
"Naura, ayo makan dulu, Nak, ini sudah jam 2." panggil bu Lastri sembari mengetuk pintu kamar putrinya itu. Semenjak kepulangan Naura dari bandara dia langsung menuju kamarnya dan waktu makan siang sudah terlewat tapi dia belum keluar juga dari kamarnya membuat bu Lastri jadi khawatir.
Naura yang sedang memandang langit di jendela kamarnya, terkesiap mendengar ketukan serta panggilan ibunya di balik pintu.
Naura mengusap wajahnya lalu bergegas membuka pintu kamarnya.
"Ada apa, bu?" tanyanya.
"Kamu sudah melewatkan waktu makan siang, Naura. Ini sudah jam 2, sekarang ayo makan dulu, ibu gak mau kamu sampai sakit." ujar bu Lastri lalu menarik tangan putrinya itu menuju ruang makan.
Di sela-sela langkahnya menuju ruang makan Naura tercengang saat tadi ibunya mengatakan ini sudah jam 2. Huh, ada apa dengan Naura? Tidak pernah sekalipun dia melewatkan waktu makannya, dan sekarang dia melewatkannya. Tapi bukan tanpa alasan, karena dia memang tidak merasakan lapar sedikitpun, padahal tadi pagi dia hanya sarapan roti dan segelas susu hangat sebelum berangkat ke bandara.
Ah, mungkin karena terlalu sibuk memikirkan lamaran yang akan datang padanya membuat nafsu makannya menghilang. Terbukti, saat ini Naura sudah berada di ruang makan, namun dia sama sekali tidak tergoda dengan berbagai menu masakan yang dihidangkan ibunya, padahal masakan ibunya itu selalu membuatnya tergiur.
"Bu, tapi Aku gak lapar." Naura menatap ibunya yang sedang menyendokkan nasi ke piringnya.
"Kenapa bisa gak lapar, apa kamu sudah makan belum kan?" bu Lastri melanjutkan kegiatannya, setelah menyendokkan nasi lalu menyendokkan lauk kesukaan putrinya itu.
"Ya belum makan sih bu, tapi Aku emang belum ngerasa lapar aja." jawab Naura, ia mendengus karena dipaksa makan oleh ibunya.
Tak ingin membuat ibunya kecewa, akhirnya Naura pun memakan makanan yang sudah disajikan bu Lastri di piringnya. Rasa mual menderanya karena terpaksa makan, namun Naura berusaha menahannya karena tidak ingin membuat ibunya khawatir. Mungkin ini masih efek dirinya yang mengalami demam tempo hari.
Di tempat lain, Wahyu yang saat ini masih berada di ruang meeting setelah beberapa saat lalu mengadakan meeting dengan beberapa klien penting, duduk termenung sendirian di ruangan itu.
Entah kenapa, dia tiba-tiba saja teringat ucapan mamanya yang pernah mengatakan kalau Naura mengalami keguguran.
__ADS_1
"Ya Allah, betapa bodohnya Aku," lirih nya sembari mengusap wajahnya.
"Maafkan Mas, Naura. Seandainya sejak awal pernikahan kita Mas tidak pernah mendustaimu, mungkin saat ini kita masih bersama menantikan kehadiran buah hati kita." gumamnya terisak dalam kepiluan yang begitu menyesakkan.
"Ya Allah, apa itu karma untukku, KAU ambil kembali anakku yang bahkan belum sempat Aku ketahui keberadaannya." air mata itu lolos begitu saja, lelaki yang sudah beberapa bulan ini menyandang status duda nya benar-benar menangis saat ini.
"Aku tau keadaan tidak akan kembali seperti semula, tapi Aku tetap berharap suatu hari nanti ENGKAU mengabulkan do'a ku." ucapnya pelan lalu beranjak keluar dari ruang meeting itu.
Saat akan menuju ruangannya, Wahyu berpapasan dengan pak Jhohan dan juga Bayu. Wahyu tersenyum ramah dengan paruh baya pemilik perusahaan tempatnya bekerja ini, dan dibalas dengan senyuman pula oleh pak Jhohan.
