Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 81. HILANG


__ADS_3

Di sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggiran kota, disitulah Wahyu berada saat ini. Rumah yang sudah dia sewa sejak kemarin sore saat pulang dari kantor.


Wahyu juga sudah meminta izin cuti kerja di perusahaan tempatnya bekerja, dan sebelumnya juga telah berpamitan pada mama dan juga adiknya dengan mengatakan akan keluar kota karena ada urusan pekerjaan.


Entah apa yang direncanakan Wahyu dengan berbohong, semuanya sudah dia persiapkan dengan sangat matang.


"Oke, beres." ucapnya setelah membersihkan kamar yang akan menjadi tempat tidurnya itu. Setelah itu Wahyu pun keluar dari rumah itu lalu masuk kedalam mobil kemudian melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


Beberapa saat melajukan mobilnya, Wahyu pun berhenti didepan sebuah rumah dan terlihat seorang lelaki paruh baya menghampirinya.


Wahyu pun berbincang-bincang sebentar dengan lelaki paruh baya itu, dan beberapa saat kemudian Wahyu menjabat tangan lelaki paruh baya itu.


"Saya akan menghubungi bapak segera jika semuanya sudah siap." ucap Wahyu tersenyum pada lelaki paruh baya itu.


"Baik, Pak Wahyu. Saya tunggu kabarnya, semua yang Pak Wahyu butuhkan juga sudah saya persiapkan."


"Terima kasih banyak, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu." ucap Wahyu lalu masuk kembali kedalam mobilnya.


Sepanjang perjalanan tiada hentinya Wahyu terus mengembangkan senyumannya. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, dan intinya Wahyu terlihat sangat senang.


...*******...


Setelah kemarin mendapat amukan dari kedua orangtuanya, hari ini pagi-pagi sekali Diandra sudah datang ke kampus. Namun, bukan untuk mengajar seperti biasanya, tapi Diandra akan mengajukan pengunduran diri sebagai dosen di kampus itu.


Setelah urusannya selesai, dengan langkah gontai Diandra melangkah keluar dari ruangan yang sudah sejak beberapa tahun ini dia tempati bersama beberapa dosen lainnya dan termasuk juga Noval.


Saat mencapai ambang pintu, Diandra menghentikan langkahnya melihat kedatangan Noval. Namun, berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan oleh Diandra, justru Noval melewatinya begitu saja seolah tidak ada dirinya disana.


Melihat sikap Noval yang sudah berubah 180° padanya, Diandra pun menghela nafasnya yang terasa tercekat. Jangankan candaan dari laki-laki itu, sekedar sapaan pun tak dia dapatkan hari ini dari laki-laki yang hampir menjadi suaminya itu.


"Sepertinya keputusanku untuk mengundurkan diri itu sudah tepat." gumamnya dalam hati, lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan itu, dan hari ini adalah hari terakhir Diandra menginjakkan kakinya di kampus tempatnya mengabdi beberapa tahun ini.


Sementara Noval sendiri, begitu masuk kedalam ruangan dosen dia langsung duduk di tempatnya. Sejenak dia menatap ke arah tempat duduk Diandra yang kosong, Noval tahu selamanya tempat itu akan kosong dan mungkin begitu akan lebih baik dari pada setiap hari akan bertemu dengan wanita yang sudah menggetarkan hatinya sekaligus mematahkan hatinya.

__ADS_1


"Maaf, tapi ini belum sebanding dengan apa yang dirasakan oleh Naura. Seandainya saja sejak awal kau memutuskan hubunganmu dengan Wahyu saat kau tau dia menikahi adikku, mungkin ini semua juga tidak akan terjadi padamu, Diandra." ucap Noval dalam hati.


Tapi ya sudahlah, semuanya sudah terjadi tidak akan bisa dikembalikan lagi seperti semula, hanya saja kata andai waktu dapat di putar kembali. Namun, kalimat itupun juga rasanya sudah tak mungkin. Beberapa hati sudah patah dan entah siapa dan apa penyebab yang sesungguhnya, hanya keikhlasan dan ketabahan hati yang diperlukan saat ini.


Di lain tempat...


Hari ini Naura dan Lusi akan pergi ke sebuah toko untuk membeli beberapa perlengkapan yang dibutuhkan oleh seorang desain interior. Seperti penghapus dan beberapa bolpoin dan juga buku gambar yang besar untuk menggambar sketsa.


Setelah sampai di toko tersebut, Naura dan Lusi berpencar untuk mencari peralatan yang mereka butuhkan masing-masing agar mempersingkat waktu.


