
"Pak Noval, kami sudah melacak keberadaan mobil yang membawa saudari Naura. Beruntung dari rekaman CCTV itu terlihat jelas nomor plak mobil tersebut sehingga memudahkan kami untuk melacak nya" ucap pria paruh baya yang berseragam coklat itu. Dan di sampingnya terdapat dua orang polisi lainnya yang terlihat lebih muda.
"Pak, tolong katakan dimana baj!ngan itu membawa adikku? Aku akan menghabisinya langsung dengan tanganku sendiri!" Noval bertanya dengan amarahnya yang semakin memuncak seolah tak sadar dengan siapa dia berbicara.
"Sabar Pak Noval, kami harap Pak Noval tidak bertindak gegabah yang bisa merugikan Pak Noval sendiri nantinya. Biar kami pihak kepolisian yang menanganinya."
"Tapi saya juga harus memastikan keselamatan adik saya, Pak."
"Baiklah, Pak Noval boleh ikut tapi kami ingatkan lagi jangan sampai Pak Noval bertindak gegabah," ucap salah seorang polisi yang seumuran dengan Noval. "Biar kami yang bertindak." sambungnya.
"Iya Noval, benar apa yang dikatakan oleh Pak polisi, kita tidak boleh bertindak gegabah karena kita tidak tahu dengan siapa nanti kita akan berhadapan." sahut Bayu membenarkan ucapan polisi itu.
"Lusi, sebaiknya kamu pulang saja ya," ucap Bayu pada adiknya.
"Tapi Kak,"
"Shutt, pokoknya kakak akan kabari apapun perkembangannya, dan kamu jangan memberitahu siapapun soal ini, oke!"
"Huh, ya udah deh Kak, Aku pulang. Tapi, kakak janji ya kabari Aku."
"Iya, Kamu hati-hati dijalan." ujar Bayu sembari mengusap puncak kepala adiknya itu.
Beberapa saat kemudian setelah Lusi pulang, polisi pun mulai bergegas menuju lokasi, begitupun dengan Noval dan Bayu yang mengikuti mobil polisi dari belakang.
...*******...
"Kau sudah bangun?"
Sebelumnya Naura sangat senang saat mendengar kunci pintu kamar itu dibuka dari luar, namun saat melihat siapa yang membuka pintu itu Naura terkejut dan perlahan memundurkan langkahnya.
Seorang laki-laki yang sangat dikenalnya, dan Naura lebih terkejut saat melihat sebuah gaun pengantin berwarna putih yang dibawanya. Apa maksudnya itu?
"Jadi ini semua Mas yang merencanakannya, kenapa Mas? Apa salahku? Aku mohon tolong biarkan Aku pergi!" rengek Naura penuh permohonan.
"Naura, jangan memohon seperti ini. Mas hanya ingin kita bisa bersama lagi, kamu masih ingat kan dengan gaun pengantin ini? Ini adalah gaun yang sama yang kau kenakan saat kita menikah dulu, dan Mas ingin kau memakainya lagi."
"Enggak, Mas. Itu gak akan mungkin terjadi dan Aku tidak mau!" tukas Naura penuh penekanan.
__ADS_1
"Kau harus mau, Naura. Hanya Mas yang boleh memilikimu, orang lain tidak boleh apalagi Bayu!" teriak Wahyu dan membuat Naura terkejut.
"Mas sudah gila! Keluarkan Aku dari sini, Aku mau pulang." Naura hendak berlari keluar dari kamar itu, namun Wahyu selangkah lebih cepat menutup pintu itu dan menguncinya.
"Kamu tidak akan bisa kemana-mana, Naura. Hari ini kita akan menikah, dan Mas akan memilikimu sendirian selamanya." ucap Wahyu diiringi dengan tawanya dan itu terdengar mengerikan ditelinga Naura.
"Mas benar-benar gila! Aku gak nyangka Mas akan berbuat hal serendah ini, Mas itu hanya laki-laki pecundang!"
"Yah kau benar, Naura. Mas pecundang, Mas sudah gila dan itu karena kau, karena Mas sangat mencintaimu!" Wahyu pun melangkah mendekati Naura.
"Enggak! Mas tidak mencintaiku, apa yang Mas lakukan ini salah, ini bukan cinta tapi hanya obsesi semata." Wahyu telah tersenyum miring mendengarnya.
"Sudahlah, jangan mengajak Mas berdebat hal yang tidak penting seperti ini. Sekarang pakailah gaun pengantin ini, dan kita akan menikah hari ini juga!" Bayu menyodorkan gaun pengantin itu pada Naura, sementara Naura mengambil gaun itu lalu melemparnya ke sembarang arah dan membuat Wahyu emosi melihatnya.
"Naura, apa yang kau lakukan!"
"Aku gak mau nikah lagi sama Mas, gak mau!" tukas Naura dengan berteriak.
