapati ada pesan masuk dari Naura. Namun, senyumnya perlahan sirna kala melihat isi pesan itu.

__ADS_1


"Naura, kenapa Kamu pergi gak bilang-bilang sama Mas." lirih nya, menatap sendu layar ponselnya yang mana terdapat pesan balasan dari mantan istrinya.


__ADS_2