"Aku senang sekali melihat Om Jhohan akhirnya datang ke perusahaan," ujar Wahyu lalu menarik sebelah tangan pak Jhohan dan mencium punggung tangannya.
Pak Jhohan kembali tersenyum dan sebelah tangannya lagi menepuk pundak Wahyu yang membungkuk mencium punggung tangannya.
"Kebetulan kita ketemu di sini, sekarang ikut ke ruangan Om, ada yang ingin Om bicarakan." ujar pak Jhohan lalu membalikkan badannya melangkah menuju ruangannya.
Melihat Wahyu yang pergi begitu saja, membuat Bayu menggidikkan bahu nya sembari tersenyum kecut, lalu Bayu pun menyusul ke ruangan papanya.
"Mari duduk," ujar pak Jhohan mempersilahkan Wahyu untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya, Wahyu pun duduk dan tak lama kemudian Bayu pun masuk lalu duduk di samping Wahyu.
"Bayu sudah menceritakan pada Om, tentang perkembangan perusahaan semenjak di kelola sama Kamu, " pak Jhohan menjeda kalimatnya sembari tersenyum hangat pada Wahyu.
"Jadi, Om sudah memutuskan untuk memberikan 25% saham Om di perusahaan ini padamu, anggap saja itu sebagai hadiah atas kerja kerasmu memajukan perusahaan ini." sambung pak Jhohan.
"Tapi, Om, apa itu gak terlalu berlebihan? Aku di gaji dan diberikan bonus saja itu sudah lebih dari cukup." ujar Wahyu, dan pak Jhohan pun terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
"Wahyu, kamu tau sendiri kan kalau Om sudah berkata, tidak ada yang bisa membantahnya termasuk kamu." telak pak Jhohan, Wahyu pun terdiam karena pada dasarnya pak Jhohan orangnya memang tidak suka dibantah.
"Oke, pembicaraan kita cukup sampai disini saja, kamu silahkan kembali ke ruangan kamu. Untuk masalah surat menyurat nya nanti Andi yang akan mengurusnya dan kamu pokoknya terima beres saja." ucap pak Jhohan, dan Wahyu pun mengangguk patuh.
"Baik, Om, kalau gitu Aku pamit ke ruangan ku dulu," ujar Wahyu lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Selamat ya Wahyu, sekarang kamu adalah pemilik sebagian saham di perusahaan ini." Bayu mengulurkan tangannya pada Wahyu.
"Iya, terim kasih." jawab Wahyu sembari menyambut jabat tangan Bayu.
Wahyu pun keluar dari ruangan bos nya itu menuju ruangannya sendiri.
Tak lama setelah Wahyu kembali ke ruangannya dan duduk di kursi kerjanya, pintu ruangannya kembali terbuka dan yang masuk ternyata Andi yang membawa sebuah map.
"Kamu tinggal tanda tangan di sini, dan kamu bakal jadi orang tajir." kekeh Andi sembari menunjukkan dimana Wahyu harus tanda tangan.
Sementara Wahyu mendelikkan matanya menatap malas pada Andi lalu menorehkan tanda tangannya di atas selembar kertas itu.
"Selamat ya bro, inilah ada berkah dari kejujuranmu. Jarang-jarang loh ada orang yang diberikan kepercayaan seperti kamu, dan bisa benar-benar amanah menjalaninya. Kamu tau sendiri kan, kota ini keras, yang tidak siap mental akan tergiur dengan kemewahan dan terjadilah yang namanya ko rup si." ujar Andi, dan lagi-lagi dia terkekeh melihat tampang tak suka Wahyu.
"Jangan lupa traktir Aku serta anak dan istriku ya." ucap Andi lagi, lalu menutup map yang sudah ditandatangani Wahyu lalu keluar dari ruangan itu.
Setelah Anda pergi, Wahyu terdiam di kursi kerjanya sembari mencerna apa yang dikatakan oleh Andi tadi.
Apakah benar, ini adalah berkah dari kejujurannya selama ini mengelola perusahaan pak Jhohan?
__ADS_1
Ah, andai saja dia juga jujur terhadap Naura sejak awal, mungkin keberkahan yang lebih besar akan dia dapatkan lebih dari pada apa yang dia dapatkan hari ini.