
"Kak Bayu... " Bayu tak menghiraukan panggilan Naura, dia terus menarik tangan Naura dan baru melepaskannya saat sudah berada di ruang tamu.
"Naura, sekarang dengarkan Aku! Malam ini juga Kau harus menyelesaikan gambar desain mu, kalau perlu Aku akan membantu." Bayu pun membawa tubuhnya duduk di sofa dengan santai.
"Tapi Kak. Bagaimana dengan...
"Kau ingin pulang ke Jakarta kan? Oke baiklah, malam ini Kau harus lembur menyelesaikan pekerjaanmu, dan besok kita akan pulang ke Jakarta." Bayu menyela ucapan Naura.
"Kak Bayu juga akan pulang?" tanya Naura, dia mengerutkan keningnya menatap Bayu.
"Yah, untuk apa Aku disini sendirian, jadi lebih baik Aku juga pulang kan?" jawab Bayu dengan kalimat pertanyaan yang membuat Naura tercengang.
"Jangan melamun, ayo mulai mengerjakan pekerjaan mu. Aku akan memasak." Bayu beranjak dari tempat duduknya lalu menepuk pundak Naura mengagetkan gadis kecilnya itu.
"Kak Bayu, biar Aku yang memasak." kata Naura lalu berbalik hendak ke dapur, namun Bayu menarik tangannya.
"Gak! Biar Aku aja, Kamu mulai aja pekerjaan mu. Setelah Aku selesai masak kita makan dulu setelah itu Aku akan membantumu." Bayu pun berlalu dari hadapan Naura menuju dapur, meninggalkan Naura yang berdiri mematung di tempatnya hingga Bayu menghilang di balik dinding pembatas ruangan itu.
Satu jam kemudian, Bayu pun telah selesai memasak dan kini tengah menghidangkan hasil masakannya di atas meja makan. Sementara Naura sendiri masih sedang mengerjakan gambar desainnya.
"Ayo makan dulu," ajak Bayu, menarik tangan Naura yang masih berkutat dengan selembar kertas besar, membuat si pemilik tangan hanya bisa ternganga dengan tindakan Bayu itu.
Sesampainya di ruang makan, Bayu menarik kursi lalu mendudukkan Naura kemudian Bayu sendiri duduk di samping Naura.
Saat Naura akan menyendok makanan ke piringnya, Bayu merebut sendok di tangan Naura lalu dengan cekatan menyendok nasi serta lauk pauk ke piring Naura. Dan Naura lagi-lagi hanya bisa tercengang dengan perbuatan Bayu.
"Silahkan makan." ujar Bayu, membuyarkan lamunan Naura.
"Ah i-ya, Kak." jawab Naura terbata.
Naura dan Bayu pun makan dalam diam, sesekali keduanya saling melirik dan tersenyum saat pandangan mereka bertemu.
Setelah selesai makan, Naura kembali ke ruang tamu dan tak lama di susul dengan Bayu yang kini sudah mengganti pakaiannya dengan celana pendek serta kaos oblong.
Naura lagi-lagi tercengang melihat penampilan Bayu saat ini. Baru kali ini Naura melihat Bayu memakai celana pendek dan ternyata terdapat bulu-bulu halus di betis Bayu.
__ADS_1
Beberapa saat memperhatikan bulu-bulu halus itu membuat Naura bergidik ngeri entah karena apa.
"Ada apa? tanya Bayu melihat Naura sedikit aneh.
"Ah gak apa-apa, Kak." kata Naura lalu mengambil peralatannya menggambarnya berusaha menghilangkan kecanggungan nya sendiri.
Hampir 30 menit Naura melanjutkan kembali menggambar desain nya dengan dibantu oleh Bayu. Tiba-tiba ponsel Naura berdering, melihat nama si penelepon Naura pun langsung mengangkatnya.
"Halo Mas, ada apa?" tanya Naura, sebelah tangannya masih terus bekerja di atas kertas berukuran besar itu.
Mendengar kata 'Mas' Bayu pun mengangkat pandangannya menatap Naura. Bayu yakin itu pasti adalah mantan suami Naura.
"Katanya tadi mau telepon balik, tapi ini sudah jam 7 tapi Kamu gak telepon juga, ya jadi Mas yang telepon Kamu."
"Ya ampun, maaf Mas Aku lupa," Naura menepuk jidatnya sendiri. "Em, tapi Mas Aku tutup teleponnya dulu ya, soalnya Aku lagi lembur karena besok mau balik ke Jakarta." kata Naura, membuat Wahyu di seberang sana tersenyum senang mendengarkannya.
"Besok Kamu pulang?" tanya Wahyu tak melepas senyumannya.
"Iya, Mas. Aku tutup teleponnya dulu ya."
"Terserah Mas saja, Aku tutup teleponnya, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." panggilan itupun terputus kemudian Naura berdiri dan men charger ponselnya di dekat TV. Setelah itu, Naura kembali melanjutkan pekerjaannya dengan serius tanpa memperdulikan Bayu yang terus menatapnya.