"Heh, terserah jika kau tidak ingin memakai gaun pengantin itu. Tanpa gaun pengantin itupun kita akan tetap bisa menikah. Kalau begitu ayo ikut Mas." Wahyu menarik tangan Naura keluar dari kamar itu menuju ruangan yang sudah terdapat beberapa orang disana termasuk wanita paruh baya yang beberapa saat lalu Naura tolong membawakan barang belanjaannya, serta laki-laki yang seumuran dengannya yang mengaku anak dari wanita paruh baya itu.
"Mas, Aku gak mau, Aku mau pulang!" tukas Naura menarik tangannya dari genggaman Wahyu.
Namun, dengan cepat Wahyu menarik kembali tangan Naura lalu mendudukkan nya didepan penghulu dan disusul dirinya yang juga duduk disamping Naura.
"Pak, ayo kita mulai sekarang ijab kabul nya." ucap Wahyu lalu mengulurkan tangan kanannya pada penghulu telah itu.
"Tapi sepertinya calon mempelai wanitanya belum siap, Pak Wahyu, bahkan juga tidak memakai baju pengantinnya."
"Itu tidak penting, Pak. Tugas bapak hanyalah menikahkan saya dengan Naura!" ucap Wahyu penuh penekanan.
"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai ijab Kabul nya." Wahyu pun kembali mengulurkan tangannya.
"Mas, Aku mohon jangan lakukan ini." Naura menatap Wahyu dengan penuh permohonan, berharap mantan suaminya itu mau mendengarkannya.
Namun, sayangnya Wahyu tak menggubris sedikitpun ucapannya, bahkan Wahyu meminta penghulu untuk segera mengucap ijab Kabul nya.
"Saudara Wahyu Pertama bin Setyo Pratama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Naura Anindhita binti Agung Firmansyah dengan mas kawin tersebut tunai." Naura sudah menitihkan air matanya setelah penghulu itu menyelesaikan kalimat nya. Apakah hari ini dia benar-benar akan kembali menjadi istri seorang Wahyu Pratama?
__ADS_1
Dengan antusias, Wahyu menjawab kalimat ijab Kabul itu, namun sebelum Wahyu menyelesaikan kalimat nya terdengar suara tembakan di luar rumah dan mengagetkan semua orang yang berada di ruangan itu.
"Astaghfirullah..." sontak penghulu itu menarik jabat tangannya dari Wahyu lalu mengelus dadanya karena terkejut.
Tak lama kemudian masuklah Noval dan Bayu yang membuat Wahyu membulatkan matanya saking terkejutnya.
Bayu segera menarik Naura dari sisi Wahyu, sementara Noval langsung menghajar mantan suami adiknya itu dengan membabi buta.
"Brengsekk! Ternyata Kau yang menculik Naura, Aku akan menghabisimu, Wahyu!" Noval terus menghajar Wahyu tanpa ampun, Noval tak memberinya celah untuk melawan, hingga beberapa orang polisi masuk dan langsung menarik Noval lalu mengamankan Wahyu.
"Pak Noval, tolong jangan melewati batasan Anda! Sebelumnya kami sudah memperingati untuk tidak bertindak gegabah."
"Pak, biarkan saya membunuh laki-laki brengsekk itu! Hukuman penjara tak pantas untuknya, dia itu pantasnya mati!" amarah Noval semakin tak terkendalikan, apalagi setelah tahu bahwa Wahyu lah yang menculik adiknya.
"Tolong bawa saudara Wahyu segera kedalam mobil." ucap seorang polisi senior pada beberapa bawahannya.
"Baik, Pak." Wahyu pun dibawa keluar dari rumah itu dan dimasukkan kedalam mobil polisi.
"Pak Noval, silahkan ikut kembali ke kantor polisi, dan untuk saudari Naura selaku korban juga harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan." ucap polisi senior itu lalu juga keluar dari rumah itu.
Beberapa orang yang berada di dalam rumah itupun juga ikut serta dibawa oleh polisi, termasuk penghulu karena melakukan praktek pernikahan ilegal tanpa izin tersurat dari negara, dan wanita paruh baya serta anaknya yang juga menjadi tersangka penculikan tersebut.
.
.
.
Halo kakak² readers, mampir ke novel teman othor yuk sambil nunggu up selanjutnya. 🙏
Karena dendam pada seorang pria yang di yakini merebut wanita pujaannya sejak kecil, Alvino Maladeva akhirnya berencana membalas dendam pada pria itu melalui keluarga tersayang pria tersebut.
Syifana Mahendra, gadis lugu berusia delapan belas tahun yang memutuskan menerima pinangan kekasih yang baru saja ditemui olehnya. Awalnya syifa mengira laki-laki itu tulus mencintainya hingga setelah menikah dirinya justru mengetahui bahwa ia hanya di jadikan alat balas dendam pada kakak satu-satunya.
Lalu apakah Syifana akan terus bertahan dengan rumah tangga yang berlandaskan balas dendam tersebut? Ataukah justru pergi melarikan diri dari kekejaman suaminya sendiri?
__ADS_1