Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 53. BERANGKAT KE PALEMBANG


__ADS_3

Tiga hari kemudian...


Di dalam kamarnya, Naura tengah bersiap-siap dan mengepak barang-barangnya yang akan dia bawa ke Palembang hari ini. Laki-laki yang akan bersamanya hari ke Palembang sudah mengirim pesan kalau dia saat ini sudah berada dalam perjalanan untuk menjemputnya.


Tak berapa, satu buah koper berukuran besar ditarik Naura keluar dari kamarnya menuju ruang tamu, di sana sudah ada ayah dan ibunya yang menunggu.


"Jaga kesehatan Kamu di sana ya, Nak." ucap Pak Agung sembari mengusap puncak kepala putrinya.


Begitupun dengan bu Lastri yang langsung memeluk putri semata wayangnya itu. Ada rasa tak rela melepas putrinya itu pergi ke kota lain, walaupun jarak Jakarta dan Palembang tidak begitu jauh. Namun, tetap saja, tidak akan bisa bertemu dengan putrinya itu seperti saat Naura tinggal bersama suaminya dulu.


"Jakarta-Palembang hanya satu jam, Bu." Ucap Naura memberi pengertian pada ibunya yang kini tengah terisak didalam pelukannya.


"Iya, tapi kan tetap aja ibu gak bisa ketemu Kamu,"


"Kalau ada kelonggaran pekerjaan, Aku pasti akan ada pulang jengukin Ibu dan Bapak." Ucap Naura, kemudian mengurai pelukannya lalu mengusap air mata yang membasahi kedua pipi ibunya.


Bu Lastri pun menganggukkan kepalanya. Yah, dia tidak boleh egois, ini adalah cita-cita putrinya, mereka sebagai orangtua sudah sepatutnya mendukung apa yang diimpikan oleh putri mereka.


Hingga terdengar suara klakson mobil di luar sana mengakhiri momen mengharukan itu.


"Itu kayaknya Kak Bayu udah datang. Aku pamit ya Bu, Pak." ucap Naura, kemudian mengalami punggung tangan ayah dan ibunya.


"Ayo kita antar keluar," kata Pak Agung, kemudian mengambil alih membawa koper Naura keluar, saat membuka pintu ternyata sudah ada Bayu dan Lusi yang berasal berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Lusi, Kamu ikut juga?" Tanya Naura. Senang melihat Lusi juga ikut bersama kakaknya, Naura mengira Lusi juga akan ikut ke Palembang.


"Iya, tapi cuma ikut sampai bandara aja. Emangnya siapa yang mau bawa mobilnya pulang kalau Aku gak ikut ke bandara." ujar Lusi, namun wajahnya terlihat jutek. Sebelumnya Lusi memang mau ikut ke Palembang bersama kakaknya dan juga Naura, tapi kakaknya itu melarang dengan alasan agar Lusi lebih fokus saja dengan pembangunan cafe nya sendiri.


"Gimana, udah siap berangkat kan?" Bayu menatap Naura, kemudian menatap bu Lastri dan pak Agung.


"Iya, Kak." Jawab Naura, kemudian meraih kopernya yang tadi dibawakan oleh bapaknya. "Pak, Bu, Aku berangkat dulu ya"


"Iya, Nak, hati-hati dijalan ya" ucap bu Lastri, mengusap pundak putrinya itu.


"Nak Bayu, titip Naura ya" ujar pak Agung menatap Bayu penuh harap. Pak Agung percaya kalau Bayu bisa menjaga putrinya di sana. Meski ini yang pertama kalinya dia bertemu dengan Bayu, tapi Pak Agung percaya kalau Bayu adalah anak yang baik, mengingat Bayu adalah kakak dari teman putrinya, Lusi. Selama berteman dengan putrinya, Lusi memperlakukan Naura dengan sangat baik. Tak jarang Lusi berkunjung ke rumahnya dan selalu menunjukkan sikap yang baik dan sopan.


"Bapak tenang saja, di sana Naura tidak akan kekurangan apapun. Semua kebutuhan Naura akan terpenuhi di sana" ucap Bayu dengan tegas, sehingga pak Agung merasa lega mendengarnya.