"Tadi siapa yang telepon?" tanya Bayu walaupun sebenarnya dia yakin kalau yang menelpon itu adalah mantan suaminya Naura. Namun, Bayu ingin mendengarnya langsung dari Naura.
"Mantan suamiku." jawab Naura tanpa mengalihkan tatapannya dari gambar desainnya.
"Oh, ada perlu apa dia menelponmu?" entah kenapa Bayu menjadi kepo. Bayu seakan tak rela jika Naura kembali dekat dengan mantan suaminya.
"Gak ada apa-apa, cuma mau ngobrol aja." jawab Naura.
"Oh," Bayu memanggut manggutkan kepalanya. "Em Naura, apa mantan suami kamu itu sudah tau pasal keguguran kamu?" tanya Bayu dengan hati-hati, takut akan menyinggung perasaan Naura. Namun, Bayu entah kenapa dia benar-benar merasa penasaran tentang hubungan Naura dengan mantan suaminya itu.
Mendapat pertanyaan itu, seketika Naura menghentikan aktivitasnya lalu menatap lekat Bayu. Sementara Bayu, di tatap seperti itu oleh Naura jadi merasa tidak enak sekaligus merasa bersalah. Apakah dia sudah menyinggung perasaan gadis kecilnya itu? Ah, tatapan Naura benar-benar membuatnya tak nyaman.
__ADS_1
Namun, beberapa saat kemudian Naura menggelengkan kepalanya membuat dahi Bayu mengkerut.
"Aku akan mengatakannya nanti setelah berada di Jakarta." kata Naura, kemudian melanjutkan pekerjanya kembali.
Bayu pun diam, tak ingin menimpali lagi yang mana nantinya akan membuat hati Naura bersedih karena sudah mengingatkan nya pada janinnya yang telah tiada bahkan sebelum sempat Naura mengetahui kehamilannya sendiri.
Mengingat kejadian itu, Bayu pun turut merasa bersalah karena bagaimana pun kecelakaan itu terjadi saat Naura bersamanya. Meski, itu bukanlah kehendaknya. Andai saja bukan Naura yang digunakan jasa desain interior nya. Pasti saat ini Naura masih memiliki janinnya. Tapi, ya sudahlah semuanya sudah terjadi. Naura pun sudah mengikhlaskan nya.
Tepat pukul 12 malam, gambar desain yang Naura buat telah selesai. Naura merentangkan kedua tangannya ke atas kepala meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk. Namun, itu malam terlihat menggemaskan di mata Bayu, ingin sekali dia membawa tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Ah, andai saja malam itu Naura menerimanya, pasti saat ini Bayu benar-benar akan melakukannya. Membawa tubuh Naura kedalam dekapannya, memeluknya dengan erat. Namun, sayangnya itu semua hanya berada dalam angan Bayu saja, yang entah kapan bisa terwujud dan mungkin saja tidak akan pernah.
"Selesai," ucap Naura berbarengan dengan mulutnya yang menguap, rasa kantuk telah menyerangnya.
"Ya udah, sekarang Kamu istirahat. Besok sebelum ke bandara Aku akan mengantarkan gambar desain itu terlebih dahulu kepada Pak Aiman." Naura pun mengangguk patuh, lalu beranjak melangkah menuju kamarnya tanpa membereskan peralatan menggambarnya terlebih dahulu. Rasa kantuk nya sudah benar-benar tak tertahankan. Dan benar saja, saat berada di dalam kamarnya Naura langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan tak lama dirinya benar-benar terlelap dengan nyenyak.
Sementara di ruang tamu, mau tak mau Bayu yang membereskan semuanya sebelum dia juga beranjak ke kamarnya.
.
.
.
Hai akak-akak readers, othor bawa novel teman nih, mampir yuk sambil nungguin up nya. 🙏
Bagaimana takdir membolak balikkan cinta, atau sebenarnya cintakah yang telah membolak-balikkan takdir?
Sebuah buku note berisi puisi mempertemukan Abra, (Abraham Natawijaya 24 tahun) seorang CEO muda pada seorang gadis bertopeng yang misterius di sebuah pesta topeng yang dihadirinya. Gadis itu mampu memikat hatinya karena mampu tampil beda dengan berjilbab hingga ia mencari tahu siapa gadis itu sebenarnya.
Shasa (Shanum Andina Prawira 19 tahun) gadis yatim piatu yang diduga sebagai gadis bertopeng itu terpaksa menyangkal, karena permintaan sepupunya Rika, yang iri padanya. Ia dipaksa pacaran dengan pria yang sedang dekat dengan sepupunya itu(Bima) hingga memupus harapan Abra untuk mendekatinya.
Namun begitu, dunia kerja mendekatkan mereka walaupun kemudian keberadaan Kevin, kakak tiri Abra yang juga menyukai Shasa memperkeruh hubungan mereka.
Lalu dapatkan Abra mendapatkan cinta Shasa seutuhnya? Kawal terus perjuangan Abra untuk mendapatkan pujaan hati.
__ADS_1