Saat sibuk memilih-milih, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang menghampiri Naura dan meminta bantuannya untuk membawakan barang belanjaannya keluar.


"Nak, ibu minta tolong ya, tolong bantu ibu bawakan barang belanjaan ibu keluar, anak ibu sepertinya menunggu di luar." ujar wanita paruh baya itu.


"Oh iya, Bu. Sini Aku bantu bawakan barang belanjaan Ibu." ucap Naura lalu mengambil alih dua buah bungkusan ditangan wanita paruh baya itu.


"Terima kasih ya, Nak, sudah mau bantuin Ibu."


"Iya, Bu sama-sama. Ayo kita cari anak Ibu di luar." ujar Naura lalu mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk melangkah terlebih dahulu dan Naura sendiri berjalan di belakangnya.


"Tadi sih katanya tunggu disini, tapi kok gak ada ya." wanita paruh baya itu terlihat cemas dan mengedarkan pandangannya mencari sosok anaknya.


"Anak Ibu laki-laki atau perempuan?" tanya Naura lagi.


"Laki-laki, Kira-kira seumuran sama kamu." jawab wanita paruh baya itu tanpa melihat ke arah Naura, Ibu itu masih terus mengedarkan pandangannya.


"Coba telpon aja, Bu." usul Naura, dan wanita paruh baya itupun menepuk jidatnya sendiri lalu kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam tas nya.


"Ya ampun, Ibu kok gak kepikiran ya." dan ibu itupun menelpon anaknya.


Setelah beberapa saat kemudian wanita paruh baya itupun menutup panggilannya setelah mengetahui keberadaan anaknya.


"Ternyata anak Ibu nungguin di parkiran, gak apa-apa kan kalau Ibu minta tolong lagi bawakan barang belanjaan Ibu ke parkiran."

__ADS_1


"Gak apa-apa kok, Bu. Kita sesama manusia itu memang sudah seharusnya saling tolong menolong, iya kan Bu."


Wanita paruh baya itu menganggukan kepalanya serta tersenyum, dan sedetik berikutnya wajahnya terlihat muram.


"Gadis yang baik, tapi kenapa ada orang yang jahat yang tidak suka padanya."


Di dalam toko...


Tidak terasa Lusi menghabiskan waktu hampir setengah jam berburu peralatan yang dibutuhkannya. Setelah mendapatkan semua barang-barang yang diperlukannya Lusi membawa barang belanjaannya itu menuju kasir dan menitipkan nya di sana lalu dia berkeliling mencari Naura.


Hampir sepuluh menit Lusi mengitari toko, namun tak juga menemukan keberadaan Naura. Akhirnya Lusi menghubungi Naura, tapi sayangnya ponsel Naura tidak aktif.


"Duh, nih anak kemana sih? Handphone nya juga gak aktif lagi, bikin kesel aja deh." gerutu Lusi dengan menghentakkan sebelah kakinya di lantai. Lusi pun akhirnya menuju toilet barang kali temannya itu ada disana, namun setelah sampai ditoilet Naura juga tidak ada disana. Walau sedikit kesal Lusi pun tetap mencari temannya itu, dan sekarang Lusi keluar dari toko untuk mencari keberadaan temannya itu diluar toko, namun hasilnya sama saja, Naura tidak masih tidak dia temukan.


"Si Naura ini pergi kemana sih, hilang kayak ditelan bumi. Mana handphone nya juga gak aktif lagi." Lusi pun mulai khawatir, dan akhirnya Lusi kembali masuk ke dalam toko menanyakan pada orang-orang didalam sana barangkali ada yang melihat temannya. Namun Jawaban semua orang didalam sana semuanya sama, tidak ada yang melihat Naura.


.


.


.


Hai kakak² readers sambil nunggu up selanjutnya mampir juga yuk ke novel temanku. 🙏🙏🙏



Blurb :


Apa jadinya seorang pria dengan julukan duda casanova terjerat cinta pada seorang gadis bar-bar dengan potongan rambut ala mulet mampu menggetarkan hatinya yang membeku.


Tak lupa Rolando sang putra yang selama ini begitu merindukan kasih sayang tiba-tiba tersenyum ketika di dekat gadis tersebut.


Banyak misteri yang mulai terungkap tentang jadi diri dari gadis bar-bar yang berhasil menjerat seorang duda casanova.

__ADS_1


Dapatkah duda casanova itu mampu menaklukkan gadi itu? Misteri apa yang disembunyikan olehnya?


Ikuti kisah perjalanan mereka ....


__ADS_2