"Kami berangkat dulu ya, Pak, Bu." sambung Bayu, kemudian mencium punggung tangan bu Lastri dan pak Agung, lalu disusul dengan Lusi yang juga mencium punggung tangan dua paruh baya itu.


Satu setengah jam kemudian, Naura dan Bayu pun telah sampai di Palembang. Kota yang terkenal dengan sebutan Kota pempek itu, pertama kalinya didatangi oleh Naura maupun Bayu.


Dari bandara, Bayu dan Naura langsung menuju hotel terdekat, sebagai tempat sementara untuk mereka beristirahat karena lokasi apartemen tempat mereka akan tinggal posisi nya sangat jauh dari bandara.


Bayu memesan dua kamar yang bersebelahan untuknya dan Naura. Setelahnya mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk merilekskan badan yang terasa pegal selama perjalanan.


Setelah berada di dalam kamar, Naura mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kemudian menghidupkannya kembali setelah hampir dua jam dia menonaktifkan ponselnya.

__ADS_1


Naura mengerutkan keningnya melihat banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Namun, tak satupun pesan itu yang dia balas. Naura mencharger ponselnya kemudian menuju ranjang lalu merebahkan tubuhnya, perlahan Naura pun memejamkan matanya hendak tidur, entah kenapa hari ini dia merasa sangat mengantuk.


Sementara orang yang berada di ibukota sana, menatap frustasi layar ponselnya. Semua pesan yang dia kirim sudah terbaca, namun tak satupun ada balasan yang masuk.


"Naura, Kamu bilang gak akan menghindari Mas. Tapi, apa ini? Bahkan pesan Mas tak satupun yang Kamu balas." ucap Wahyu sendu.


Beberapa saat terus menatap layar ponselnya namun tak ada juga balasan dari mantan istrinya itu. Wahyu pun teringat dengan Bayu yang hari ini akan berangkat ke Palembang. Wahyu pun menghubungi temannya itu.


"Halo Bro, gimana? Sudah sampai di Palembang kan?" Tanya Wahyu, setelah panggilannya tersambung dengan Bayu.


"Iya ini baru aja sampai, sekarang lagi di hotel." Jawab Bayu, membuat Wahyu di sana bersorak sekaligus mengolok temannya itu.


"Wow, wah beneran loh ya. Kamu beneran ngajak gadis itu nginap di hotel?"


"Wahyu, dengerin ya. Sekarang kita emang lagi di hotel, tapi Kamu jangan berpikir yang enggak enggak ya. Kita sementara aja di sini dan lanjutkan perjalanan menuju apartemen) besok. Lagian Kita pesan Kamar yang berbeda kok, nih kalau gak percaya lihat aja" ucap Bayu, kemudian mengalihkan panggilannya dengan sambungan video.


"Lihat kan, di sini Aku cuma sendirian. Kamar Dia ada di sebelah" sambung Bayu menjelaskan.


"Ya ampun, segitunya banget Kamu mau ngebuktiin sama Aku. Aku juga cuma bercanda kali, Aku percaya kok kalau Kamu itu bukan Casanova." kekeh Wahyu.


"Ya udah, Aku matiin teleponnya dulu ya, ngantuk nih mau tidur." Ucap Bayu kemudian mematikan sambungan video itu tanpa permisi.


Baru saja Bayu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia teringat dengan Naura di kamar sebelah. Bayu pun turun lagi dari ranjang kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi Naura untuk menanyakan apakah ada sesuatu yang dibutuhkannya. Karena sebelumnya dia sudah berjanji pada orangtua Naura untuk memenuhi semua kebutuhan putri mereka.

__ADS_1


Namun, beberapa kali Bayu menelpon nomor Naura, selalu berakhir dengan suara operator.


"Mungkin Naura lagi tidur kali ya" gumam Bayu. " Ya udah lah, nanti Aku coba ke kamarnya aja, sekarang Aku juga mau tidur dulu, ngantuk banget." ucapnya kemudian kembali naik ke atas ranjang untuk tidur.


__ADS_2