
BAB KHUSUS DEWASA🔞
"Loh, sayang, Rayan nya mana? Kok tumben gak sambut aku." Bayu celingak celinguk di balik tubuh Naura mencari keberadaan sang jagoan kecilnya.
"Rayan udah tidur," jawab Naura, lalu mengambil alih membawakan tas kerja suaminya itu.
"Tidur? Loh kok tumben tidurnya cepat, ini masih magrib loh." Bayu menarik pinggang Naura dan memeluk nya sembari berjalan ke kamar mereka.
"Tadi di jalan ketiduran, kita habis dari rumah sakit jengukin Kak Renita habis lahiran." jawab Naura.
"Oh ya? Wah alhamdulillah kalau gitu, akhirnya penantian mereka tercapai juga." Naura menganggukkan kepalanya.
"Kak Bayu kok akhir akhir ini pulangnya sering telat?" tanya Naura, dia melirik suaminya sekilas.
Mendapat pertanyaan seperti itu Bayu hanya bisa menghela nafasnya. Dirinya juga ingin sekali bisa pulang cepat dan berkumpul bersama anak istrinya di rumah, namun apa daya pekerjaan di kantor benar-benar menguras waktunya seharian penuh.
"Andai saja masih ada Andi," ucap Bayu dengan lirih.
Yah, andai saja masih ada Andi, dia tidak akan kerepotan seperti ini dan sampai harus selalu pulang terlambat.
Saat masih ada Andi, Bayu akan selalu melimpahkan pekerjaannya pada sekertaris nya itu. Namun semenjak Andi tidak ada, Bayu sedikit kerepotan mengurus perusahaan, terlebih kini dia sendiri dan sosok temannya itu entah kapan bisa membantunya lagi.
"Kenapa kak Bayu gak cari sekertaris lagi aja, ini sudah lima tahun loh, Kak. Kasihan dong Papanya Rayan ini pulangnya terlambat terus." Naura terkekeh sambil mengedipkan sebelah matanya. Dan kini mereka berdua sudah sampai didalam kamar.
__ADS_1
"Gak mudah mencari pengganti sosok Andi, dia itu adalah sekretaris terbaik. Apa kamu tau, sejak masih di luar Negeri hingga kembali ke Indonesia, Andi itu lebih mengkhawatirkan aku dari pada anak dan istrinya." ucap Bayu, dan kini dia duduk di sofa dengan Naura yang duduk di pangkuannya.
Naura tak menggubris ucapan suaminya itu, melainkan membawa jari-jemari nya membuka satu persatu kancing kemeja Bayu.
"Oh ya, apa Kak Bayu hari ini ada menjenguk Melani dan Kak Rania?" tanya Naura dan kini dia sudah berhasil melepaskan kemeja suaminya.
"Kasihan Kak Rania dan Melani, mereka pasti sangat kehilangan." ucap Naura, menatap suaminya dengan sayu.
"Bagaimana mau pergi menjenguk mereka, kamu tau sendiri kan tau pekerjaan di kantor itu... Huh... " Bayu menghela nafasnya berat, pekerjaan di kantor benar-benar menguras waktunya.
"Besok deh, sama kamu dan Rayan." ujar Bayu sembari mengeratkan pelukannya di pinggang Naura.
"Oh ya, apa Mama Winda hari ini pergi ke kantor polisi lagi?" tanya Bayu, tatapannya menatap Naura dengan penuh hasrat. Dan Naura menjawabnya dengan anggukan kepala.
Naura menjawabnya dengan gelengan kepada lagi, tubuhnya serasa meremang karena kini tangan Bayu telat menyusup, bergerilya dibalik pakaiannya.
"Ssshhhttt..." desisan berhasil lolos dari bibir Naura karena merasakan tubuhnya yang meremang akibat ulah suaminya itu, sementara tubuh bagian bawah Bayu kini sudah menegang karena Naura yang terus bergerak di atas pangkuan.
"Sayang, kau sudah membangunkan nya, dan sekarang kau harus menidurkan nya." bisik Bayu di telinga Naura, kini dirinya lah yang terbakar dengan permainannya itu.
Naura terkekik geli melihat tampang mesum suaminya, jika sudah seperti ini dirinya tidak akan bisa lolos lagi, dan mau tidak mau dia akan berakhir dengan nafas terengah-engah di atas ranjang.
"Kak Bayu apa gak capek? Baru pulang kerja loh." ucap Naura, namun Bayu seolah tak perduli dan tanpa aba-aba langsung mengangkat Naura dan menjatuhkannya ke atas ranjang.
__ADS_1
"Tidak akan ada kata lelah jika berurusan dengan membuat adik untuk Rayan." dan kini Bayu sudah berada di atas tubuh Naura.
"Aku masak loh, Mama Winda, Tasya dan Lusi pasti udah nungguin kita." ucap Naura lagi, namun usahanya itu sama sekali tak berpengaruh pada Bayu.
"Aku ingin makanan pembuka dulu, sekaligus ritual malam jum'at." tak ingin membuang waktu lagi, Bayu langsung membungkam mulut Naura dengan bibirnya.
Mengecap nya dengan lembut yang memberikan sensasi luar biasa pada tubuh Naura, dan kini dia pun tak bisa menolak rangsangan pada tubuhnya.
"Akhhhh... " desah@n kecil berhasil keluar dari bibir Naura, dan itu malah semakin menambah semangat Bayu, dan kini bukan hanya di bibir. Leher dan seluruh tubuh Naura sudah di penuhi banyak tanda kemerahan yang ditinggalkan Bayu, bahkan Naura pun tak sadar sejak kapan tubuhnya dan Bayu kini sudah sama-sama polosnya.
"Sayang, aku udah gak tahan." ucap Bayu dengan serak.
Paham dengan maksud suaminya, Naura pun membuka kedua kakinya, memberi ruang pada suaminya agar lebih leluasa menyatukan diri.
Dan kini didalam kamar itu di penuhi dengan desah*n yang bersahut-sahutan saling berlomba mencari puncak kenikmatan bersama.
"Kak, a-ku u-dah mau ke-luar, akhhhhh... " Naura sampai menggigit bibir bawahnya, tak tahan dengan gejolak yang akan meledak didalam tubuhnya. Permainan suaminya ini benar-benar memabukkan dirinya.
"Tunggu, sayang bersama." Bayu pun mempercepat gerakannya membuat Naura semakin meraung dan tiada hentinya mendes*h merasakan sensasi luar biasa yang semakin membakar tubuhnya.
"Sayang, akhh... akhhh... akhhhh..." permainan itupun berakhir dengan Bayu dan Naura yang mencapai puncaknya secara bersamaan. Bayu pun menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Naura, memeluknya dengan erat, menghujani wajah istrinya itu dengan banyak kecupan.
"Sayang, terima kasih, kau memang sangat luar biasa." namun Naura tak menanggapi, tubuhnya terasa lemas, nafasnya terengah-engah.
__ADS_1
"Mandi." ucap Bayu lalu mengangkat tubuh Naura membawanya ke kamar mandi, dan seperti biasa setiap kali sehabis bertempur di atas ranjang, Bayu akan selalu memandikan istri kecilnya itu, namun itu selalu membuat Naura mendengus kesal karena bukan hanya sekedar mandi, melainkan melanjutkan ronde kedua didalam kamar mandi.